Fosil Baru yang Memiliki Penjelasan Evolusi yang Tidak Masuk Akal

(Berita Mingguan GITS 20 Oktober 2018, sumber: www.wayoflife.org)

Para evolusionis terkenal oleh kemampuan mereka untuk menciptakan kisah-kisah mitologi yang “pokoknya begitulah,” untuk menjelaskan kepercayaan mereka. (Pada tahun 1902, Rudyard Kipling menerbitkan Just So Stories for Little Children [‘Just So’ bisa diterjemahkan pokoknya begitulah] yang mengandung penjelasan imajiner mengenai bagaimana berbagai binatang mendapatkan ciri khas mereka.) Sebuah fosil baru yang dipertunjukkan di Royal Tyrrell Museum di Alberta, adalah sebuah contoh. Fosil dari Borealopelta, yang dikatakan berusia 110 juta tahun, disebut sebagai “salah satu penemuan fosil paling spektakuler sepanjang masa.” Ini karena fosil tersebut mengawetkan secara utuh: kulit, jaringan lunak, tulang-tulang. Fosil ini mirip dengan boneka binatang. Ia adalah “dinosaurus yang berat, berbadan rendah, mirip tank,” yang memiliki berat 1,5 ton, dan sekitar 6-7 meter panjangnya (“A Dinosaur So Well Preserved,” The Atlantic, 3 Agus. 2017). Fosil tersebut ditemukan pada tahun 2011 oleh operator alat berat yang bekerja di penambangan minyak dan pasir Millenium Mine, di Alberta utara. Setelah kerja keras selama bertahun-tahun untuk mengeluarkan fosil tersebut dari blok batu seberat 7.500 kg yang ditarik keluar dari tambang tersebut, baru-baru ini ia dipertunjukkan di Royal Tyrrell, sebuah museum dengan fosil-fosil kelas dunia, yang disertai dengan cerita-cerita “pokoknya begitulah” yang juga kelas dunia. Perhatikan penjelasan berikut mengenai bagaimana makhluk ini bisa menjadi fosil: “Entah kenapa, individu yang spesifik ini sampai ke laut. Mungkin ia tidak hati-hati waktu di pantai. Mungkin ia tenggelam dalam suatu banjir dan terhanyut ke laut. Apapun itu, gas-gas mulai berkumpul dalam tubuhnya, membuatnya mengapung dengan perutnya mengarah ke atas. Ketika gas-gas tersebut keluar, dinosaurus yang mati ini tenggelam, dan menghantam lantai laut cukup keras, hingga menimbulkan kawah kecil. Sebelum ikan-ikan hiu sempat menggigitinya, atau cacing-cacing menyerbu ke tulang-tulangnya, ia dengan cepat tertutup oleh sedimen halus dan terpisahkan dari dunia luar. Di sana ia tinggal selama jutaan tahun, sampai 11 Maret 2011, ketika sebuah ekskavator mengangkatnya” (Ibid.). Ini adalah penjelasan yang tidak mungkin terjadi mengenai proses fosilisasi dari Borealopelta. Makhluk hidup tidak menjadi fosil seperti itu dengan sendirinya. Ketika suatu makhluk mati dan tenggelam ke dasar lautan, ia akan habis dimakan oleh makhluk laut, bakteri, dan cacing-cacing, jauh sebelum ia bisa ditutupi oleh sedimen dan terpisahkan dari dunia. Faktanya, fosililasi yang nampak pada Borealopelta adalah hasil dari suatu peristiwa yang luar biasa, yang terjadi super cepat, yang terjadi di lautan yang pada suatu masa yang lalu menutupi Alberta. Peristiwa ini terdengar persis seperti air bah dalam Alkitab, tetapi para ilmuwan evolusionis lebih suka membuat suatu kisah yang tidak ilmiah, daripada mendukung Alkitab. Satu hari yang indah, sebagaimana dinubuatkan dalam Kitab Suci, museum-museum di dunia ini akan dipenuhi dengan kebenaran, bukan kebohongan. “Sebab bumi akan penuh dengan pengetahuan tentang kemuliaan TUHAN, seperti air yang menutupi dasar laut” (Hab. 2:14). Mitos evolusi dan para pencemooh yang mempromosikannya, secara tidak sadar membuktikan bahwa Alkitab adalah Firman Allah, karena mereka sudah dinubuatkan dalam Alkitab 2000 tahun yang lalu. “Yang terutama harus kamu ketahui ialah, bahwa pada hari-hari zaman akhir akan tampil pengejek-pengejek dengan ejekan-ejekannya, yaitu orang-orang yang hidup menuruti hawa nafsunya. Kata mereka: “Di manakah janji tentang kedatangan-Nya itu? … Mereka sengaja tidak mau tahu, bahwa oleh firman Allah langit telah ada sejak dahulu, dan juga bumi yang berasal dari air dan oleh air, dan bahwa oleh air itu, bumi yang dahulu telah binasa, dimusnahkan oleh air bah. Tetapi oleh firman itu juga langit dan bumi yang sekarang terpelihara dari api dan disimpan untuk hari penghakiman dan kebinasaan orang-orang fasik” (2 Pet. 3:3-7).

Posted in Science and Bible | Leave a comment

Berpakaian Baik untuk Gedung Putih dan Berpakaian Buruk untuk Rumah Tuhan

(Berita Mingguan GITS 20 Oktober 2018, sumber: www.wayoflife.org)

Pada tanggal 11 Oktober, grup musik Rock Kristen, MercyMe, mengunjungi Gedung Putih untuk berpartisipasi dalam acara Presiden Trump menandatangani Undang-Undang Modernisasi Musik. Saya menemukan suatu hal yang sangat menarik, bahwa para anggota grup tersebut memakai jas dan dasi secara tradisional untuk acara Gedung Putih tersebut, sementara mereka biasanya berpakaian casual untuk Rumah Tuhan, memakai t-shirt, baju yang tidak disisipkan ke celana, jeans, cargo pants, sepatu tenis, dan hal-hal lain seperti itu. Saya tidak mengatakan bahwa pakaian yang layak untuk gereja hanyalah jas dan dasi yang tradisional di Barat; yang saya mau katakan adalah bahwa jika ada suatu acara di muka bumi ini yang untuknya kita pantas ‘berpakaian rapi dan terhormat’ sesuai dengan standar budaya kita masing-masing, maka acara itu adalah perkumpulan resmi umat Tuhan di rumah Tuhan yang hidup, 1 Timotius 3:15. Mengapa berpakaian rapi dan terhormat untuk gereja? Untuk menghormati Tuhan! Walaupun masyarakat Amerika telah menjadi casual dan “berantakan” secara ekstrim dalam masa hidup saya (ketika saya lahir, orang-orang masih memakai jas dan dasi dan gaun yang sopan ke pertandingan olahraga), orang Amerika masih tahu apa artinya “dress up” (yaitu berpakaian rapi dan resmi dan terhormat). Mereka “dress up” untuk acara pernikahan, untuk makan malam di restoran yang mewah, dan acara-acara lain. New York Philharmonic Orchestra masih melarang pemain musik wanita mereka untuk memakai celana panjang, dan kebanyakan orang menganggap sebuah konser formal oleh sebuah orkestra besar sebagai suatu acara khusus, dan akan berpakaian rapi dan formal untuk acara tersebut. Sayap Barat Gedung Putih membuka kesempatan tur dengan “kode pakaian bisnis casual (tidak boleh celana pendek, jeans, t-shirt, sendal, dll.),” dan ketika bertemu dengan presiden, “Laki-laki harus memakai jas dengan baju yang bersih dan rapi, atau khaki dengan baju berkancing, juga bersih dan rapi; para pria, pastikan sepatu anda kinclong.” Hal yang serupa juga diterapkan pada orang-orang yang mau bertemu dengan Paus: “pakaian yang sopan yang menutupi bahu dan décolleté (belahan dada), lebih panjang dari lutut; lelaki dengan jas gelap dan dasi warna utuh.” Khalayak ramai kontemporer bisa saja tertawa, tetapi saya setuju dengan pernyataan berikut: “Style adalah maknanya. Musik, pakaian, dan gaya trendy dari orang-orang Baptis independen kontemporer, memberitahu kita bukan terutama tentang pandangan mereka soal style/gaya, tetapi tentang pandangan mereka mengenai Allah. Hal yang sama dapat dikatakan mengenai kebanyakan acara. Cara kita berpakaian memberitahu kita tentang pandangan kita mengenai acara tersebut, lebih dari pandangan kita mengenai style tersebut” (Dave Mallinak, “Gone Contemporary,” https://villagesmithysite.wordpress.com/2018/08/31/gone-contemporary).

Posted in General (Umum), Gereja | Leave a comment

Hormat dan Kasih terhadap Gembala-Gembala yang Saleh

Berikut ini dicuplik dari buku The Pastor’s Authority and the Church Member’s Responsibility, edisi Juli 2018, yang bisa didapatkan secara gratis dalam bentuk eBook dari www.wayoflife.org

Ketika memberikan berbagai nasihat kepada para anggota jemaat, kami akan mengatakan, pertama-tama, bahwa mereka sepatutnya menghormati dan mengasihi para gembala.

Kami minta kepadamu, saudara-saudara, supaya kamu menghormati mereka yang bekerja keras di antara kamu, yang memimpin kamu dalam Tuhan dan yang menegor kamu; dan supaya kamu sungguh-sungguh menjunjung mereka dalam kasih karena pekerjaan mereka. Hiduplah selalu dalam damai seorang dengan yang lain” (1 Tesalonika 5:12-13).

Inilah tanggung jawab anggota jemaat kepada para gembala dinyatakan secara singkat. Dalam konteks ini Paulus menyinggung pekerjaan seorang gembala, sebab adalah “karena pekerjaan mereka” bahwa anggota jemaat harus menghormati mereka.

Mereka bekerja. Mereka bekerja keras dan bukanlah orang-orang yang malas. Kerja keras diperlukan untuk membangun dan memelihara gereja-gereja yang alkitabiah. Ada kerja keras dalam mempelajari Alkitab, berdoa, mengajar, berkhotbah, menginjil, memuridkan, dan mendisiplinkan.

Mereka adalah pengawas. Mereka memiliki panggilan dan karunia untuk mengawasi kawanan. Ini mengacu kepada otoritas gembala. Ini mengacu kepada membangun para anggota, membimbing mereka dan menyediakan visi dan arahan, dan melindungi dari setiap bahaya. Perhatikan bahwa para gembala memimpin jemaat “dalam Tuhan.” Mereka memiliki otoritas hanya jika mereka memimpin dalam ketaatan kepada otoritas Tuhan dan sesuai dengan kehendak Tuhan.

Mereka adalah orang-orang yang menegor. Ini mencakup mengajar, menyemangati, dan juga memperingatkan, tetapi penekanan dari kata “menegor” ada pada peringatan. Kata Yunani yang mendasarinya, ‘noutheteo,’ bisa diterjemahkan ‘menasihati’ dan juga ‘menegor.’ Seseorang yang tidak bisa atau tidak mau melakukan penegoran, memberi nasihat, dan memberi peringatan, tidak memenuhi syarat untuk menjadi seorang gembala, dan buah dari orang yang demikian adalah jemaat yang lembek, suam suam kuku, dan terbelakang rohani.

Banyak gembala yang menginginkan hormat yang digambarkan dalam perikop ini, tetapi tidak melakukan hal-hal yang digambarkan dalam perikop yang sama. Jemaat disuruh untuk sangat menghormati mereka “karena pekerjaan mereka,” yang berarti karena mereka melakukan pekerjaan yang digambarkan di sini. Alkitab sama sekali tidak mengajarkan suatu ketaatan buta dan “kesetiaan buta” kepada pemimpin-pemimpin rohani. Itu adalah ciri khas bidat. Itu adalah ciri khas kepausan.

Sebagai gantinya, jemaat haruslah mengenal pemimpin-pemimpin mereka. Ini tentu berarti lebih dari sekedar tahu siapa pemimpinnya. Itu seharusnya sudah jelas. Tetapi yang dimaksud adalah mengenal mereka dalam pengertian mengenal bahwa panggilan dan otoritas mereka berasal dari Allah dan memahami nilai dari pemimpin yang demikian. Orang-orang perlu diajari tentang syarat-syarata dan pekerjaan gembala, sehingga mereka dapat memberikan hormat yang sepantasnya pada mereka.

Jemaat harus sungguh-sungguh menjunjung para pemimpin dalam kasih. Perhatikan kata “sungguh-sungguh.” Kata ini berasal dari Yunani ‘perissos,’ yang bisa diterjemahkan ‘dengan sangat,’ dan adalah istilah yang kuat. Pengertian dari kata ini adalah meluap-luap, atau melimpah ruah. Ini adalah bahasa yang kuat. Gembala-gembala yang alkitabiah harus dihormati dengan baik. Di tempat lain Paulus memakai istilah ‘dihormati dua kali lipat’ (1 Tim. 5:17). Ini adalah kehendak Allah yang nyata mengenai masalah ini, dan berdasarkan hal inilah jemaat-jemaat akan dinilai pada takhta pengadilan Kristus. Saya tidak mau berdiri di sana suatu hari dan harus memberi pertanggungan jawab mengapa saya tidak memiliki hubungan yang pantas dan saleh dengan gembala-gembala saya.

Perhatikan bahwa kasih Kristiani adalah kunci dari menunjukkan hormat yang sepantasnya kepada pemimpin rohani. Kasih adalah kunci dari rasa hormat seorang istri kepada suaminya, dan hormat seorang anak kepada orang tuanya, dan juga seorang anggota jemaat kepada seorang gembala. Ini berarti sebuah jemaat memperlakukan gembalanya sebagaimana mestinya, para anggota haruslah diselamatkan dan berjalan dalam persekutuan dengan Kristus, karena ini adalah satu-satunya cara untuk memiliki kasih yang sejati. Ini mengingatkan kita akan pentingnya membatasi keanggotaan jemaat hanya kepada orang-orang yang memenuhi syarat, sebagaimana dalam Kisah Rasul 2:41-42. Gembala jemaat yang tidak berhati-hati dalam hal ini dan terlalu cepat menerima anggota, tidak boleh terkejut jika orang-orang itu lalu tidak menaati Firman Allah, atau jika mereka menimbulkan sakit hati padanya.

Sama seperti kasih Kristiani pada umumnya, kasih dan hormat anggota-anggota jemaat kepada para gembala, adalah sesuatu yang harus ditunjukkan melalui tindakan konkrit. Kasih yang ilahi bukanlah sesuatu yang sekedar ‘dirasakan’; ini adalah sesuatu yang dilakukan. Sama seperti seorang suami terhadap seorang istri, anggota jemaat harus memikirkan bagaimana ia bisa menunjukkkan kasih dan hormat kepada gembalanya. Beberapa cara adalah sebagai berikut: menjadi jemaat yang setia dan dapat diandalkan, tepat waktu, menunjukkan perhatian yang saleh kepada khotbah dan pengajaran, mematuhi pengajaran, menyampaikan kata-kata penguatan yang tulus (bukan menjilat atau munafik), selalu berpikiran positif terlebih dahulu terhadap gembala, dan mendukung dia secara finansial.

Sama seperti hati seorang suami seharusnya dapat senantiasa percaya kepada istrinya (Amsal 31:11), demikian juga hati seorang gembala seharusnya dapat dengan aman mempercayai jemaatnya. Terlalu sering terjadi, seorang gembala harus hidup dalam ketakutan bahwa dia akan diserang dari belakang, dan bahwa ada usaha-usaha untuk memecah belah jemaat dan mencuri kasih orang-orangnya. Seorang gembala yang jatuh dalam dosa perlu didisiplin oleh jemaat (1 Tim. 5:19-21) tetapi gembala yang setia pada Firman Tuhan harus senantiasa dihormati dalam kasih.

Perhatikan bahwa hubungan yang alkitabiah antara gembala dengan jemaatnya, akan mendatangkan damai sejahtera. Ini adalah salah satu bagian besar dalam menjaga perdamaian dalam jemaat.

 

Posted in General (Umum), Gereja | Leave a comment

Seharusnyakah Penginjilan Itu Lepas dari Theologi?

(Berita Mingguan GITS 6 Oktober 2018, sumber: www.wayoflife.org)

Berikut ini dari D. Martyn-Lloyd, Preaching and Preachers, 1971: “Ada sebuah tipe berkhotbah yang kadang-kadang, bahkan cukup sering hari ini, dianggap non-theologis, yaitu khotbah penginjilan. Saya masih sangat ingat bagaimana ketika sebuah acara penginjilan dilakukan di London beberapa tahun lalu [Billy Graham Crusade], salah satu majalah mingguan agama yang liberal yang mendukung acara tersebut berkata, ‘Mari kita gencatan senjata theologis selama satu minggu sementara acara penginjilan berlangsung.’ Majalah itu berlanjut mengatakan bahwa setelah acara penginjilan itu, kita lalu harus memikirkan banyak hal dan bertheologi. Ide yang disampaikan adalah bahwa penginjilan itu non-theologis, dan memasukkan theologi dalam tahapan penginjilan adalah hal yang salah. Anda ‘membawa orang kepada Kristus,’ kata mereka, dan kemudian barulah anda mengajar mereka kebenaran. Barulah belakangan theologi masuk. Hal ini, bagi saya, adalah sesuatu yang sangat salah, dan bahkan mengerikan. Saya bahkan siap untuk berargumen bahwa dalam banyak aspek, khotbah penginjilan haruslah lebih theologis, bukan kurang theologis, dibandingkan khotbah lain, dan ada alasan baik untuk hal ini. Mengapakah anda memanggil orang kepada pertobatan? Mengapakah anda memanggil mereka untuk mempercayai Injil? Anda tidak bisa dengan benar berurusan dengan pertobatan tanpa berurusan dengan doktrin tentang manusia, doktrin tentang Kejatuhan, doktrin tentang dosa, dan murka Allah terhadap dosa. Lalu ketika anda memanggil orang untuk datang kepada Kristus dan menyerahkan diri kepadaNya, bagaimana anda bisa melakukan ini tanpa memahami siapa Dia, dan atas dasar apa anda mengundang mereka untuk datang padaNya, dan banyak hal lagi? Dengan kata lain, semua hal ini adalah bertheologi. Penginjilan yang tidak bertheologi bukanlah penginjilan dalam arti yang sebenarnya” (hal. 65).

Posted in Misi / Pekabaran Injil, Theologi | Leave a comment

Cina Bermaksud untuk “Meng-Cina-Kan” Kekristenan dan Menulis Ulang Alkitab

(Berita Mingguan GITS 6 Oktober 2018, sumber: www.wayoflife.org)

Berikut ini disadur dari “China Berusaha Menulis Ulang,” Christian Post, 28 Sept. 2018: “Rev. Bob Fu, seorang mantan pemimpin gereja rumah di Cina, yang telah berimigrasi ke Amerika Serikat tahun 1997, dan mendirikan sebuah organisasi pemberi peringatan penganiayaan, China Aid, memberikan banyak detil-detil dalam sebuah presentasi di hadapan House of Representatives (semacam DPR) AS, pada hari Kamis, tentang sebuah rencana yang dibuat oleh denominasi-denominasi yang diakui pemerintah di Cina, untuk ‘meng-sino-sasi’ [yaitu ‘meng-cina-kan’] kekristenan di sana. Sementara Cina semakin gencar menekan kebebasan beragama, yang mengakibatkan banyak gereja-gereja rumah dihancurkan dan ribuan salib dihilangkan dari gereja-gereja di seluruh negeri itu, Fu memperingatkan [bahwa] ‘kebebasan beragama di Cina telah menyentuh level yang paling parah yang belum pernah terjadi sejak permulaan Revolusi Budaya oleh Pemimpin Mao [Zedong] pada tahun 1960an.’ . . . Sebagai pusat dari peningkatan level penganiayaan yang tinggi ini adalah peraturan baru Cina tentang urusan agama, yang dikeluarkan tahun lalu tetapi ditetapkan tanggal 1 Februari. Menurut Fu, revisi peraturan-peraturan keagamaan dimaksudkan untuk secara aktif membimbing agama untuk ‘beradaptasi kepada suatu masyarakat sosialis.’ Dalam sebuah kesaksian tertulis, Fu mengatakan bahwa di bawah aturan-aturan baru ini, tempat-tempat kegiatan keagamaan akan ‘menerima bimbingan, supervisi, dan inspeksi dari departemen-departemen yang relevan dari pemerintah lokal, mengenai manajemen personel, keuangan, aset, akuntansi, sekuriti, perlindungan terhadap kebakaran, perlindungan relik-relik, pencegahan penyakit, dan lain0lain.’ . . . Salah satu cara yang mereka rencanakan untuk ‘mengcinakan’ kekristenan, Fu berkata, adalah dengan ‘menerjemahkan ulang’ Perjanjian Lama da memberikan komentari baru pada Perjanjian Baru untuk membuat ide-ide sosialis dan budaya Cina terkesan lebih ilahi. . . . Menurut outline paling terakhir, kata Fu, sebuah terjemahan ulang akan merupakan rangkuman dari Perjanjian Lama dengan sebagian Kitab Suci Buddha dan pengajaran Konfusius, dan komentari baru atas Perjanjian Baru. . . . Fu menambahkan bahwa rencana lima tahunan ini mengusahakan ‘memasukkkan elemen-elemen Cina ke dalam kebaktian-kebaktian di gereja, himne-himne dan lagu-lagu, pakaian kependetaan, dan gaya arsitektural dari bangunan gereja. Ini termasuk mengedit dan menerbitkan lagu-lagu penyembahan dengan karakteristik Cina dan mempromosikan proses peng-cina-an musik penyembahan, memakai bentuk-bentuk seni yang khas Cina . . . Pada permulaan setiap kebaktian gereja, paduan suara gereja harus menyanyikan beberapa lagu-lagu revolusi komunis, dan memuji partai komunis sebelum mereka boleh menyanyikan lagu-lagu penyembahan, Fu memberikan keterangan. . . . Ratusan pemimpin kristen di Cina menandatangani sebuah pernyataan yang menyerang peraturan-peraturan baru ini, meningkatnya penganiayaann dan kendali yang dilakukan oleh partai terhadap gereja-gereja. ‘[Kami] percaya dan diwajibkan untuk mengajar semua orang percaya bahwa semua gereja-gereja sejati di Cina yang adalah milik Kristus harus memegang prinsip separasi gereja dan negara, dan harus memproklamirkan Kristus sebagai satu-satunya kepala dari gereja. . . . Demi Injil, kami siap untuk menanggung segala kerugian – bahkan hilangnya kebebasan kami dan hidup kami.’ demikian bunyi pernyataan tersebut. . . . Dalam acara Ministerial to Advance Religious Freedom pada bulan Juli, Departemen Luar Negeri AS mengeluarkan sebuah pernyataan resmi yang mengritik Cina karena pelanggaran-pelanggaran kebebasan beragama. Tetapi, pernyataan itu hanya ditandatangani oleh tiga negara.”

Posted in Penganiayaan / Persecution | Leave a comment

Bahaya Kecanduan Smartphone dan Media Sosial

(Berita Mingguan GITS 6 Oktober 2018, sumber: www.wayoflife.org)

Berikut ini adalah kutipan-kutipan dari dokumentari BBC Mind Control: The Dark Side of Your Phone – “’Orang-orang dalam memberitahu kita bahwa perusahaan-perusahaan media sosial, melacak begitu banyak data, setiap swipe dan klik anda, dan menganalisa semua itu secara langsung.’ Lalu Artificial Intelligence akan memakai semua itu untuk mengadaptasikan apa yang anda lihat di layar anda supaya anda akan kembali lagi terus dan terus. Asa Raskin, yang mendesain scroll tak berujung [endless scroll] dan fitur-fitur app populer lainnya, mengatakan ‘Kita sedang berada dalam eksperimen perilaku terbesar yang pernah dilihat di dunia. Anda sedang berada dalam eksperimen senantiasa. Hal-hal seperti mengubah warna tombol ‘like’ anda. Apakah biru yang seperti ini, ataukah seharusnya sedikit lebih merah? Dan mereka akan terus mencoba sampai mereka menemukan bentuk dan warna yang sempurna yang akan memaksimalkan anda terus scrolling. Di balik setiap gambar di telepon anda, secara literal ada ribuan insinyur yang mencoba untuk membuatnya secara maksimum membuat orang ketagihan. Seolah-olah mereka mengambil kokain perilaku dan menaburkannya di atas semua interface anda.’ Asa berkata, ‘Saya tidak mau pikiran saya dibajak.’ Jadi dia melakukan hal-hal seperti menginstall sangat sedikit app, dan membuat handphonenya hitam putih, bukan berwarna. Scrolling tak berujung adalah desain yang didasarkan pada eksperimen sup, yang menunjukkan bahwa jika semangkuk sup diisi ulang tanpa henti, tanpa pengetahuan orang yang makan, ia akan makan lebih banyak, karena tidak ada sinyal bahwa makanan sudah selesai. Tanpa desain scrolling tak berujung, anda akan scrolling sampai ke akhir halaman dan harus mengklik ke halaman berikut, tetapi scrolling tak berujung tidak memiliki akhir. ‘Kami menemukan bahwa jika anda tidak memberikan kepada orang sinyal untuk berhenti, ia akan terus scrolling. Kami menemukan bahwa teknik desain kami menjadi sedemikian kuat, sehingga orang-orang ketagihan.’ Sean Parker, co-founder dari Napster dan juga presiden pendiri dari Facebook, menggambarkan tujuan pertama perusahaan itu sebagai berikut: ‘Bagaimanak kita bisa menghabiskan sebanyak mungkin waktu anda dan perhatian anda? Dan itu berarti kami perlu memberikan anda semacam dosis kecil dopamin setiap selang beberapa lama, karena ada orang yang ‘like’ atau berkomentar atas suatu foto atau tulisan anda, atau apapun itu.’ Keseluruhan industri perjudian dibangun di atas dasar hadiah yang diiming-imingkan tetapi tidak dapat diprediksi. Apakah smartphone kita bisa seperti semacam mesin slot [mesin judi], atau bahkan lebih buruk? Industri perjudian menyebut semua pernak-perni di kasino-kasino – berbagai permainan cahaya dan bunyi dan aksi dan musik – sebagai ‘jus.’ Smartphone kita juga memiliki ‘jus.’ Profesor Catherine Winstanley, yang telah melakukan riset mutakhir mengenai bagaimana dopamine menyebabkan ketagihan, berkata, “Hadiah-hadiah yang tidak terduga mengaktivasi pengalaman dopamine. Saya rasa ada elemen-elemen desain pada app-app di smartphone, yang mirip dengan permainan elektronik. Jadi jika smartphone anda merekrut dan mengaktivasi sistem dopamine anda dengan cara yang sama yang terjadi ketika seseorang berjudi, maka hal ini mengimplikasikan bahwa kedua perilaku ini bisa membuat ketagihan, sama seperti kecanduan obat.” (See also “Dopamine, Smartphones & You” by Trevor Haynes, sitn.hms.harvard.edu.)

Posted in Teknologi | Leave a comment

Video Game dan Kecanduan

(Berita Mingguan GITS 29 September 2018, sumber: www.wayoflife.org)

Video game online multiplayer memiliki potensi besar untuk menjadi suatu kecanduan. Telah diperkirakan bahwa sekitar 10% gamer di seluruh dunia, adalah orang-orang yang kecanduan. Sedikitnya 10 gamer telah meninggal karena gejala-gejala yang berkaitan dengan sistem jantung-paru, di berbagai kafe-kafe internet, setelah sesi-sesi gaming marathon. Ada satu orang muda yang meracuni orang tuanya karena mereka memberikan batasan pada aktivitas gaming-nya (“Gaming Addiction a Serious Problem in Asia,” 7 Mar. 2014, www.thecabinchiangmai.com). Sepasang suami istri menelantarkan putri mereka yang berusia tiga bulan hingga meninggal, sambil mereka main game-game online. Para gamer juga ada yang melakukan tindakan-tindakan kekerasan, bahkan pembunuhan, sebagai balas dendam atas “pembunuhan karakter online sang pemain.” Di beberapa negara Asia, kecanduan gaming dianggap sebagai salah satu masalah kesehatan publik yang besar. Di Korea Selatan, rata-rata anak di antara usia 10-18 tahun, menghabiskan lebih dari 20 jam seminggu, bermain video game secara online. Pemerintah telah menetapkan jam malam di kafe-kafe cyber bagi mereka yang berusia di bawah 18 tahun, dan juga membuat pusat-pusat pengobatan. Raksasa internet Cina, Tencent, memberikan batasan waktu dalam sehari seorang pemain bisa memainkan game King of Glory. Beberapa game yang paling berpotensi membuat kecanduan di tahun 2015 adalah Madden, Dota 2, Grand Theft Auto, Tetris, Candy Crush Saga (perusahan ini dinilai $7.5 milyar), Minecraft, EverQuest (dijuluki “never rest” dan “ever crack” karena sering membuat kecanduan), The Sims, World of Warcraft (dijuluki World of War Crack), Call of Duty (dua game terakhir ini dimainkan oleh lebih dari 100 juta pemain), Halo 3 (disebut juga Halodiction), Total War, Pong, Civilization, Diablo 3, Super Meat Boy, Team Fortress 2, Dark Souls 2, Counter Strike, Starcraft 2, Persona 4 Golden, Monster Hunter 3, Elder Scrolls, Angry Birds, Faster Than Light, Peggle, League of Legends (LOL), Civilization V, and Pokemon. Berhati-hatilah terutama terhadap game-game yang disebut MMORPG (massively multiplayer online role-playing games, atau disingkat MMO pendeknya). Internet penuh dengan kesaksian menyedihkan dan mengenaskan akan orang-orang yang telah merusak hidup mereka dengan game-game online ini. Perhatikan satu contoh: “Cerita panjang berakhir dengan cepat, saya menjadi lvl 50 cukup cepat di server. Bahkan saya peringkat 5 dari keseluruhan, dan adalah half elf pertama. Saya hebat. Saya memiliki pedang yang berkilauan dan semua peralatan hebat saya. . . . Saya akan masuk ke kota dan semua newbs [pemain baru] akan kagum. Saya memerintah dunia, atau yang virtual ini setidaknya. Sementara kehidupan sejati saya telah kacau balau. Saya kehilangan pekerjaan saya, dan masuk dalam hutang, ditelpon terus oleh penagih, belum lagi saya gemuk, lebih dari 150 kg. Saya tidak bisa mengurus hidup saya yang sebenarnya. Saya membenci setiap waktu saya harus keluar dari waktu Everquest saya. Saya adalah penguasa di dunia itu. Tetapi satu hari, listri saya mati. … Saya begitu depresi. Bukan saja dunia online saya kini mati, tetapi saya harus berhadapan dengan kehidupan sejati saya yang telah saya telantarkan selama 2 tahun terakhir. Sepertinya tidak ada harapan, jadi saya memutuskan untuk pindah keluar dari apartemen saya, yang membuat saya tambah berhutang, dan mungkin saya akan tinggal bersama orang tua saya” (shoemoney.com/2008). “Jagalah hatimu dengan segala kewaspadaan, karena dari situlah terpancar kehidupan ” (Amsal 4:23).

Posted in Separasi dari Dunia / Keduniawian, Teknologi | Leave a comment

Kekosongan dalam Ketidakpercayaan

(Berita Mingguan GITS 29 September 2018, sumber: www.wayoflife.org)

Berikut ini adalah kesaksian dari B. H. Carroll, yang meninggalkan warisan iman Kristen-nya pada masa muda, menjadi orang yang tidak percaya, dan menemukan bahwa di sana hanya ada kekosongan: “Pada masa-masa kegelapan saya, saya berpaling sepenuhnya kepada ketidakpercayaan. Kali ini saya membawa kepadanya hati yang hancur dan hidup yang kecewa, mencari terang dan damai dan istirahat. Ini bukan lagi sekedar rasa ingin tahu; ini bukan pemeriksaan tentatif secara intelektual. Ini adalah suatu jiwa yang terpukul, dengan gemetar dan sungguh mencari terang. … Saya membawa suatu hati yang hancur dan berdarah, tetapi tulus, kepada setiap nabi ketidakpercayaan yang terkenal. Saya tidak meminta kehidupan atau ketenaran atau kesenangan. Saya hanya meminta cahaya untuk menyinari jalan kebenaran. Sekali lagi saya memandangi filosofi-filosofi anti-Kristen, bukan lagi untuk mengagumi mereka mengenai apa yang mereka bisa hancurkan, tetapi untuk menyelidiki apa yang mereka bangun, apa yang mereka tawarkan bagi hati yang lapar dan kehidupan yang capek. Kini tiba bagi saya suatu penyingkapan, yang sama parahnya dengan ketika Mokanna, dalam cerita ‘Lalla Rookh’ karangan Moore, mengangkat cadarnya bagi Zelica. Mengapa saya tidak pernah menyadarinya sebelumnya? Mengapa saya sedemikian buta terhadapnya? Filosofi-filosofi ini, satu per satu dan semuanya, hanyalah menyerang. Mereka menghancurkan, tetapi tidak membangun. Mereka menyatakan salah dan membongkar bangkir; tetapi, demi jiwa saya yang hidup, mereka tidak membangun apa-apa di bawah seluruh kolong langit, untuk menggantikan apa yang mereka hancurkan. Saya katakan tidak ada apa-apa; itu persis yang saya maksudkan, tidak ada sesuatu pun. Bagi jiwa yang tidak merana, yang hanya penasaran, mereka indah seperti aurora borealis, menyinari keping-keping es di kutub. Tetapi bagi saya, mereka tidak menghangatkan sedikitpun dan tidak melumerkan apa-apa. Tidak ada bunga yang mekar dan tidak ada buah yang ranum di bawah sinar mereka yang dingin. Mereka memandangi hati saya yang berdarah sama seperti bintang-bintang telah memandangi seluruh penderitaan manusia dari jauh dan tanpa kepedulian. Siapapun, yang pada masa ia sungguh-sungguh membutuhkan, mengambil filosofi abstrak sebagai alas kepalanya, sama saja membuat batu granit yang dingin dan keras sebagai bantalnya. Siapapun yang dengan penuh harap memandangi wajah-wajahnya yang palsu, sama dengan memandangi wajah Medusa, dan diubahkan menjadi batu. Mereka semua adalah sumur-sumur tanpa air, awan-awan yang kering. …suatu awan tanpa air adalah bentuk apapun ketidakpercayaan bagi jiwa, pada saat ia sangat memerlukan. Siapakah yang dapat menghasilkan sesuatu dengan nama Voltaire? Apa gunanya pada saat itu Epicurus atau Zeno, Huxley atau Darwin?” (disadur dari B.H. Carroll, “My Infidelity and What Became of It,” Sermons and Life Sketch, 1893).

Posted in Atheisme/Agnostikisme, Renungan | Leave a comment

Filosofi “Free Love” di Amerika, Menghasilkan Tsunami Penyakit Seksual

(Berita Mingguan GITS 22 September 2018, sumber: www.wayoflife.org)

Berikut ini disadur dari ““Rates of 3 STDs have reached a record high in the US,” Business Insider, 28 Agus. 2018: “Ada 2,3 juta kasus baru chlamydia, gonorrhea, dan sifilis, yang didiagnosa di AS tahun lalu, menurut data awal yang dirilis oleh Centers for Disease Control (CDC). Data ini memperlihatkan rekor tinggi yang baru bagi negara tersebut, dan tahun keempat berturut-turut terjadinya ‘peningkatan tajam yang menetap’ pada tiga jenis infeksi ini, menurut pernyataan pers CDC. Data ini dipresentasikan di Konferensi Pencegahan Penyakit Menular Seksual di Washington pada hari Selasa, demikian laporan CNN. Antara tahun 2013 dan 2017, kasus-kasus gonorrhea meningkat 67% secata total, dan hampir dua kali lipat pada laki-laki; kasus sifilis meningkat 76% dan chlamydia tetap menjadi kondisi yang paling sering dilaporkan ke CDC. … ‘Kita telah meluncur mundur,’ demikian kata Dr. Jonathan Mermin, direktur dari Pusat Nasional CDC untuk HIV/AIDS, Hepatitis Viral, Penyakit Menular Seksual, dan Pencegahan Tuberkulosis, dalam peryataan pers tersebut. ‘Sangat jelas bahwa sistem-sistem yang mengidentifikasi, mengobati, dan pada akhirnya mencegah Penyaki Menular Seksual, sudah bekerja lembur dan tidak cukup lagi.’ … Pernyataan pers CDC juga mencamkan meningkatnya ancaman gonorrhea yang resisten terhadap antibiotik, yang kadang disebut ‘super gonorrhea.’ Kuman-kuman yang menyebabkan gonorrhea telah menjadi resisten terhadap ‘hampir semua jenis antibiotik’ yang pernah dipakai untuk mengobati mereka, demikian bunyi pernyataan tersebut.”

Posted in Kesehatan / Medical | Leave a comment

Orang-Orang yang di Tengah-Tengah

(Berita Mingguan GITS 22 September 2018, sumber: www.wayoflife.org)

James Henley Thornwell adalah seorang pengkhotbah Presbyterian zaman dulu yang dengan gigih berjuang melawan modernisme theologi di abad ke-19. Sebagai presiden keenam dari South Carolina College (hari ini namanya adalah University of South Carolina), Thornwell sangat capek dengan “orang-orang yang di tengah” pada zmaan dia, yang mengatakan bahwa mereka mencintai kebenaran tetapi mereka lemah dalam berposisi dan tidak mau dengan berani melawan kesalahan. “Menggunakan kata-kata yang gemulai dan dimanis-maniskan dalam membahas topik-topik yang memiliki nilai abadi; memperlakukan kesalahan-kesalahan yang menyerang fondasi segala pengharapan manusia, seolah-olah ini adalah kekhilafan yang wajar dan tidak berbahaya; memberkati hal-hal yang Allah tidak senangi, dan beramah tamah pada tempat-tempat Dia memanggil kita untuk berdiri seperti laki-laki dan tegas, walaupun adalah cara yang paling cocok untuk mendapatkan pujian populer di zaman yang canggih ini, sebenarnya adalah kekejaman terhadap sesama manusia dan pengkhianatan terhadap Sorga. Orang-orang yang pada topik-topik ini lebih mementingkan aturan-aturan kesopanan daripada poin-poin kebenaran, tidaklah membela benteng, tetapi menyerahkannya ke tangan para musuhnya. KASIH AKAN KRISTUS, DAN AKAN JIWA-JIWA YANG UNTUKNYA DIA MATI, AKAN MENJADI TAKARAN SEMANGAT KITA DALAM MEMBONGKAR BAHAYA-BAHAYA YANG MEMERANGKAP JIWA-JIWA MANUSIA” (dikutip dalam sebuah khotbah oleh George Sayles Bishop, penulis dari The Doctrines of Grace and Kindred Themes, 1910).

Posted in Fundamentalisme, Renungan | Leave a comment