Filosofi “Free Love” di Amerika, Menghasilkan Tsunami Penyakit Seksual

(Berita Mingguan GITS 22 September 2018, sumber: www.wayoflife.org)

Berikut ini disadur dari ““Rates of 3 STDs have reached a record high in the US,” Business Insider, 28 Agus. 2018: “Ada 2,3 juta kasus baru chlamydia, gonorrhea, dan sifilis, yang didiagnosa di AS tahun lalu, menurut data awal yang dirilis oleh Centers for Disease Control (CDC). Data ini memperlihatkan rekor tinggi yang baru bagi negara tersebut, dan tahun keempat berturut-turut terjadinya ‘peningkatan tajam yang menetap’ pada tiga jenis infeksi ini, menurut pernyataan pers CDC. Data ini dipresentasikan di Konferensi Pencegahan Penyakit Menular Seksual di Washington pada hari Selasa, demikian laporan CNN. Antara tahun 2013 dan 2017, kasus-kasus gonorrhea meningkat 67% secata total, dan hampir dua kali lipat pada laki-laki; kasus sifilis meningkat 76% dan chlamydia tetap menjadi kondisi yang paling sering dilaporkan ke CDC. … ‘Kita telah meluncur mundur,’ demikian kata Dr. Jonathan Mermin, direktur dari Pusat Nasional CDC untuk HIV/AIDS, Hepatitis Viral, Penyakit Menular Seksual, dan Pencegahan Tuberkulosis, dalam peryataan pers tersebut. ‘Sangat jelas bahwa sistem-sistem yang mengidentifikasi, mengobati, dan pada akhirnya mencegah Penyaki Menular Seksual, sudah bekerja lembur dan tidak cukup lagi.’ … Pernyataan pers CDC juga mencamkan meningkatnya ancaman gonorrhea yang resisten terhadap antibiotik, yang kadang disebut ‘super gonorrhea.’ Kuman-kuman yang menyebabkan gonorrhea telah menjadi resisten terhadap ‘hampir semua jenis antibiotik’ yang pernah dipakai untuk mengobati mereka, demikian bunyi pernyataan tersebut.”

Posted in Kesehatan / Medical | Leave a comment

Orang-Orang yang di Tengah-Tengah

(Berita Mingguan GITS 22 September 2018, sumber: www.wayoflife.org)

James Henley Thornwell adalah seorang pengkhotbah Presbyterian zaman dulu yang dengan gigih berjuang melawan modernisme theologi di abad ke-19. Sebagai presiden keenam dari South Carolina College (hari ini namanya adalah University of South Carolina), Thornwell sangat capek dengan “orang-orang yang di tengah” pada zmaan dia, yang mengatakan bahwa mereka mencintai kebenaran tetapi mereka lemah dalam berposisi dan tidak mau dengan berani melawan kesalahan. “Menggunakan kata-kata yang gemulai dan dimanis-maniskan dalam membahas topik-topik yang memiliki nilai abadi; memperlakukan kesalahan-kesalahan yang menyerang fondasi segala pengharapan manusia, seolah-olah ini adalah kekhilafan yang wajar dan tidak berbahaya; memberkati hal-hal yang Allah tidak senangi, dan beramah tamah pada tempat-tempat Dia memanggil kita untuk berdiri seperti laki-laki dan tegas, walaupun adalah cara yang paling cocok untuk mendapatkan pujian populer di zaman yang canggih ini, sebenarnya adalah kekejaman terhadap sesama manusia dan pengkhianatan terhadap Sorga. Orang-orang yang pada topik-topik ini lebih mementingkan aturan-aturan kesopanan daripada poin-poin kebenaran, tidaklah membela benteng, tetapi menyerahkannya ke tangan para musuhnya. KASIH AKAN KRISTUS, DAN AKAN JIWA-JIWA YANG UNTUKNYA DIA MATI, AKAN MENJADI TAKARAN SEMANGAT KITA DALAM MEMBONGKAR BAHAYA-BAHAYA YANG MEMERANGKAP JIWA-JIWA MANUSIA” (dikutip dalam sebuah khotbah oleh George Sayles Bishop, penulis dari The Doctrines of Grace and Kindred Themes, 1910).

Posted in Fundamentalisme, Renungan | Leave a comment

Bertambahnya Informasi

(Berita Mingguan GITS 22 September 2018, sumber: www.wayoflife.org)

Berikut ini disadur dari CreationMoments.com, 4 Desember 2017: “Para evolusionis berasumsi bahwa evolusi terjadi dengan meningkatnya informasi genetika. Hal ini, mereka mengklaim, terjadi melalui mutasi, yang menciptakan informasi tambahan. Kita harus menganalisa bagaimana hal ini bisa terjadi. Telah sering dikatakan bahwa penciptaan informasi baru dalam organisme adalah seperti terjadinya suatu ledakan dalam sebuah pabrik percetakan, dan keluarlah hasilnya sebuah kamus. Tetapi para evolusionis berargumen bahwa ini adalah analogi yang tidak adil, karena evolusi seharusnya terjadi setahap demi setahap, bukan dengan cara ledakan. Jadi bagaimanakah satu tahap demi satu tahap itu bekerja? Salah satu evolusionis terkenal di Inggris, muncul dalam sebuah acara anak-anak, dengan sekantong huruf-huruf Scrabble, untuk mempertunjukkan cara kerjanya. Dia membuat anak-anak itu masing-masing mengambil sebuah huruf dari kantong tersebut. Lambat laun, ada tiga huruf berturut-turut yang m uncul yang bisa membuat suatu kata, misalnya C-A-T. ‘Aha!’ dia berseru. ‘Kita mendapatkan kata cat (kucing). Informasi telah muncul secara acak.’ Tetapi huruf C-A-T, hanyalah berarti “kucing” dalam bahasa Inggris. Dalam bahasa Indonesia, yang muncul haruslah huruf K-U-C-I-N-G. Jadi, C-A-T hanya mengandung informasi jika sudah ada kemampuan berbahasa untuk membaca informasi itu. Dengan cara yang sama, informasi DNA harus ‘dibaca’ oleh molekul-molekul RNA. Jadi informasi ini tidak terjadi dengan sendirinya. Bahkan jika informasi baru itu mungkin muncul, proses ini hanya bisa berhasil jika sudah ada metode yang eksis terlebih dahulu, untuk memahami informasi tersebut. Informasi tidak muncul dengan sendirinya. Informasi selalu muncul dari suatu tempat – atau lebih tepatnya dari seorang Pribadi.”

Posted in Science and Bible | Leave a comment

Menjadi Kontemporer

(Berita Mingguan GITS 10 September 2018, sumber: www.wayoflife.org)

“Menjadi Kontemporer” (Gone Contemporary) adalah judul dari sebuah artikel yang ditulis oleh Dave Mallinak, yang memaparkan kesalahan dan bahaya dari filosofi musik kontemporer yang sudah dianut oleh dunia kekristenan pada umumnya, dan sedang melanda gereja-gereja Baptis juga. Kami merekomendasi seluruh tulisan tersebut, yang juga memberikan tautan-tautan kepada contoh-contoh kebaktian-kebaktian Baptis Independen yang sudah menggunakan musik kontemporer, dan juga sebuah video dialog antara Josh Teis dan Robert Bakss, penulis dari buku Worship Wars. Berikut ini cuplikan dari laporan tersebut yang berkaitan dengan inti dari masalah ini, dan dengan tepat menyerukan separasi dari mereka yang sudah berkomitmen pada filosofi kontemporer: “Seruan untuk musik kontemporer adalah raungan kematian dari suatu gereja yang sekarat. Gaya ‘penyembahan’ ini tidaklah menjadi populer karena orang Kristen menjadi semakin setia. Dalam usaha untuk menyenangkan audiens, kita telah lupa bahwa Allah adalah audiens yang sebenarnya. Kita sekarang merasa bosan dengan Tuhan. Semakin tergantung kita pada pendekatan ‘penyembahan’ yang eksternal seperti ini, semakin kita kehilangan inti dari penyembahan. Pada akhirnya, orang Kristen akan mendapatkan bahwa mereka harus memiliki musik jenis kontemporer, atau mereka tidak bisa menyembah. Penyembahan kontemporer mengubah audiens menjadi penonton dan musiknya menjadi suatu pertunjukan. Hal ini menghasilkan suatu pandangan yang rendah akan Allah, suatu kesenangan terhadap pengalaman penyembahan itu, bukan pada Allah yang kita sembah, suatu passion yang superfisial yang kehilangan passion terhadap penyembahan yang sejati, suatu ketergantungan yang semakin hebat pada pengalaman yang dihasilkan oleh musik tersebut, dan suatu ide palsu bahwa penyembahan itu sesuatu yang mudah, bahwa devosi dapat ditingkatkan dengan beberapa baris reff nyanyian. Penyembahan yang sebenarnya adalah menantang – memerlukan fokus dan ketekunan dan kedalaman, yaitu hal-hal yang justru ditentang oleh CCM. … Gaya musik mengindikasikan apa yang suatu gereja konsepkan tentang Tuhan. Secara alkitabiah, kami tidak dapat berpura-pura bersekutu baik dengan gereja-gereja yang lebih mengutamakan relevansi dibandingkan reverensi (Ed: lebih mengutamakan relevan di mata dunia dari menghormati Allah). Jadi, walaupun kami tidak berusaha mendikte cara suatu gereja melakukan kebaktian, kami jelas memiliki tanggung jawab dari Allah untuk menentukan dengan siapa kami bersekutu atau tidak. … Klaim bahwa gaya musik tidak lebih dari suatu pilihan preferensi saja, menunjukkan betapa relativistiknya orang-orang ini. Mereka dengan sengaja mengabaikan pembelajaran teori musik. Mereka percaya bahwa kita hanya perlu mempelajari Alkitab untuk melihat gaya musik apa yang diperlukan. Mereka mengingat kita, dengan nada merendahkan, bahwa Alkitab tidak berkata apa-apa tentang sinkopasi, atau ‘ketukan antisipasi.’ Dengan demikian, mereka dengan sengaja mengabaikan pesan yang jelas yang disampaikan oleh gaya musik tentang makna dari kebaktian dan penyembahan itu. Para produsen film menyadari hal ini. Kebanyakan orang tahu bahwa ada musik tertentu yang cocok untuk pernikahan, untuk penguburan, untuk restoran kelas atas, untuk barbecue di halaman belakang, untuk parade militer, dan untuk pertandingan basket. Orang-orang ini percaya bahwa kita bisa menyeret gaya apa saja untuk suatu kebaktian rohani, menempelkan kata-kata yang bagus padanya, dan dengan cara demikian ‘menebusnya.’ … Gaya musik itulah makna dari musik tersebut. Musik, pakaian, dan penampilan trendy dari kaum Baptis Independen yang kontemporer, lebih memberitahu kepada kita pandangan mereka tentang Allah daripada pandangan mereka tentang gaya musik. Hal ini benar untuk kebanyakan acara. Cara kita berpakaian dan musik yang kita mainkan, menyampaikan pandangan kita tentang acara tersebut, daripada pandangan kita tentang gaya yang kita pakai.” Laporan yang sepenuhnya dari Dave Mallinak dapat dilihat di villagesmithysite.wordpress.com/2018/08/31/gone-contemporary/

Posted in musik | Leave a comment

Protein Penting untuk Kehidupan

(Berita Mingguan GITS 10 September 2018, sumber: www.wayoflife.org)

Berikut ini disadur dari Seeing the Non-existent: Evolution’s Myths and Hoaxes, David Cloud, copyright 2011: “Sel-sel tubuh terbuat dari protein-protein (sekitar satu juta protein per sel, terdiri dari ribuan variasi), dan sel-sel dan protein-protein membentuk tubuh. Protein adalah ‘mesin di dalam jaringan makhluk hidup yang membangun struktur dan melaksanakan reaksi-reaksi kimia yang penting untuk kehidupan’ (Michael Behe, Darwin’s Black Box). Otot, kulit, rambut, mata, antibodi, enzim (senyawa yang menghasilkan reaksi kimia esensial seperti memecahkan gula), dan hormon-hormon, semua terbuat dari protein. Pembekuan darah dihasilkan oleh protein fibrinogen dan thrombin. Hemoglobin dalam sel darah merah adalah suatu protein yang memungkinkan oksigen dibawa ke semua bagian tubuh. Protein kolagen dan keratin, yang bersifat elastik dan lebih kuat dari baja, membentuk kulit, rambut, dan kuku, sekaligus juga dukungan struktural di dalam sel itu sendiri. Sel dapat membuat ribuan jenis protein yang berbeda-beda, masing-masingnya sangat kompleks dan didesain untuk fungsi yang spesifik. Sebagai contoh, ada ratusan tipe protein yang menjembatani membran sel, bertugas sebagai gerbang dan transporter. Pertama, DNA (deoxyribonucleic acid) membuat tiga macam RNA (ribonucleic acid). RNA lalu membaca kode DNA yang rumit, mengetahui dengan persis di mana mulainya dan bagaimana menyelesaikan tugas ini, bekerja sama dengan berbagai organ sel untuk membuat protein menurut cetak biru master tersebut. Proses ini sangat kompleks, sulit dijelaskan dengan kata-kata, dan para ilmuwan barulah mulai memahami bagian kecil darinya. Setiap protein terdiri dari serangkaian panjang sekitar 20an asam amino yang berbeda, biasanya ribuan asam amino panjangnya, dan setiap asam amino haruslah pada urutan yang tepat agar protein tersebut berfungsi dengan baik. Setelah protein itu selesai dirangkaikan, ia akan dilipat dan dibentuk secara sempurna dalam pabrik-pabrik sel, dan lalu diantarkan ke tempat yang benar. Pemberian bentuk yang tepat adalah essensial. Protein memerlukan DNA untuk dapat dibentuk, tetapi DNA itu sendiri terbentuk dari protein. ‘Karena DNA dan protein saling tergantung secara intim agar dapat eksis, sulit untuk membayangkan salah satunya berevolusi terlebih dahulu. Tetapi sama tidak mungkinnya kedua-duanya muncul berbarengan dari lautan pre-biotik’ (Carl Zimmer, “How and Where Did Life on Earth Arise?” Science, Vol. 309, 1 Juli 2005, hal. 89).”

Posted in Science and Bible | Leave a comment

Penelitian Baru Mematahkan Mitos Bahwa Minum Alkohol Baik untuk Kesehatan

(Berita Mingguan GITS 01 September 2018, sumber: www.wayoflife.org)

Dengan mengutip berbagai penelitian secara selektif, industri alkohol dengan gencar mempromosikan ide bahwa minum alkohol secara moderat membawa keuntungan medis. Namun sebuah penelitian skala besar yang baru-baru ini selesai, oleh Institute for Health Metrics di Universitas Washington, telah menemukan bahwa keuntungan apapun yang diperoleh dari minum alkohol, kalah dari kerugian yang diakibatkan. Dr. Max Griswold, pemimpin penelitian tersebut, mengatakan, “Kami telah menemukan bahwa kombinasi resiko-resiko kesehatan yang berhubungan dengan alkohol, meningkat seiring dengan konsumsi alkohol dalam jumlah berapapun” (“Study shows women in Ireland have three alcoholic drinks a day,” RTE, Ireland’s national public service broadcaster, 24 Agus. 2018). “Para ilmuwan mengumpulkan data dari 592 penelitian, dengan total 28 juta peserta, untuk mengakses data resiko kesehatan global yang terhubung ke alkohol.” “Setiap tahun, 2,2% wanita dan 6,8% pria mati dari masalah kesehatan yang berhubungan dengan alkohol, termasuk kanker, tuberkulosis, dan penyakit hati. Konsekuensi merugikan lainnya dari minum alkohol mencakup kecelakaan dan kekerasan. Secara global, minum alkohol adalah faktor resiko ketujuh untuk keseluruhan kematian prematur dan penyakit pada tahun 2016, demikian didapatkan oleh hasil penelitian tersebut.”

Posted in Kesehatan / Medical | Leave a comment

Superhero Favorit di Coastline Baptist

(Berita Mingguan GITS 01 September 2018, sumber: www.wayoflife.org)

Sangat disayangkan bahwa gereja-gereja hari ini semakin lama semakin menyerupai dunia. Hal ini bahkan terjadi di kalangan Independen Baptis juga [apalagi di gereja-gereja lain], dengan sebagian gereja semakin menuju dunia dan sikap yang kontemporer. Kami telah memperingatkan akan hal ini sejak lama, tetapi kebanyakan gembala sidang lebih senang menyembunyikan kepala di dalam pasir, dan masalah bertambah serius dari tahun ke tahun. Banyak orang yang seharusnya tahu lebih baik, terus mendukung sekolah-sekolah yang menghasilkan pengkhotbah-pengkhotbah kontemporer yang memulai gereja-gereja kontemporer, sambil berpura-pura bahwa mereka tidak mendukung posisi kontemporer. Perhatikan salah satu contoh, Coastline Baptist Church di Oceanside, California, yang digembalakan oleh Steve Chappel, saudara dari Paul Chappell, yang adalah gembala dari Lancaster Baptist Church, Lancaster, California, dan kepala dari West Coast Baptist College. Putra Paul, Matt, yang mendirikan Rock Hill Church di Fontana, California, pada tahun 2017, adalah seorang gembala muda di Coastline selama beberapa tahun setelah ia meninggalkan Lancaster, jadi Matt ini pernah dididik oleh Paul dan Steve. Paul menahbiskan Matt untuk mendirikan gereja baru pada tanggal 25 April 2016, dan men-tweet pujian untuk pekerjaan baru tersebut. Dalam sebuah blog saat pendirian Gereja Rock Hill, Paul Chappell men-tweet, “Bersyukur karena mendengar dari putra kami, Matt, bagaimana Tuhan sudah mulai bekerja sementara mereka mendirikan Rock Hill Baptist Church di Fontana, CA.” (Nama “Baptist” jarang sekali muncul dalam koneksi dengan gereja tersebut, dan sepertinya dimasukkan di sini hanya untuk dilihat kalangan tertentu.)

Robert Bakss, seorang gembala sidang yang terang-terangan memeluk rock ‘n roll, dengan filosofi emerging, yang telah menimbulkan kebingungan besar di kalangan gereja-gereja Baptis Independen di Australia, menjadi pembicara di Coastline pada tanggal 5 Februari 2017. Di website Coastline, pada halaman mengenai “Our Team,” para hamba Tuhan di sana menyampaikan super-hero favorit mereka. Gembala Sidang Worship, Ryan Gass, mem-favoritkan Wolverine; Asisten Gembala, Jon Telles, memilih Captain America; Gembala Pelajar Pelayanan, J.J. Mordh, memilih Batman; Gembala Sidang bahasa Spanyol, Jairo Dominguez, memilih Spiderman; Sekretaris Kantor, Lisa Chappel, memilih Wonder Woman. Hal-hal seperti ini adalah sinyal lampu hijau yang terang benderang kepada kaum muda di gereja tersebut untuk mencelupkan diri sepenuh-penuhnya ke hal-hal yang sensual dan duniawi, yang dilarang dalam Firman Tuhan (Ef. 5:11; 1 Yoh. 2:15-16). Tidak heran bahwa kebanyakan gereja telah mencampakkan standar berpakaian yang saleh dan sopan, ketika pikiran para pemimpinnya sendiri sudah dipenuhi oleh sampah-sampah seperti itu.

Posted in Gereja, Separasi dari Dunia / Keduniawian | Leave a comment

Para Peneliti Menemukan Bahwa Neanderthal Dapat Membuat Api Mereka Sendiri

(Berita Mingguan GITS 01 September 2018, sumber: www.wayoflife.org)

Para peniliti yang menyelidiki alat-alat yang dipakai oleh “Neanderthal,” telah menemukan bahwa mereka bisa memulai api dengan menggunakan batu api. Arkeolog, Andrew Sorensen, dari Universitas Leiden di Belanda, mengatakan, “Saya mengenali pola pemakaian seperti ini dari pekerjaan eksperimental saya dulu. … Mampu membuat api mereka sendiri memberikan para Neanderthal lebih banyak fleksibilitas dalam kehidupan mereka. Ini adalah keahlian yang telah kita duga, tetapi yang tadinya tidak kita pastikan mereka miliki” (“Neanderthals could start their own fires,” UPI, 19 Juli 2018). Ini adalah penemuan terakhir yang mematahkan klaim-klaim terdahulu kaum Darwinis bahwa Neanderthal adalah manusia gua yang hanya bisa menggeram satu terhadap yang lain. Pada tahun 1907, Ernst Haeckel, murid utama Charles Darwin di Jerman, menggambarkan Neanderthal sebagai pra-manusia, dan menaruh mereka di antara Pithecanthropus (Java Man) dan Homo Australis, yang dia sebut “ras terendah dari manusia belakangan.” Paleontologis terkenal Perancis, Marcellin Boule, percaya bahwa Neanderthal adalah suatu cabang manusia-kera yang menjadi punah tanpa menjadi “manusia modern.” Dia percaya bahwa Neanderthal berjalan dengan bungkuk, dengan lutut yang tertekuk dan mengesot, dan memiliki “hanya bahasa yang paling sederhana” (Fossil Men, 1957, hal. 251). Pada tahun 1930, Frederick Blaschke membuat model sebuah keluarga Neanderthal dalam setting gua, didasarkan pada interpretasi Boule. Mereka bungkuk, setengah berpakaian, memegang tulang-tulang, dan memiliki ekspresi wajah yang sangat bodoh. Model ini ditaruh sebagai ekshibit permanen di Field Museum of Natural History di Chicago, dan disalin di banyak sekali buku teks, ensiklopedia, jurnal, majalah-majalah populer dan koran-koran, dan museum-museum. Ini adalah pandangan yang berkuasa selama hampir setengah abad, tetapi ini bukan sains; ini adalah pembentukan mitos didasarkan pada asumsi dan spekulasi. Sejak tahun 1960an, Neanderthal telah perlahan-lahan semakin di-manusiawi-kan. Neanderthal bahkan telah diklasifikasikan ulang menjadi Homo sapiens neanderthalensis, suatu tipe “manusia modern.” Sekarang diakui bahwa Neanderthal memiliki budaya yang maju (mereka mempedulikan kaum yang sakit dan lanjut usia, menguburkan orang-orang mereka yang mati, memegang agama), membuat obat-obatan, menggunakan berbagai jenis alat, menggunakan pelekat, membuat tindik atau jarum dari tulang, membangun rumah-rumah berdinding, membuat tempat perapian untuk memasak dan kehangatan, membuat ornamen-ornamen dan patung-patung dari tulang, gigi, gading, dan kayu halus, dan memainkan suling dengan sistem musik tujuh not yang didapatkan juga dalam sistem musik Barat (Marvin Lubenow, Bones of Contention, hal. 239-244, 254-257). Apakah para evolusionis telah meminta maaf karena kesalahan yang telah mereka sebarkan di dunia? Tentu tidak sama sekali. Faktanya, barulah setelah dua dekade penuh, Chicago Field Museum mengoreksi ekshibit Neanderthal mereka yang berpengaruh namun sangat salah tersebut. Sebagaimana dikatakan oleh Melvin Lubenow di Bones of Contention, “Barulah pada pertengahan 1970an, Field Museum tersebut menurunkan ekshibit mereka yang lama yang menggambarkan Neanderthal yang mirip kera, dan menggantinya dengan Neanderthal yang tegak, yang terlihat hari ini. Apa yang mereka lakukan dengan ekshibit yang lama? Apakah mereka membuangnya ke tong sampah, tempat yang pantas untuknya? Tidak. Mereka memindahkan ekshibit lama ke lantai dua, dan menaruhnya persis di samping kerangka dinosaurus Apatosaurus yang besar, dan di sana jauh lebih banyak lagi orang – terutama anak-anak – akan melihat ekshibit lama tersebut. Mereka memberikan label pada ekshibit itu ‘Suatu pandangan alternatif tentang Neanderthal.’ Ini bukan pandangan alternatif. Ini adalah pandangan yang salah. Dan para ilmuwan sering mengklaim bahwa sains memiliki mekanisme koreksi diri sendiri. Ternyata dalam kasus Neanderthal, tidak demikian.”

Posted in Arkeologi, Science and Bible | Leave a comment

Laporan Mengidentifikasikan Lebih dari 1000 Korban Abuse Imam di Pennsylvania

(Berita Mingguan GITS 25 Agustus 2018, sumber: www.wayoflife.org)

Sebuah grand jury (Editor: di Amerika, grand jury adalah kumpulan orang yang meneliti sebuah kasus, dan menentukan apakah kasus ini layak untuk dilanjutkan ke pengadilan) telah menyimpulkan bahwa lebih dari 1000 anak-anak mengalami abuse oleh imam-imam Roma Katolik dalam enam keparokian di Pennsylvania saja, sealam beberapa dekade terakhir. Laporan itu, yang adalah hasil penyelidikan selama dua tahun, mengidentifikasi 300 imam dan “bruder” awam yang menjadi pelaku abuse, dan menemukan bukti-bukti adanya penyembunyian sistematis oleh para pemimpin gereja senior di Pennsylvania, dan di Vatikan di Roma (“Report Identifies More Than 1,000,” Associated Press, 14 Agus. 2018). Dalam sebuah konferensi berita, Penuntut Umum Pennsylvania, Josh Shapiro, mengatakan, “Penyembunyian dilakukan secara canggih. Dan, yang mengejutkan adalah, sambil itu berlangsung para pemimpin gereja menyimpan catatan mengenai abuse dan penyembunyiannya. Dokumen-dokumen tersebut, dari ‘Arsip Rahasia’ milik keparokian itu sendiri, menjadi tulang punggung penyelidikan ini.” Enam keparokian tersebut mewakili hanya setengah dari gereja-gereja Katolik di Pennsylvania. Kebanyakan korbannya adalah anak-anak lelaki. Gereja Roma Katolik di Amerika telah membayar lebih dari $2 milyar untuk menyelesaikan berbagai tuntutan hukum terhadap imam-imam yang imoral. Organisasi Bishop Accountability mengatakan bahwa lebih dari 4000 imam telah dituduh melakukan abuse terhadap anak-anak (“US Church to Pay 12.6 Million,” AFP, 11 Agus. 2008). Sebuah organisasi Katolik konservatif mendokumentasikan hal yang jahanam ini di majalah Ad Majorem Dei Gloriam, edisi musim semi/dingin 2002, dengan observasi: “… mayoritas besar kasus-kasus sexual abuse di Gereja Katolik – sekitar 90% – melibatkan imam-imam yang homoseksual yang memangsa anak-anak remaja. Media dan kebudayaan AS secara umum mau menyangkal atau menghilangkan faktor homoseksual dari skandal ini.” Dalam sebuah wawancara baru-baru ini, Kardinal Raymod Burke mengatakan, “Saya percaya bahwa ada keperluan untuk kesadaran yang terbuka bahwa kita memiliki masalah yang sangat parah, yaitu budaya homoseksual di dalam Gereja, terutama di antara para imam dan hirarki…” (“Cardinal Burke Addresses the Clergy Scandal,” Catholic Action for Faith and Family, 16 Agus. 2018). Ini bukanlah masalah yang terbatas hanya di Amerika saja. Pada tahun 2003, Gereja Roma Katolik di Irlandia sepakat untuk membayar $110 juta untuk menghindari tuntutan hukum mengenai skandal seks. Pada tahun 2013, Paus Fransiskus mengakui bahwa ada “lobi gay” yang eksis di level-level tertinggi di Katolikisme. “Dalam Curia, ada orang-orang kudus. Tetapi juga ada aliran yang korup. ‘Lobi gay’ disebut-sebut, dan memang benar, ada. Kita perlu melihat apa yang bisa kita lakukan” (“Pope Francis,” CNN Belief Blog, 11 Juni 2013). Paus waktu itu sedang merujuk kepada laporan-laporan yang muncul di koran-koran Italia, tahun 2012, yang didasarkan pada bocoran-bocoran kepada wartawan dari orang-orang dalam Vatikan. La Repubblica mengatakan bahwa ada “keimamatan level tinggi di Vatikan yang terlibat dalam skandal-skandal homoseksual.” Doktrin Roma yang mengharuskan “selibasi” adalah bertentangan dengan Firman Allah dan adalah kekacauan yang konyol.

Posted in Katolik | Leave a comment

Gereja di Kalifornia Akan Kebaktian di Tempat Pembuatan Bir

(Berita Mingguan GITS 25 Agustus 2018, sumber: www.wayoflife.org)

Gereja Greater Purpose Community, di Santa Cruz, California, sedang membangun sebuah brewery bir (tempat pembuatan bir), yang juga akan menjadi tempat pertemuan mereka. Gembala Chris VanHall mengatakan, “Saya berpikir dalam diri saya sendiri, bukankah akan hebat jika suatu gereja dapat memiliki suatu cara untuk menghasilkan suatu produk, yang hasil keuntungannya akan dibagi dengan organisasi pelayanan komunitas lokal, dan kami tersentak ‘hei, kita suka bir, kita suka membuat bir, mengapa tidak membuat suatu brewery?’” Dia mengatakan bahwa meminum beberapa botol bir dapat “membuat khotbah lebih baik.” Website gereja itu mengatakan, “[Kami] akan merangkul anda, tidak peduli apa iman anda, pilihan hidup pribadi anda, ras, seks, orientasi seks, identitas gender, preferensi politik, status sosial, atau status ekonomi.” Keuntungan dari pembuatan bir di gereja ini akan masuk ke organisasi penyedia jasa aborsi, Planned Parenthood. Ini adalah kekristenan gaya “The Shack,” yang sama sekali nihil pemahaman akan dosa, pertobatan, dan kelahiran kembali yang mengubah hidup. Hal-hal seperti itu akan dianggap “theologi yang penuh kebencian” oleh Gereja Greater Purpose Community.

Posted in Emerging Church, Gereja | Leave a comment