Hillsong Menyajikan Sirkus

(Berita Mingguan GITS 14 September 2019, sumber: www.wayoflife.org)

Hillson adalah koalisi gereja-gereja, yang secara longgar bermarkas di Hillsong Sydney yang digembalai bersama oleh suami istri Brian dan Bobby Houston. Gereja-gereja Hillsong menghasilkan banyak musik kontemporer yang paling populer dan berpengaruh, tetapi keduniawian mereka yang menyolok sungguh mencengangkan. Pada bulan Agustus 2019, Hillsong Gold Coast di Australia mempertunjukkan suatu sirkus duniawi. “Orang-orang Kristen yang berpikiran lurus dan alkitabiah telah sering menyebut Hillsong sebagai suatu sirkus. Tetapi mungkin mereka belum menyadari bahwa Hillsong bukan saja adalah sirkus secara allegoris – Hillsong benar-benar secara literal adalah suatu sirkus. Hillsong Gold Coast, dipimpin oleh James & Elida Turner, baru-baru ini membuat suatu atraksi sirkus di kampus mereka. Ini tidak bercanda. Dalam sebuah program yang mereka sebut #SundayNightAtTheMovies, mereka mempertunjukkan suatu acara stunt sirkus yang sedemikian heboh dan konyol, sehingga bahkan orang tidak percaya yang tidak tahu Alkitab pun bisa melihatnya dan langsung mengetahui bahwa hal semacam ini tidak ada hubungannya dengan kekristenan. Ini adalah suatu pertunjukan kacau” (“Hillsong Puts on Circus Performance,” Reformationcharlotte.org, 23 Agus. 2019). Pada bulan Mei 2016, Hillsong New York City menjadi tuan rumah Konferensi Wanita Hillsong, yang menyajikan antara lain, sekelompok cheerleader yang berpakaian minim, seorang peniru Elvis, dan seorang koboi telanjang yang hanya memakai topi dan sepatu koboi, dan sebuah gitar. Koboi itu adalah gembala sidang bagian pemuda dari Hillsong New York itu sendiri, Diego Simla. Tahun ini (2019), Yelp mengidentifikasi Hillsong Los Angeles sebagai salah satu dari top ten “gereja-gereja paling bersahabat dengan gay” di kota tersebut. Predikat ini menyingkapkan sesuatu mengenai Hillsong. Seorang homoseksual dapat masuk, duduk, dihiburkan, dan sama sekali tidak tertusuk hati nuraninya oleh khotbah dari Injil yang alkitabiah dan seruan untuk bertobat dari dosa dan datang kepada Kristus (“Hillsong Listed in Top Ten,” Reformationcharlotte, 3 Sept. 2019).

Posted in Gereja, Separasi dari Dunia / Keduniawian | Leave a comment

“Rentan” Tanpa Pertobatan

(Berita Mingguan GITS 14 September 2019, sumber: www.wayoflife.org)

Paulus menggambarkan cinta akan uang dan konsekuensi-konsekuensinya. “Tetapi mereka yang ingin kaya terjatuh ke dalam pencobaan, ke dalam jerat dan ke dalam berbagai-bagai nafsu yang hampa dan yang mencelakakan, yang menenggelamkan manusia ke dalam keruntuhan dan kebinasaan. Karena akar segala kejahatan ialah cinta uang. Sebab oleh memburu uanglah beberapa orang telah menyimpang dari iman dan menyiksa dirinya dengan berbagai-bagai duka” (1 Tim. 6:9-10). Perhatikan bahwa mereka “menyiksa dirinya.” Mereka bukanlah korban. Banyaknya dukacita datang karena suatu gaya hidup yang berdosa. Banyak gereja kontemporer yang menawarkan kasih karunia dan pengampunan tanpa adanya pertobatan dan perubahan supranatural. Mereka memiliki anggota-anggota gereja yang menjalani gaya hidup rock & roll yang tidak kudus dan mengejar kekayaan di tengah industri musik pop / entertainment yang kotor. Semua mereka menyiksa diri sendiri melalui berbagai-bagai duka dalam konteks tersebut, tetapi mereka menganggap diri mereka sendiri sebagai korban. Bukannya bertobat dari dosa-dosa mereka, mereka menjadi “rentan” dengan cara membagikan masalah-masalah mereka di hadapan gereja. Mereka tidak membedakan antara penderitaan yang datang karena dosa dan penderitaan yang datang dalam kehendak Allah. Bintang musik pop, Justin Bieber, adalah salah satu contoh. Dia adalah anggota dari gereja kontemporer Churchome di Beverly Hills, California, yang digembalai oleh tim suami istri. Bieber memberitahu kepada gerejanya, “Alkitab mengatakan anggaplah sebagai suatu kebahagiaan, apabila kamu jatuh ke dalam berbagai-bagai pencobaan. Ini terdengar gila ketika menghadapi kesusahan kamu merasa sangat buruk. Tetapi jika kita mengucap syukur dan menyembah Allah untuk apa yang kita miliki, pada waktunya ada kuasa yang besar dalam hal ini…. rasa sakit apapun yang anda rasakan katakan pada diri sendiri INI TIDAK AKAN BERLANJUT!” (“Justin Bieber Leads Worship,” CBN News, 30 Agus. 2019). Perhatikan bahwa dia tidak mengatakan apapun tentang darah Kristus atau dosa atau pertobatan atau perubahan. Semuanya generik dan tidak terdefinisikan. Dia menghabiskan banyak waktu membenarkan diri sendiri karena fakta bahwa dia tercebur ke dalam popularitas sejak usia yang sangat muda. Sebagai kontras, Petrus membuat perbedaan yang tajam dan berulang antara menderita karena Kristus dan menderita karena dosa. “Berbahagialah kamu, jika kamu dinista karena nama Kristus, sebab Roh kemuliaan, yaitu Roh Allah ada padamu. Janganlah ada di antara kamu yang harus menderita sebagai pembunuh atau pencuri atau penjahat, atau pengacau” (1 Pet. 4:14-15). Lihat juga 1 Petrus 2:19-20; 3:17. Janji agung dalam Roma 8:28 bukan untuk semua orang dalam segala situasi. Janji tersebut adalah untuk orang-orang yang “mengasihi Dia, yaitu bagi mereka yang terpanggil sesuai dengan rencana Allah.” Janji ini adalah untuk orang yang lahir baru melalui pertobatan dan iman yang menyelamatkan dan yang berjalan sesuai dengan panggilan dan kehendak Allah.

Posted in Renungan | Leave a comment

Ilmuwan Lain Lagi Menyatakan Diri Melawan Darwinisme

(Berita Mingguan GITS 7 September 2019, sumber: www.wayoflife.org)

Berikut ini disadur dari ‘Renowned Yale Computer Science Prof Leaves Darwinism,” The Stream, 21 Agus. 2019: “David Gelernter bukanlah seseorang yang anda kira akan menolak Darwin. Dia hidup dan bekerja di jantung suatu organisasi intelektual. Dia adalah seorang ilmuwan komputer ternama di Yale University – koran New York Times menyebut dia seorang ‘rock star’ — dan dia tergabung dalam National Council on the Arts. Dia menjelaskan dalam sebuah esai baru-baru ini, dalam Claremont Review of Books, mengapa dia tidak lagi mempercayai teori evolusinya Charles Darwin. Dia membuat poin-poin yang serupa dalam sebuah wawancara baru-baru ini dengan Peter Robinson dari Hoover Institution. Mungkin kelemahan terbesar dengan Darwinisme, demikian dia tulis, adalah betapa sulitnya untuk secara ac ak membuat protein-protein baru yang fungsional. Evolusi Darwin bergantung pada sejumlah besar protein-protein demikian. Pemahaman kita tentang biologi molekuler telah berkembang pesat sejak Darwin. Teorinya tidak cocok lagi dengan pemahaman baru ini. Gelernter dengan seksama me-review bukti-bukti, dan artikel yang dia tulis memberikan pedoman pendek terhadap masalah yang muncul. Dia mengutip Douglas Axe, seorang ilmuwan ternama, yang telah menghitung kemungkinan menghasilkan suatu protein yang stabil yang menjalankan suatu fungsi yang berguna, dan yang oleh karena itu dapat dipertahankan oleh seleksi alam, dan hasilnya hanya 1 dalam 1077. Itu hanya untuk satu dari antara begitu banyaknya protein yang dibutuhkan oleh organisme manapun. Gelernter merangkumkan bukti-bukti yang ada. ‘Hal yang besar adalah sedemikian besar, dan hal yang kecil adalah sedemikian kecil, dan evolusi neo-Darwinian – sejauh ini – gagal total. Cobalah untuk membuat mutasi dari 150 rantai kacau balau untuk menjadi suatu protein yang berfungsi dan bekerja, dan anda dijamin akan gagal. Cobalah dengan sepuluh mutasi, seribu, sejuta – anda gagal. Kecilnya kemungkina akan mengubur anda. Ini tidak bisa dilakukan.’ Dia memiliki banyak masalah lain dengan Darwinisme. …Gelernter mengakui bahwa desain intelektual adalah suatu ‘argumen yang sangat serius.’ Ini adalah ‘[alternatif] pertama, dan yang paling jelas paling intuitif yang muncul dalam pikiran.’ Hal ini harus diperlakukan secara intelektual. Ia tidak bisa disingkirkan begitu saja karena sikap anti agama. Teman-temannya telah memperlakukan dia dengan sopan sejak dia mengubah posisinya dalam isu ini, katanya. Namun tetap saja, bagi mereka Darwinisme telah melampaui sekedar suatu argumen ilmiah. ‘Anda mempertaruhkan hidup anda jika anda menantang [Darwinisme] secara intelektual. Mereka akan menghancurkan anda.’ Dia tidak adalah melihat adanya ‘sesuatu yang mendekati kebebasan berbicara dalam topik ini.’ Ini bukanlah suatu diskusi ilmiah atau intelektual. Mereka berpikir bahwa ia sedang menyerang ‘agama’ mereka. Sayangnya, dia tidak terlalu berharap bahwa Darwinisme akan dihilangkan dari akademia dalam waktu dekat.”

Posted in Science and Bible | Leave a comment

Pemimpin Jesuit Mengatakan Setan Hanyalah Simbol

(Berita Mingguan GITS 7 September 2019, sumber: www.wayoflife.org)

Berikut ini disadur dari “Jesuit Superior General: The Devil Is a Symbol,” DailyWire.com, 21 Agus. 2019: “Pada hari Rabu, Jenderal Superior dari Ordo Jesuit mengumumkan bahwa Setan itu sendiri adalah suatu ‘simbol’ bukan makhluk yang nyata yang pernah diciptakan Allah sebelum jatuh ke dalam penghakiman. Menurut Catholic News Agency, Romo Arturo Sosa memberitahu majalah Italia, Tempi, bahwa Iblis ‘eksis sebagai personifikasi dari kejahatan dalam berbagai struktur, tetapi bukan dalam pribadi-pribadi, karena ia bukanlah pribadi, ia adalah suatu cara berlaku yang jahat,’ demikian tegas sang imam. ‘Kebaikan dan kejahatan berada dalam peperangan permanen dalam hati nurani manusia dan kita memiliki cara-cara untuk menunjukkan itu. Kita memahami Allah sebagai kebaikan, kebaikan penuh. Simbol-simbol adalah bagian dari realita, dan Iblis eksis sebagai suatu simbol realita, bukan sebagai suatu realita pribadi.’ Pernyataan pemimpin Jesuit tersebut tentang Iblis, kontras langsung dengan Katekisme Gereja Katolik, yang mengajarkan bahwa Satan dan roh-roh jahatnya adalah ‘makhluk-makhluk rohani yang tidak bertubuh’ namun yang bagaimanapun juga adalah ‘makhluk-makhluk pribadi dan abadi’ yang memiliki ‘intelijensi dan kehendak.’ … [Sebuah jajak pendapat tahun 2011] menunjukkan bahwa delapan dari sepuluh orang Katolik di AS percaya bahwa Setan hanyalah suatu simbol, lebih mirip Santa Klaus daripada pribadi yang nyata. Alkitab mengatakan, “Sebab orang-orang itu adalah rasul-rasul palsu, pekerja-pekerja curang, yang menyamar sebagai rasul-rasul Kristus. Hal itu tidak usah mengherankan, sebab Iblispun menyamar sebagai malaikat Terang. Jadi bukanlah suatu hal yang ganjil, jika pelayan-pelayannya menyamar sebagai pelayan-pelayan kebenaran. Kesudahan mereka akan setimpal dengan perbuatan mereka” (2 Korintus 11:13-15).

Posted in Katolik, Okultisme | Leave a comment

Mereka Akan Melihat WajahNya

(Berita Mingguan GITS 24 Agustus 2019, sumber: www.wayoflife.org)

Dan mereka akan melihat wajahNya” (Wah. 22:4). Di bawah Hukum, Musa tidak diizinkan untuk melihat wajah Allah (Kel. 33:20), tetapi orang-orang kudus yang ditebus di Yerusalem Baru akan memandangNya. Wajah yang akan mereka lihat adalah wajah Yesus. Pengenalan akan kemuliaan Allah akan terlihat pada wajah Yesus Kristus (2 Kor. 4:6). Yesus adalah gambar wujud Allah (Ibr. 1:3). Wajah Kristus adalah wajah Allah Pencipta, wajah kekudusan yang murni, wajah kasih yang tak terukur, wajah hikmat yang tak terbatas, wajah kecerdasan dan pengetahuan dan kebijaksanaan (Ams. 8:12), wajah kemahakuasaan, wajah yang “permulaannya sudah sejak purbakala, sejak dahulu kala” (Mik. 5:1), wajah sang Lanjut Usia (Dan. 7:9, 13, 22). Wajah manusia adalah ciptaan yang luar biasa. Ia adalah wajah dari setiap individu jiwa. Bahkan “kembar identik” tidaklah identik. Martin Schoeller, seorang fotografer potret yang telah memotret lebih dari 100 kembar identik, mengatakan, “Begitu anda melihat mereka berdampingan di bawah cahaya yang sama dan dari sudut kamera yang sama, anda mulai menyadari betapa berbedanya kebanyakan kembar itu” (“Why identical twins look different,” The Globe and Mail, 30 Apr. 2018). Wajah merefleksikan intelijen dan karakter dan perasaan seseorang. Wajah diberi julukan “organ emosi.” Pengetahuan tentang wajah (“kemampuan membaca wajah orang”) adalah salah satu alat penegakan hukum yang penting. Wajah memiliki satu set sekitar 20 otot pipih, yang disebut otot-otot mimetik, yang memampukannya untuk merefleksikan rangkaian penuh emosi manusia. Otot-otot ini dikendalikan oleh saraf wajah yang pada gilirannya dikendalikan oleh pikiran dan roh. Otot-otot ini adalah satu-satunya jenis otot yang tertanam di kulit. Sebuah penelitian oleh insinyur kelistrikan dan komputer, Aleix Martinez, menemukan bahwa wajah membuat 21 ekspresi emosi yang berbeda, tergantung otot mana yang bekerja (“Human Faces Can Express at Least 21 Distinct Emotions,” Time magazine, 31 Mar. 2014). Orang-orang kudus mengenal Allah dalam Kristus dan rindu untuk melihat wajahNya. Himne “Nanti Berhadapan Muka” mengatakan, “Nanti berhadapan muka, Aku dengan Tuhanku; Jiwaku bersukacita, Yesus Jurus’lamatku. Nanti berhadapan muka! Aku dengan Tuhanku! Di dalam kemuliaanNya, Yesus tampak olehku.”

Posted in Akhir Zaman / Nubuatan, General (Umum), Renungan | Leave a comment

Revolusioner Fashion, Mary Quant

(Berita Mingguan GITS 24 Agustus 2019, sumber: www.wayoflife.org)

Pakaian adalah sejenis bahasa, dan hari ini hal tersebut sangat benar adanya. Perhatikan Mary Quant, desainer fashion Inggris yang revolusioner dari era grup Beatles. Tahun ini, Museum Victoria & Albert di London menayangkan suatu ekshibit besar tentang Quant, penemu dari rok mini dan celana pendek wanita (hot pants) dan juga seorang yang berandil besar mempopulerkan celana panjang pada wanita. Fokus dari ekshibit museum tersebut adalah revolusi, pembebasan dari moralitas Alkitab, dan peruntuhan tembok-tembok antara kedua jenis kelamin (unisex, androgini). Tidak ada usaha untuk menutupi hal ini. Quant menempatkan wanita ke dalam pakaian laki-laki: celana, dasi, jas, dan rambut pendek. Salah satu display, yang diberi judul “Boys Will Be Girls” (Anak-anak Lelaki Akan Menjadi Perempuan), mengatakan bahwa Quant “melencengkan pakaian lelaki.” “Celana dianggap tidak pantas bagi wanita tetapi Quant mengenakannya ke mana pun dia ingini.” Mary Quant tahu bahwa celana bagi wanita di masyarakat Barat modern bukanlah semata-mata masalah kenyamanan dan kebebasan gerak. Berikut ini beberapa kutipan dari teks-teks di ekshibit tersebut: “menggunakan fashion untuk mempertanyakan hirarki dan aturan gender,” “suatu pendekatan penuh pemberontakan terhadap norma-norma gender yang sudah ada,” “mengejek agama,” “suatu gaya independen,” “ekspresi-diri,” “kebebasan.” “Rok mini menjadi simbol internasional pembebasan wanita.” “Gaya [Quant] yang provokatif merefleksikan sikap yang semakin longgar dalam masyarakat terhadap seksualitas dalam segala bentuknya, yang secara legal diperkuat oleh dekriminalisasi homoseksualitas pada tahun 1967.” Quant juga merobohkan tembok-tembok antara berbagai usia, memasangkan fashion anak perempuan pada wanita dewasa. Dia berkata, “Saya tidak mau tumbuh dewasa.” Tahun 1960an adalah salah satu perubahan zaman yang besar, dan revolusi moral waktu itu didorong oleh revolusi teknologi. Waktu itu adalah permulaan era televisi berwarna, printer berwarna, pemasaran masal internasional, dan kerajaan-kerajaan merchandise global. Mengapakah fashion Quant begitu populer? Mengapakah sebuah ekshibit Quant di sebuah museum art besar menarik ribuan pengunjung yang bersemangat? Dia membantu menciptakan budaya AKU modern, generasi yang “mencintai dirinya sendiri” yang dinubuatkan dalam 2 Timotius 3:2. Musik, fashion, hiburan, dan perdagangan yang terjadi, semuanya menyerukan pesan yang sama, “Ini hidupmu; hiduplah sebagaimana engkau suka!” dan manusia yang telah jatuh ke dalam dosa telah mencintai pesan ini sejak Mama Hawa percaya kata-kata Iblis, “kamu akan menjadi seperti Allah.” Ini semua adalah kebohongan yang luar biasa. Tidak ada orang yang bisa memberi dirinya sendiri kehidupan. Kita tidak memiliki apa-apa; kita adalah ciptaan Allah di dalam dunia milik Allah. “Semua jiwa Aku punya! … dan orang yang berbuat dosa, itu yang harus mati” (Yehezkiel 18:4). “Akhir kata dari segala yang didengar ialah: takutlah akan Allah dan berpeganglah pada perintah-perintah-Nya, karena ini adalah kewajiban setiap orang. Karena Allah akan membawa setiap perbuatan ke pengadilan yang berlaku atas segala sesuatu yang tersembunyi, entah itu baik, entah itu jahat” (Pengkhotbah 12:13-14). Kabar Baiknya adalah bahwa penebusan tersedia dalam Yesus Kristus untuk sepenuhnya menutupi hutang dosa saya melawan Allah dan saya dapat diselamatkan, tetapi Kabar Buruknya adalah jika saya mati tanpa Kristus, saya akan menghabiskan kekekalan membayar hutang kepada Allah yang tidak akan pernah selesai.

Posted in Fashion, Separasi dari Dunia / Keduniawian, Wanita | Leave a comment

Atlet Angkat Besi Trans-Seksual Dicopot dari Gelar Kejuaraan Wanita

(Berita Mingguan GITS 17 Agustus 2019, sumber: www.wayoflife.org)

Berikut ini disadur dari “Female Trans Powerlifter,” Daily Wire, 12 Mei 2019: “Atlet angkat besi, Mary Gregory, yang adalah individu transgender dari lelaki ke perempuan, telah dicopot dari beberapa gelar kejuaraan wanita, setelah Federasi Angkat Besi menentukan bahwa Gregory tidak memenuhi syarat untuk bertanding sebagai seorang wanita. …. pada bulan April, Gregory menciptakan rekor dalam kategori angkat besi squat, bench-press, dan deadlift, untuk wanita, dan telah mendapatkan sebuah “rekor dunia total Masters” karena nilai angkat besi yang dia dapatkan dalam semua kompetisi… Tetapi pada hari Jumat, Federasi Angkat Besi Murni 100% yang sama mengumumkan bahwa Gregory akan dicopot dari gelar-gelar yang sedang dia pegang, karena, sepertinya, dewan federasi tidak menganggap Gregory cukup wanita, lapor Hot Airs. … Presiden federasi, Paul Bossi, mengatakan dalam sebuah pernyataan kepada media. ‘Aturan-aturan kami, dan dasar pembedaan jenis kelamin untuk kompetisi, didasarkan pada klasifikasi fisiologis, bukan identifikasi.’ …Dalam sebuah pemungutan suara yang dilakukan minggu lalu, USA Powerlifting meloloskan kebijakan yang melarang atlet yang sedang transisi (jenis kelamin) untuk bertanding melawan atlet-atlet yang cocok dengan ‘identitas jenis kelamin’ mereka, dengan hasil 46 lawan 5 suara. Dewan menjelaskan kebijakan ini dengan mengacu kepada keuntungan khusus yang dimiliki oleh atlet pria (bahkan yang sedang beralih ke wanita) di atas orang-orang yang secara biologis wanita. ‘Laki-laki secara alami memiliki struktur tulang yang lebih besar, kepadatan tulang yang lebih tinggi, jaringan konektif yang lebih kuat, dan densitas otot yang lebih dibandingkan wanita,’ demikian tulis dewan tersebut. ‘Ciri-ciri ini tidak menghilang bahkan dengan level testosteron yang direndahkan. Sementara MTF (orang yang beralih Male-to-Female) bisa jadi lebih lemah dan memiliki lebih sedikit otot dari diri mereka dulunya, keuntungan biologis yang mereka dapatkan pada waktu lahir masih tersisa, lebih dari seorang wanita,’ Atlet transgender yang bersaing melawan jenis kelamin pilihan mereka telah menjadi topik prominen di dunia olahraga, terutama di dunia olah raga SMA.”

Posted in LGBT | Leave a comment

Berkat Tegoran

(Berita Mingguan GITS 17 Agustus 2019, sumber: www.wayoflife.org)

Telah dikatakan, “Orang yang mengoreksi saya memberikan kepada saya satu koin emas.” Amsal mengajarkan bahwa individu yang berhikmat akan menerima tegoran yang saleh. Sikap seseorang terhadap tegoran semacam itu adalah bukti dari kondisi rohaninya. “Siapa mengindahkan didikan, menuju jalan kehidupan, tetapi siapa mengabaikan teguran, tersesat” (Ams. 10:17). “Siapa mencintai didikan, mencintai pengetahuan; tetapi siapa membenci teguran, adalah dungu” (Ams. 12:1). “Kemiskinan dan cemooh menimpa orang yang mengabaikan didikan, tetapi siapa mengindahkan teguran, ia dihormati” (Ams. 13:18). “Orang bodoh menolak didikan ayahnya, tetapi siapa mengindahkan teguran adalah bijak” (Ams. 15:5). “Didikan yang keras adalah bagi orang yang meninggalkan jalan yang benar, dan siapa benci kepada teguran akan mati” (Ams. 15:10). “Orang yang mengarahkan telinga kepada teguran yang membawa kepada kehidupan akan tinggal di tengah-tengah orang bijak” (Ams. 15:31). “Siapa mengabaikan didikan membuang dirinya sendiri, tetapi siapa mendengarkan teguran, memperoleh akal budi” (Ams. 15:32). “Suatu hardikan lebih masuk pada orang berpengertian dari pada seratus pukulan pada orang bebal” (Ams. 17:10). “Teguran orang yang bijak adalah seperti cincin emas dan hiasan kencana untuk telinga yang mendengar” (Ams. 25:12).

Posted in Renungan | 2 Comments

Program Apollo dan Kaum Bumi Datar

(Berita Mingguan GITS 3 Agustus 2019, sumber: www.wayoflife.org)

Orang-orang yang percaya bahwa bumi itu datar, belakangan ini pastinya pusing tujuh keliling dengan perayaan 50 tahun misi Apollo 11, yaitu misi pertama pendaratan di bulan, yang terjadi pada tanggal 20 Juli 1969. Program Apollo yang diusung Amerika adalah salah satu pencapaian paling luar biasa dalam sejarah manusia, jika bukan yang paling luar biasa. Nuh membangun sebuah bahtera yang sangat besar untuk menyelamatkan umat manusia dan dunia binatang dari air bah global, dan dia melakukannya tanpa pertolongan puluhan ribu insiyur, tetapi Apollo membawa manusia lepas dari permukaan bumi dan mentranspor mereka ke bulan. Manusia berjalan di bulan! Tidak ada keraguan. Mereka memfoto bola dunia kita. Foto Kelereng Biru (Blue Marble – julukan bumi) yang diambil pada tanggal 7 Desember 1972, oleh kru Apollo 17, bukanlah suatu mitos. Ada 500 saksi mata dari kebangkitan Kristus, suatu alat bukti yang dapat bertahan di dalam pengadilan mana pun yang jujur. Ada 400.000 partisipan dalam program Apollo. Saya adalah teman pribadi salah satu dari mereka. Sejak Apollo, bumi sebagai suatu bola telah difoto tak terhitung banyaknya oleh mesin-mesin luar angkasa, bukan hanya milik Amerika, tetapi juga milik Rusia, Eropa, India, Cina, dan Israel, bukan hanya oleh satelit-satelit yang mengelilingi bumi, tetapi satelit-satelit yang berperjalanan ke tempat-tempat jauh di galaksi kita ini. Sebuah foto dari bola dunia kita ini diambil oleh mesin luar angkasa tata surya (sebuah mesin Tesla dengan warna merah cherry, yang dikendarai oleh boneka Starman) milik SpaceX yang dipimpin Elon Musk pada bulan Februari, dan satu lagi difoto oleh mesin luar angkasa bulan milik Beresheet-nya Israel pada bulan Maret. Selain mengkonfirmasi bahwa bumi kita berupa bola, yang sudah diketahui oleh orang-orang zaman kuno, apa makna dari program luar angkasa modern? Ia membuktikan bahwa manusia diciptakan menurut gambar dan rupa Allah, dan adalah berbeda dari dunia binatang, persis seperti dikatakan oleh kitab Kejadian. Walaupun manusia ada kemiripan sedikit dengan kera, pada kenyataannya, ia sama sekali berbeda dari kera. Kera dapat belajar untuk memakai tongkat untuk saling memukul satu sama lain, tetapi mereka tidak bisa menciptakan roket. Program luar angkasa modern juga berarti bahwa nubuat Daniel tentang akhir zaman adalah benar, yang mengatakan “Tetapi engkau, Daniel, sembunyikanlah segala firman itu, dan meteraikanlah Kitab itu sampai pada akhir zaman; banyak orang akan menyelidikinya, dan pengetahuan akan bertambah” (Dan. 12:4). Terakhir, program luar angkasa modern menandakan bahwa “kedatangan Tuhan sudah dekat” (Yak. 5:8)! Walaupun kita tidak tahu hari dan jamnya, kita bisa melihatnya mendekat (Ibr. 10:25). Dengan kasih karunia Tuhan, kita akan terus menantikan dan melayani.

Posted in Science and Bible | Leave a comment

Neil Armstrong Bersukacita Berjalan Di Tempat Tuhan Yesus Berjalan

(Berita Mingguan GITS 3 Agustus 2019, sumber: www.wayoflife.org)

Neil Armstrong, orang pertama yang berjalan di atas bulan, meninggal pada tahun 2012, pada usia 82 tahun. Seorang astronot, insinyur aerospace, pilot pesawat tempur AL (yang terbang dalam 78 misi tempur di atas Korea Utara), dan seorang profesor di Universitas, Armstrong sudah terkenal sebagai orang yang tidak banyak bicara. Namun, ia mengucapkan beberapa kalimat paling bersejarah. Ketika dia melangkahkan kaki di atas bulan, dia berseru, “Ini satu langkah kecil untuk [seorang] manusia, tetapi satu lompatan raksasa untuk umat manusia.” Dia mengatakan satu hal lagi yang pantas diingat, dan saya diingatkan akan hal ini setiap kali saya mengunjungi Israel. Tidak lama setelah Apollo 11 mendarat di bulan, Armstrong mengunjungi Yerusalem dan ia dipandu oleh arkeolog Meir Ben-Dov, salah seorang arkeolog yang menggali Bukit Bait bagian selatan. Armstrong meminta dia untuk menunjukkan suatu tempat yang diperkirakan pernah Yesus lewati, dan Ben-Dov membawa dia ke Gerbang Huldah dan menunjukkan kepadanya tangga-tangga selatan yang baru saja selesai digali keluar. Armstrong bertanya apakah tangga-tangga ini orisinal, dan Ben-Dov menjawab, “Ya.” Armstrong berkata, “Jadi Yesus pernah melangkah di sini?” dan Ben-Dov sekali lagi mengkonfirmasikannya. Terhadap hal ini, Armstrong berkata, “Saya harus memberitahumu. Saya lebih bersukacita menginjak menginjak batu-batu ini daripada saya menginjak bulan.” Cerita ini adalah bagian dari program pelatihan 2 tahun bagi para guide tour resmi di Israel, dan juga muncul di buku From Beirut to Jerusalem oleh Thomas Friedman.

Posted in General (Umum) | Leave a comment