Orang-Orang Muda yang Meninggalkan Gereja Tidak Kembali Lagi Belakangan

(Berita Mingguan GITS 9 November 2019, sumber: www.wayoflife.org)

Riset berikut ini telah dikonfirmasi oleh banyak gereja Baptis Selatan dan Baptis fundamental yang sekarang dihuni oleh kebanyakan orang-orang tua. Orang-orang mudanya telah menghilang. Ini disadur dari ‘Young People Who Leave Church,’ Christian Post, 23 Okt. 2019: “Sementara para gembala telah sejak dulu bergantung pada ilmu sosial yang menunjukkan bahwa orang-orang muda yang meninggalkan gereja biasanya akan kembali lagi pada saat mereka lebih tua, maka sebuah analisis baru-baru ini mengenai tren tersebut, sepertinya menunjukkan bahwa fenomena ini tidak ada lagi. Dalam analisis yang dia lakukan terhadap data dari General Social Survey berkaitan dengan jendela waktu 5 tahunan orang-orang yang lahir mulai dari 1965 hingga 1984, dipublikasikan oleh Barna Group, Ryan Burge, seorang asisten profesor ilmu politik di Eastern Illinois University dan gembala dari First Baptist Church di Mt. Vernon, Illinois, memperlihatkan bahwa generasi-generasi yang lebih muda yang dibesarkan di gereja, biasanya tidak kembali lagi ke gereja jika dibandingkan dengan generasi ‘Baby-boomer’ yang lahir antara tahun 1945-1964. Dalam analisis Burge tentang generasi boomer, empat grup-5-tahunan yang berbeda menunjukkan adanya ‘penonjolan statistik yang khas’ yang didukung oleh ilmu sosial tradisional tentang ‘saatnya setiap kelompok kelahiran masuk ke rentang umur 36-45 tahun. Itu persis yang diprediksikan oleh efek siklus kehidupan: Orang-orang mulai berkeluarga, punya anak, dan mereka kembali ke gereja.’ Ketika ia mengamati data untuk kelompok umur yang lebih muda, 1965-1969, 1975-1979 dan 1980-1984, data menunjukkan memudarnya efek siklus kehidupan ini. Walaupun masih ada penonjolan statistik di antara mereka yang lahir antara 1965-1969, suatu pergeseran dalam efek siklus kehidupan mulai terlihat sejak sekitar tahun 1970. ‘Garis tren menjadi sepenuhnya datar – orang-orang itu tidak kembali ke gereja ketika mereka menginjak usia 30an. Kamu bisa melihat mulainya penonjolan statistik di antara orang yang lahir tahun 1975 dan 1979, tetapi dalam kelompok lahir berikutnya, penonjolan ini malah terbalik. Fenomena khas untuk kembali ke gereja – yangmenjadi pegangan bagi para gembala dan pemimpin gereja selama puluhan tahun – bisa jadi sedang memudar,’ kata Burge. Bagi siapapun yang peduli dengan pertumbuhan gereja, Burge berkata, ‘ini seharusnya membunyikan alarm.’” CATATAN DR. CLOUD: Tentu saja seharusnya ini “membunyikan alarm,” tetapi orang-orang muda tidak seharusnya meninggalkan gereja dari awalnya, dan kami tidak percaya bahwa ini adalah pertempuran yang sudah pasti kalah. Buku Keeping the Kids: How to Keep the Kids from Falling Prey to the World penuh dengan pertolongan alkitabiah yang praktis untuk rumah dan gereja dalam subjek yang penting ini. Tersedia gratis sebagai eBook di www.wayoflife.org.

Posted in Gereja, Pemuda/Remaja | Leave a comment

John MacArthur Memberitahu Pengkhotbah Wanita, Beth Moore, untuk “Pulang”

(Berita Mingguan GITS 2 November 2019, sumber: www.wayoflife.org)

Di Konferensi Truth Matters, yang diadakan di Grace Community Church, gereja MacArthur sendiri, tanggal 16-18 Oktober 2019, John MacArthur ditanya dalam sesi tanya jawab tentang Beth Moore. MacArthur menjawab dengan dua kata, “go home” atau “pulang” dalam bahasa Indonesia. Dia melanjutkan dengan penjelasan berikut, “Tidak ada pembenaran yang bisa dibuat secara alkitabiah untuk seorang pengkhotbah wanita. Titik. Paragraf. Akhir diskusi. … Saya lihat ini adalah feminisme yang telah masuk ke gereja. Inilah mengapa kita tidak boleh membiarkan kebudayaan sekeliling kita mengeksegesis Alkitab.” Ini adalah nasihat yang 100% alkitabiah, dan MacArthur tidak akan menyesalinya di hadapan takhta pengadilan Kristus nanti. Walaupun kita tidak dapat menerima theologi Reformed milik MacArthur, kita sangat mengapresiasi pengkhotbah-pengkhotbah yang berani dalam era yang penuh pengecut ini. Dan dia mengatakan kata-kata ini dalam acara peringatan 50 tahun pelayanannya. Pada bulan Mei tahun ini, Beth Moore mengatakan bahwa dia tiba pada kesimpulan bahwa kaum lelaki yang menentang pengkhotbah wanita adalah orang-orang yang iri hati dan kedagingan. Rupanya Beth Moore ini mendapat wahyu atau bagaimana begitu, sehingga dia memiliki kemampuan untuk menghakimi hati dan motivasi orang lain. Setelah Owen Strachan, profesor SBC di Midwestern Baptist Theological Seminary, menegornya lewat akun Twitter-nya, dengan berkata “wanita tidak seharusnya khotbah di Minggu pagi kepada seluruh jemaat,” Moore secara publik menegor dia dengan Twitter-nya juga, berkata, “Saya akan ketakutan untuk menjadi wanita yang kamu setujui.” Dengan berkata demikian, Beth Moore mengakui bahwa dia menolak untuk menjadi wanita yang akan disetujui Rasul Paulus, karena Rasul Paulus-lah yang dengan keras berkata, “Aku tidak mengizinkan perempuan mengajar dan juga tidak mengizinkannya memerintah laki-laki; hendaklah ia berdiam diri” (1 Tim. 2:12). Beth Moore tidak pintar berdiam diri, ataupun, sepertinya untuk menunjukkan “roh yang lemah lembut dan tenteram, yang sangat berharga di mata Allah” (1 Pet. 3:4). Dia menyebut posisi Owen yang sebenarnya alkitabiah itu sebagai “seksisme dan misogini.” Tidak mengejutkan, MacArthur dikritik secara luas, termasuk oleh J. D. Greear, presiden dari Southern Baptist Convention, dan Danny Akin, presiden dari Southeastern Baptist Theological Seminary. Ada sebagian orang yang mengritik MacArthur karena pandangannya, dan ada yang mengritiknya karena “nada” yang dia gunakan. Tetapi orang-orang yang merasa bahwa John MacArthur terlalu keras, perlu menghabiskan lebih banyak waktu dengan para pengkhotbah Alkitab zaman dulu yang dipuji oleh Tuhan, misalnya Henokh, yang berkata tentang generasi sekarang ini, “Sesungguhnya Tuhan datang dengan beribu-ribu orang kudus-Nya, hendak menghakimi semua orang dan menjatuhkan hukuman atas ORANG-ORANG FASIK karena semua PERBUATAN FASIK, yang mereka lakukan dan karena semua kata-kata nista, yang diucapkan ORANG-ORANG BERDOSA YANG FASIK itu terhadap Tuhan” (Yudas 15). Kira-kira bagaimana “nada” bicara demikian? Saya bertanya-tanya apakah Henokah juga seorang misoginis (istilah untuk “pembenci wanita”)?

Posted in Gereja, Wanita | Leave a comment

Posisi Steven Anderson tentang Homoseksualitas vs Pengajaran Alkitab

(Berita Mingguan GITS 2 November 2019, sumber: www.wayoflife.org)

Pada waktu terjadi penembakan di sebuah nightclub di Orlando, 2016, Steven Anderson mengatakan “Kabar baiknya adalah bahwa berkurang lagi 50 orang pedofilia di dunia, karena orang-orang homoseksual ini adalah sekumpulan orang aneh najis dan pedofilia” (“Gay Hating Preacher,” Sunday Express, 16 Sept. 2016). Dia berkata bahwa sayang sekali bagi ada sebagian homoseksual di nightclub itu yang berhasil selamat. Tentang selebriti transgender, Bruce (Caitlyn) Jenner, Anderson mengatakan dalam sebuah khotbah, “Dengarkan saya – saya membenci dia dengan kebencian yang sempurna. Saya tidak memiliki kasih terhadap si monster Bruce ini. Saya berharap dia mati hari ini, saya berharap dia mati dan masuk neraka – dia memuakkan, dia kotor, dia reprobat” (Adam Salandra, “Pastor Prays Caitlyn Jenner’s Heart Explodes,” NewNowNex, n.d.). Anderson mengajarkan bahwa tidak ada harapan bagi kaum homoseksual untuk diselamatkan. Dalam video-nya, “Born That Way?” dia mengatakan, “Ya, saya hanya berkata bahwa Alkitab mengajarkan di banyak tempat bahwa bisa saja sudah terlambat bagi seseorang sebelum titik tersebut, jika mereka menolak Kristus cukup banyak kali. Dan saya akan berkata bahwa kaum homoseksual jatuh pada kategori ini.” Dia mengatakan, “Tidak ada orang queer yang diperbolehkan masuk gereja ini. Tidak ada orang homo yang diperbolehkan masuk gereja ini selama saya gembala di sini. Tidak akan pernah!” Ini adalah kegilaan yang tidak alkitabiah. Orang berdosa manapun seharusnya disambut untuk masuk kebaktian gereja sebagai pengunjung, selama mereka tidak menimbulkan kekacauan, karena amanat bagi gereja adalah untuk mengundang semua orang kepada keselamatan dari Allah. Kristus membuat pendamaian bagi seluruh dunia (1 Yoh. 2:2), yang berarti bahwa Dia membuat keselamatan mungkin bagi semua orang, dan Dia memerintahkan agar Injil diberitakan “kepada segala makhluk” (Mar. 16:15), dan segala makhluk artinya segala makhluk! Dalam minggu manapun, bisa saja ada pezinah, homoseksual, orang yang berpoligami, penyembah berhala, pencuri, pembohong, ataupun orang yang mengikuti Iblis masuk ke kebaktian gereja kami. Siapapun bebas untuk mendengarkan pemberitaan Firman Allah. Di sisi lain, untuk masuk keanggotaan gereja, diperlukan keselamatan melalui kelahiran kembali, dan ini perlu dibuktikan. Keanggotaan gereja di Korintus digambarkan sebagai berikut: “Atau tidak tahukah kamu, bahwa orang-orang yang tidak adil tidak akan mendapat bagian dalam Kerajaan Allah? Janganlah sesat! Orang cabul, penyembah berhala, orang berzinah, banci, orang pemburit, pencuri, orang kikir, pemabuk, pemfitnah dan penipu tidak akan mendapat bagian dalam Kerajaan Allah. Dan BEBERAPA ORANG DI ANTARA KAMU DEMIKIANLAH DAHULU. Tetapi kamu telah memberi dirimu disucikan, kamu telah dikuduskan, kamu telah dibenarkan dalam nama Tuhan Yesus Kristus dan dalam Roh Allah kita” (1 Korintus 6:9-11). Kita melihat di sini bahwa kaum homoseksual dapat diselamatkan dan mengalami hidup yang berubah dalam Yesus Kristus, dan mereka diselamatkan dengan cara yang sama dengan orang berdosa lainnya: dengan bertobat dari dosa mereka melawan Allah dan percaya pada Yesus Kristus sebagai Juruselamat dengan segenap hati. “Aku senantiasa bersaksi kepada orang-orang Yahudi dan orang-orang Yunani, supaya mereka bertobat kepada Allah dan percaya kepada Tuhan kita, Yesus Kristus” (Kis. 20:21). Namun, Steven Anderson tidak percaya bahwa Alkitab mengharuskan pertobatan, dan ini adalah kesesatan utama dia.

Posted in LGBT | Leave a comment

Bagaimana Himne Karangan Charles Wesley Menyelamatkan Nyawa Seorang Prajurit dalam Perang Saudara Amerika

(Berita Mingguan GITS 2 November 2019, sumber: www.wayoflife.org)

Berikut ini dari Dr. Julian’s Hymnology: “Selama Perang Saudara Amerika, pasukan Federal (utara) dan pasukan Confederate (selatan) yang saling bertikai, sedang berhadap-hadapan satu sama lain dalam kesempatan tertentu. Suatu malam, seorang prajurit jaga malam dari pasukan Confederate sedang bertugas, ketika ia mendengar suara nyanyian dari posisi pasukan Federal. Dia bergerak dengan lambat ke arah pasukan musuh itu, dan mengamati seorang jaga malam musuh yang sedang mondar mandir sambil menyanyikan lagu “Yesus, Pengasih Jiwaku.” Menaruh senapannya ke atas bahunya, ia hampir mau menembak, ketika si prajurit penyanyi itu sampai pada kata-kata ‘Jagalah kepalaku yang tak berperlindungan ini dengan bayangan sayapMu.’ Kata-kata ini terlalu menyentuh bagi si prajurit Confederate, dan dia menurunkan senjatanya, membiarkan calon korbannya itu pergi tanpa cidera. Banyak tahun berlalu, dan si prajurit Confederate, yang kini menjaid rakyat biasa, sedang naik sebuah perahu uap ke Sungai Potomac, ketika dia mendengar seorang penginjil menyanyikan himne ini. Ingatannya dibangkitkan, dan karena merasa bahwa ia mengenali suara tersebut, dia mendekati si penyanyi dan setelah bercakap-cakap menemukan bahwa si penginjil memang adalah prajurit jaga yang hampir dia tembak. Betapa besar sukacita mereka bersama ketika dia menyingkapkan bahaya yang mengancam si penyanyi itu, dan bagaimana ia diselamatkan dari bahaya itu banyak tahun yang lalu, ketika ia saat jaga malam, meminta perlindungan ilahi dengan menyanyikan lagu “Yesus, Pengasih Jiwaku.”

Posted in musik | Leave a comment

Sekolah Illinois Mencuci Otak Anak-Anak PAUD dengan Agenda LGBT

(Berita Mingguan GITS 26 Oktober 2019, sumber: www.wayoflife.org)

Berikut ini disadur dari “Illinois Schools Promoting Transgenders to Preschoolers,” The Stream, 14 Okt. 2019: “Semua sekolah umum di Illinois sekarang harus mengajarkan sejarah LGBT. Mereka hanya boleh membeli buku sejarah yang memasukkan hal tersebut. Dan suatu ide yang sangat spesifik tentang sejarah tersebut. ‘Undang-Undang Kurikulum Inklusif’ ditandatangani pada bulan Agustus. UU ini akan mulai berlaku sejak 1 Juli 2020, untuk membiarkan para guru mempersiapkan bahan pelajaran tahun ajaran 2020-2021. Hukum ini juga melingkupi sejarah kelompok wanita dan minoritas. California, Colorado, New Jersey, dan Oregon, juga telah mengesahkan undang-undang yang serupa. Mengapa? Kepala dari grup lobi LGBT, Equity Illinois, menjelaskan. ‘Sebagai mantan guru kelas satu, saya tahu bagaimana sistem pendidikan yang inklusif dapat menciptakan perubahan dalam sebuah komunitas.’ … Undang-Undang ini hanyalah memaksakan apa yang sudah dilakukan oleh banyak sistem sekolah. Misalnya, sekolah-sekolah di Evanston/Skokie. Sistem sekolah di sini menampilkan kurikulum minggu LGBT-nya secara online. Anak-anak preschool (PAUD) dan TK akan ‘menjelajahi konsep-konsep tentang keluarga, mainan dengan jenis kelamin tertentu, dan stereotip berpakaian, warna dan arti, bendera, menjadi teman, dan identitas.’ Anak-anak kelas 1 akan belajar untuk menggunakan kata ganti ‘they’ untuk seorang individu. Anak-anak kelas 4 dan 5 akan menonton sebuah film dokumentar PBS tentang seorang anak perempuan yang memimpikan menjadi pemimpin dari pasukan Hula yang eksklusif laki-laki. … Kurikulum ini mengajarkan anak-anak untuk menyetujui keluarga yang dipimpin oleh orang tua sesama jenis. Salah satu caranya adalah untuk membandingkan keluarga demikian dengan keluarga yang orang tuanya dari suku berbeda dan keluarga adopsi. Cara kedua adalah dengan menormalisasi hal ini. Dalam sebuah video, seorang anak lelaki berkata bahwa dia memiliki dua orang ayah dan dua orang ibu. Materi-materi yang disuguhkan termasuk foto-foto pasangan sesama jenis bersama anak-anak, yang mengajarkan para murid untuk menyebut ini sebagai sebuah keluarga. … Kurikulum mengambarkan orang-orang transgender sebagai orang-orang yang membuat keputusan yang sangat normal. Tetapi berbagai penelitian telah menunjukkan bahwa 20% orang yang transgender, akhirnya kembali ke jenis kelamin awal mereka. Hal ini sering terjadi setelah seorang muda diterapi dengan hormon dan melakukan operasi ganti kelamin. Mereka lalu sangat menyesal telah melakukan perubahan-perubahan fisik tersebut. Kurikulum ini tidak memperingatkan anak-anak mengenai hal ini. Mereka tidak diberitahu bahwa banyak orang transgender menyadari kesalahan mereka dan berbalik. Anak-anak juga tidak diberitahu bahwa 41% dari kaum transgender akan mencoba untuk bunuh diri. Juga bahwa penyakit mental mendera 60-90% dari kaum transgender. Dan bagaimana dengan sudut pandang yang lain? Banyak orang tua dengan keras tidak setuju dengan ide-ide di balik transgenderisme. Orang-orang Kristen, Yahudi, dan Muslim berpegang kepada kepercayaan yang berbeda tentang lelaki dan perempuan. Kurikulum ini tidak menawarkan alternatif kepada ide LGBT, tidak menjelaskan bagaimana sebagian agama menentang gaya hidup demikian. Ini adalah ‘pendidikan’ satu sisi. Ia tidak mengajarkan anak-anak unutk memikirkan isu ini. Perbedaan pendapat tidak diperbolehkan. Anak-anak hanya diizinkan untuk menyetujui gaya hidup LGBT, dan mereka didorong keras ke arah sana.”

Posted in Kesesatan Umum dan New Age, LGBT | Leave a comment

Pemerintah Cina Menghancurkan Sebuah Gereja Besar

(Berita Mingguan GITS 26 Oktober 2019, sumber: www.wayoflife.org)

Berikut ini disadur dari “China: Authorities forcibly demolish ‘illegal’ church,” Christian Post, 15 Okt. 2019: “Para pejabat Komunis menghancurkan sebuah gereja di propinsi Henan, Cina, dengan alasan gereja itu melakukan ‘pencarian dana ilegal.’ Penghancuran gedung gereja itu dilakukan setelah mengusir secara paksa para jemaat, dan dalam proses melukai dua orang tua. Menurut kelompok pengamat penganiayaan di Cina, Bitter Winter, gedung Gereja True Jesus tersebut diratakan sama sekali ke tanah. Sebuah lapangan baru yang ditanami pohon-pohon kecil menggantikan gedung gereja tersebut, sama sekali menghilangkan jejak-jejak eksistensinya. …Setelah menggeledah gereja tersebut dengan seksama, polisi mengambil pergi sebuah piano dan empat unit AC. Lalu, delapan excavator mulai menghancurkan gedung gereja, dengan nilai sekitar 10 juta RMB (sekitar $1.400.000). Para pejabat terus menganiaya para anggot jemaat bahkan setelah gedung gereja tersebut dirobohkan. …Pada bulan September, dilaporkan bahwa para pejabat pemerintah Cina menuntut agar para pendeta yang berafiliasi dengan gereja Protestan yang disetujui oleh negara, mendasarkan khotbah mereka kepada sebuah buku baru yang menggabungkan pengajaran alkitabih dengan pengajaran Kong Fu Chu, salah satu filsuf yang paling berpengaruh dalam sejarah Cina. …Pada awal tahun 2018, rezim komunis mengeluarkan peraturan baru tentang masalah agama di Cina, yang melarang pengajaran agama yang ‘tidak disetujui.’ … Baru-baru ini, dituduhkan oleh China Tribunal di sebuah pertemuan Dewan Hak Asasi Manusia di PBB, bahwa pemerintah Cina telah membunuh ‘ratusan ribu’ anggota minoritas Uighur Muslim dan Falun Gong, untuk mengambil organ-organ mereka. …Open Doors USA memberikan peringkat nomor 27 kepada Cina sebagai negara terburuk di dunia berkaitan dengan penganiayaan terhadap orang Kristen dalam Daftar Dunia tahun 2019 mereka.”

Posted in Penganiayaan / Persecution | Leave a comment

Pengadilan Inggris dalam Kasus Transgender: Percaya Alkitab ‘Tidak Kompatibel’ dengan Kehormatan Manusia

(Berita Mingguan GITS 12 Oktober 2019, sumber: www.wayoflife.org)

Berikut ini disadur dari “British Court,” The Daily Wire, 2 Okt. 2019: “Pada hari Selasa, sebuah pengadilan Inggris memutuskan bahwa kepercayaan pada Alkitab ‘tidaklah kompatibel dengan kehormatan manusia.’ Pernyataan tersebut muncul dalam sebuah kasus yang melibatkan Dr. David Mackereth, seorang Kristen yang saleh yang telah bekerja sebagai seorang dokter gawat darurat untuk National Health Service selama 26 tahun. Dia mengatakan bahwa dia dipecat dari pekerjaannya karena ia menolak untuk memanggil seorang lelaki biologis sebagai seorang wanita. Keputusan pengadilan tersebut menyatakan: ‘Kepercayaan pada Kejadian 1:27, tidak percaya pada transgenderisme, dan penolakan nurani atas transgenderisme, dalam pandangan kami, tidaklah kompatibel dengan kehormatan manusia dan berkonflik dengan hak-hak mendasar orang lain, secara khusus di sini, dengan individu-individu transgender.’ Pengadilan menambahkan, ‘…sejauh kepercayaan-kepercayaan tersebut membentuk bagian dari iman dia yang lebih luas, maka iman dia yang lebih luas itu juga tidak memenuhi persyaratan layak dihormati dalam sebuah masyarakat yang demokratis, tidak kompatibel dengan kehormatan manusia dan berkonflik dengan hak-hak mendasar dari orang-orang lain.’ The Telegraph melaporkan bahwa Mackereth mengatakan dia dikeluarkan dari pekerjaannya di Department of Work and Pensions (DWP) pada akhir Juli 2018 setelah bosnya ‘menginterogasi’ dia tentang keyakinan-keyakinan imannya yang pribadi. Mackereth memberitahu pengadilan pada bulan Juli bahwa manajer di atasnya bertanya kepadanya, ‘Jika ada seorang lelaki setinggi 185 cm dengan brewok datang dan berkata bahwa dia ingin disebut sebagai nyonya dan diacu dengan kata ganti she (dia perempuan), apakah kamu akan melakukannya?’ Mackereth mengatakan bahwa karena kepercayaan imannya, dia tidak dapat melakukan hal itu, dan ia lalu diberhentikan dari pekerjaannya. CBN melaporkan bahwa pengacara Mackereth, Michael Phillips, memberitahu pengadilan, ‘Imannya adalah pada kebenaran Alkitab, dan terutama, kebenaran Kejadian 1:27: “Maka Allah menciptakan manusia itu menurut gambarNya, menurut gambar Allah diciptakanNya dia; laki-laki dan perempuan diciptakanNya mereka.” Dapat disimpulkan bahwa setiap orang yang diciptakan oleh Allah adalah laki-laki atau perempuan. Seseorang tidak dapat mengubah jenis kelaminnya sesukanya. Setiap usaha, atau kebohongan, untuk melakukan hal tersebut, tidaklah berguna, menghancurkan diri sendiri, dan adalah berdosa.’ … Mackereth merespon terhadap keputusan pengadilan tersebut, menyatakan, ‘Saya tidak sendirian dalam keprihatinan mendalam terhadap hasil ini. Staf di NHS, bahkan yang tidak memiliki keyakinan iman Kristen saya, juga prihatin karena mereka melihat kebebasan berpikir atau berpendapat mereka sendiri diserang oleh keputusan para hakim ini. Tidak ada dokter, atau periset, atau filsuf, yang dapat mendemonstrasikan atau membuktikan bahwa seseorang dapat mengubah jenis kelaminnya. Tanpa integritas intelektual dan moral, ilmu kedokteran tidak dapat berfungsi dan 30 tahun saya sebagai seorang dokter sekarang dianggap tidak relevan dibandingkan resiko bahwa seseorang dapat tersinggung.’ … Mackereth mengatakan bahwa ia akan naik banding terhadap keputusan tersebut.”

Posted in LGBT, Penganiayaan / Persecution | Leave a comment

Pemimpin Campus Crusade Berkata Tidak Perlu Bertobat dari Homoseksualitas

(Berita Mingguan GITS 12 Oktober 2019, sumber: www.wayoflife.org)

Berikut ini disadur dari “No Need to Repent,” reformationcharlotte.org, 30 Sept. 2019: “Minggu lalu, Reformation Charlotte melaporkan bahwa seorang pemimpin CRU (dulu disebut Campus Crusade for Christ) yang terkenal, sekaligus pembicara dan penulis, Matt Mikalatos, telah sejak lama aktif mencoba memasukkan Roma Katolikisme dan mistikisme Suku Asli Amerika ke dalam Gereja Injili dengan cara mengundang orang-orang yang memegang pandangan-pandangan yang salah tersebut untuk berbicara dalam berbagai acara CRU. Mikalatos, seorang pemimpin CRU dari kota Portland, Oregon, mengundang Kaitlin Curtice, yang menggambarkan diri sebagai seorang “Mistik Suku Asli Amerika,” dan seorang “Pagan” (kafir), untuk berbicara di sebuah acara, yang, puji syukur, ternyata dia tolak. Mikalatos juga telah terbongkar pernah mencoba membawa masuk imam-imam Katolik untuk datang dan berbicara di acara-acara lain. Sangatlah tidak masuk akal mengapa seseorang yang mengklaim memegang doktrin alkitabiah tentang keselamatan, yang terekspresikan dalam Lima Sola Reformasi Protestan, akan merasa cocok untuk mengundang tokoh-tokoh Roma Katolik, orang-orang mistik pemeluk pohon, dan pembicara dengan iman menyimpang lainnya, untuk berbicara kepada murid-murid Kristen. Tentu saja – bagi setiap orang Kristen yang percaya Alkitab – semua orang yang menentang jalan keselamatan Kristus berarti menentang Kristus sendiri – dan jelas bahwa Gereja Roma Katolik mengutuki orang-orang Protestan yang berpegang pada suatu soteriologi yang alkitabiah. …Namun, Mikalatos tidak berhenti sampai di sana. Perhatikan bahwa Mikalatos adalah seseorang yang memiliki pengaruh besar terhadap murid-murid Kristen yang masih muda. Di dalam maupun di luar lingkaran CRU, Mikalatos adalah seorang pembicara yang hebat dan banyak dicari. Namun, walaupun ia memiliki talenta yang besar, theologinya yang menyimpang terus melukai Gereja. Mikalatos telah mengikuti jejak kali salah satu koleganya yang pernah kami laporkan sebelumnya, yaitu Rachel Gilson, dan telah secara menyeluruh mendukung ‘kekristenan gay.’ Dalam sebuah artikel yang berjudul ‘Bagaimana Saya Berbicara Kepada Teman-Teman LGBTQ tentang Injil?’ Mikalatos berkata, ‘Latihlah Mengatakan Hal Ini: “Kamu Bisa Gay dan Mengikuti Yesus.”’ Tetapi dia tidak berhenti di sana; dia secara menyeluruh mendukung ide fasik bahwa berpaling kepada Kristus tidak memerlukan pertobatan dari dosa. Dia bahkan berkata, ‘Kita semua memiliki sekumpulan daftar dosa dalam hidup kita, dan pertobatan memerlukan mengakuinya salah satu saja dari semua itu.’ Dalam dukungan yang penuh dan total terhadap ‘kekristenan gay,’ Mikalatos menulis, ‘Ada sejumlah besar orang LGBTQ yang sudah menjadi pengikut Yesus. Bahkan mungkin ada seorang gay di gerejamu yang sedang mengikuti Yesus, sama seperti engkau. Jangan berasumsi bahwa karena seseorang itu queer maka mereka tidak tersambung secara rohani … mungkin tersambung secara mendalam!’”

Posted in Kesesatan Umum dan New Age, LGBT | Leave a comment

Gereja-Esa Sedunia di Manhattan

(Berita Mingguan GITS 28 September 2019, sumber: www.wayoflife.org)

Rutgers Presbyterian Church di Manhattan berada pada posisi radikal dalam program Gereja-Esa Sedunia. Gereja ini menyatukan kaum Presbyterian, Roma Katolik, Yahudi, New Age, bahkan para atheis, seputar tema-tema keadilan sosial dan menyelamatkan bumi (“What Draws Atheists, Jews and Catholics to a Presbyterian Church,” New York Times, 6 Sep. 2019). Jemaat tersebut terlibat dalam hal-hal seperti aktivisme perubahan iklim (climate change), hak-hak homoseksual, dan Black Lives Matter. Bendera-bendera doa Tibet dipasang di gereja ini, dan para pengunjung boleh memilih dari beragam tag yang bisa mereka pakai yang mendeklarasikan “identitas gender mereka: he/him, she/her, dan they/them.” Seorang hadirin wanita, Clare Hogenauer, tampil beberapa tahun lalu di Times Square tanpa memakai baju untuk memprotes hukuman mati. Dia memberitahu New York Times bahwa dia tidak menganggap dirinya sendiri orang Kristen, tetapi dia “percaya Yesus adalah seorang yang baik.” Ketika dia menceritakan masalah-masalah kesehatannya dengan jemaat, dia tidak meminta untuk didoakan. Gereja-esa sedunia adalah rumah yang besar dengan banyak ruangan, dan dinding-dindingnya mudah dilewati. Kaum Injili ada di bagian yang berbeda dari rumah besar ini, tetapi mereka memiliki beberapa hal yang mendasar yang serupa dengan gereja Rutgers ini, terutama suatu penekanan pada keadilan sosial dan mendirikan kerajaan dan suatu filosofi jangan menghakimi. Seorang anggota Rutgers berkata bahwa gereja tersebut terus menerus memikirkan “cara-cara untuk membuat dunia baik lagi,” dan “Ini bukan dengan cara menobatkan orang atau menunjuk dengan jari, tetapi dengan bekerja.” Mereka semua telah salah menafsirkan Matius 7:1, “Janganlah menghakimi, supaya kamu tidak dihakimi.” (Lihat mengenai topik ini di website Graphe www.graphe-ministry.org/downloads/menghakimi.pdf).

Posted in Ekumenisme, Gereja | Leave a comment

Mahasiswa Theologi Berdoa Minta Maaf pada Tanaman

(Berita Mingguan GITS 21 September 2019, oleh Dr. Steven E. Liauw)

Memang ada banyak sekali hal yang aneh di dunia ini. Tetapi yang berikut ini bukan hanya aneh, tetapi menyedihkan karena memperlihatkan kemelaratan dan kebutaan rohani yang mendalam. Pada hari Selasa, 17 September 2019, akun Twitter dari Union Theological Seminary, yang berlokasi di kota New York, Amerika Serikat, menayangkan sebuah cuplikan foto dari kebaktian chapel mereka. Dalam foto tersebut, terlihat ada beberapa pot tanaman yang ditaruh di tengah ruangan, dengan mahasiswa-mahasiswa theologi di sekitarnya. Lalu, tertulis dalam Twitter pesan berikut ini: “Hari ini dalam chapel, kami mengakui dosa kepada tumbuhan. Bersama, kami mengangkat dukacita, sukacita, penyesalan, pengharapan, rasa bersalah dan kesedihan dalam doa; mengajukannya kepada makhluk-makhluk yang menopang kita, tetapi yang pemberiannya seringkali tidak kita hormati. Apa yang mau kamu akui kepada tumbuhan-tumbuhan dalam hidupmu?”

Jika ini dilakukan oleh para penyembah berhala dalam sebuah ritual kepada Gaia, dewi bumi dalam mitologi, maka kita tidak perlu heran. Bahwa ini dilakukan dalam kebaktian chapel sebuah Seminari Theologi, sungguhlah mencengangkan. Tetapi, hal ini menggenapi nubuat Paulus tentang akhir zaman, bahwa pengajaran yang sehat tidak akan lagi dicari orang, melainkan manusia akan mencari guru-guru untuk memuaskan keinginan telinga mereka saja (2 Tim. 4:3-4). “Kekristenan” yang kacau balau, yang sudah khamir dengan ragi liberalisme dan kharismatikisme, tidak lagi memiliki mata rohani, sehingga mengikuti semua pergerakan dan aba-aba dunia ini. Ketika dunia dengan segala hawa nafsunya meninggikan LGBT, “gereja-gereja” berlomba-lomba untuk mengakomodasi LGBT. Demikian juga, ketika dunia menggiatkan kembali praktek kafir penyembahan kepada bumi, dengan kedok aktivisme lingkungan, global warming, dan climate change, “gereja-gereja” yang tidak memiliki Injil yang sejati berebutan untuk ikut serta dan mendapatkan acungan jempol dari teman-teman dunia mereka.

Dalam doktrin aktivisme lingkungan saat ini, manusia dianggap virus yang mengotori bumi, dan banyak di antara kalangan ekstrim di antara mereka yang tidak ragu untuk mengorbankan manusia demi “nature” atau “alam.” Bahkan mulai bermunculan yang namanya “eco-terrorism,” yaitu tindakan teror untuk mendukung kebijakan lingkungan tertentu. Mereka mengajarkan orang untuk membenci manusia yang dianggap benda asing di atas bumi. Salah satu doktrin mereka adalah untuk tidak memiliki anak lagi, atau memiliki anak dengan jumlah yang sedikit. Mereka akan senang ketika ada ibu-ibu hamil yang mengaborsi anaknya untuk mengurangi jumlah populasi manusia, tetapi marah besar ketika ada telur burung yang tidak sengaja dipecahkan oleh turis atau anak-anak.

Pada kenyataannya, Alkitab mengajarkan bahwa bumi diberikan untuk dikuasai, ditaklukkan dan dikelola oleh manusia (Kej. 1:27-28). Aktivisme lingkungan yang digalakkan dunia saat ini adalah penyembahan berhala, sebagaimana yang Paulus katakan: “Sebab mereka menggantikan kebenaran Allah dengan dusta dan memuja dan menyembah makhluk dengan melupakan Penciptanya yang harus dipuji selama-lamanya, amin” (Roma 1:25). Ya, Union Theological Seminary, berdoa kepada tanaman, mengaku dosa kepada tanaman adalah penyembahan berhala, menuhankan ciptaan. Kita berdoa dan mengaku dosa kepada Tuhan.

Pelajaran lain yang sangat berharga dari semua ini adalah betapa pentingnya orang Kristen untuk waspada terhadap pengajaran. Hanya karena sesuatu dilakukan atau diajarkan oleh gereja atau sekolah theologi, bukan berarti itu benar. “ Ujilah segala sesuatu dan peganglah yang baik” (1 Tes. 5:21). Bila anda salah memilih gereja, atau salah memilih sekolah theologi, efeknya bisa sangat buruk. Union Theological Seminary adalah contoh yang sangat baik, karena institusi ini memiliki sejarah kelam menghancurkan iman. Pada tahun 1920, seorang dari Cina bernama John Sung, tiba di Amerika, dan dalam waktu singkat dengan hebat mendapatkan gelar Doktor dalam bidang kimia dari Ohio State University. Namun, walaupun ia ditawari untuk menjadi pengajar di Peking University, ia memilih untuk belajar theologi, dan ia masuk di Union Theological Seminary pada tahun 1926. Pada waktu itu, Union Theological Seminary, dipimpin oleh Rektor Henry Sloane Coffin dan profesor Harry Emerson Fosdick, mengajarkan liberalisme yang mempertanyakan segala sesuatu dalam Alkitab, termasuk otoritas Kitab Suci, kelahiran Yesus dari perawan, kebangkitan tubuh Kristus, mujizat-mujizat, dll. John Sung diajarkan filosofi “God-is-Dead,” dan dalam beberapa bulan iman John Sung bagaikan terkikis. “Jika Kristus tidak bangkit dari antara orang mati,” demikian ia merenung, “maka kekristenan tidak lebih baik dari Budhisme atau Taoisme.” Dengan Rektor yang bernama Coffin, seminari tersebut hampir saja menjadi kuburan bagi iman John Sung. Puji syukur Tuhan menyediakan jalan keluar baginya. Suatu kali ia menghadiri kebaktian penginjilan yang dilakukan oleh sebuah gereja setempat, Calvary Baptist Church, dan walaupun yang menyampaikan Injil adalah seseorang berusia 15 tahun, John Sung merasakan bahwa ia memiliki lebih banyak kuasa rohani dari para profesornya. Setelah pergumulan selama beberapa bulan, akhirnya John Sung menyerah kepada Tuhan dan mengukuhkan imannya, dan sukacita menyelimutinya. Ia segera bersaksi tentang Kristus ke mana pun ia pergi. Kepada Dr. Fosdick, yang dulunya adalah profesor favoritnya, ia berkata: “Kamu adalah Iblis. Kamu membuat saya kehilangan iman saya, dan kamu membuat orang-orang muda lain kehilangan iman mereka.” Menghadapi John Sung yang penuh keberanian dan sukacita itu, Dr. Coffin dan Fosdick menyatakannya telah sakit jiwa, dan mengirim John Sung untuk ditahan di rumah sakit jiwa. Ditahan selama 193 hari, John berkata bahwa ia membaca Alkitab 40 kali selama masa itu, dan akhirnya dibebaskan setelah diperjuangkan oleh teman misionarinya, Dr. Rollin Walker. (Kisah ini disadur antara lain dari buku John Sung, My Teacher, yang ditulis oleh Timothy Tow, salah satu murid John Sung).

Jadi, Union Theological Seminary memiliki sejarah menghancurkan iman, dan mereka masih melakukannya hari ini. Mempertahankan pengakuan dosa kepada tumbuhan, jurubicara dari seminari ini menambahkan kepada Washington Examiner, “Mengaku dosa kepada tumbuhan hanyalah salah satu ekspresi penyembahan di Union sini. Union Theological Seminary dilandaskan pada tradisi Kristen, dan pada saat yang sama berkomitmen mendalam terhadap hubungan antar-agama. Chapel harian Union, memang didesain untuk menjadi tempat orang-orang dari berbagai tradisi iman yang berbeda bisa mengekspresikan kepercayaan mereka. Dan, karena komunitas kami begitu beragam, penyembahan bisa sangat berbeda dari hari ke hari! Satu hari, anda bisa masuk dan menemukan kebaktian Anglikan tradisional, hari lain lagi anda masuk menemukan kebaktian meditasi Buddha atau doa Muslim. Pada hari lain, anda dapat menemukan kebaktian penyembahan Pantekosta atau kebaktian Quaker yang hening. Kami menciptakan suatu rumah, tempat orang-orang dapat menyembah secara berdampingan…” (https://www.washingtonexaminer.com/news/absolute-theological-bankruptcy-union-theological-seminary-students-pray-to-plants, 18 Sept. 2019). Berbahagialah orang-orang yang telah menemukan kebenaran dalam Firman Tuhan, dan gereja atau sekolah theologi yang alkitabiah.

Posted in Kesesatan Umum dan New Age, Liberalisme | Leave a comment