Saya Mencintai Pengangkatan Pra-Tribulasi

(Berita Mingguan GITS 18 Januari 2020, sumber: www.wayoflife.org)

Saya mencintai pengajaran Alkitab tentang Pengangkatan (Rapture) Pra-tribulasi. Saya sudah mempelajarinya selama hampir setengah abad, dan sama sekali tidak ada keraguan bahwa ini adalah doktrin Alkitab dan juga suatu doktrin yang fundamental. Doktrin ini tidak didasarkan pada satu ayat mana pun; ia didasarkan pada totalitas pengajaran Alkitab tentang nubuat. Jika anda menafsirkan nubuat Alkitab dengan cara yang normal-literal secara konsisten, yang memang adalah satu-satunya cara yang benar untuk menafsirkannya, maka anda akan sampai pada kesimpulan adanya perbedaan jelas antara gereja dan Israel, dan anda akan memahami 70 minggu di Daniel 9 dan Wahyu 5-18 sebagai bagian Israel, bukan bagian gereja. Anda akan memahami bahwa doktrin iminensi (bahwa Tuhan Yesus bisa kembali kapan saja), yang jelas diajarkan dan sangat ditekankan dalam surat-surat (misal Rom. 13:12; Fil. 4:5; 1 Tes. 1:9-10; 5:4-9; Tit. 2:13; Yak. 5:8-9; 1 Pet. 4:7; Yud. 1:21; Wah. 1:3), menuntut bahwa orang-orang kudus zaman gereja diangkat sebelum program Israel dikembalikan menjadi menu utama. Kedatangan Tuhan sudah dekat! Bagi saya sendiri, masalah ini sudah jelas. Saya telah mengeluarkan tenaga untuk menyelidiki setiap sisi dari isu ini dan Pengangkatan Pra-tribulasi (Pre-tribulation Rapture) bergaung dalam diri saya semakin kuat seiring berlalunya tahun-tahun. Pelajaran Alkitab pertama yang kami terbitkan pada tahun 1980an, adalah tentang nubuat. Dalam tahun-tahun belakangan, kami telah menerbitkan buku-buku berikut: Understanding Bible Prophecy ; The Future According to the Bible ; Jews in Fighter Jets: Israel Past, Present, and Future ; dan pembelajaran nubuat lainnya. Dispensasionalisme, sebagai nama suatu sistem theologi, bermula di abad 19, tetapi penafsiran literal terhadat nubuat dan kembalinya Kristus yang imminen dan perbedaan jelas antara Israel dan Gereja dan penggenapan literal perjanjian-perjanjian Israel, semuanya adalah doktrin Alkitab yang jelas dan diajarkan oleh Rasul-Rasul dan dipercayai oleh gereja-gereja awal. Roh Allah membangkitkan kembali doktrin ini menjadi prominen pada tahun 1800an, dan telah mendorong suatu kebangkitan rohani yang besar untuk hidup kudus dan semangat untuk penginjilan dan pengabaran misi dunia. Ia memberitakan kekudusan, sikap berjaga-jaga, dan pemberian harapan, dan mempertahankan fokus gereja pada Amanat Agung. Kami memperhatikan ada buah yang besar dari mengkhotbahkan doktrin ini, dan saya akan berusaha sebisa mungkin untuk menjauhkan pengaruh pengkhotbah-pengkhotbah yang menolak Pengangkatan Pra-tribulasi dari keluarga dan gereja kami. Saya jelas menganggap doktrin ini sebagai isu yang pantas untuk melakukan separasi.

Posted in Akhir Zaman / Nubuatan | Leave a comment

Iminensi Kembalinya Kristus untuk Orang-Orang Kudus Zaman Gereja Mengajarkan Bahwa Pengangkatan Mendahului Minggu Ke-70

(Berita Mingguan GITS 18 Januari 2020, sumber: www.wayoflife.org)

Alkitab menyatakan bahwa kedatangan Tuhan “sudah dekat” (Rom. 13:12; Fil. 4:5; 1 Pet. 4:7). Ini berasal dari kata eggizo, yang berarti “dekat, mendekat.” Frase Inggris “at hand” adalah suatu metafora yang mengindikasikan sesuatu yang dekat, dan siap, seperti tanganmu. Frase ini dipakai untuk menggambarkan lokasi kubur Yesus, yang “tidak jauh letaknya” (KJV: nigh at hand) dari tempat penyalibanNya (Yoh. 19:42). Paulus menggunakannya untuk mengambarkan kematiannya yang dapat terjadi kapan saja, atau iminen (2 Tim. 4:6). Kedatangan kembali Kristus untuk orang-orang kudus zaman gereja selalu dalam posisi “sudah dekat,” dan iminen, dapat terjadi kapan saja. Hal ini mengajarkan kita bahwa Rapture/Pengangkatan yang digambarkan dalam 1 Tesalonika 4 dan 1 Korintus 15, mendahului minggu ke-70 Daniel (Dan. 9:27). Jika pengangkatan terjadi kapanpun selama masa 7 tahun itu, maka ia tidak bisa iminen, karena peristiwa-peristiwa yang akan terjadi sudah jelas dinyatakan dalam Kitab Suci. Itu bermula dari perjanjian Antikristus selama 7 tahun dengan Israel yang sesat — “Raja itu akan membuat perjanjian itu menjadi berat bagi banyak orang selama satu kali tujuh masa.” Selama tiga setengah tahun pertama, Bait ketiga akan dibangun (Wah. 11:1-2), penghakiman-penghakiman awal akaan terjadi sebagaimana dilukiskan dalam Wahyu 6 (peperangan dan kelaparan yang akan membinasakan seperempat populasi bumi, suatu gempa bumi yang besar, tanda-tanda di langit), 144.000 orang penginjil Yahudi akan berkhotbah dan menghasilkan tuaian jiwa-jiwa yang besar di tengah-tengah penganiayaan yang hebat (Wah. 7), dan kedua saksi akan bernubuat di Yerusalem (Wah. 11:3-6). Setelah tiga setengah tahun, Antikristus akan melanggar perjanjiannya dan mendirikan kekejian yang membinasakan di Bait sebagaimana digambarkan oleh Daniel, oleh Tuhan Yesus, dan oleh Paulus. “Pada pertengahan tujuh masa itu ia akan menghentikan korban sembelihan dan korban santapan; dan di atas sayap kekejian akan datang yang membinasakan..” (Dan. 9:27). Lihat juga Matius 24:15 dan 2 Tesalonika 2:3-4. Setelah tiga setengah tahun pertama, kedua saksi akan dibunuh dan sebuah gempa bumi dahsyat akan menghancurkan sepersepuluh dari kota Yerusalem (Wah. 11:7-13). Peristiwa-peristiwa para paruh kedua dari Minggu ke-70 Daniel digambarkan di bagian-bagian lain kitab Wahyu. Termasuk di dalamnya adalah hujan es dan api yang menghancurkan sepertiga pohon dan rumput (Wah. 8:7), sepertiga laut berubah menjadi darah (Wah. 8:8-9), sepertiga air menjadi pahit (Wah. 8:10-11), belalang-belalang yang mengerikan dari jurang maut (Wah. 9:1-11), 200 juta pasukan dari Timur yang mengakibatkan sepertiga umat manusia dibinasakan (Wah. 9:13-21), penyembahan mendunia terhadap Antikristus dan pemerintahannya yang diktatorial (Wah. 13), sungai-sungai dan mata-mata air menjadi darah (Wah. 16:4-6), penghangusan manusia oleh api yang dahsyat (Wah. 16:8-9), kegelapan (Wah. 16:10-11), penghancuran agama Babel Rahasia (Wah. 14:8; 17:16-18), penghancuran Babel komersil (Wah. 18:5-24), Harmagedon (Wah. 16:12-16). Jika Pengangkatan tidak mendahului Minggu ke-70 Daniel, maka ia tidak mungkin sudah dekat, karena harus terjadi dulu peristiwa-peristiwa ini dan waktunya akan diketahui dengan persis sambil peristiwa-peristiwa itu terjadi. Orang-orang kudus zaman gereja menantikan Kristus, bukan Antikristus; kita menantikan Pengharapan yang penuh bahagia, bukan Tribulasi yang sangat berat. “Sebab mereka sendiri berceritera tentang kami, bagaimana kami kamu sambut dan bagaimana kamu berbalik dari berhala-berhala kepada Allah untuk melayani Allah yang hidup dan yang benar, dan untuk menantikan kedatangan Anak-Nya dari sorga, yang telah dibangkitkan-Nya dari antara orang mati, yaitu Yesus, yang menyelamatkan kita dari murka yang akan datang…Tetapi kamu, saudara-saudara, kamu tidak hidup di dalam kegelapan, sehingga hari itu tiba-tiba mendatangi kamu seperti pencuri, karena kamu semua adalah anak-anak terang dan anak-anak siang. Kita bukanlah orang-orang malam atau orang-orang kegelapan. …Karena Allah tidak menetapkan kita untuk ditimpa murka, tetapi untuk beroleh keselamatan oleh Yesus Kristus, Tuhan kita,” (1 Tes. 1:9-10; 5:4-5, 9).

Posted in Akhir Zaman / Nubuatan | Leave a comment

Rabi Menyela Pidato Netanyahu untuk Menyerukan Pembangunan Bait Ketiga

(Berita Mingguan GITS 18 Januari 2020, sumber: www.wayoflife.org)

Ketika secara berbicara baru-baru ini mengenai pentingnya kehadiran Israel di Yudea dan Samaria, Perdana Menteri Israel Benyamin Netanyahu disela oleh Rabi Yehuda Glick yang menyerukan pembangunan Bait Ketiga. Dalam Forum Kebijakan Kohelet, pada tanggal 8 Januari lalu, Netanyahu berkata, “Jika Israel tidak hadir di bukit-bukit Yudea dan Samaria, para Islamis akan mengambil alih.” Rabi Yehuda Glick langsung berteriak, ‘Sama dengan Bukit Bait!” (“Rabbi Glick,” Breaking Israel News, 8 Jan. 2020). Glick memberitahu media setelah itu bahwa mereka harus menjaga ide tentang Bait Ketiga terus berkobar. “Kamu harus terus mengatakannya. Kalau kamu tidak mengatakannya, kamu akan melupakannya.” Glick, seorang anggota dari Partai Likud-nya Netanyahu, bertahan hidup setelah melewati percobaan pembunuhan pada tahun 2014, ketika ia ditembak empat kali di bagian dada oleh seorang teroris, yaitu Mutaz Hijazi. Hijazi, seorang anggota dari Islamic Jihad yang pernah dipenjara 11 tahun di Israel, kemudian terbunuh empat hari kemudia dalam suatu baku tembah dengan polisi Israel. Glick adalah penulis dari buku Arise and Ascend, sebuah buku pandu bagi para pengunjung Yahudi ke Bukit Bait. Dia juga terasosiasikan dengan Temple Mount Faithful, yang adalah salah satu organisasi yang mempersiapkan pembangunan Bait berikutnya. Dalam sebuah wawancara pada tahun 2015, Rabi Yisrael Ariel, kepala dari Temple Institute, mengatakan bahwa semua materi untuk keberlangsungan Bait, “sudah siap dalam kotak-kotak di ruang bawah, supaya ketika kita sampai Yerusalem, akan ada truk-truk untuk menurunkan semuanya, dan kita bisa mulai bekerja,” (“Ariel’s Jerusalem,” Arutz Sheva, 7 Mei 2015). Dalam tradisi Yahudi, pembangunan kembali Bait terhubung dengan kedatangan Mesias. Menurut Moshe ben Maimon (Maimonides atau Rambam) (1135-1204), salah satu otoritas rabinik tertinggi, orang Yahudi dari keluarga Daud manapun yang memulai pembangunan kembali Bait Suci, adalah potensi sang Mesias. Maimonides mencari seorang Mesias yang akan membangun kembali Bait Suci “pada tempatnya yang asli.” Rabi-rabi lain telah memperluas hal ini, sehingga tidaklah diperlukan si pembangun Bait itu dari keturunan Daud. Shimon ben Kosiba dulu dianggap Mesias pada abad kedua ketika dia memimpin pemberontakan untuk merebut kembali Yerusalem dan membangun kembali Bait. Dia diberi gelar Bar Kokhba (Putra Bintang), berdasarkan nubuat tentang Mesias di Bilangan 24:17, dan sebuah koin dibuat dengan gambar Bait dengan tabut perjanjian di dalamnya dan bintang Mesias di atapnya. Melalui tradisi ini, mudah untuk memahami bagaimana Antikristus atau nabi palsunya akan dikira Mesias. Para penuntun tur Israel, walaupun kebanyakan mereka adalah “Yahudi sekuler” yang melawan “agama,” berbicara mengenai Mesias yang akan datang dari bukit Zaitun. Ada satu yang memberitahu kami pada tahun 2019, ‘Kalian orang Kristen mencari Mesias yang akan datang lagi, dan kami mencari Dia untuk datang. Perbedaannya hanya pada satu kata. Kita semua menantikan Dia datang ke bukit Zaitun.” Orang-orang Yahudi di Israel sudah siap untuk menerima seorang Mesias yang datang dari Bukit Zaitun dan menegakkan perdamaian antara Israel dan tetangga-tetangganya, dan mengumumkan pembangunan kembali Bait. Antikristus yang digambarkan dalam nubuat Alkitab cocok dengan itu semua dengan persis. Mungkin dia akan datang ke Yerusalem dari arah Bukit Zaitun untuk menekankan poin ini.

Posted in Akhir Zaman / Nubuatan, Israel | Leave a comment

Ibu Menolak Tekanan untuk Mengaborsi Bayi dengan Sindrom Down

(Berita Mingguan GITS 11 Januari 2020, sumber: www.wayoflife.org)

Berikut ini disadur dari “Ibu ditawarkan aborsi pada bayi cukup bulan karena putranya mengidap sindrom Down,” Right to Life UK, 24 Des. 2019: “Seorang ibu telah membeberkan tentang tekanan konsisten yang dia dapatkan dari dokter-dokter untuk mengaborsi bayi laki-lakinya, bahkan ketika bayi dalam kandungannya itu sudah cukup bulan, hanya karena dia mengidap sindrom Down. Cheryl Bilsborrow mau bersuara setelah angka-angka yang dipublikasikan minggu lalu menunjukkan bahwa jumlah bayi yang terlahir dengan sindrom Down telah menurun 30% di rumah-rumah sakit NHS, yang telah memperkenalkan tes-tes prenatal baru yang tidak invasif. Berbicara kepada koran The Sun tentang pengalamannya, ibu yang berprofesi sebagai refleksologis klinis tersebut mengatakan: ‘Tes-tes ini dan cara negatif dan menakutkan penyampaian hasilnya, membuat wanita-wanita yang hamil mengaborsikan bayi-bayi yang sangat mereka inginkan itu. Putra saya yang berusia 2 tahun sekarang, adalah bayi yang luar biasa. Dia memiliki rambut yang putih dan mata yang biru, dan dia selalu tersenyum dan tertawa, memberikan ciuman dan meminta pelukan. Tetapi ketika saya hamil, saya dibuat merasa bahwa hidupnya tidak memiliki nilai dan saya harus mengaborsi dia. Mengapa? Karena dia mengidap sindrom Down.’ … Cheryl berusia 43 tahun ketika dia hamil dengan anak keempatnya. Karena usianya, dia dianjurkan oleh dokter-dokter untuk melakukan tes skrining terhadap sindrom Down. …Cheryl berkata bahwa sejak awal, persepsi para dokter tentang kondisi tersebut adalah negatif dan bahwa dia didorong untuk aborsi setiap kali dia bertemu dengan bidan. ‘Tidak ada tawaran untuk konseling, tidak ada diskusi mengenai bagaimana hidup saya bisa diperkaya oleh bayi ini. Aborsi dan hilangkan seolah-olah menjadi satu-satunya jawaban.’ … ‘Bahkan, pada usia kehamilan 38 minggu, ketika saya datang untuk melakukan scan, petugas sonografer berkata: Kamu mestinya tahu bahwa kami mengaborsi bayi-bayi usia penuh yang mengidap sindrom Down… Pesannya jelas dan lantang: bayi-bayi dengan sindrom Down tidak memiliki nilai. Sekarang, setelah mempunyai Hector, saya tahu bahwa tidak ada yang perlu ditakutkan … Sungguh memilukan hati saya untuk berpikir bahwa begitu banyak bayi, seperti [dia], bisa dirampok hak untuk menjalani hidup yang bahagia.”

Posted in Keluarga, Kesehatan / Medical | Leave a comment

Uskup-Uskup Katolik Menyatakan Homoseksualitas “Normal”

(Berita Mingguan GITS 11 Januari 2020, sumber: www.wayoflife.org)

Uskup-uskup Katolik di Jerman telah memproklamirkan bahwa homosexualitas adalah “suatu bentuk predisposisi seksual yang normal” dan tidak seharusnya diubah. Pada tanggal 5 Desember, Konferensi Uskup-Uskup Jerman mengumumkan penemuan dari Komisi tentang Pernikahan dan Keluarga mereka, yang termasuk di dalamnya adalah “uskup-uskup, seksologis, theolog-theolog moral, theolog-theolog dogma, dan ahli-ahli hukum kanon.” Satu-satunya yang tidak hadir di sana adalah theolog yang lahir baru yang percaya Alkitab. Pernyataan pers mereka berbunyi, “Juga ada kesepakatan bahwa preferensi seksual manusia mengekspresikan diri pada saat pubertas dan mengambil suatu orientasi yang hetero- atau homo- seksual. Keduanya termasuk dalam bentuk-bentuk normal predisposisi seksual, yang tidak dapat dan tidak seharusnya diubah dengan bantuan sosialisasi yang spesifik. … [Untuk alasan ini] segala bentuk diskriminasi terhadap orang-orang dengan orientasi homoseksual haruslah ditolak.” Hal ini bertentangan dengan Katekisme Gereja Katolik tahun 1992, yang menyatakan tindakan-tindakan homoseksual sebagai sesuatu yang “secara intrinsik bermasalah,” dan “berlawanan dengan hukum alami” (CCC 2357). Alkitab menyatakan hukuman bukan hanya atas tindakan-tindakan homoseksual, tetapi juga atas hawa nafsu homoseksual. Roma 1:24-27 menggambarkan “hawa nafsu” dan “keinginan hati” dan “menyala-nyala dalam berahi” sesama jenis sebagai sesuatu yang najis di hadapan Allah.

Posted in Katolik, LGBT | Leave a comment

Program Natal Beatles di Megachurch

(Berita Mingguan GITS 4 Januari 2020, sumber: www.wayoflife.org)

Dalam sebuah contoh paling terkini mengenai bagaimana cinta duniawi terhadap rock & roll membuat orang-orang yang mengaku Kristen menjadi agak gila, Community Christian Church di Naperville, Illinois, telah menggabungkan kisah Natal dengan musik Beatles. Pertunjukan itu diberi judul “Let It Be Christmas: The Gospel According to Matthew, Mark, Luke, John, Paul, George and Ringo” (“Beatles Music, Christmas Story,” Religion News Service, 18 Des. 2019). Pertunjukan diiklankan sebagai suatu “tur misteri penuh magic melalui keempat Injil untuk menceritakan kisah teragung sepanjang masa dengan musik terhebat sepanjang masa!” Tiket untuk sembilan pertunjukan yang dilakukan di gereja yang memiliki beberapa kampus itu terjual habis. Lagu-lagu Beatles yang dipakai dalam performa itu termasuk “All My Loving,” “From Me to You,” “We Can Work It Out,” “Taxman,” and “Love Me Do.” Tritunggal digambarkan dengan penuh hujat sebagai seorang Insinyur, seorang Tukang Kayu, dan seekor Burung Hitam (ini juga adalah judul dari salah satu lagu Beatles). Ketika Maria diberitahu bahwa dia akan menjadi ibu dari sang Kristus, dia berdansa dengan burung hitam tersbut. Ini adalah kesesatan yang sangat memuakkan. Grup Beatles telah melakukan lebih untuk memajukan program Iblis di akhir zaman ini dibandingkan grup lain manapun. Mereka tidak diragukan lagi dikendalikan oleh roh-roh jahat ketika mereka mendapatkan cinta satu generasi penuh dengan musik “misteri magical” mereka dan membawa jutaan orang-orang muda dalam perjalanan mereka menuju relativisme moral, seks bebas, uniseks, agama-agama Timur, atheisme, penyalahgunaan obat, dan pemberontakan melawan tatanan yang sudah ada. Dalam bukunya tahun 1965, A Spaniard in the Works, John Lennon menyebut Yesus Kristus dengan banyak kata-kata yang jahat yang tidak bisa kita taruh dalam artikel ini, dan dia menghujat Bapa, Putra, dan Roh Kudus. Dalam lagu “God” (1970), Lennon bernyanyi: “Saya tidak percaya Alkitab. Saya tidak percaya Yesus. Saya hanya percaya saya sendiri, Yoko dan saya, itulah realita.” Lagu Lennon yang sangat populer, “Imagine” (1971), mempromosikan atheisme dan persatuan global New Age. Liriknya berkata: “Bayangkan tidak ada surga … Tidak ada neraka di bawah kita, di atas kita hanya ada langit … tidak ada agama juga / Kamu mungkin berkata saya seorang pemimpi, tetapi saya bukan satu-satunya / Saya berharap suatu hari kamu akan bergabung, dan dunia akan hidup sebagai satu kesatuan.” Berapa juta orang di seluruh dunia yang telah mengikuti John Lennon dalam mimpi yang menipu ini? Kematian akan membuktikan bahwa “mimpi” ini sebenarnya adalah mimpi buruk yang paling menakutkan yang bisa dibayangkan. George Harrison adalah seorang Hindu hingga pada hari kematiannya dan memimpin banyak orang kepada kegelapan kafir ini. Sampai dengan April 2009, dua orang anggota Beatles yang masih hidup, memimpin sebuah konser untuk menggalang dana demi promosi Transcendental Meditation (TM) di antara anak-anak. “Janganlah turut mengambil bagian dalam perbuatan-perbuatan kegelapan yang tidak berbuahkan apa-apa, tetapi sebaliknya telanjangilah perbuatan-perbuatan itu” (Ef. 5:11).

Posted in musik, Separasi dari Dunia / Keduniawian | Leave a comment

Gerakan Injili dan Universalisme

Gerakan Injili dan Universalisme

Oleh Dr. David Cloud

Diterjemahkan oleh Dr. Steven Liauw

Dalam sebuah surat terbuka kepada seorang editor surat kabar, Paus Fransiskus mengatakan bahwa orang-orang atheis yang tulus akan diterima oleh Allah. Menulis kepada Eugenio Scalfari, pendiri dari La Repubblica, sang Paus berkata: “Kamu bertanya kepada saya apakah Allah orang Kristen mengampuni orang-orang yang tidak percaya dan yang tidak mencari iman. Saya mulai dengan mengatakan – dan ini adalah hal mendasarnya – bahwa belas kasihan Allah tidak memiliki batasan jika kamu pergi kepadaNya dengan hati yang tulus dan rendah. Hal utama bagi orang-orang yang tidak percaya ada Allah adalah menaati hati nurani mereka” (“Pope Francis Assures Atheists,” The Independent, UK, 11 Sept. 2013).

Pernyataan ini membuat berita yang heboh, tetapi apa yang dikatakan di sini sudah dikatakan oleh kaum “Injili” selama puluhan tahun. Faktanya, ini hanyalah salah satu cara lainnya kaum Roma Katolik dan injili “sedang menjadi satu.” Ini adalah aspek lainnya dari pembangungan “gereja” esa-sedunia akhir zaman.

Sebuah buku yang diterbitkan oleh Zondervan Publishing House tahun 1996, berisikan tulisan berbagai theolog mengenai subjek apakah ada keselamatan dalam agama-agama kafir. Buku itu, berjudul More Than One Way? diberi judul kecil “empat pandangan tentang keselamatan dalam dunia yang pluralistik.”

Tiga dari pandangan-pandangan yang dimunculkan mendukung semacam inklusivisme atau universalisme. Para penulis dari pandangan-pandangan tersebut adalah John Hick, Clark Pinnock, Alister McGrath, R. Douglas Geivett, dan W. Gary Phillips. Buku itu diedit oleh Dennis Okholm dan Timothy Phillips, profesor theologi assosiat di Wheaton College. Berbagai pandangan tersebut dibagi menjadi empat kelompok: 1) Normatif Pluralisme, 2) Inklusivisme, 3) Agnostikisme mengenai orang-orang yang belum pernah mendengar Injil, dan 4) Eksklusivisme – keselamatan hanya melalui iman pribadi kepada Kristus.

Continue reading

Posted in Keselamatan, Kesesatan Umum dan New Age, New Evangelical (Injili) | 1 Comment

Kebodohan Kartu Tarot

(Berita Mingguan GITS 7 Desember 2019, sumber: www.wayoflife.org)

Berikut ini disadur dari “Tarot Card Resurgence,” Al Perrotta, The Stream, 28 Okt. 2019: “Kita sedang mengalami ledakan popularitas kartu tarot. The New York Times pada tahun 2017 merayakan ‘Tarot is Trending.’ The Guardian mempromosikannya sebagai suatu bentuk terapi pada tahun 2018. Seorang penulis mengatakan bahwa dia menghitung ada 550 app tarot di Apple Store, sebelum berhenti menghitung. Mencari di Amazon untuk ‘kartu tarot’ akan menampilkan 10.000 hasil. …Sebelum menyerahkan hidup saya sepenuhnya kepada Kristus, saya dulu adalah seorang fans kartu tarot. Saya mempelajari kartu tarot lebih serius dari mempelajari subjek apapun di sekolah. … ini membawa kita kepada rahasia kotor dari tarot … Pertama, kamu harus mempelajari arti dasar dari setiap kartu. Lalu kamu belajar arti-arti alternatif dari setiap kartu. Lalu kamu mempelajari bahwa arti tersebut, positif ataupun negatif, tergantung pada apakah kartunya tegak atau terbalik. Dan kemudian kamu belajar bahwa artinya juga tergantung pada posisinya relatif terhadap kartu yang disebelahnya. Dengan kata lain, sebuah ‘kartu’ negatif di masa lampau dapat menjadi ‘baik’ jika kartu setelahnya itu mengindikasikan perubahan untuk hal yang lebih baik. Dan sebaliknya. Tunggu, masih ada lagi. Lalu kamu belajar bahwa sebuah bagian yang tersendiri dari suatu gambar bisa saja mengandung suatu arti yang tertanam di dalamnya. Misalnya, kartu yang umumnya disebut ‘The Chariot’ [Kereta Kuda]. Lihat roda-rodanya? Dalam sebuah pembacaan yang spesifik, Chariot itu sendiri bisa jadi berhubungan dengan mobil kamu. Bisa jadi berhubungan dengan perjalanan. Jika kartu ini terbalik, bisa jadi hati-hati roda bisa copot dari suatu proyek atau hubungan. Bagaimana dengan makhluk-makhluk mirip sphinx yang hitam putih itu? Bisa mengacu kepada suatu isu yang jelas, hitam atau putih. Simbol merah di antara mereka terlihat seperti suatu gasing bisa berarti bahwa walaupun pilihannya sepertinya hitam putih, kepalamu berputar seperti gasing untuk mencoba menentukan isu ini. Ia bisa juga mengacu kepada kesatuan dari banyak hal yang berbeda – kedua sphinx, hanya warnaya beda. Walaupun keputusan ini sepertinya hitam putih, sebenarnya tidak. … Anda mulai paham? Jika tidak, baiklah saya sederhanakan. Kartu manapun pada saat manapun, dapat berarti apapun. Dan jika sesuatu dapat berarti apapun, sama saja tidak ada artinya. …Bahkan jika kartu-kartu itu dapat memberitahumu sesuatu tentang masa depan, mereka tidak memberimu kuasa untuk mengubah masa depan. Itulah mengapa kita harus berpegang pada Allah yang telah menyatakan diriNya. “Percayalah kepada TUHAN dengan segenap hatimu, dan janganlah bersandar kepada pengertianmu sendiri. Akuilah Dia dalam segala lakumu, maka Ia akan meluruskan jalanmu” (Amsal 3:5-6).

Posted in General (Umum), Okultisme, Separasi dari Dunia / Keduniawian | Leave a comment

Berbagai Respons Terhadap Artikel “Kemerosotan Bob Jones University ke dalam Kalvinisme Reformed Baru”

(Berita Mingguan GITS 7 Desember 2019, sumber: www.wayoflife.org)

Berikut ini adalah sepasang respons terhadap laporan minggu lalu.

RESPONS #1 — “Saya seorang alumni BJU tahun 1977, saya SANGAT kesal bahwa saya terpaksa menyadari bahwa BJU sekarang adalah sebuah sekolah Injili Baru, dan telah berubah menjadi demikian tanpa sepatah kata pun dari Dr. Bob Jones III, sejauh yang saya ketahui. Dua atau tiga tahun lalu, saya mengecek website dari seseorang yang dijadwalkan untuk berkhotbah di Konferensi Alkitab [di BJU]. Dalam tautan ke halaman Komisi Pemuda dari gerejanya, kita bisa mendengar musik hard rock. Bukan ‘soft rock’ yang diperhalus, tetapi HARD rock. Seharusnya tidak ada gembala sidang yang menyajikan hard rock ke anak-anak muda gerejanya yang boleh diizinkan mendekat ke mimbar BJU, apalagi berkhotbah dari sana. Saya melayangkan komplain kepada Presiden [Rektor] Pettitt, yang menjawab dengan berkata ‘Saya tidak melihat ada yang salah.’ Tidak mengherankan, karena dia sendiri bahkan ada dalam video tersebut. Perhatikan bahwa dalam website BJU, tautan untuk ‘Gereja-Gereja di Greenville yang Direkomendasikan’ mendaftarkan bukan hanya Second Presbyterian Church (PCA) tetapi juga Southern Baptist Church yang bersituasi persis di seberang sekolah tersebut, yaitu White Oak Baptist, yang digembalakan oleh Dr. Lonnie Polson, seorang anggota dari fakultas BJU dan Kepala Departemen. Saya memprediksikan bahwa setelah kematian Bob Jones III yang berusia 80 tahun, mereka akan mengubah nama sekolah tersebut.”

RESPONS #2 — “Bob Jones telah kehilangan banyak murid selama 20 tahun terakhir. Mereka pada dasarnya kehilangan peserta Baptis independen mereka. Para gembala Baptis Independen khawatir bukan hanya tentang posisi BJU mengenai Alkitab, tetapi juga karena BJU semakin dekat dengan theologi reformed/covenant. Northland juga telah menempuh trayektori yang serupa. (Mereka dulu pada zaman keemasan mereka, pernah dikenal sebagai Bob Jones di daerah Tengah Barat). Jadi sekarang BJ sedang menjangkau kepada teman-teman Presbyterian mereka untuk mencoba membangun ulang sekolah tersebut. Saya ragu ini bisa berhasil. Kaum Presbyterian punya jaringan sekolah mereka sendiri. Tetapi ketika sekolah-sekolah ini kehilangan peserta mereka, maka tingkat pendaftaran mereka menurun. Ketika itu terjadi, keuangan mereka menurun. Ketika itu terjadi, mereka mulai membuat langkah-langkah putus asa yang menyedihkan untuk bisa tetap mengapung. Kita sedang menyaksikan hal ini pada Bob Jones. Saya telah menyaksikan hal yang sama terjadi pada Northland dan Pillsbury, tidak usah dikatakan lagi Tennessee Temple University, Clearwater, dan Calvary Seminary. Tempat-tempat lain seperti Central Seminary dan Detroit Seminary saat ini pas-pasan saja bertahan hidup, dan sekarang sudah lebih Injili daripada fundamentalis. (Kebetulan semua tempat-tempat ini pernah menjadi bagian dari Jaringan Bob Jones, termasuk juga grup-grup seperti Fundamental Baptist Fellowship. Tetapi benang merah di semua tempat ini adalah mereka merangkul pengakuan akademis dunia – salah satu poin Injili Baru – yang memimpin mereka untuk menganut Alkitab Critical Text, dan lalu bermain mata dengan theologi reformed and CCM. Mereka semua sudah atau sedang gagal, termasuk FBF. Tentu saja, fokus sejati dari penginjilan memudar seiring dengan sikap mencari pengakuan akademis dunia meningkat. Betapa sedih!”

Posted in Fundamentalisme | Leave a comment

Kemerosotan Bob Jones University ke dalam Kalvinisme Reformed Baru

(Berita Mingguan GITS 30 November 2019, sumber: www.wayoflife.org)

Sejak tahun 2006, kami telah mendokumentasikan pergerakan menuju Kalvinisme Reformed yang dilakukan oleh banyak tamatan BJU, tetapi belumlah jelas di posisi mana sekolah itu sendiri berdiri. Kini gambarannya sudah menjadi jelas, dan ternyata lebih buruk dari yang kita bayangkan. Pada bulan Oktober, Presiden dari BJU, Steve Pettit, berpartisipasi dalam “Greenville Conference on Reformed Theology” di Gereja Second Presbyterian. Dua orang pembicara lainnya adalah Joel Beeke dan Richard Phillips. Beeke adalah seorang profesor di Puritan Reformed Theological Seminary, dan Phillips melayani di dewan The Gospel Coalition. Pada tanggal 11-12 November, Andy Naselli adalah pembicara tamu di BJU untuk Seri Kuliah Stewart Custer. Naselli adalah seorang profesor di Bethlehem College & Seminary milik John Piper, dan adalah seorang penatua di Bethlehem Baptist Church. Naselli juga adalah anggota staf dari The Gospel Coalition. Kini semakin jelas mengapa Bob Jones University membangun jembatan kepada Keith Getty, yang adalah seorang Kalvinis Reformed dan yang gembala sidangnya, Alistair Beggs, adalah seorang anggota prominen dari The Gospel Coalition. TGC merepresentasikan Kalvinisme Reformed baru. Tidak seperti Kalvinisme Reformed lama, Kalvinisme Reformed baru bersifat ekumenis. Orang-orang Reformed yang lama percaya bahwa Roma adalah pelacur besar di Wahyu 17, yang mabuk oleh darah para martir, tetapi Reformed yang baru memiliki hubungan ekumenis dengan Roma, atau minimal simpatik terhadapnya. Pada halaman web TGC yang berjudul “Haruskah Orang Kristen Ekumenis,” kita menemukan pernyataan berikut ini: “Dapatkah orang-orang Injili dan Katolik benar-benar bersatu? … Doa Yesus untuk persatuan dalam Tubuh mengharuskan saya untuk melihat tugas ekumenisme sebagai tugas yang penting bagi kekristenan” (oleh Trevin Wax, seorang profesor Southern Baptist Wheaton College yang berasosiasi dengan keluarga Getty). Ini adalah salah. Doa Yesus dalam Yohanes 17 tidak ada hubungan dengan ekumenisme. Faktanya, Kristus menekankan ketaatan kepada Firman Allah dan pentingnya kebenaran (Yoh. 17:6, 8, 14, 17, 19), yang tidaklah cocok dengan ekumenisme. Lou Martuneac membuat observasi berikut, “Apa yang telah ditunjukkan oleh presiden BJU, Steven Pettit, kepada kita dengan cara mengambil peran aktif dalam konferensi ini, dengan para pembicara ini? Pertama, ia telah menghilangkan segala keraguan yang masih tersisa bahwa ia telah memimpin Universitas ini untuk memeluk Theologi Reformed. Kedua, The Gospel Coalition (TGC), mengandung orang-orang di dalam kepemimpinannya, yang adalah pelaku-pelaku kompromi ekumenis yang paling berat di dalam apa yang disebut kalangan Injili ‘konservatif.’ … Bagi pengamat objektif manapun, sudah ada cukup bukti untuk menghilangkan keraguan yang tersisa, bahwa BJU telah mencampakkan prinsip-prinsip separatisnya yang merupakan landasannya. … Universitas tersebut memang dari dulu memiliki rentang theologi yang lebar. Jadi, dalam hal ini, itu bukan barang baru. Tetapi yang baru adalah pergaulan dengan denominasi-denominasi yang sudah berkompromi yang tidak pernah memegang fundamentalisme” (“This Is Not Your Father’s Bob Jones University, A Continuation,” In Defense of the Gospel, 14 Nov. 2019).

Posted in Ekumenisme, Fundamentalisme, Kalvinisme | Leave a comment