|
|
(Berita Mingguan GITS 06 Maret 2010, diterjemahkan dari www.wayoflife.org)
Tanggal 20 Februari yang lalu, sebuah gereja Presbyterian di Wisconsin menyetujui penahbisan Scott Anderson, yang pernah dipecat 20 tahun yang lalu. Anderson tadinya menggembalakan Gereja Presbyterian Bethany di Sacramento, California, dari tahun 1983 hingga 1990, sebelum dia dipaksa untuk turun karena homoseksualitasnya, karena konstitusi Gereja Presbyterian USA mengharuskan para gembala “hidup dalam kesetiaan pernikahan antara seorang lelaki dengan seorang wanita, atau dalam kekudusan kehidupan tak menikah.” Pada tahun 2006, Sidang Raya Gereja Presbyterian USA “menafsir ulang” hal ini dan mengizinkan penahbisan orang-orang homoseksual jika diterima oleh badan kepemimpinan lokal. Jelas sekali bahwa kata-kata sama sekali tidak memilki arti bagi orang-orang ini, baik itu kata-kata Alkitab maupun kata-kata konstitusi mereka sendiri. Penahbisan Anderson yang baru disetujui oleh sejawatnya yang sesat dengan proporsi 81 banding 25.
(Berita Mingguan GITS 06 Maret 2010, diterjemahkan dari www.wayoflife.org)
V. Gene Robinson, “uskup pertama yang gay” secara terbuka di Gereja Episkopal di Amerika, mengklaim bahwa Paulus tidak menyerang homoseksualitas di Roma 1:26-27, yang berbunyi sebagai berikut. “Karena itu Allah menyerahkan mereka kepada hawa nafsu yang memalukan, sebab isteri-isteri mereka menggantikan persetubuhan yang wajar dengan yang tak wajar. Demikian juga suami-suami meninggalkan persetubuhan yang wajar dengan isteri mereka dan menyala-nyala dalam berahi mereka seorang terhadap yang lain, sehingga mereka melakukan kemesuman, laki-laki dengan laki-laki, dan karena itu mereka menerima dalam diri mereka balasan yang setimpal untuk kesesatan mereka.” Robinson mengatakan, “St. Paulus berbicara mengenai orang-orang yang dia tahu bersifat heteroseksual tetapi melakukan hubungan seks sesama jenis. Tidak pernah tercetus dalam pikiran orang-orang di masa lampau bahwa sebagian minoritas dari kita akan lahir dengan orientasi kasih terhadap orang-orang sama jenis. Jadi sepertinya memang melawan kewajaran untuk melakukan hal tersebut” (“First Openly Gay Episcopal Bishop,” CNSNews.com, 4 Feb. 2010). Ini adalah omong kosong. Paul menyerang tindakan homoseksual secara keseluruhannya, yang cocok dengan pengajaran seluruh Alkitab. Allah membuat pernikahan yang pertama antara seorang laki-laki dengan seorang perempuan dan mengatur bahwa semua hubungan seksual di luar dari pernikahan adalah dosa (Ibrani 13:4). Robinson melanggar janji pernikahannya dua dekade yang lalu ketika ia meninggalkan istrinya dan dua putri yang masih muda untuk pindah ke rumah partner lelakinya. Dalam sebuah pidato tanggal 29 April 2009, Robinson mengatakan, “…kita layak untuk mengangkat tinggi kepala kita sebagai orang-orang gay….BUKAN hanya karena kita memutuskan bahwa kita layat, tetapi karena Allah telah menyatakannya. Bahwa kita dikasihi lebih dari imajinasi kita yang paling liar oleh Allah yang menciptakan kita sebagaimana kita ada dan yang menyatakannya baik.” Ini adalah bukti jelas akan pengilhaman Alkitab, karena kejadian seperti ini adalah penggenapan nubuat-nubuat Alkitab (misal 2 Petrus 2).
(Berita Mingguan GITS 06 Maret 2010, diterjemahkan dari www.wayoflife.org)
Berikut ini disadur dari The Washington Post, 1 Maret 2010: “Sebuah penelitian dalam Psychological Bulletin, edisi Maret, yaitu sebuah jurnal dari Asosiasi Psikologi Amerika, menunjukkan bahwa bermain game video yang penuh kekerasan meningkatkan pikiran, sikap, dan tindakan kekerasan di antara para pemain tersebut. Dan game itu sama sekali tidak ada gunanya dalam meningkatkan tindakan-tindakan sosial. Psikologis Craig Anderson dari Universitas Iowa dan timnya menganalisa penelitian-penelitian yang sudah pernah dilakukan terhadap 130000 orang di Amerika Serikat, Eropa, dan Jepang. Penemuannya berlaku untuk para pemain dari kebudayaan Barat dan Timur, untuk pemain lelaki maupun perempuan, dan juga untuk pemain dari kelompok umur yang bervariasi….penelitian baru tersebut menemukan bahwa pemaparan terhadap game-game video yang penuh kekerasan juga tindakan, kognisi, dan afek yang agresif. Game-game tersebut me-desensitisasi para pemain dan berhubungan dengan kurangnya empati dan kurangnya perilaku-perilaku yang pro-sosial.
(Berita Mingguan GITS 06 Maret 2010, diterjemahkan dari www.wayoflife.org)
Lagu “Why Can’t All God’s Children Get Along,” yang mempromosikan kesatuan ekumene, masuk dalam “Song of the Year” dari Dove Awards. Lirik lagu ini menyatakan: “Why can’t all God’s children get along/ We can’t all be right/ we can’t all be wrong/ We’re just different singers in the same old song/ Why can’t all God’s children get along?” Popularitas dari lagu ini, yang ada dalam CD Karen Peck “No Worries,” sama sekali tidak mengherankan, karena ini adalah salah satu lagu tema gerakan Contemporary Christian Music yang tidak Alkitabiah sejak awalnya. (Ini juga menjadi salah satu lagu tema dari Southern Gospel kontemporer, dan sangatlah membuka mata bahwa Bill Gaither dan Mark Lowry telah memuji-muji lagu “ Why Can’t All God’s Children Get Along”). Pada kenyataannya, Contemporary Christian Music adalah salah satu lem yang mempersatukan gerakan ekumene akhir zaman. Tipe musik yang sama telah menjadi populer di kalangan modernis, Katolik, Kharismatik, dan Injili. Tidak ada satupun musisi CCM yang saya tahu yang menentang ekumenisme dan yang mendukung pengajaran seluruh doktrin Alkitab, separasi gerejawi, separasi pribadi dair dunia, dll. Mereka telah menggantikan perintah-perintah Firman Allah untuk memisahkan diri dari kesalahan dengan filosofi kesatuan yang membuat mereka merasa enak. Jawaban untuk pertanyaan “Why Can’t all of God’s children get along” (Mengapakah semua anak-anak Allah tidak bisa bersatu/akur?) dapat ditemukan dalam Alkitab. Yesus dan para Rasul memperingatkan berulang-ulang bahwa banyak guru-guru palsu akan muncul dan bahwa orang-orang Kristen “KTP” akan bertambah banyak seiring dengan perkembangan zaman gereja (mis. Mat. 7:15, 21-23; 24:11, 24; 2 Tim. 3:13; 4:3-4). Umat Allah diinstruksikan untuk berjuang mempertahankan iman yang benar (Yudas 3) dan untuk menandai dan menjauhi mereka yang sesat (Roma 16:17; 2 Kor. 6:14-18; 2 Tim. 3:5). Ini bukanlah sesuatu yang opsional bagi iman Kristiani. Fakta bahwa gerakan Contemporary Christian Music sangat membenci separasi Alkitabiah dan menolak peringatan-peringatan Alkitab tentang kesesatan akhir zaman adalah bukti bahwa gerakan ini bukan dari Allah. Ini adalah gerakan yang telah menjadi musik pop sebagai ilah.
(Berita Mingguan GITS 06 Maret 2010, diterjemahkan dari www.wayoflife.org)
Bukti-bukti untuk evolusi selalu bergantung kepada asumsi-asumsi evolusionis. Hilangkan asumsi itu, dan “bukti” pun hilang. Berikut ini disadur dari buku The World That Perished oleh John Whitcomb: “Banyak ilmuwan mengklaim memiliki metode-metode yang hampir tidak dapat gagal untuk menentukan umur bumi dan berbagai formasi di permukaan bumi. Tetapi semua metode ini dibangun di atas dua asumsi dasar yang tidak dapat dibuktikan: (1) asumsi tentang titik awal atau kondisi semula dan (2) asumsi bahwa laju perubahan adalah sama / seragam mulai dari titik awal itu hingga hari ini. Perhatikanlah contoh sebuah lilin yang menyala di sebuah di rumah kosong. Saat ini ia sedang menyala dengan laju pembakaran lilin satu inci per jam. Pertanyaan: Berapa lamakah ia telah menyala? Jawaban: Tidak ada seorangpun yang dapat tahu kecuali jika dapat diketahui berapa tinggikah lilin itu saat pertama dinyalakan, dan berapa cepatkan laju pembakaran sejak awalnya!! Pertanyaan: Berapa tuakah bumi? Jawaban: Tidak ada seorangpun yang dapat tahu kecuali jika dapat diketahui bagaimana bumi pada awalnya dan berapakah laju perubahan sejak awalnya itu!”
(Berita Mingguan GITS 06 Maret 2010, diterjemahkan dari www.wayoflife.org)
Dialog antar-agama terus menyebar di kalangan “Injili.” Majalah Lausanne World Pulse edisi Maret 2010 memfitur sebuah artikel dengan judul “Interfaith Interface with Buddhists” oleh Chandler Im. Penulisnya adalah direktur Ethnic Ministries di Billy Graham Center di Wheaton College dan juga profesor bidang misi di Faith Evangelical Ministry di Tacoma, Washington. Chandler Im mengutip Lesslie Newbigin secara positif, katanya, “Saya sangat setuju dengan klaim Newbigin bahwa sebelum seseorang merasakan dalam jiwanya kuasa dan pengaruh dinamis dari sebuah agama yang hebat, maka ia belum mendengar atau mengerti makna dari agama tersebut.” Ini adalah kesesatan. Tidak pernah dalam Alkitab diajarkan agar umat Allah mempelajari agama-agama penyembah berhala lainnya untuk “merasakan” kuasa dinamis mereka. Sebaliknya, Alkitab mengatakan bahwa kuasa di balik agama-agama penyembah berhala adalah Iblis dan memperingatkan kita dengan kata-kata yang keras untuk menjauhinya. “Janganlah kamu merupakan pasangan yang tidak seimbang dengan orang-orang yang tak percaya. Sebab persamaan apakah terdapat antara kebenaran dan kedurhakaan? Atau bagaimanakah terang dapat bersatu dengan gelap? Persamaan apakah yang terdapat antara Kristus dan Belial? Apakah bagian bersama orang-orang percaya dengan orang-orang tak percaya? … Sebab itu: Keluarlah kamu dari antara mereka, dan pisahkanlah dirimu dari mereka, firman Tuhan, dan janganlah menjamah apa yang najis, maka Aku akan menerima kamu” (2 Kor. 6:14, 15, 17). Newbigin, seorang penulis favorit para pendukung gerakan emerging church, adalah Associate General Secretary di World Council of Churches yang sangat sesat radikal. Dalam tulisan The Gospel in a Pluralist Society, Newbigin menyangkal bahwa Alkitab adalah Firman Allah yang diilhami secara kata per kata dan ia mengatakan bahwa para pembela iman abad ke-18 salah ketika mereka mengajarkan bahwa Alkitab adalah “kumpulan kebenaran yang berlaku sepanjang zaman.” Lebih jauh lagi, Newbigin mengatakan, “Semua yang disebut fakta adalah fakta yang telah diinterpretasikan….Apa yang kita lihat sebagai fakta tergantung pada teori yang kita pakai saat observasi” (hal. 21). Ini adalah prinsip emerging church yang liberal, yaitu bahwa semua penafsiran Alkitab adalah tidak sempurna. Newbigin mengajarkan bahwa ada kemungkinan keselamatan di luar dari iman pribadi kepada Kristus. Lausanne World Pulse edisi Maret juga memfitur sebuah artikel yang mempromosikan kesesatan bahwa orang-orang Hindu tidak harus dibaptis atau beridentifikasi dengan sebuah gereja setelah “menerima Kristus.” Artikel ini, “Sharing Christ in Hindu Contexts,” ditulis oleh Lalsangkima Pachuau dari Asbury Theological Seminary. Pachuau melaporkan dengan penuh persetujuan bahwa ada sebagian “orang percaya” di India yang “menemukan bahwa diberi label ‘Kristen’ tidaklah perlu dan tidaklah menolong karena mengisolasi mereka dari komunitas asal mereka (Hindu).” Injili modern sudah kacau dan penuh dengan pemikiran yang sesat dan berbahaya.
(Berita Mingguan GITS 27 Februari 2010, diterjemahkan dari www.wayoflife.org)
Berikut ini disadur dari LiveScience.com, 15 Januari 2010: “Para ilmuwan telah menemukan tulisan Ibrani yang paling awal sampai saat ini – sebuah inskripsi yang berasal dari abad ke-10 SM., yaitu dalam periode pemerintahan Daud. Penemuan ini dapat berarti bahwa bagian-bagian dari Alkitab ditulis berabad-abad lebih dulu dari yang semula mereka perkirakan….Hingga saat ini, banyak ahli yang berpendapat bahwa Alkitab Ibrani berasal dari abad keenam SM., karena mereka mengira bahasa Ibrani tertulis tidak lebih tua dari tangga litu. Tetapi teks Ibrani yang baru saja dipecahkan ini sekitar empat abad lebih tua, demikian para ilmuwan mengumumkan. “Ini mengindikasikan bahwa kerajaan Israel telah eksis pada abad 10 SM, dan minimal sebagian teks Alkitab ditulis ratusan tahun sebuah tanggal-tanggal yang saat ini dijadikan patokan dalam riset,” kata Gershon Galil, seorang profesor Studi Alkitab di Universitas Haifa di Israel, yang memecahkan kode teks kuno tersebut. Tulisan ini ditemukan lebih dari setahun yang lalu di sebuah pecahan tembikar yang digali di Khirbet Qeiyafa, dekat lembah Elah di Israel. Penggalian tersebut dilakukan oleh arkeologis Yosef Garfinkel dari Universitas Hebrew di Yerusalem.” Pada “ahli” Alkitab liberal telah terbukti salah lagi dan lagi. Sebagai contoh lain, mereka pernah menyangkal eksistensi dari kota Ur, tetapi itu adalah sebelum kota tersebut bersama dengan perpustakaannya yang sangat hebat ditemukan!
(Berita Mingguan GITS 27 Februari 2010, diterjemahkan dari www.wayoflife.org)
Teori evolusi Darwinian tidak dapat menjelaskan bagaimana tawon dapat terjadi. Kita bisa saja memperhatikan matanya, kemampuannya yang menakjubkan untuk terbang dan mendarat, sayapnya yang dapat ditekuk (pada beberapa model), dan banyak hal lain, tetapi coba kita memperhatikan siklus reproduksi salah satu tawon. Tawon ini adalah Eumenes amedei, yaitu suatu serangga kecil dengan warna hitam dan kuning mirip tawon yang hidup di Eropa Selatan dan Afrika Utara. Betinanya membangun sarang-sarang berkubah kecil dengan ukuran kira-kira seperti buah cherry, dan di dalamnya mereka menaruh telur mereka, satu telur per bangunan. Rumah yang mereka bangun ini terdiri dari bebatuan kecil yang dicampur dengan mortar yang terbuat dari debu bercampur dengan ludah sang betina. Dia menyeleksi setiap batu kecil dengan hati-hati, mengetesnya dengan rahangnya untuk menentukan berat, kekerasan, dan ukuran yang tepat. Dia juga lebih menyukai batu yang atraktif, seperti quartz yang berkilau. Dengan penuh keterampilan dia membentuk sarang yang bulat itu, batu demi batu, menyambungkan mereka dengan mortar yang kuat, tahan air, dan cepat mengering tersebut. Telur digantungkan pada atap dari rumah kecil tersebut dengan sebuah benang kecil, dan sebelum menutup sarang tersebut dengan semen alami, sang betina menyetok-nya dengan makanan dalam bentuk ulat bulu. Agar ulat bulu ini tidak melarikan diri atau merusak telur, ia melumpuhkan ulat bulu tersebut dengan sengat yang mempertahankan hidupnya cukup lama hingga anak tawon menetas. Sang betina juga memperhitungkan berapa ulat bulu yang perlu ditaruh di setiap sarang, lima untur telur-telur yang mengandung tawon jantan dan sepuluh untuk yang mengandung tawon betina. Bagaimana dia bisa tahu jenis kelamin anak-anaknya yang belum menetas itu adalah sebuah misteri bagi para evolusionis, tentunya, tetapi ia tidak pernah salah. Ketika anak tawon itu keluar dari telurnya, ia akan memakan habis kulit telur, lalu ia akan membuat bagi dirinya kantung sutra kecil yang tergantung, dengan kepalnya ke sebelah bawah. Ia akan menurunkan dirinya sendiri dalam kantung itu untuk memakan ulat bulu yang masih hidup tersebut, hingga waktunya tiba untuk keluar dari sarang.
(Berita Mingguan GITS 27 Februari 2010, diterjemahkan dari www.wayoflife.org)
Badan yang berkuasa di Gereja Inggris baru-baru ini menyetujui sebuah mosi bahwa evolusi cocok dengan iman Kristiani. Mosi tersebut diperkenalkan oleh Peter Capon, yang mendorong orang-orang Kristen untuk “serius mempertimbangkan bukti-bukti ilmiah dan jangan menghakimi ilmu pengetahuan terlebih dahulu karena alasan-alasan theologis” (Christian Post, 12 Feb. 2010). Ini adalah bukti lebih lanjut lagi akan betapa totalnya kebankrutan rohani Gereja Inggris. Resolusi tersebut berbarengan dengan Akhir Pekan Evolusi, di mana lebih dari 850 “gereja” memperingati Darwinisme. Gerakan yang berumur lima tahun ini adalah buah pikir Michael Zimmerman, profesor biologi di Universitas Butler di Indianapolis, yang mengatakan bahwa “orang dapat menerima semua yang diajarkan oleh ilmu pengetahuan modern sambil mempertahankan iman mereka.” Pernyataan ini benar berkaitan dengan iman agama-agama lain yang kabur, tetapi tidak benar berkaitan dengan Alkitab, yang secara jelas mengajarkan bahwa dunia diciptakan oleh Allah yang mahakuasa dalam enam hari yang literal. Ilmu pengetahuan modern telah berperang melawan Yesus Kristus dan FirmanNya yang kudus sejak abad kesembilan belas dan telah mencoba untuk menggantikan pengajaran tentang penciptaan ilahi dengan prinsip-prinsip naturalistik. Masalahnya bukanlah pada ilmu pengetahuan yang sejati, tetapi pada “ilmu pengetahuan palsu.” Evolusi Darwinian mengklaim diri sebagai sesuatu yang ilmiah, padahal ia sebenarnya adalah iman agawami yang buta dan tidak memiliki satupun bukti yang tidak terbantahkan.
Pada tanggal 18 Februari, Los Angeles Times melaporkan bahwa istri penginjil Pantekosta Benny Hinn telah melayangkan gugatan cerai. Ini adalah yang terbaru dari daftar panjang berbagai skandal yang berkaitan dengan gerakan Pantekosta, sebuah gerakan yang mengklaim memiliki kuasa dan berkat dari Roh Kudus tetapi yang sebenarnya adalah markas ekstrimisme dan kesesatan sejak permulaan gerakan ini pada pergantian abad ke-20. Sejak tahun 2000 saja ada tiga pengkhotbah Pantekosta-Kharismatik yang terkenal yang mengakui dosa homoseksualitas (Ted Haggard, Roberts Liardon, dan Paul Cain), ada enam yang bercerai (Clarence McClendon, Juanita Bynum, Thomas Weeks, Randy dan Paula White, dan Todd Bentley).
|
|