Megachurch Alabama Membuka Pusat Entertainment Seharga $26 Juta

(Berita Mingguan GITS 13 September 2014, sumber: www.wayoflife.org)

Faith Chapel Christian Center, dekat Birmingham, Alabama, telah membuka sebuah pusat entertainment seharga $26 juta. Fasilitas tersebut memiliki tempat bowling 12 jalur, sebuah lapangan basket, sebuah pusat fitness, sebuah ruang pesta dan kafe, sebuah club dansa untuk remaja, dan sebuah night club khusus dewasa yang bebas alkohol dan rokok. Gembala sidang Michael Moore menjelaskan nama fasilitas itu, yaitu The Bridge, sebagai berikut: “Kami percaya kami bisa memenuhi kebutuhan komunitas. Fasilitas ini akan menjembatani orang-orang dari dunia kepada Kerajaan” (“Alabama Megachurch Builds $26 Million,” Christian News Network, 27 Agus. 2014). Ini lebih parah dari sekedar konyol dan bodoh. Ini adalah kesesatan. Tidak ada sedikitpun petunjuk dalam Amanat Agung Kristus tentang menghibur orang-orang tidak percaya atau membawa mereka kepada injil melalui program entertainment. Perintah Kristus tidak mengajar gereja-gereja untuk memikat orang-orang berdosa melalui cara-cara duniawi; melainkan memerintahkan gereja-gereja untuk pergi dan memberitakan Inijl kepada orang-orang berdosa. Amerika (dan dunia) sudah dihibur habis-habisan, dan kebanyakan gereja hanyalah dunia yang dipoles sedikit dengan hal-hal Kristiani. Ada program sport Kristen, media sosial Kristen, musik rock Kristen. Apapun yang dimiliki dunia, ada versi Kristen-nya. Hasilnya adalah semakin kecilnya kuasa dan pengruh rohani. “Jika kita memenangkan orang dengan sensasionalisme, kita memerlukan sensasionalisme untuk mempertahankan mereka. Orang yang datang karena roti dan ikan, harus dipertahankan dengan roti dan ikan” (John Phillips).

Posted in Kesesatan Umum dan New Age | Leave a comment

Kesesatan Waldensis Modern

(Berita Mingguan GITS 13 September 2014, sumber: www.wayoflife.org)

Pada abad 16 dan 17, kaum Waldensis bergabung dengan kaum Protestan Reformed di Jerman dan Perancis. Pada waktu itu, mayoritas mereka sudah menerima baptisan bayi. Masuk ke zaman modern, mereka semakin lama semakin lemah, dan hari ini kaum Waldensis berada di garis terdepan kesesatan ekumenis dan theologis. Pada tahun 1975, gereja-gereja Waldensis di Italia bergabung dengan kaum Metodis yang liberal di sana. Waldensis menjadi anggota dari WCC (World Council of Churches) yang liberal radikal. (Pertemuan Keenam WCC di Vancouver, British Columbia, tahun 1987, dibuka dengan pengorbanan kafir oleh orang-orang Indian Amerika Utara sambil mereka menari mengelilingi api “suci”). Buku You Are My Witnesses: The Waldensians across 800 Years, yang saya beli saat di Museum Waldensian di Torre Pellice, menghilangkan keraguan tentang kesesatan kaum Waldensis hari ini. Pada tahun 1947, mereka membentuk pusat ekumenis Agape, yang pembangunannya “mengakhiri secara definit sifat konservatif gereja tersebut” dan “mendorong gereja itu ke arah yang jauh lebih liberal, bahkan radikal” (You Are My Witnesses, hal 277). Sejak awal 1980an, Agape “telah menyelenggarakan konferensi-konferensi ekumenis untuk kaum homoseksual” (hal. 303). Pada tahun 1962, sinode Waldensian memvoting untuk menahbiskan wanita sebagai gembala sidang, dan hari ini 14% gembala dan kira-kira 50% murid theologi adalah wanita (hal. 298). Valdo Viney, mantan dekan dari Seminary Waldensian, mengatakan bahwa waktu bagi penginjilan tradisional “sudah berlalu dan kini diperlukan bagi kaum Waldensian untuk menjadi ragi yang kritis dalam kekristenan Italia dan budaya” (hal. 283). Kesesatan kaum Waldensian modern yang sedemikian parah digambarkan dalam paragraf berikut, pada ujung dari buku You Are My Witnesses: “Secara kultural, Italia adalah masyarakat yang pluralistik, tempat semua pengakuan iman dapat hidup dengan damai berdampingan, orang percaya dengan orang tidak percaya, Kristen dengan Muslim, Yahudi dengan Katolik, Ortodoks dengan Protestan, Mormon dengan Saksi Yehovah. Siapakah yang lebih baik, daripada Gereja Waldensian yang kuno, yang berakar di sepanjang semenanjung dan Sisilia, untuk menyimbolkan sikap terbuka kepada pluralisme ini, untuk melegitimasinya, dan memberikannya perspektif historis yang setua negara ini sendiri?” (hal. 293). Ini terdengar seperti “gereja esa-sedunia” yang bersifat pelacur dan sinkretistik, yang ada dalam Wahyu 17, dan kaum Waldensis, setelah menolak warisan rohani mereka yang mulia, ada persis di tengah-tengah semua itu.

Posted in Kesesatan Umum dan New Age | Leave a comment

Penganiayaan Waldensian

(Berita Mingguan GITS 13 September 2014, sumber: www.wayoflife.org)

Salah satu kubu kuat kaum Waldensis, kelompok kuno yang percaya Alkitab, adalah di pegunungan Alps, Italia utara. Istilah “Waldensis” mengacu kepada “orang-orang lembah,” dan ada empat lembah utama di Cottian Alps yang menjadi rumah bagi kaum Waldensian ini: Val Germanasca, Val Chisone, Val Angrogna, dan Val Pellice. Ke sebelah utara adalah Switzerland, dan ke barat Perancis. Pada tahun 2003, kami naik mobil ke dua dari lembah-lembah ini. Bahkan sampai hari ini pun tidak ada banyak jalan ke sana. Khususnya, kami mengunjungi kota-kota dan desa-desa berikut: Torre Pellice, Villar Pellice, Luserna, Gianavella, Bobbio Pellice, Rora, Lorenzo, Chanforan, dan Serra. Semua lembah-lembah ini pernah menjadi tempat penganiayaan Roma Katolik yang luar biasa kejar pada abad-abad 15-17. Kekejaman kepausan yang dilakukan terhadap orang-orang yang percaya Alkitab sungguh mengerikan.

Berikut ini adalah kisah singkat dari beberapa saja tindakan-tindakan yang menakutkan itu yang diceritakan oleh seorang gembala sidang Waldensis: “Tidak ada satu kotapun di Piedmont, di bawah seorang gembala sidang Vaudois, yang tidak merasakan beberapa saudara kita dihukum mati … Hogo Chiamps dari Finestrelle dicabik-cabik ususnya dari perutnya di kota Turin. Peter Geymarali dari Bobbio, dengan cara yang sama, dicabik ususnya di Lucerna, dan seekor kucing yang ganas dimasukkan ke perutnya untuk menyiksa dia lebih lanjut; Maria Romano dikuburkan hidup-hidup di Rocco-patia; Magdalen Foulano menjalani nasib yang sama di San Giovanni; Susan Michelini diikat tangan dan kakinya, dan dibiarkan mati karena kedinginan dan kelaparan di Saracena. Bartholomew Fache, disayat dengan pedang, dan lukanya ditaburi air basa, dan dengan demikian mati kesakitan di Fenile; Daniel Michelini dipotong lidahnya di Bobbio karena memuji Allah. James Baridari mati penuh dengan korek api sulfur, yang dipaksakan ke bawah kulitnya di bawah kuku jari, di antara jari-jarinya, di dalam hidungnya, di bibirnya, dan di seluruh tubuhnya, yang kemudian dinyalakan. Daniel Revelli mengalami mulutnya diisi oleh bubuk mesiu, yang ketika dinyalakan, menghancurkan kepalanya berkeping-keping. Maria Monnen, yang ditangkap di Liousa, mengalami daging pipi dan dagunya dipotong, sehingga rahangnya terbuka, dan dia ditinggalkan untuk mati demikian. Paul Garnier perlahan-lahan dipotong-potong di Rora. Thomas Margueti dimutilasi dengan cara yang tidak dapat digambarkan di Miraboco, dan Susan Jaquin dipotong kecil-kecil di La Torre. Sara Rostagnol dibelah dari kaki hingga ke dada, dan dibiarkan mati demikian di jalan antara Eyral dan Lucerna. Anne Charbonnier ditusuk dengan kayu dan dibawa seperti bendera, dari San Giovanni ke La Torre. Daniel Rambaud, di Paesano, dicabut kuku-kukunya, lalu jari-jarinya dipotong, lalu kaki dan tangannya, lalu lengan dan pahanya, bertahap demikian setiap kali ia menolak untuk menyangkali Injil” (Alexis Muston, The Israel of the Alps: A History of the Waldenses).

Posted in Katolik, Penganiayaan / Persecution | Leave a comment

Salam Kepausan bagi Gereja-Gereja Waldensian

(Berita Mingguan GITS 13 September 2014, sumber: www.wayoflife.org)

Paus Fransiskus mengirim suatu salam kebapaan kepada gereja-gereja Metodis dan Waldensian dalam rangka acara sidang sinode tahunan mereka, 24-29 Agustus lalu, di Torre Pellice, Italia. Pesan itu berbunyi “Bapa yang Kudus berdoa agar Tuhan, melalui permohonan Perawan Maria, memberikan kepada semua orang Kristen kemajuan dalam jalur menuju persekutuan penuh, untuk bersaksi bagi Tuhan Yesus Kristus dan untuk menawarkan terang dan kekuatan InjilNya kepada lelaki dan perempuan di zaman kita” (“Pope Francis Sends Message,” Zenit, 25 Agus. 2014). Bahwa kaum Waldensis menerima pesan yang sedemikian sesat ini dari “bapa yang kudus,” yang disampaikan melalui doktrin Maria yang penuh hujat, adalah bukti nyata akan kehancuran rohani mereka.

Persatuan Gereja-Gereja Metodis dan Waldensian dibentuk pada tahun 1975 melalui merger dari Waldensian Evangelical Church dengan Italian Methodist Church. Sebelum kesesatan mereka di zaman modern ini, gereja-gereja Waldensis pernah berdiri teguh membela iman Perjanjian Baru dan melawan Roma dan berbagai kesesatannya, sambil menerima penganiayaan yang hebat dari Roma. Sebagai contoh, Pengakuan Iman Waldensis (1120 dan 1150 M) menyatakan bahwa keselamatan adalah melalui kasih karunia Yesus Kristus saja dan bahwa hanya Alkitab adalah Firman Allah dan satu-satunya standar penghakiman, menolak Maria buatan Roma, klaim paus terhadap posisi tertinggi, keharusan tidak menikah, purgatori, misa bagi orang mati, penghormatan bagi santo-santa, dan sebaliknya berpegang pada perintah baptisan dan Perjamuan Tuhan saja. Dalam pengakuan-pengakuan iman Waldensis yang kuno tersebut, Gereja Roma Katolik disebut sebagai “pelacur Babel.” Kami telah memberikan banyak kutipan dari dokumen-dokumen kuno mengenai hal-hal ini dan juga tentang banyak penganiayaan terhadap kaum Waldensian dalam A History of the Churches from a Baptist Perspective, dan dalam Rome and the Bible: Tracing the History of the Roman Catholic and Its Persecutions of the Bible and of Bible Believers.

Posted in Ekumenisme, Katolik, Kesesatan Umum dan New Age | Leave a comment

Hakim Menganulir Sebagian Hukum Poligami di Negara Bagian Utah

(Berita Mingguan GITS 6 September 2014, sumber: www.wayoflife.org)

Seorang hakim federal mganulir Undang-Undang Utah yang melawan poligami sebagai sesuatu yang tidak konstitusional. Hakim District Court AS, Clark Waddoups membuat keputusan bertentangan dengan klausa dalam undang-undang tersebut yang menyatakan adalah ilegal bagi seorang individu untuk hidup bersama seseorang yang tidak dia nikahi. Waddoups memutuskan bahwa undang-undang yang tidak memperbolehkan kohabitasi ini (EDITOR: kasarnya kumpul kebo), melanggar Amandemen Pertama dan “mengacaukan hak privasi” seseorang, suatu konsep yang diciptakan begitu saja melalui keputusan judisial ini, dan sama sekali tidak dilindungi oleh UUD AS. Hakim tersebut masih mengiyakan bagian dari undang-undang Utah yang tidak memperbolehkan bigami (menikah dengan dua orang sekaligus). Kasus ini bermula ketika sebuah keluarga poligamis menuntut negara bagian Utah pada tahun 2011 setelah seorang jaksa penuntut di daerah itu mengancam akan menuntut mereka. Kody Brown secara legal menikah dengan seorang wanita, tetapi juga hidup dengan tiga wanita lainnya dalam suatu “persatuan rohani.” Dia memiliki 17 anak dari empat wanita tersebut. Hakim memerintahkan negara bagian untuk membayar biaya pengacaranya Brown. Jaksa Penuntut Umum Utah, Sean Reyes, telah mengindikasikan bahwa dia akan naik banding atas keputusan tersebut, tetapi kami tidak berharap muluk-muluk bahwa pengadilan tinggi di AS hari ini akan membuat keputusan yang sesuai dengan prinsip-prinsip konstitusi, apalagi mengukuhkan moralitas Alkitab.

Orang-orang Mormon fundamentalis, seperti Apostolic United Brethren Church, yaitu gereja tempat keluarga Brown menjadi anggota, adalah pecahan dari Gereja Mormon yang resmi, dan mereka percaya bahwa pernikahan poligami akan mengakibatkan seseorang ditinggikan di sorga. Matt Barber, seorang pengacara dan kolumnis, mengobservasi, “Jangan salah, kecuali jika bom yang secara eufimistik disebut ‘kesetaraan pernikahan’ ini dijinakkan, fondasi dasar dari institusi pernikahan dan keluarga suatu hari tidak akan dapat kita kenali lagi. Suatu masyarakat yang menolak kekudusan pernikahan dan keluarga tidak bisa bertahan lama di dunia” (“Judge Issues Final Order,” Christian News Network, 29 Agus. 2014). Kehendak Allah dari semula adalah agar pernikahan menerapkan suatu perjanjian yang kudus dan seumur hidup antara satu lelaki dan satu perempuan (Kej. 2:20-25). Sejak kejatuhan dalam dosa, manusia selalu ingin merusak rencana pernikahan Allah. Lamekh, keturunan dari putra sulung Adam, Kain, adalah poligamis pertama (Kej. 4:16-19). Beberapa orang kudus Perjanjian Lama juga poligamis, tetapi itu bukan kehendak Allah, dan mendatangkan banyak masalah. Anak Allah menegaskan bahwa kehendak Allah dalam pernikahan adalah satu lelaki dan satu perempuan (Mat. 19:3-9).

Posted in Kesesatan Umum dan New Age | Leave a comment

Kasih Allah Nyata dalam Ciptaan

(Berita Mingguan GITS 30Agustus 2014, sumber: www.wayoflife.org)

Alkitab mengatakan bahwa “Allah adalah kasih,” dan kasihNya dapat terlihat dalam berkat-berkat yang Ia limpahkan kepada manusia pada awalnya. Allah menciptakan manusia dalam rupa dan gambarNya, membuat baginya suatu tubuh yang luar biasa, memberikan kepadanya intelijensi yang besar, menempatkan dia di suatu taman yang sangat indah, menyediakan baginya seorang pasangan hidup yang sangat cocok, menjadikan dia tuan atas bumi, dan menyediakan baginya segala sesuatu yang dia perlukan untuk kehidupan dan kesenangan. Allah mengisi dunia dengan udara segar untuk dihirup, air murni untuk diminum, hal-hal yang enak untuk dimakan, pemandangan yang indah, suara-suara yang merdu, dan bau-bauan yang semerbak. Ia membuat tanah yang kaya dan begitu banyak jenis tanaman untuk tumbuh di atasnya. Ia menyediakan serangga untuk membuahi tanaman manusia, dan cacing serta bakteri untuk meng-aerasi tanah. Allah menciptakan sejumlah besar jenis pohon yang indah untuk pernaungan, makanan, dan ribuan guna lainnya. Ia memenuhi bumi dengan mineral dan logam. Allah memberikan manusia lidah dan pikiran dan suara untuk mengkomunikasikan pikirannya, dan wajah yang ekspresif yang dapat menyampaikan perasaannya. Allah memberikan manusia suatu otak yang adalah keajaiban dalam dunia ciptaan. Allah memberikan manusia mata, dengan dua juta onderdil di dalamnya, yang dapat membedakan 10 juta warna yang berbeda dan dapat melihat terang sepucuk lilin dari satu setengah kilometer. Allah memberikan manusia hidung yang dapat mencium lebih dari satu trilyun bau yang berbeda dan mengingat 50.000 bau-bauan yang berbeda. Allah memberikan manusia telinga yang dapat mendengar bisikan yang halus sekali sampai kepada guntur yang sangat keras dan dapat membeda-bedakan antara ratusan ribu bunyi yang berbeda. Ketika sedang mendengarkan bunyi yang sangat halus, gendang telinga melakukan getaran yang lebih kecil dari diameter satu molekul. Allah memberikan manusia tangan yang dapat memainkan 88 tuts piano, mengangkat telur burung yang kecil dan rapuh, sekaligus juga batu puluhan kilogram, membalikkan halaman buku, atau membangun rumah. Allah memberikan manusia indera sentuh yang luar biasa melalui kulitnya, yang setiap 25 cm perseginya mengandung 9000 ujung saraf, 36 sensor panas, dan 75 sensor tekanan. Allah memberikan manusia jantung yang berdetak 100.000 kali sehari, dan mengalirkan 5,6 liter darah ke seluruh tubuh tiga kali setiap menit. Allah memberikan manusia pembuluh darah, pembuluh darah baik, dan pembuluh kapiler, yang totalnya lebih dari 90.000 km panjangnya, untuk membawakan darah ke seluruh bagian tubuhnya yang luar biasa. Ini lebih dari dua kali lipat jarak keliling dunia. Allah memberikan manusia ginjal yang menyaring 50 galon darah setiap hari melaui 210 km saluran dan jutaan saringan. Allah menciptakan persahabatan, dan kemampuan tertawa, pernikahan dan anak-anak. Dia menaruh gelak tawa pada seorang anak, lagu merdu pada burung, kejenakaan pada monyet, keindahan pada kupu-kupu, dan keagungan pada terbenamnya matahari. Semua ini adalah bukti dari kasih Allah yang besar. Biarlah dunia menyangkal, menolak, bahkan mengejek Allah. Saya akan memujiNya dalam Yesus Kristus!

Posted in General (Umum), Renungan | Leave a comment

Uskup Katolik Membuka Doa untuk Acara Franklin Graham

 (Berita Mingguan GITS 30Agustus 2014, sumber: www.wayoflife.org)

Seorang uskup Roma Katolik membawakan doa pembukaan bagi Festival of Hope yang diselenggarakan oleh Franklin Graham di Pittsburg, 15-17 Agustus. Uskup David Zubik bersukacita atas semangat ekumenis yang terdapat dalam acara tersebut (“Festival of Hope attendees enjoy final day of worship, music, Graham,” Pittsburg Tribune Review, 17 Agus. 2014). Dia berdoa, “Tuhan, betapa baiknya kami berada di sini: Ortodoks, Presbiterian, Baptis, Methodis, Lutheran, Pantekosta, Katolik, dan banyak lagi. Meski ada perbedaan-perbedaan kami, yang menarik kami ke sini adalah AnakMu Yesus Kristus.” Tidak ada hal yang baru di sana. Walaupun Franklin Graham lebih vokal dalam hal tertentu dibandingkan ayahnya, Billy Graham, dia setuju seratus persen dengan agenda ekumenis. Pada tahun 1999, Franklin mengatakan bahwa persekutuan ekumenis ayahnya dengan Gereja Katolik dan semua denominasi lain “adalah salah satu hal terpintar yang dilakukan ayahnya” (“Keeping it simple, safe keeps Graham on high,” The Indianapolis Star, Kamis, 3 Juni 1999, hal. H2). Persahabatan Billy Graham dengan Roma sudah mulai sejak masa-masa awal pelayanannya sebelum dia menjadi terkenal. Kami telah mendokumentasikan hal ini dalam ebook gratis: Billy Graham’s Sad Disobedience di www.wayoflife.org. Lihat juga laporan tentang Ekumenisme Franklin Graham yang radikal.

Posted in Ekumenisme | Leave a comment

Satu Lagi Artis Musik Kristen Kontemporer Mengaku Homo

(Berita Mingguan GITS 23Agustus 2014, sumber: www.wayoflife.org)

Bulan ini, Vicky Beeching, seorang musisi CCM (Musik Kristen Kontemporer), mengumumkan bahwa dia lesbian. Beeching, yang telah memimpin kebaktian di banyak gereja di Amerika, dan yang “lirik-lirik lagunya dinyanyikan oleh jutaan orang Amerika,” mengatakan, “Saya gay; Allah mengasihi saya sebagaimana saya ada.” Dia percaya bahwa Allah telah memimpin dia untuk “mengaku.” “Saya pikir Allah telah sungguh bersama dengan saya melalui semua ini, memegang tangan saya. Saya tidak merasa bahwa saya telah meninggalkan Allah di belakang di sana, di gereja Injili. Saya merasa bahwa Ia makin dekat. Saya mereka saya tadinya di padang gurun, membuat keputusan ini, dan Ia ada di padang gurun itu bersama saya, dan Ia menuntun saya kepada hal ini, sesuatu yang harus saya lakukan” (“Vicky Beeching on Coming Out,” Christian Today, 14 Agus. 2014). Beeching, yang tumbuh besar sebagai seorang Pantekosta, dan kini Anglikan, mengatakan bahwa dia memohon kepada Allah untuk membuang ketertarikan seksualnya kepada sesama perempuan, mulai sejak dia 13 tahun. Dia bahkan membuat pengakuan kepada seorang imam Katolik, dan mencari pelepasan melalui penumpangan tangan dan pengusiran setan gaya kharismatik.

Fakta bahwa dia mencari bantuan dari imam katolik dan penyembuh kharismatik, memperlihatkan bahwa dia telah mencari pertolongan rohani di tempat-tempat yang salah. Kemenangan rohani tidak datang melalui sakramen atau keimaman. Dan bahkan bagi orang yang sudah sungguh lahir baru, Allah tidak menghilangkan sifat lama seratus persan dalam hidup ini. Pikiran-pikiran dosa datang dari “manusia lama,” tetapi orang percaya tidak perlu menuruti pikiran-pikiran itu. Paulus mengatakan bahwa mereka yang terus berjalan dalam dosa sebagai suatu cara hidup memperlihatkan bahwa mereka belum lahir baru. “Perbuatan daging telah nyata, yaitu: percabulan, kecemaran, hawa nafsu, penyembahan berhala, sihir, perseteruan, perselisihan, iri hati, amarah, kepentingan diri sendiri, percideraan, roh pemecah, kedengkian, kemabukan, pesta pora dan sebagainya. Terhadap semuanya itu kuperingatkan kamu seperti yang telah kubuat dahulu bahwa barangsiapa melakukan hal-hal yang demikian, ia tidak akan mendapat bagian dalam Kerajaan Allah” (Gal. 5:19-21). Kemenangan rohani bagi orang percaya juga digambarkan dalam perikop yang sama: “Maksudku ialah: hiduplah oleh Roh, maka kamu tidak akan menuruti keinginan daging. Sebab keinginan daging berlawanan dengan keinginan Roh dan keinginan Roh berlawanan dengan keinginan daging karena keduanya bertentangan sehingga kamu setiap kali tidak melakukan apa yang kamu kehendaki. Akan tetapi jikalau kamu memberi dirimu dipimpin oleh Roh, maka kamu tidak hidup di bawah hukum Taurat” (Gal. 5:16-18).

Posted in Kesesatan Umum dan New Age | Leave a comment

Misionari Korea Selatan Dihukum Penjara Seumur Hidup

(Berita Mingguan GITS 23Agustus 2014, sumber: www.wayoflife.org)

Berikut ini disadur dari “South Korean Missionary Sentenced,” ChristianHeadlines.com, 2 Juni 2014: “Seorang misionari dari Korea Selatan telah dijatuhi hukuman seumur hidup di penjara Korea Utara karena mencoba untuk mendirikan gereja bawah tanah. Kim Jung-wook mengakui telah melakukan tindakan-tindakan agamawi melawan Korea Utara dalam persidangannya pada hari Jumat. Dia kini akan menjalani hukuman kerja keras seumur hidup di penjara. Kim Jung-wook dituduh membawa alat mata-mata untuk memata-matai keluarga Kim yang berkuasa, pemimpin dari satu-satunya partai politik di negara itu. Korea Selatan telah menyangkal ada sangkut pautnya dengan Kim. Christian Post melaporkan bahwa Kim meminta maaf atas pelanggarannya dalam persidangan itu dan meminta diberi jalan lain selain hukuman mati. Kim juga menolong orang untuk meninggalkan Korea Utara secara ilegal selama beberapa tahun. Pada tahun 2012, otoritas Cina menangkap 12 imigran ilegal yang ditolong oleh Kim untuk melarikan diri, dan mengembalikan mereka ke Korea Utara. Korea Utara menahan sekitar 100.000 orang Kristen dalam kamp penjara; para tahanan diperlakukan buruh dan terkadang dieksekusi.”

Posted in Penganiayaan / Persecution | Leave a comment

Cina Merobohkan Gedung-Gedung Gereja: “Kebebasan” Gaya Totaliter

(Berita Mingguan GITS 23Agustus 2014, sumber: www.wayoflife.org)

Ada kebebasan Kristiani di Cina komunis. Anda harus melaporkan aktivitas-aktivitasmu kepada pemerintha, lalu kamu bebas untuk melakukan apa saja yang diizinkan oleh pemerintha. Amerika sekarang juga sudah sampai kepada titik ini. Pemerintah Amerika telah menyita dan menjual gedung-gedung gereja, merobohkan salib-salib dan monumen-monumen Kristen, melarang pembacaan Alkitab dan doa di ruang sekolah negeri, melarang ajaran yang menentang homoseksualitas dan evolusi di tempat-tempat pemerintahan, dan dalam ratusan cara lain menyusahkan umat Allah dalam menjalankan iman mereka. Dan ini semua bukan salah presiden Obama semata. Dia hanyalah seorang pejabat tinggi yang dipilih secara populer untuk menjalankan apa telah ia janjikan. Akar dari penyakit di Amerika adalah kesesatan dan kompromi dari gereja-gerejanya pada umumnya dan di mimbar-mimbar (para hamba Tuhannya) pada khususnya. [EDITOR: Ketika umat Tuhan di negara manapun tidak lagi menjadi garam yang menyegarkan dan melestarikan, maka negara itu akan semakin rusak.] Masalahnya terletak pada kaki orang-orang yang menyebut diri Kristen, dan hanya suatu kebangunan rohani yang dapat membawa perubahan yang berarti. Berikut ini disadur dari “China Tears Down Church,” Breitbart.com, 21 Mei 2014: “Cina telah meresponi cepatnya perkembangan komunitas Kristen di propinsi Zhejiang dengan cara menghancurkan gereja-gereja di sana. Korban terakhir adalah jemaat Xiaying Holy Love Christians yang memiliki gedung tempat kebaktian 10 lantai. Komunitas Kristen itu mengatakan bahwa para pejabat komunis memerintahkan mereka untuk meninggalkan tempat itu segera, atas perintah seorang politisi tinggi yang berkunjung. Politisi tersebut rupanya kesal dengan besarnya salib yang ada di atas gedung itu. ‘Mereka memberitahu kami bahwa salib itu terlalu mengkilap, terlalu tinggi, dan terlalu besar. Pertama mereka menyuruh kami menaruhnya di tembok. Kami menolak. Sekarang mereka memberitahu kami bahwa mereka akan merobohkan gedung gereja,’ kata seorang anggota jemaat di sana. Sumber-sumber lokal mengatakan bahwa kebaktian terakhir di gereja itu adalah pada tanggal 11 Mei. …’Pekerjaan perobohan telah dimulai. Saya melihat para jemaat di sekitar sini menangis,’ kata seorang penduduk lokal. Menurut Laporan Kebebasan Beragama Internasional yang dibuat oleh pemerintah AS, pemerintah Cina menganggap kelompok-kelompok Kristen yang tidak mereka akui sebagai ‘bidat-bidat jahat.’ Kelompok-kelompok Kristen yang diakui oleh Pemerintah Cina hanyalah: Gerakan Patriotik Tiga-Mandiri, Konsil Kristen Cina (Protestan) dan Asosiasi Katolik Patriotik Cina.

Posted in Penganiayaan / Persecution | Leave a comment