Gloria Copeland, Guru Palsu Injil Kemakmuran, Berkata Bahwa Iman Kristen Melindungi dari Virus Flu

(Berita Mingguan GITS 10 Februari 2018, oleh Dr. Steven E. Liauw)

Pada awal tahun 2018 ini, banyak orang di Amerika Serikat terkena virus influenza, dan musim flu kali ini terhitung sebagai musim flu yang cukup berat. Orang Kristen yang alkitabiah tahu, bahwa orang percaya masih bisa menderita sakit, dan bahwa sakit penyakti diizinkan Tuhan sebagai bagian dari rencanaNya dalam hidup orang Kristen hari ini. Sebagai contoh dalam Alkitab, Paulus memiliki kelemahan tubuh yang Tuhan tidak mau sembuhkan (2 Kor. 12:7dst). Trofimus sakit (2 Tim. 4:20), demikian juga Epafroditus (Fil. 2:25-27). Tidak terbilang juga contoh dalam sejarah, orang-orang Kristen yang setia pada Tuhan yang sakit, atau yang bahkan meninggal dunia karena suatu penyakit.

Tetapi, sebagian orang Kristen telah tertipu oleh Injil palsu yang sering disebut Injil kemakmuran, yang menjanjikan hal-hal jasmani, duniawi, dan materi, dan dengan demikian membuat orang mencari “Kristus” demi hal-hal materi dan jasmani, seperti kekayaan, dan juga kesehatan jasmani. Dalam Injil palsu ini, orang Kristen dijamin menjadi kaya, dan dijamin sehat dan bebas penyakit. Bukan saja ini bertentangan dengan realita, ini bertentangan dengan Alkitab.

Salah satu guru palsu demikian adalah Gloria Copeland, istri dari guru palsu lainnya, Kenneth Copeland. Dalam sebuah video Youtube (https://www.youtube.com/watch?v=BcNPjUraXrA), yang ditujukan kepada para pengikutnya, Copeland menyampaikan bahwa orang Kristen seharusnya secara otomatis bebas dari flu, dan tidak lagi memerlukan suntikan (vaksin) flu. Dia berkata, “Kita ada musim bebek, musim rusa, tetapi kita tidak punya musim flu, dan jangan mau terima jika ada orang yang mengancam anda dengan kata-kata ‘semua orang kena flu.’ Kita sudah menerima suntikan kita: Ia menanggung penyakit kita dan membawa kesakitan kita. Di sinilah kita berdiri. Dan oleh bilur-bilurNya kita telah menjadi sembuh.” Copeland berkata bahwa “Yesus sendiri telah memberikan kita suntikan flu.” Anehnya, dalam video tersebut Copeland lalu berdoa bagi orang-orang yang terkena gejala flu. Dia menghardik flu tersebut, dengan gaya khas kharismatik. Copeland ingin mendorong naratif theologis injil kemakmuran bahwa seharusnya orang Kristen tidak kena flu, tetapi tidak bisa lari dari realita bahwa ada pengikutnya yang kena flu. Pada akhir video, dia mempraktekkan paham Word Faith yang kacau dengan menganjurkan para pengikutnya untuk terus mengatakan “saya tidak akan pernah kena flu,” secara berulang-ulang. Dalam paham Word Faith (semacam cabang dari Positive Thinking yang kacau), kata-kata kita berkuasa untuk mengubah realita.

Pada dasarnya, Injil kemakmuran adalah injil palsu yang menyalahgunakan Alkitab. Mereka memelintir ayat Alkitab demi kepentingan dan kesalahan mereka. “Ia sendiri telah memikul dosa kita di dalam tubuh-Nya di kayu salib, supaya kita, yang telah mati terhadap dosa, hidup untuk kebenaran. Oleh bilur-bilur-Nya kamu telah sembuh” (1 Pet. 2:24). Ayat ini berbicara mengenai kesembuhan dari dosa. Kesembuhan fisik akan terjadi pada kita ketika kita mendapatkan tubuh kemuliaan kita.

Posted in Kesesatan Umum dan New Age, Kharismatik/Pantekosta | Leave a comment

Wilayah Keuskupan Episkopal di Amerika Serikat Mengambil Suara untuk Berhenti Menggunakan Kata Ganti Maskulin tntuk Allah

(Berita Mingguan GITS 10 Februari 2018, sumber: www.wayoflife.org)

Wilayah keuskupan Washington D.C. dari Gereja Episkopal, telah menolak Allah dalam Alkitab, demi suatu dewi mistik hasil pemikiran feminisme. Pada tanggal 27 Januari, para delegasi ke konvensi tahunan keuskupan tersebut, menyetujui sebuah pernyataan “untuk mempergunakan bahasa yang luas bagi Allah … dan, jika memungkinkan, untuk menghindari penggunaan kata ganti jenis kelamin tertentu bagi Allah.” Kata ganti jenis kelamin tertentu maksudnya adalah kata-kata seperti “He,” [Inggris] dan “Bapa,” dan “Raja.” Pada penyusun pernyataan yang konyol ini mengatakan, “Dengan memperluas bahasa yang kita pakai untuk Allah, kita akan memperluas gambaran kita akan Allah dan sifat Allah” (“U.S. Episcopal diocese,” LifeSiteNews, 1 Feb. 2018). “Reverend” Linda Calkins dari Gereja Episkopal St. Bartholomew, di Laytonsville, Maryland, mengatakan, “Banyak dari antara kita sedang menantikan dan perlu mendengar Allah dalam bahasa kita, dalam kata-kata kita, dan kata-kata ganti kita.” Pada kenyataannya, Keuskupan Episkopal Washington D.C., telah menolak Allah dalam Alkitab demi suatu dewi mistikal. Dalam Kitab Suci, Allah selalu disebut dengan istilah-istilah maskulin. Dia adalah Raja di atas segala raja, bukan Ratu atas segala ratu. Dia adalah Bapa dan Putra, bukan Ibu dan Putri. Dalam inkarnasi, Allah menjadi seorang lelaki, bukan seorang wanita. “Karena Allah itu esa dan esa pula Dia yang menjadi pengantara antara Allah dan manusia, yaitu manusia [dalam bahasa asli maskulin, yaitu laki-laki] Kristus Yesus” (1 Tim. 2:5).

Posted in Kesesatan Umum dan New Age | Leave a comment

Musik: Karunia dari Allah

(Berita Mingguan GITS 10 Februari 2018, sumber: www.wayoflife.org)

Berikut ini disadur dari Jonathan O’Brien, Creation Ministries, 6 Feb. 2018: “Para ilmuwan baru-baru ini menemukan bahwa otak kita didesain untuk musik – bahwa apresiasi musik yang mendalam adalah aspek mendasar dari seorang manusia (Music on the Brain, Australian Broadcasting Network’s Catalyst). Mengapakah kita memiliki hubungan yang spesial ini dengan musik, walaupun kera dan binatang “tingkat tinggi’ lainnya yang berotak besar, tidak membuat, atau bahkan menginginkan musik, seperti kita? Sama seperti berbicara dan menulis dalam bahasa yang grammatis, musik adalah ciri yang khas dan khusus dari manusia saja. Dari manakah datangnya kebiasaan dan kesukaan kita yang misterius ini? … Menariknya, apresiasi terhadap musik sepertinya sudah tertanam atau ter-install ke dalam semua bagian otak. Para ilmuwan menemukan bahwa musik sepertinya terikat erat dengan kasih dan hubungan pribadi – bahwa musik membawa efek fisiologis yang jelas dan kuat terhadap proses pertalian sosial. Mereka menyimpulkan bahwa musik sedemikian penting bagi struktur fisik otak kita, sehingga musik adalah bagian yang tidak terpisahkan dari arti dasar menjadi seorang manusia. … Harmoni dan melodi, keduanya melibatkan hukum-hukum ilmiah dan matematika yang tidak berubah, jadi yang tertulis dalam bahan dasar alam semesta itu sendiri – tetapi hanyalah manusia yang mampu untuk peduli tentang hal ini. …Karena Darwinisme hanyalah suatu filosofi materialistik, bukan ilmu pengetahuan sejati, ia tidak mampu untuk menjelaskan arti musik. Musik mampu melingkupi kita dengan emosi karena terhubung dengan aspek rohani kita, dan ini adalah bukti yang baik tentang eksistensi jiwa. … Banyak orang, dari berbagai latar belakang dan kepercayaan, telah berbicara tentang ‘jiwa’ musik. …Vishal Mangalwadi mencatat, ‘Menyangkali realitas suatu inti rohani sebagai esensi dari setiap manusia, akan membuat sulit untuk dapat memahami musik, karena musik, sama seperti moralitas, adalah masalah jiwa.’ …Tubuh manusia seolah dirancang untuk musik. Sebagai makhluk yang berkaki dua dan berdiri tegak, tangan kita bebas untuk membuat karya kreatif yang memerlukan skill – yang lalu didorong oleh keinginan dalam pikiran dan hati kita. Kita memainkan instrumen-instrumen yang sulit, seperti violin, gitar, dan piano, membuat komposisi musik yang kompleks, dan bernyanyi, karena otak dan kepribadian kita berjuang untuk berekspresi dalam format rohani musik. Tangan kita adalah hasil mujizat desain, dirancang secara sempurna untuk menghasilkan gerakan yang paling halus, dan sentuhan yang paling sensitif, dan adalah karya luar biasa ‘genius, fleksibel, dan mobilitas’ … Telinga kita juga adalah instrumen yang telah dirancang secara ahli, untuk menerima dan meneruskan suara-suara musikal. …Kita juga memiliki pita suara yang mampu menghasilkan nada-nada musik yang terbaik yang dapat dibayangkan. …Sangatlah jelas bagi barangsiapa yang mau melihat, bahwa musik, secara jasmani maupun rohani adalah bagian dari desain Allah bagi dunia ciptaan.”

Posted in musik | Leave a comment

100% Percaya

(Berita Mingguan GITS 10 Februari 2018, sumber: www.wayoflife.org)

Alkitab mengatakan bahwa iman yang menyelamatkan adalah mempercayai Yesus Kristus sebagai Juruselamat “dengan segenap hati” (Kis. 8:37). Iman ini adalah iman yang yakin atau “tahu” (Yoh. 6:69). Ini adalah iman yang 100%. Hal ini didemonstrasikan dengan cara yang dramatis pada tanggal 17 Agustus 1859, di air terjun Niagara yang terkenal. Sebuah tali tebal, berdiameter 3 inci, bergantung menyeberangi Ngarai Niagara sepanjang 350an meter, di perbatasan Amerika dan Kanada, dan Charles Bondin, seorang yang ahli menyeberangi tali seperti itu, sedang bersiap untuk melakukan penyeberangan yang berbahaya itu, 55 meter di atas air yang membuih. Dia telah melakukan beberapa kali sebelumnya: dengan mata ditutup, sambil mendorong kereta sorong, sambil melakukan jungkir balik depan dan belakang, sambil menggunakan tongkat kayu sebagai kaki, dan pada malam hari dengan menggunakan lampu kereta sebagai senter. Pernah satu kali ia membawa sebuah tungku logam di punggungnya, menaruhya di tengah sungai, dan memasak telur goreng, lalu menurunkannya ke dek kapal penumpang Maid of the Mist yang lewat. Tetapi kali ini, Harry Colcord akan naik ke punggung Blondin. Sebelum memulai acara ini, Blondion berkata, “Pandang ke depan, Harry…. Kamu bukan lagi Colcord, kamu sekarang Blondin. Sampai saya selesai menyeberang, jadilah bagian dari diri saya, pikiran, tubuh, dan jiwa. Jika saya bergoyang, goyang bersama saya. Jangan mencoba untuk menyeimbangkan dirimu sendiri” (“The Daredevil of Niagara Falls,” Smithsonian.com, 18 Okt. 2011). Colcord yakin dengan kemampuan Blondin. Dia memiliki bukti yang kuat bahwa orang ini bisa melakukan apa yang ia janjikan. Jadi dia menyerahkan dirinya 100% kepada Blondin, dan mendapatkan perjalanan gratis menyeberangi sungai, tanpa menyumbang satu iota pun kepada usaha tersebut. Ini adalah gambaran iman yang menyelamatkan. Iman ini menolak segala bentuk pengandalan diri sendiri, dan sebaliknya mengandalkan Kristus 100% dan karya penebusanNya, untuk membuat saya benar di hadapan Allah. “Aku akan mengangkat piala keselamatan, dan akan menyerukan nama TUHAN” (Maz. 116:13).

Posted in Psikologi | Leave a comment

Apakah Israel di Dunia Hari Ini Adalah Israel-Nya Allah?

(Berita Mingguan GITS 3 Februari 2018, sumber: www.wayoflife.org)

Pengkhotbah Baptis, Steven Anderson, mengklaim bahwa Israel yang eksis di dunia hari ini, Israel yang keluar dari bangsa-bangsa untuk membentuk sebuah negara pada tahun 1948, bukanlah Israel yang ada dalam Kitab Suci dan tidak akan memiliki masa depan dalam perjanjian-perjanjian dan janji-janji Allah. Sebuah poin utama dalam video populer Anderson yang berjudul Marching to Zion, adalah bahwa karena orang-orang Yahudi telah menolak Yesus sebagai Mesias dan telah berlanjut dalam ketidakpercayaan dan ketidaktaatan, dan karena Yudaisme rabbinik hari ini tidak didasarkan pada Alkitab tetapi pada Talmud, maka Israel hari ini bukanlah Israel sejati. Israel telah ditolak oleh Allah dan telah digantikan oleh gereja. Anderson berkata, “Kita yang percaya pada Yesus Kristus adalah Israel. … Kita orang Kristen adalah umat Allah yang sejati. Kita adalah Israel sejati. Dan kita sedang berjalan ke Sion” (Marching to Zion). Lebih lanjut lagi dia berkata, “Jadi dalam pemandangan Allah, mereka bukan orang Yahudi, mereka adalah jemaah Iblis.” Tetapi Alkitab berbicara dengan jelas mengenai isu ini. Mulai dari kitab Taurat hingga Perjanjian Baru, kita diajar bahwa Israel yang sama yang membangkang terhadap Allah dan yang disebarkan di antara bangsa-bangsa adalah Israel yang akan bertobat dan direstorasi. Satu pernyataan yang jelas mengenai ini adalah dalam Imamat 26:44 – “Namun demikian, apabila mereka ada di negeri musuh mereka, Aku tidak akan menolak mereka dan tidak akan muak melihat mereka, sehingga Aku membinasakan mereka dan membatalkan perjanjian-Ku dengan mereka, sebab Akulah TUHAN, Allah mereka.” Perhatikan juga Hosea 3:4-5, “Sebab lama orang Israel akan diam dengan tidak ada raja, tiada pemimpin, tiada korban, tiada tugu berhala dan tiada efod dan terafim. 5 Sesudah itu orang Israel akan berbalik dan akan mencari TUHAN, Allah mereka, dan Daud, raja mereka. Mereka akan datang dengan gementar kepada TUHAN dan kepada kebaikan-Nya pada hari-hari yang terakhir.” Dan perhatikan Yeremia 23:7-8 – “Sebab itu, demikianlah firman TUHAN, sesungguhnya, waktunya akan datang, bahwa orang tidak lagi mengatakan: Demi TUHAN yang hidup yang menuntun orang Israel keluar dari tanah Mesir!, melainkan: Demi TUHAN yang hidup yang menuntun dan membawa pulang keturunan kaum Israel keluar dari tanah utara dan dari segala negeri ke mana Ia telah menceraiberaikan mereka!, maka mereka akan tinggal di tanahnya sendiri.” Faktanya, semua nubuat yang berhubungan dengan kembalinya dan restorasi Israel mengindikasikan dengan jelas bahwa Israel yang sama yang memberontak dan diserakkan di antara bangsa-bangsa sebagai penghukuman dan yang telah berlanjut dalam kesesatan hingga sekarang, adalah Israel yang akan bertobat dan direstorasi. Contoh-contoh lain adalah Ulangan 28-30; Yeremia 31:6-11; Yehezkiel 36:22-38; 37:1-14; Amos 9:8-15; Roma 11:15, 25-27.

Posted in Akhir Zaman / Nubuatan, Israel | Leave a comment

Pengkhotbah yang Belajar untuk Percaya pada Tuhan dalam Perpuluhan

(Berita Mingguan GITS 3 Februari 2018, sumber: www.wayoflife.org)

Bawalah seluruh persembahan persepuluhan itu ke dalam rumah perbendaharaan, supaya ada persediaan makanan di rumah-Ku dan ujilah Aku, firman TUHAN semesta alam, apakah Aku tidak membukakan bagimu tingkap-tingkap langit dan mencurahkan berkat kepadamu sampai berkelimpahan” (Mal. 3:10). “Camkanlah ini: Orang yang menabur sedikit, akan menuai sedikit juga, dan orang yang menabur banyak, akan menuai banyak juga” (2 Kor. 9:6). Satu-satunya cara untuk mempraktekkan secara efektif memberi kepada Tuhan secara rutin adalah dengan iman. Kita harus percaya janji-janji Tuhan bahkan dalam saat-saat kesulitan. Dan kita harus mengingat bahwa Allah menguji iman untuk memperlihatkan apakah iman itu sejati, dan juga untuk membuatnya bertambah kuat (Yak. 1:2-4). Banyak kali jika seorang Kristen memutuskan untuk mulai memberikan perpuluhan, dia akan mengalami masalah finansial tertentu untuk menguji keputusannya itu. John R. Rice bercerita tentang seorang penginjil bernama Kuykendahl di Texas pada awal abad 20. Dia memiliki pelayanan khotbah sirkuit (keliling), dan persembahan yang dia dapatkan sangat kecil, sehingga keluarganya yang besar mengalami kesusahan. Satu tahun, seorang pebisnis yang kaya mengunjungi daerah itu untuk membagikan kesaksiannya di beberapa gereja, dan penginjil Kuykendahl adalah tuan rumahnya, dan membawa dia dari tempat ke tempat dalam kereta kudanya. Di antara berbagai hal yang dia saksikan, pebisnis itu menantang orang-orang untuk memberikan perpuluhan dan mendukung pekerjaan Tuhan yang besar. Sambil mereka berperjalanan suatu hari, pebisnis itu bertanya kepada sang penginjil apakah dia percaya perihal perpuluhan. Dia menjawab, “Ya, saya akan senang untuk memberikan perpuluhan, tetapi saya terlalu miskin dan harus mengurus keluarga saya yang besar.” Pebisnis itu menjawab, “Saya akan memberikan suatu penawaran padamu. Jika kami mau memberi perpuluhan untuk setahun penuh, saya akan menjamin kamu. Jika pada waktu mana pun dalam tahun tersebut engkau menemukan bahwa engkau tidak dapat membayar kewajiban-kewajibanmu, dan tidak tahu lagi harus berpaling ke mana, hubungi saja saya, dan saya yang mengirimkan uang yang diperlukan kepadamu. Saya seorang yang kaya, dan saya orang yang pegang janji.” Kuykendahl dengan antusias menjawab, “Saya akan dengan senang menerima penawaran ini.” Sang penginjil menetapi janjinya, dan memberi perpuluhan dengan setia, tetapi dia tidak pernah perlu menghubungi pebisnis tersebut. Pada akhir dari 12 bulan, penginjil tersebut merenungkan apa yang terjadi. Allah telah memberkati dia tahun itu dan memenuhi semua keperluan. Orang-orang memberikan kepadanya lebih daripada yang pernah terjadi, dan keluarganya mengalami banyak berkat spesial. Sambil dia merenungkan hal-hal ini, hatinya tiba-tiba terpukul ketika dia menyadari bahwa dia mempercayai kata-kata seorang pebisnis, padahal dia tidak siap untuk mempercayai Firman Allah yang hidup, yang telah memberikan janji yang lebih hebat!

Posted in General (Umum), Renungan | Leave a comment

Hillsong di Thomas Road

(Berita Mingguan GITS 27 Januari 2018, sumber: www.wayoflife.org)

Gereja Baptis Thomas Road di Lynchburg, Virginia, didirikan oleh almarhum Jerry Falwell, akan mengadakan sebuah konser “worship” rock & roll dari Hillsong, pada tanggal 20 April 2018. Ketidaktaatan dan kompromi selama puluhan tahun telah menghasilkan tingkat kebutaan rohani yang sedemikian mengerikan, sehingga dapat menerima kesesatan Hillsong. Musik “worship” Hillsong dimulai di Gereja Hillsong, Sydney, Australia. Di sana, gembalanya adalah tim suami istri, Brian dan Bobby Houston, dan pemimpin “worship” adalah Darlene Zschech. Beberapa tahun lalu Bobby mempublikasikan sebuah seri video berjudul “Wanita Kerajaan Suka Seks.” Kira-kira pada waktu yang sama Brian mempublikasikan seri dia yang berjudul “Kamu Perlu Lebih Banyak Uang” mengenai subjek “memberi kelimpahan.” Hari ini Gereja Hillsong memiliki cabang-cabang di berbagai belahan dunia, dan semuanya menghasilkan musik “worship.” Pada tahun 2014, New York Times melaporkan bahwa Hillsong “tanpa diragukan adalah penghasil musik worship yang paling berpengaruh di dunia kekristenan” (“Megachurch with a Beat Lures Young Flock,” 9 Sept. 2014).

Hillsong memiliki sifat ekumenis radikal, sangat duniawi, dan secara total berkomitmen pada kesesatan Pantekosta Hujan Akhir (misal komat-kamit yang disebut “bahasa roh,” membunuh dalam roh, bernubuat, kata-kata iman, gembala wanita, persatuan ekumenis sebagai tanda kebangkitan rohani akhir zaman, dll.). Pada bulan Juli 2015, Hillsong bergandengan tangan dengan Paus Fransiskus di acara Convocation of the Renewal of the Holy Spirit yang diadakan di Vatikan. Pemimpin pujian Hillsong, Darlene Zschech mengatakan dalam halaman Facebooknya, “Ini adalah perayaan persatuan dan damai dalam Pembaharuan Roh Kudus. Hari-hari yang luar biasa bagi Tubuh Kristus.” Siapapun yang berpikir bahwa orang-orang – yang percaya keselamatan melalui baptisan dan menghormati Maria sebagai Ratu Sorga – berada dalam “tubuh Kristus,” tidaklah memahami ABC (hal paling mendasar) dari kebenaran Alkitab. Pada bulan Mei 2016, Hillsong New York mengadakan Konferensi Wanita, yang di dalamnya terdapat antara lain, para cheerleader dengan pakaian minim, seorang peniru Elvis, dan seorang koboi telanjang, yang hanya memakai celana dalam, topi koboi, sepatu, dan sebuah gitar. Koboi itu diperankan oleh gembala muda Hillsong New York sendiri, yaitu Diego Simla.

Gereja Baptis Thomas Road, yang akan menjadi tuan rumah konser Hillsong di bulan April mendatang ini, terafiliasi dengan Konvensi Baptis Selatan, dan lama berafiliasi dengan Baptist Bible Fellowship International. Gembala pendirinya, Jerry Falwell, membuat terobosan ekumenis di antara kaum Baptis Independen melalui afiliasinya dengan Gereja Roma Katolik, mulai dari tahun 1970an. Pada tahun 1986, dia menyatakan bahwa orang-orang Roma Katolik merupakan bagian terbesar dari organisasi politiknya, yang bernama Moral Majority. Falwell memuji Paus Yohanes Paulus II dan merekomendasikan buku Chuck Colson, 1992, berjudul The Body, yang menganggap Gereja Katolik bagian dari “tubuh Kristus.” Gereja Baptis Thomas Road dan Universitas Liberty berada pada tebing licin kompromi yang dimulai di bawah arahan Jerry Falwell. Kompromi yang dia lakukan dimulai dengan langkah-langkah kecil, sebagaimana selalu terjadi, tetapi Firman Allah memperingatkan bahwa “sedikit ragi mengkhamirkan seluruh adonan” (1 Kor. 5:6; Gal. 5:9).

Posted in Kesesatan Umum dan New Age, Kharismatik/Pantekosta, musik, New Evangelical (Injili) | Leave a comment

Cina Menghancurkan Gedung Gereja

(Berita Mingguan GITS 27 Januari 2018, sumber: www.wayoflife.org)

Berikut ini disadur dari “Bomb destroys persecuted church,” China Aid, 9 Jan. 2018: “Sebuah ledakan menggema di udara tadi pada hari ini, ketika pihak otoritas mengebom dan menghancurkan sebuah gereja yang telah berulang kali mengalami penganiayaan di propinsi Shanxi utara, Cina. Gereja Golden Lampstand (Kaki Dian Emas), di Linfen, Shanxi, sebelumnya adalah sebuah gereja yang tidak terdaftar dengan gedung bernilai 17 juta Yuan ($2,603,380 USD), yang dibayarkan secara total oleh orang-orang Kristen yang menghadiri gereja itu. Pada tanggal 9 Januari, polisi militer Cina meledakkan bahan-bahan peledak yang telah ditanam di aula-aula pertemuan bawah tanah yang terletak di bawah gereja itu, dan berlanjut ke penghancuran gedung yang di atasnya, sehingga luluh. Polisi militer Cina telah dikendalikan langsung oleh pemerintah pusat sejak kepala biro keamanan umum, yang sebelumnya mengepalai polisi militer, ditangkap tahun lalu. Ini mengindikasikan bahwa perintah untuk menghancurkan gereja itu datang dari pejabat-pejabat tertinggi, bukan dari otoritas lokal yang tidak seberkuasa itu. Namun, ini bukan pertama kalinya gereja tersebut menghadapi penganiayaan. Cina berulang kali menyerang gereja-gereja rumah, yaitu gereja-gereja yang menolak untuk mendaftarkan diri, seringkali supaya tidak perlu dimonitor dan dikontrol oleh pemerintah. Tetapi para pejabat seringkali mempidanakan pilihan demikian, dan sebagian pemimpin Gereja Golden Lampstandtelah dipenjarakan selama satu hingga tujuh tahun, hanya karena melayani di gereja mereka. Penghancuran yang serupa atas sebuah Gereja Katolik tahun lalu, membuat orang-orang Kristen khawatir bahwa pemerintah pusat akan mulai menginstruksikan penghancuran masal gedung-gedung gereja di seluruh negeri, ketika peraturan-peraturan agama yang baru mulai berlaku bulan depan. Peraturan-peraturan ini memberikan Partai Komunis Cina kuasa yang lebih besar lagi untuk mengatur agama, dan hal ini membuka jalan untuk penganiayaan yang semakin banyak. … [Para pemimpin gereja itu ditangkap tahun 2009 dan menghabiskan antara tiga hingga tujuh tahun dalam penjara.]”

Posted in Penganiayaan / Persecution | Leave a comment

Gembala Southern Baptist Memenangkan Penghargaan Azusa

(Berita Mingguan GITS 20 Januari 2018, sumber: www.wayoflife.org)

Gembala Southern Baptist, William Dwight McKissic, Sr., telah diberikan penghargaan tahunan, William Seymour Award, untuk tahun 2018. Penghargaan ini dinamakan sesuai dengan nama gembala dari apa yang disebut Azusa Street Revival, 1906, yang biasanya disebut-sebut sebagai lahirnya Pantekostalisme. Penghargaan itu akan diserahkan pada bulan April di perayaan Azusafest. Pada saat itu akan juga diadakan sebuah “konferensi kenabian” dengan “Rasul” Ron dan Tyda Harvey. Jika McKissic menerima penghargaan ini, maka itu membuktikan ketidaktahuan dia yang parah, atau kesesatan. Azusa adalah suatu fenomena gila yang sesat! Kebaktian-kebaktiannya dicirikan oleh kekacauan, bertentangan dengan pengajaran Kitab Suci yang jelas: menari, melompat-lompat, berjatuhan, masuk “trance,” membunuh dalam roh, “bahasa” kacau balau komat kamit, tubuh yang gemetaran atau kejang, histeria, meniru suara-suara binatang, “tertawa kudus,” “bisu rohani,” dll. Para pencari yang datang ke sana akan “tersita oleh suatu sihir yang aneh dan memulai suara-suara yang kacau balau.” “Saat-saat tertentu orang-orang akan jatuh bergelimpangan di seluruh rumah, mirip pasukan yang mati di medan perang…” (Larry Martin, The Life and Ministry of William J. Seymour, hal. 179). Tidak ada aturan atau urutan kebaktian, dan biasanya tidak ada yang memimpin. Orang-orang bernyanyi bersama-sama tetapi “dengan kata-kata, ritme, dan melodi yang sama sekali berbeda” (Ted Olsen, “American Pentecost,” Christian History, Issue 58, 1998). “Siapapun yang diurapi dengan pesan akan berdiri dan menyampaikannya. Bisa jadi seorang lelaki, atau seorang wanita, atau seorang anak kecil” (Martin, hal. 186). Ada saatnya kebaktian menjadi sedemikian berisik sehingga polisi dipanggil. Ada satu orang yang gemetaran sedemikian kerasnya di bawah pelayanan Seymour, sehingga sebuah ambulans dipanggil. Ketika orang yang gemetar itu memberitahu dokter, “Jangan sentuh saya, ini kuasa Allah,” sang dokter dengan bijak menjawab, “Jika ini kuasa Allah, maka kuasa ini sedang menggoncang anda seperti setan” (Martin, hal. 306). Seymour mengklaim bahwa kesembuhan jasmani digaransi dalam penebusan Kristus dan mengajarkan orang-orang untuk berseru kepada Allah dan menuntut “baptisan Roh Kudus dan penyembuhan ilahi” (Synan, The Holiness-Pentecostal Tradition, hal. 99). Tetapi Seymour mati pada usia lima puluh dua, dan sebelum kematiannya dia digambarkan dalam kondisi “capek, usang, dan sangat lemah” (John Matthews, Speaking in Tongues, 1925, hal. 14). Gambaran itu bagi saya tidak terdengar seperti kesembuhan ilahi! Sebenarnya, kehidupan dan kematian orang malang tersebut mencerminkan kekacauan yang tidak alkitabiah yang sama yang mencirikan kebaktian-kebaktiannya. Tidak heran G. Campbell Morgan menyebut Azusa Street sebagai “muntahan terakhir Iblis.” (Untuk lebih banyak lagi informasi tentang sejarah dan doktrin Pantekostalisme, lihat The Pentecostal-Charismatic Movements, tersedia di Way of Life Literature, www.wayoflife.org.)

Posted in Kharismatik/Pantekosta | Leave a comment

C. H. Spurgeon dan 1 Timotius 2:4

(Berita Mingguan GITS 20 Januari 2018, sumber: www.wayoflife.org)

“Yang menghendaki supaya semua orang diselamatkan dan memperoleh pengetahuan akan kebenaran” (1 Tim. 2:4). C.H. Spurgeon menyebut dirinya sendiri seorang Kalvinis, dan kita tidak meragukan bahwa dia seorang Kalvinis, tetapi dia adalah tipe Kalvinis yang unik sendiri. Dia tidak disukai oleh para Kalvinis yang lebih kuat di zamannya, karena dia menyerukan supaya semua orang diselamatkan (lihat buku Spurgeon vs. the Hyper-Calvinism oleh Iain Murray.) Spurgeon menafsirkan 1 Timotius 2:4 secara literal dan tidak berusaha untuk menghilangkan maknanya lewat penjelasan yang rumit berdasarkan theologi Kalvinis. Dia mengkhotbahkan, “Akankah kita mencoba untuk menaruh makna lain dalam teks ini selain dari yang tercantum secara jelas? Saya katakan tidak. Pastilah, kebanyakan kalian, mengenal metode yang dipakai oleh teman-teman Kalvinis kita yang lebih tua untuk menghadapi teks ini. ‘Semua orang’ kata mereka, yaitu maksudnya ‘sebagian orang’; ‘semua orang,’ kata mereka, yaitu ‘sebagian dari semua jenis orang.’ Roh Kudus melalui sang Rasul telah menulis ‘semua orang,’ dan tanpa diragukan Dia memaksudkan semua orang. … Saya baru saya membaca ekposisi dari seorang doktor yang sangat mumpuni yang menjelaskan teks ini sehingga meniadakan maknanya; dia menaruh bubuk mesiu grammatis ke atasnya, dan meledakkanya dengan cara meneranginya. … Kecintaan saya pada konsistensi pandangan doktrin pribadi saya, tidak cukup besar untuk mengizinkan saya secara sadar mengubah satu teks Kitab Suci mana pun. Saya lebih senang seratus kali terlihat tidak konsisten dengan diri saya sendiri daripada tidak konsisten dengan Firman Allah. … Kiranya Allah menghindarkan saya dari memotong atau mengubah, sekecil apapun, ekpresi ilahi mana pun. Jadi teks sudah berbunyi demikian, dan demikianlah harus kita pahami, ‘Allah, Juruselamat kita, yang menghendaki supaya semua orang diselamatkan dan memperoleh pengetahuan akan kebenaran’” (C.H. Spurgeon, “Salvation by Knowing the Truth,” Park Street and Metropolitan Tabernacle Pulpit). Gereja Metropolitan Tabernacle, pada zaman Charles Spurgeon, adalah organisasi dengan usaha penginjilan yang besar. Ribuan orang diselamatkan, dengan bukti hidup-hidup yang berubah (sebagai didokumentasikan dalam Wonders of Grace: Original testimonies of converts during Spurgeon’s early years). Gereja itu mengoperasikan 27 Sekolah Minggu dan Sekolah untuk anak-anak tidak mampu, dengan sekitar 600an guru yang melayani lebih dari 8.000 anak-anak.

Posted in Kalvinisme | 6 Comments