|
|
(Berita Mingguan GITS 28 Agustus 2010, diterjemahkan dari www.wayoflife.org)
Berikut ini disadur dari The Christian Post, 19 Agustus 2010: “Korea Utara menghukum mati tiga orang pemimpin gereja bawah tanah dan memenjarakan 20 orang Kristen lainnya, demikian dilaporkan oleh sebuah agensi berita yang berfokus di Asia. Walaupun eksekusi dan pemenjaraan terjadi di pertengahan Mei, berita baru tersebut muncul bulan ini. Menurut AsiaNews, polisi Korea Utara menyerbu sebuah rumah di Kuwal-dong di wilayah Pyungsung, propinsi Pyongan, dan menangkap keseluruhan dari 23 orang percaya yang berkumpul di sana untuk aktivitas religius. Pemimpin-pemimpin dihukum mati dan segara dieksekusi. 20 orang lainnya dilaporkan dikirim ke penjara kerja paksa No. 15 yang sudah terkenal di daerah Yodok. 23 orang Kristen tersebut menjadi beriman setelah beberapa dari mereka berpergian ke Cina dalam urusan bisnis dan bertemu dengan anggota-anggota gereja di sana…..Ada kira-kira 400000 orang Kristen di Korea Utara yang senantiasa hidup di bawah ancaman penjara, penyiksaan atau eksekusi mati di hadapan umum jika otoritas berhasil membongkar identitas Kristen mereka. Menjadi seorang Kristen di Korea Utara dianggap sebagai salah satu kejahatan yang paling parah oleh pemerintah yang sangat opresif di sana. Semua warga negara diharuskan ikut bidat kepribadian yang berkisar pada penyembahan diktator yang ada saat ini dan ayahnya yang telah meninggal.”
(Berita Mingguan GITS 28 Agustus 2010, diterjemahkan dari www.wayoflife.org)
Berbicara di pertemuan tahunan Southern Baptist Convention 2007 di San Antonio, Texas, Rob Zinn mengatakan bahwa denominasi itu harus rela mengubah metodologinya untuk menjangkau generasi ini, dan salah satu perubahan itu mencakup musik. Ia bertanya kepada para kakek nenek yang hadir, “Berapa banyak dari kalian yang cukup mengasihi cucu-cucu kalian sehingga kalian rela mengubah musikmu demi mereka?” Ia lalu mengatakan, “Jika kita mau memenangkan [orang-orang muda] bagi Yesus di dalam kebudayaan ini, kita harus rela mengubah cara berpikir kita…..Saudara-saudara, apa yang kamu lakukan di tahun 40an dan apa yang kamu lakukan di tahun 50an tidak akan memenangkan kebudayaan ini bagi Yesus” (“Wrap-up,” Baptist Press, 15 Juni 2007). Zinn, yang adalah gembala sidang dari Immanuel Baptis Church, Highland, California, telah dicuci otak dan disesatkan oleh filosofi pertumbuhan gereja kontemporer dan barangkali juga disesatkan oleh sesama gembala sidang Southern Baptist di Kalifornia, Rick Warren. Zinn telah melakukan tiga kesalahan dalam satu pernyataan yang singkat. Pertama, tidak ada di mana pun dalam Alkitab ada perintah bagi kita untuk memenangkan kebudayaan kita sekarang ini bagi Yesus. Sebaliknya, kita harus memenangkan orang-orang berdosa bagi Yesus, dan mereka dimenangkan hari ini dengan cara yang sama yang dipakai 2000 tahun yang lalu. Mereka harus dimenangkan dengan pemberitaan Injil Yesus Kristus dan kuasa Roh Kudus yang menghidupkan. Injil itulah kekuatan Allah yang memimpin kepada keselamatan (Roma 1:16). Kedua, dalam Perjanjian Baru musik sama sekali tidak dipakai dalam penginjilan, jadi subjek musik tidak relevan dalam topik memenangkan jiwa. Ketiga, musik rock yang dimaksud oleh Zinn berasal dari dunia, daging, dan Iblis, dan tidak dapat dipakai dalam pelayanan kepada Allah yang kudus, kudus, kudus. Saya memiliki cucu, dan saya cukup mengasihi mereka untuk memperingatkan mereka agar tidak menjadi serupa dengan dunia ini dan juga untuk memperingatkan mereka tentang gembala-gembala sidang Baptis yang kebingungan yang mencoba untuk menyesatkan mereka dari Alkitab menuju filosofi dan program manusia.
(Berita Mingguan GITS 28 Agustus 2010, diterjemahkan dari www.wayoflife.org)
Banyak pembicara di pertemuan tahunan Southern Baptist Convention 2007 mengatakan bahwa denominasi tersebut perlu mengesampingkan doktrin-doktrin “tersier” demi penginjilan dan persatuan. Tema tersebut ditentukan oleh presiden SBC, Frank Page, yang terpilih kembali tahun itu untuk menjabat periode keduanya. Dia menyerukan semangat unutk menjangkau yang terhilang daripada berperang internal dan menemukan kesalahan dengan orang-orang lain (“Southern Baptists Hear a Call for Unity,” AP, 12 Juni 2007). Ia mengatakan bahwa “demi Yesus, dan demi kerajaanNya di bumi, kita tidak boleh membuat semua isu doktrinal menjadi perang salib” dan “kita tidak memiliki hak untuk menghakimi orang lain yang tidak sama dengan kita dalam doktrin-doktrin sekunder dan tersier” (“Southern Baptists Urged to Overcome Factionalism to Win the Lost,” Christian Post, 13 Juni 2007). Doktrin-doktrin “sekunder” yang dimaksud ini antara lain adalah Kalvinisme dan non-Kalvinisme, bahwa karunia-karunia kerasulan sudah berhenti atau belum berhenti, pandangan tentang nubuat-nubuat Alkitab, dan pandangan-pandangan tentang wanita dalam pelayanan. Doktrin Perjanjian Baru tentang persatuan jauh lebih sempit daripada pendekatan Page yang Injili. Timotius disuruh untuk tidak “mengajarkan ajaran lain” (1 Timotius 1:3) dan diinstruksikan untuk “turutilah perintah ini, dengan tidak bercacat dan tidak bercela, hingga pada saat Tuhan kita Yesus Kristus menyatakan diri-Nya” (1 Tim. 6:14). Perintah yang harus dituruti oleh Timotius tanpa cacat adalah yang Paulus telah berikan dalam surat tersebut, yang bertemakan kebenaran-kebenaran jemaat (1 Tim. 3:15). Paulus telah memerintahkan Timotius hal-hal seperti peran wanita dalam pelayanan (1 Timotius 2), dan hal-hal yang dianggap “tersier” oleh Injili hari ini. Tetapi Timotius diinstruksikan untuk menaati semuanya tanpa cacat, dan untuk melakukan itu kita harus sangat mempersempit persekutuan kita di zaman yang sesat dan penuh kompromi ini. Tidak ada kontradiksi sama sekali jika seseorang memegang teguh posisi Alkitab dalam hal doktrin sekaligus memiliki semangat yang berkobar untuk penginjilan. Kegagalan denominasi Southern Baptist untuk memenangkan orang bagi Kristus, yang telah sering disayangkan, bukanlah karena perpecahan akibat doktrin-doktrin “sekunder.” Itu hanyalah alasan. Sebenarnya, kegagalan disebabkan karena keduniawian dan kondisi rohani yang suam-suam kuku yang merajalela di jemaat-jemaat Southern Baptist. Saya besar di gereja-gereja denominasi tersebut, dan situasinya kini sudah jauh lebih buruk dibandingkan dengan saat saya masih muda, padahal waktu itu saja sudah buruk.
(Berita Mingguan GITS 28 Agustus 2010, diterjemahkan dari www.wayoflife.org)
Berikut ini disadur dari komentari almarhum H.A. Ironside tentang Daniel: “Saya telah mendengar ada orang-orang Kristen yang menyebut perintah-perintah tertentu dalam Kitab Suci sebagai sesuatu yang tidak penting (tidak essensial). Tetapi kita bisa yakin bahwa tidak ada yang tidak penting dalam Alkitab kita. “Janji TUHAN adalah janji yang murni, bagaikan perak yang teruji, tujuh kali dimurnikan dalam dapur peleburan di tanah.” Ketika orang mulai berbicara mengenai hal-hal yang tidak penting berkaitan dengan apapun yang telah Allah singkapkan dari pikiranNya, maka baik untuk bertanya, ‘Penting atau tidak penting dalam hal apa?’ Jika yang menjadi pertanyaan adalah keselamatan jiwa, maka tidak diragukan bahwa satu hal yang sangat essensial adalah iman dalam AnakNya yang Kudus, yang karyaNya adalah satu-satunya cara untuk menyelesaikan dosa dan mendapatkan damai dengan Allah. Tetapi jika pertanyaannya adalah apa yang penting untuk bisa menikmati persekutuan dengan Allah – penting untuk mendapatkan pujian Tuhan saat takhta pengadilan Kristus – maka baiklah kita ingat bahwa dalam segala hal orang percaya dikuduskan untuk menaati Kristus.”
(Berita Mingguan GITS 28 Agustus 2010, diterjemahkan dari www.wayoflife.org)
“Sebab itu jauhilah nafsu orang muda, kejarlah keadilan, kesetiaan, kasih dan damai bersama-sama dengan mereka yang berseru kepada Tuhan dengan hati yang murni.” Kita melihat di 2 Timotius 2:22 bahwa separasi bukanlah isu yang hanya “negatif,” jangan ini dan jangan itu. Separasi adalah masalah perlindungan rohani dan moral. Timotius disuruh untuk menjauhi “nafsu orang muda.” Gambarannya adalah orang yang melarikan diri dari suatu bahaya yang besar. Allah tidak ingin melarang hal-hal yang menyenangkan dari umatNya. Dia adalah pencipta dari segala pemberian yang baik (Yak. 1:17). Ketika Ia menciptakan Adam dan Hawa, Ia menaruh mereka di Taman yang paling indah yang dapat dibayangkan. Ia mendesain-nya bagi mereka untuk menyediakan segala sesuatu yang indah dan menyenangkan. Allah bukanlah pribadi yang kejam yang mau menyiksa orang dengan hukum-hukum yang tidak berarti. Allah adalah Pribadi yang paling pemberi dan pengasih yang eksis. PerintahNya agar kita memisahkan diri dari hal-hal yang jahat dalam dunia didesain untuk melindungi kita dari kehancuran rohani dan moral. Perintah itu didesain untuk meloloskan kita dari genggaman Iblis. Dalam 2 Timotius 2:22 kita juga diingatkan bahwa separasi adalah masalah hati. Timotius disuruh untuk mengejar keadilan (kekudusan) bersama “dengan mereka yang berseru kepada Tuhan dengan hati yang murni.” Jika hati benar, maka orang percaya itu akan merespons secara positif terhadap perintah Tuhan untuk memisahkan diri dari kejahatan. Sebelum saya diselamatkan, saya membiarkan rambut saya panjang sebagai simbol pemberontakan dan kesombongan. Saya menolak untuk memotong rambut saya itu, demi uang maupun demi cinta, tetapi setelah saya diselamatkan saya memotongnya setelah saya ditantang oleh seorang wanita tua bahwa rambut panjang tidak pantas bagi seorang muda yang mengklaim diri pengikut Kristus. Saya memotongnya karena hati saya benar dengan Allah dan saya mau melakukan kehendakNya bukan kehendak saya sendiri, dan saya tidak mau menjadi batu sandungan bagi orang lain. Kita juga melihat dalam 2 Timotius 2:22 bahwa separasi adalah masalah menggantikan sesuatu dengan hal lain. Timotius bukan hanya diinstruksikan untuk menjauhi hal-hal yang dosa, tetapi juga untuk “mengejar” hal-hal yang saleh. Tidak cukup untuk melepaskan musik yang sensual dan duniawi dan fashion duniawi dan teman-teman yang akan menghalangi pertumbuhan rohani; anak Allah harus menambah teman-teman yang saleh dan musik yang rohani dan literatur yang membangun dan aktivitas yang baik dan menjadi sibuk dalam pelayanan bagi Kristus.
(Berita Mingguan GITS 21 Agustus 2010, diterjemahkan dari www.wayoflife.org)
Berikut ini disadur dari “The Avatar Gospel,” TheBereanCall.org: “Shamanisme adalah agama yang menyembah alam dan roh dan adalah agama yang paling tersebar di seluruh dunia….Film Avatar adalah platform yang sangat spektakuler untuk mengkhotbahkan shamanisme. Alur ceritanya tidaklah unik dan juga tidak terlalu kompleks. Sebuah planet bulan jauh bernama Pandora sedang dikolonisasi oleh sebuah perusahaan yang ingin menggali suatu logam yang bernilai tinggi bagi Bumi, yang telah hancur oleh karena eksploitasi sumber-sumber alamnya sendiri. Namun perusahaan tersebut terhalang oleh suatu suku penduduk asli yang berbentuk mirip manusia, yang disebut Na’vi, yang memiliki desa-desa dan tanah di daerah utama penambangan logam yang sangat berharga tersebut. Usaha-usaha diplomatik untuk meyakinkan para Na’vi agar pindah ke lokasi lain berakhir dengan kegagalan, terutama karena agama shamanisme-nya para Na’vi. Mereka menyembah Eywa, seorang dewi yang mirip dengan Gaia dalam mitologi Yunani, atau “Mother Earth.” Eywa sepertinya adalah suatu kekuatan mirip ilahi yang impersonal yang bertanggung jawab untuk mempertahankan keseimbangan semua kehidupan. Segala sesuatu di Pandora terhubung dengan Eywa secara mistis atau biologis. Penekanan biologis memperbesar betapa pentingnya mempertahankan sistem ekologi fisik planet tersebut agar bisa bertahan hidup di masa depan. Untuk memperlihatkan bahwa semua jenis kehidupan saling berhubungan, para Na’vi berterima kasih atau meminta maaf kepada roh-roh binatang yang mati dibunuh untuk makanan atau dalam aksi mempertahankan diri…..Sutradara dan penulis film ini, James Cameron, membuat kecenderungan theologisnya (dan ekologis) cukup jelas dalam hampir setiap cuplikan film tersebut. Judul film dan gambaran makhluk Na’vi ini diambil dari dewa Hindu Krishna, avatar berkulit biru yang adalah inkarnasi dari dewa Vishnu. Hinduisme mengajarkan bahwa sepanjang sejarah avatar-avatar memperlihatkan diri dalam bentuk manusia atau binatang untuk mengembalikan keseimbangan antara kebaikan dengan kejahatan. Penekanan pada pohon-pohon dalam film ini konsisten dengan semua bentuk shamanisme. Hometree yang sangat besar yang menjadi rumah bagi klan Na’vi dan dihancurkan dalam serangan manusia adalah perwakilan Eywa yang menyediakan bagi Na’vi melalui alam (mother nature). Pohon Jiwa (Tree of Soul) yang bersinar, yang menyediakan komunikasi langsung dengan Eywa, juga adalah suatu pusat kuasa yang dapat mentransfer jiwa-jiwa ke tubuh-tubuh lain. Dalam shamanisme tradisional, pohon adalah medium komunikasi universal bagi budaya-budaya seperti itu untuk berhubungan dengan shaman-shaman dan nenek moyang yang telah meninggal, dan para roh itu sendiri…..Setelah membaca berlusin-lusin komentar oleh orang-orang muda yang terpukau oleh theologi dalam film Avatar, jelas bahwa ini adalah injil palsu yang menemukan tanah subur di seluruh dunia sambil ia memperkenalkan dan menarik berjuta-juta penonton film menuju shamanisme. James Cameron telah mempresentasikan apa yang Alkitab sebut “ajaran setan-setan” yang didukung oleh Iblis, bapa segala kebohongan, dan diajarkan secara langsung oleh setan-setan. Kepercayaan Cameron yang pagan sama sekali bertentangan dengan apa yang Alkitab ajarkan. Lebih lanjut lagi, pandangan-pandangan idealistiknya tentang kemurnian alami suatu suku pribumi seperti Na’vi hanyalah propaganda….”
(Berita Mingguan GITS 21 Agustus 2010, diterjemahkan dari www.wayoflife.org)
Berikut ini disadur dari “Pop Moguls Mike Stock,” Christian Today, 11 Agustus 2010: “Dia adalah penulis lagu jenius yang ada di belakang kebanyakan lagu hit dalam karir Kylie Minogue, tetapi Mike Stock kini mengatakan bahwa budaya pop hari ini telah bertindak “terlalu jauh.” Sang produser musik tersebut – yang tergabung dengan perusahaan penulis lagu Stock, Aitken dan Waterman – memberitahu Daily Mail bahwa dia merasa tidak dapat duduk dan menonton bintang-bintang pop seperti Britney Spears atau Lady Gaga bersama dengan ibunya atau anak-anaknya. Ia memperingatkan bahwa anak-anak sedang di “seksualisasi”kan oleh budaya pop modern. ‘Industri musik telah bergerak terlalu jauh. Ini bukan mengenai saya yang kuno. Ini mengenai mempertahankan nilai-nilai yang penting di dunia modern ini.’”
(Berita Mingguan GITS 21 Agustus 2010, diterjemahkan dari www.wayoflife.org)
Christopher Hitchens, penulis buku God is Not Great, mengatakan bahwa ia tidak akan berpaling kepada Allah selama ia masih sadar. Dalam sebuah wawancara dengan Anderson Cooper dari CNN dua bulan setelah ia didiagnosa menderita kanker esofagus (Editor: keronkongan), Hitchens menyebut berpaling kepada Allah “sesuatu yang menyedihkan,” dan doa itu “tidak berarti” (“Hitchens Certain He Won’t Turn to God,” Christian Post, 7 Agustus 2010). Ia menyatakan diri tidak mempercayai apapun yang “berlawanan dengan ilmu pengetahuan atau akal sehat,” tetapi sebenarnya tidak ada yang tidak ilmiah atau tidak logis mengenai iman kepada Allah. Bukti-bukti Allah ada di mana-mana, dan jika Hitchens tidak dapat melihatnya, itu hanyalah karena ia dengan sengaja membutakan diri. Hitchens mengolok-olok iman Alkitabiah, tetapi iman atheis-nya adalah lompatan besar ke dalam kegelapan yang kelam. Ia beriman bahwa tidak ada Allah, walaupun ia tidak mungkin tahu pasti bahwa itu kebenaran. Ia percaya bahwa segala sesuatu menciptakan diri sendiri dari kehampaan. Ia percaya bahwa kehidupan dan kesadaran diri muncul dari materi mati dan bahwa intelijensi muncul dari non-intelijensi. Ia percaya bahwa desain-desain kehidupan yang ada di mana-mana dan sangat luar biasa adalah suatu kecelakaan. ITU adalah iman yang sungguh buta! Alkitab menggambarkan sang atheis dan masalahnya. Ia begitu mencintai dosa dan sedemikian pemberontak sehingga ia menolak untuk mengakui pemerintahan Allah atas hidupnya. “Orang bebal berkata dalam hatinya: “Tidak ada Allah.” Busuk dan jijik perbuatan mereka, tidak ada yang berbuat baik” (Maz. 14:1). Kristus mati bagi dosa-dosa Hitchens dan ia bisa diselamatkan, tetapi Allah menuntut agar manusia bertobat dan mengakui dosanya melawan Dia dan secara pribadi menerima Kristus sebagai Tuhan dan Juruselamat.
(Berita Mingguan GITS 21 Agustus 2010, diterjemahkan dari www.wayoflife.org)
Berikut ini disadur dari “Sebuah Kisah yang Dibuat?” majalah Frontpage, 27 Juli 2010: “Sesekali anda akan mendengar seruan dari para pengritik Islam agar Islam mereformasi diri – agar mesjid-mesjid dan madrasah-madrasah mengajarkan untuk melawan doktrin-doktrin Islam yang mengilhami para teroris. Sebuah contoh yang dramatis akan tuntutan ini ada dalam film Fitna ketika Geert Wilders mengundang orang-orang Muslim untuk merobek halaman-halaman yang penuh kebencian dari Quran….Satu-satunya masalah dengan rekomendasi seperti ini adalah pendekatan ini mengasumsikan ada cukup banyak materi positif dalam Quran dan dokumen-dokumen fondasi lainnya untuk menjadi dasar suatu reformasi. Tetapi apakah benar ada? Menurut Moorthy Muthuswamy, seorang ahli politik Islam, ’61 persen Quran berbicara buruk mengenai orang-orang yang tidak percaya atau menyerukan untuk mengalahkan dan menundukkan mereka dengan kekerasan, tetapi hanya 2,6% yang berbicara mengenai kebaikan umat manusia secara keseluruhan.’…..Kisah yang sama berulang ketika melihat sira, yaitu dokumen-dokumen biografi Muhammad. Ambil saja yang paling awal, yaitu yang ditulis oleh Ibn Ishaq….Menurut analisis konten yang dilakukan oleh Bill Warner dari Center for the Study of Political Islam, sedikitnya 75% sira adalah mengenai jihad. Ini adalah fakta-fakta yang tidak mengenakkan bagi mereka yang berharap Islam dapat direformasi. Tidak peduli seberapa jauh reformasi di pikiranmu, sulit untuk menghasilkan suatu penafsiran yang simbolik tentang seruan-seruan yang begitu banyak dalam Quran untuk berperang melawan orang-orang tidak percaya, karena itulah yang secara literal dilakukan oleh Muhammad. Jadi, daripada mencoba meyakinkan orang-orang Muslim untuk menghilangkan bagian-bagian yang penuh kekerasan dan kebencian dalam Quran, adalah lebih masuk akal untuk mengajak mereka untuk melihat apakah Quran secara keseluruhan memang adalah kebenaran yang dapat dihidupi dengan konsisten.”
EDITOR: Setiap manusia perlu dengan kerendahan hati menyelidiki, yang manakah Firman Allah. Setiap agama megajukan kitab yang dinyatakan sebagai Firman Allah. Tentu tidak semuanya benar, dan setiap manusia perlu mencari tahu sebaik-baiknya, yang mana yang benar.
(Berita Mingguan GITS 14 Agustus 2010, diterjemahkan dari www.wayoflife.org)
Berikut ini disadur dari presentasi Graham West yang sangat bagus “The Rhythm of Rock,” yang tersedia untuk di download di Way of Life Literature. “Dan Lucarini, seorang mantan pemimpin contemporary worship, memperingatkan bahwa ritme rock mempengaruhi kita seperti obat yang bermusik. ‘Walaupun diperkenalkan secara tersembunyi, si pendengar dengan cepat menjadi ketagihan. Daging menuntut lebih banyak dan lebih banyak lagi, sama seperi seorang yang kecanduan, dan kemudian tidak ada jalan mundur lagi’ (Why I Left the Contemporary Christian Music Movement). Hal ini menciptakan trend yang tidak dapat terelakkan untuk menjauh dari musik gereja tradisional. Dalam pasal 17 bukunya, Dan menulis, ‘Dalam kenyataan, yang terjadi seiring dengan waktu adalah peluncuran yang terus menerus di lereng yang licin dari musik tradisional sepenuh menjadi gaya-gaya kontemporer yang paling baru dan paling liar.’ Saya suka dengan ilustrasi Dan tentang suatu lereng yang licin. Saya ingat ketika kami masih anak-anak. Ada suatu lapangan tertentu yang kami suka kunjungi, dan di lapangan itu ada suatu lereng berumput yang cukup terjal. Semua kami akan mengambil potongan kardus, dan dengan kardus itu kami akan meluncur turun sambil menanggung resiko sendiri. Saya mungkin yang paling kecil dari semua anak-anak waktu itu, dan bagi saya hal itu cukup mengerikan. Saya ingat ketika pertama mulai bergerak, kalau mau berhenti masih bisa. Tetapi jika kamu tidak menghentikan diri sendiri saat itu juga, tidak lama kemudian kamu akan mencapai titik tidak dapat berpaling lagi, dan suka tidak suka kamu akan berakhir di kaki bukit itu. Itu persis sama dengan sebuah gereja konservatif yang mulai mencoba-coba CCM. Suka atau tidak suka, mereka akan berakhir di kaki bukit, dan mereka akan sampai di sana dengan kecepatan yang membahayakan. Entah kamu mengerti atau tidak, sekali kamu mulai mendengarkan soft rock, kamu segera mulai meluncur di lereng yang licin itu menuju bentuk-bentuk rock yang semakin agresif. Ini karena balada rock tersebut akan mulai mengorientasikan keseluruhan cara untuk menilai musik: yaitu berpusat pada ritme dan menjauh dari melodi. Kesukaan musikmu akan berubah. Himne-himne dan lagu-lagu yang di masa lalu terdengar sebagai alat penyembahan yang begitu bagus kini akan terdengar membosankan jika dibandingkan dengan citra rasa baru yang kamu miliki sekarang. Progresi ini sudah saya saksikan berulang kali dalam kehidupan berbagai individu; terjadi di kehidupan keluarga-keluarga; terjadi di kehidupan gereja-gereja. Trend ini sebenarnya seharusnya tidak mengagetkan, karena orang-orang ini hanya sekedar mengikuti idola CCM mereka, yang mengikuti dunia dan trend degradasi musik yang progresif. Dalam 50 tahun terakhir di Barat, sementara kebudayaan kita telah menjadi semakin kedagingan, fokus musik masyarakat telah semakin didominasi oleh ritme-ritme yang kompleks dan seksual. Jadi kita di abad 21 memiliki rap, format musik yang nomor 2 paling banyak terjual di dunia, suatu jenis musik yang hampir tidak ada melodi sama sekali. Dengan perkembangan waktu, telinga-telinga telah menjadi terdisorientasi. Pernah, telinga-telinga orang sensitif terhadap melodi, tetapi ritme rock & roll yang sensual dan membuat ketagihan telah membawa kita meluncur ke bawah di lereng yang licin menuju tempat telinga kita kini sensitif terhadap ritme. Gereja, sungguh disayangkan, telah mengikuti trend yang korup ini.”
|
|