Kesalahan-Kesalahan Darwin

oleh David Cloud, diterjemahkan oleh Dr. Steven E. Liauw

Pada akhir abad 19, doktrin evolusi yang dikemukakan oleh Charles Darwin dianggap sudah membuktikan Alkitab salah. Ini adalah suatu titik balik yang besar dalam sejarah, dan setiap seperempat abad setelah itu, telah dapat disaksikan bertambahnya sikap skeptis dan kebencian terbuka terhadap Allah dan FirmanNya. Hari ini, banyak orang berasumsi bahwa Alkitab penuh dengan mitos dan kesalahan-kesalahan sains, sementara Darwin dibenarkan.

Kenyataannya justru sebaliknya! Riset ilmiah sejak masa Darwin telah membenarkan Alkitab dan mendiskreditkan Darwin. Realitanya, tulisan Darwin-lah yang penuh dengan mitos dan blunder ilmiah.

Dapat diargumentasikan bahwa Darwin tidak mungkin bisa mengetahui fakta-fakta ilmiah yang belum ditemukan pada zamannya, dan bahwa dia tidak bisa dipersalahkan atas kesalahan-kesalahan yang muncul dalam tulisannya, tetapi bukan itu poin utamanya. Poinnya adalah bahwa tulisan Darwin penuh dengan kesalahan ilmiah, sementara Alkitab, yang ditulis ribuan tahun lebih dahulu, tidak memiliki kesalahan seperti itu. Ini adalah bukti yang jelas akan pengilhaman ilahi atas Alkitab.

Perhatikan beberapa dari kesalahan Darwin berikut:

ABIOGENESIS

Charles Darwin dan Thomas Huxley percaya pada abiogenesis atau spontaneous generation, yaitu ide bahwa kehidupan bisa muncul dengan sendirinya dari zat-zat tidak hidup.

Ide ini dipercayai secara luas sampai dengan paruh kedua abad 19, ketika akhirnya dibuktikan salah oleh eksperimen-eksperimen Louis Pasteur. Dia menemukan bahwa anggur dan susu tidak mengalami fermentasi ketika ditutup rapat dari udara, dan dia berkesimpulan bahwa fermentasi disebabkan oleh mikroorganisme. Dia mengembangkan apa yang dia sebut “the germ theory of fermentation” (teori fermentasi dari kuman) dan mengusulkan bahwa penyakit disebabkan oleh organisme kecil (mikroba) (Alan Gillen and Douglas Oliver, “Creation and the Germ Theory,” Answers in Genesis, 29 Juli 2009).

Dia menyebut proses pengasaman jus anggur oleh mikroba-mikroba sebagai “penyakit anggur.” Sampai dengan tahun 1870, Pasteur telah mengidentifikasi mikroba yang menyebabkan penyakit silkworm. Dia menciptakan proses pasteurisasi untuk membunuh kuman di dalam susu dan cairan-cairan lain dengan cara pemanasan. Pemahamannya akan kuman akhirnya menghasilkan vaksin-vaksin yang dapat menyelamatkan hidup, dan akhirnya, antibiotika. Seluruh bidang kedokteran modern hari ini didasarkan atas konsep kuman yang dipionir oleh Pasteur.

Membangun di atas penemuan-penemuan Pasteur, Joseph Lister, seorang dokter dengan kepercayaan Quaker, melakukan riset lebih lanjut tentang kuman yang menyebabkan penyakit. Risetnya tentang susu yang menjadi basi akhirnya menuntun dia kepada kesimpulan yang sama dengan Pasteur. Dia menganggap pembasian susu sebagai semacam penyakit menular. Menyimpulkan bahwa mikroba menyebabkan infeksi pada pasien-pasiennya dengan cara masuk melalui luka, Lister mempionir penggunaan antiseptik. Cara dia menggunakan kasa dan semprotan asam karbolik, sterilisasi instrumen, dan asepsis (mencuci tangan dengan teliti dan mempertahankan lingkungan yang bersih), secara signifikan menurunkan kejadian gangren. Sebelumnya, 50% dari pasien yang harus diamputasi mati karena infeksi. Sampai dengan akhir hidupnya, 97% dari pasien amputasi bisa selamat. Karya pionir Lister akhirnya menyebabkan diterapkannya praktek-praktek ini secara luas sejak awal 1870an. Lister dianggap sebagai sesama penemu teori tentang kuman, bersama dengan Pasteur. Keduanya adalah orang yang percaya penciptaan, yang juga percaya pada Allah dalam Alkitab dan menolak Darwinisme.

Charles Darwin salah tentang abiogenesis.

Namun, walaupun abiogenesis telah dibuktikan salah selama 140 tahun, dan eksperimen-eksperimen baru semakin kuat meneguhkan penemuan Pasteur dan Lister, para Darwinis masih mempercayainya. Ketika ditanya bagaimana kehidupan dapat mulai, mereka berkata bahwa ia mulai dari zat mati. Mereka berpegang pada suatu teori yang sudah terbukti salah karena mereka perlu melakukan itu demi teori mereka tentang kehidupan.

SEL YANG SEDERHANA

Darwin mengira bahwa sel makhluk hidup adalah sesuatu yang sangat sederhana dan tidak dibutuhkan suatu peristiwa yang hebat agar sel itu berevolusi dari suatu “lobang air yang hangat.” Muridnya di Jerman, Ernst Haeckel, menyebut sel “suatu gumpalan kombinasi karbon yang sederhana dan kecil, yang mengandung albumin” (John Farley, The Spontaneous Generation Controversy from Descartes to Oparin, 1977, hal. 73).

Tentu saja, Darwin salah besar. Sel makhluk hidup adalah sesuatu yang sangat luar biasa kompleks, lebih kompleks dari suatu kota modern. Ia bagaikan suatu tubuh kecil yang hidup, yang organ-organnya disebut organella. Ia memiliki organella untuk cetak biru, decoder, pengecek kesalahan, quality control, pembangkit tenaga (mitokondria), unit penyimpan energi, pabrik manufaktur (sitoplasma, retikulum endoplasmik, apparatus Golgi), pabrik kimia, jalur assembly, unit pembuangan sampah (proteasom), pemadat sampah, sistem komunikasi yang kompleks, pabrik detoksifikasi (peroksisom), pusat recycling (lisosom), jalur-jalur transportasi bersama rel-rel dan terowongan-terowongannya, kendaraan tranportasi (dynein dan protein kargo yang bergerak sepanjang jalur-jalur tubular), dinding yang hidup dengan berbagai tipe gerbang portal satu arah maupun dua arah yang dijaga terhadap dunia luar, suatu matriks eksternal yang intelijen untuk berhuubngan dengan sel-sel lain, dan banyak hal lain lagi.

Rumitnya sel makhluk hidup telah meyakinkan banyak ilmuwan bahwa kehidupan tidak dapat terjadi dari proses alami yang buta saja. Perhatikan beberapa contoh pernyataan berikut:

Saya percaya pada seorang Pencipta karena saya smelihat desain sang Pencipta di alam semesta di mana-mana, dan bukti adanya intelijensi dalam DNA setiap sel” (John Kramer, Ph.D. in biochemistry, In Six Days, diedit oleh John Ashton, hal. 54).

Walaupun saya pernah menerima paradigma evolusi, ketidakmampuan evolusi untuk menjelaskan asal usul kehidupan, ditambah lagi dengan rumit dan kompleksnya sistem kimia sel makhluk hidup, meyakinkan saya sebagai seorang mahasiswa doktoral biokimia bahwa harus ada seorang Pencipta” (Fazale Rana, Ph.D., The Cell’s Design, hal. 17).

Kompleksitas sel saat ini terlalu besar sehingga tidak bisa seenaknya memakai evolusi biokimia untuk menjelaskannya, kecuali jika kamu menutup pikiranmu dan dengan buta berani berjalan terus. Saat ini sungguh telah menjadi suatu hal yang sulit untuk berpikir bahwa sel-sel berasal dari evolusi biokimia. Dan jika sel tidak dapat mulai secara alamiah, maka yang lain juga tidak bisa” (Henry Zuill, Ph.D. in biology, In Six Days, hal. 68).

Bahkan banyak ilmuwan yang tidak percaya kisah Alkitab mengenai penciptaan dan percaya bahwa makhluk hidup berevolusi, telah menjadi yakin bahwa mulainya kehidupan dari zat mati adalah tidak mungkin tanpa campur tangan intelijensi.

Francis Crick, yang menerima hadiah Nobel sebagai salah satu penemu dari struktur double helix dalam DNA, menggambarkan dirinya sendiri sebagai seorang skeptik dan agnostik dengan “kecenderungan kuat kepada atheisme” (“General Nature of the Genetic Code for Proteins,” Nature, Des. 1961). Namun dia pun mengakui bahwa kompleksitas dari sel makhluk hidup menunjuk kepada sesuatu yang “ajaib.”

Seseorang yang jujur, yang memiliki semua pengetahuan yang tersedia bagi kita saat ini, hanya dapat mengatakan dalam pengertian tertentu, bahwa asal usul kehidupan pada waktu pertama itu hampir dapat dikatakan adalah suatu mujizat, karena begitu banyaknya kondisi yang harus terjadi dan dipenuhi agar dapat berlangsung” (Life Itself: Its Origin and Nature, 1981, hal. 88).

Francis Collins, ketua dari Human Genome Project, percaya bahwa kompleksitas dari sel makhluk hidup dan kehidupan itu sendiri, menunjuk kepada seorang Pencipta. Dia mengembangkan tema ini dalam bukunya The Language of God.

Michael Denton, Ph.D. dalam biokimia, juga berargumen bahwa alam menunjukkan bukti-bukti desain dalam buku Evolution: A Theory in Crisis (1986) dan Nature’s Destiny: How the Laws of Biology Reveal Purpose in the Universe (2002). Denton bukan seorang kreasionis; dia percaya terjadinya zaman-zaman geologis yang panjang dan adanya perubaha evolusionis, dan kemungkinan adalah seorang agnostik.

Michael Behe, Ph.D. dalam biologi, telah menerbitkan buku-buku (Darwin’s Black Box dan Signature of the Cell) untuk menyampaikan argumen bahwa kehidupan itu “kompleks tanpa dapat disederhanakan lagi” (irreducibly complex), dan menunjuk kepada “desain yang intelijen.” Behe menggali ke dalam misteri-misteri DNA yang ajaib dan berbagai mesin biologis lainnya yang dimiliki sel makhluk hidup, dan bagaimana berbagai penjelasan naturalistik tidak bisa menerangkan asal usul kehidupan.

Darwin salah mengenai sel makhluk hidup.

GEMMULE

Darwin mencoba untuk menjelaskan perubahan evolusi, yaitu bagaimana makhluk hidup bisa mengakumulasi karakteristik-karakteristik yang baru, dengan menciptakan sesuatu yang dia sebut “gemmule” (juga disebut granules, plastitudes, dan pangenes). Ide ini muncul dalam bukunya tahun 1868, The Variation of Animals and Plants under Domestication, dalam bab “”Provisional Hypothesis of Pangensis.”

Menurut Darwin, gemmule adalah unit informasi yang baru, partikel-partikel pewarisan, yang terbentuk ketika suatu makhluk terpengaruhi oleh lingkungannya. Zat gemmule ini lalu dibawa ke dalam aliran darah kepada organ-organ reproduksi, berakumulasi dalam sel-sel induk, dan kemudian diturunkan kepada anak-anak, dan dengan demikian, terjadilah evolusi.

Darwin berkata:

Diakui secara universal bahwa sel-sel atau unit-unit tubuh berkembang biak melalui pembelahan diri, atau proliferasi, mempertahankan sifat-sifat yang sama, dan bahwa akhirnya mereka menjadi berbagai jaringan dan bahan dalam tubuh. Tetapi selain cara perkembangan seperti ini saya berasumsi bahwa unit-unit ini juga melepaskan sejumlah kecil granula-granula, yang disebarkan ke seluruh sistem; bahwa zat-zat ini, ketika mendapatkan nutrisi yang cocok, bertambah banyak melalui pembelahan diri, dan pada akhirnya berkembang menjadi unit-unit seperti tempat asalnya mereka. Granula-granula ini bisa disebut sebagai gemmules. Mereka dikumpulkan dari segala bagian sistem untuk menjadi bagian seksual, dan perkembangan mereka pada generasi selanjutnya akan membentuk makhluk yang baru; tetapi mereka juga dapat disalurkan dalam kondisi dorman ke generasi selanjutnya dan lalu dikembangkan setelah itu” (The Variation of Plants and Animals, 1868).

Dr. Duane Gish berkomentar:

Hari ini kita tahu bahwa pewarisan dikendalikan oleh gen yang hanya ditemukan dalam sel-sel induk (sel-sel telur, ova, dan spermatozoa). Hanya perubahan pada gen-gen di dalam sel-sel induk yang akan diwariskan. Sama sekali tidk ada “gemmule” yang terbentuk, dan sifat-sifat yang didapat setelah dewasa tidak akan diwariskan.

Ratusan ribu gen berada dalam nukleus dari setiap sel makhluk hidup tingkat tinggi. Setiap gen terdiri dari satu untai panjang yang berisikan beberapa ratus hingga beberapa ribu subunit, yang tersambung bersama seperti mata rantai. Tipe kimia kompleks yang membentuk gen ini disebut deoxyribonucleic acid, atau DNA. …

Setiap ciri dipengaruhi oleh setidaknya dua gen. Gen-gen dari pasangan gen ini disebut alel. Satu gen seperti ini didapatkan dari masing-masing belah orang tua. Jadi, telur dan sperma masing-masing memiliki satu set tunggal gen. Ketika terjadi pembuahan, kedua set gen ini berkombinasi. Pemisahan dan rekombinasi dari gen-gen yang terjadi ketika sel-sel induk menghasilkan sperma dan telur menyebabkan terjadinya begitu banyak kombinasi gen yang berbeda-beda. Sehingga ada variabilitas yang begitu tinggi dalam masing-masing spesies.”

Gen biasanya sangatlah mapan. Suatu gen tertentu (dalam bentuk keturunannya) dapat eksis banyak ribu tahun tanpa perubahan struktur. Tetapi, jarang-jarang bisa terjadi, struktur kimia suatu gen mengalami perubahan. Perubahan seperti itu disebut mutasi. Mutasi bisa disebabkan oleh zat kimia, X-ray, sinar ultraviolet, sinar-sinar kosmik, dan kausa-kausa lain. Sebagian terjadi ketika sel sedang berkembang biak karena kesalahan pengkopian.”

Sering kali mutasi bersifat fatal, dan hampir selalu bersifat merugikan. …Diragukan bahwa dari semua mutasi yang kita lihat terjadi, ada satu yang secara definit bisa dikatakan meningkatkan kemampuan hidup dari tumbuhan atau binatang yang terkena.” (Gish, The Fossil Record Still Says No, hal. 36, 37).

Bukan hanya Darwin salah besar mengenai adanya zat “gemmule,” tetapi kenyataan dari gen menghancurkan doktrin evolusinya.

Genetika modern telah mengajarkan kepada kita hal-hal berikut:

Pertama, ada potensi yang besar terjadinya variasi dan adaptibilitas dalam setiap jenis makhluk hidup, tetapi juga ada batasan-batasan yang tidak dapat dilewati antara jenis makhluk hidup yang berbeda. Kawin campur telah menghasilkan berbagai variasi anjing, tetapi tidak pernah melewati batasan itu sehingga menghasilkan sesuatu yang bukan anjing, atau bahkan setengah anjing dan setengah yang lain lagi. Berbagai jenis mawar telah dibudidayakan, tetapi mawar tidak pernah berubah menjadi jagung.

Kedua, mutasi genetik, bukannya bisa membawa kepada perubahan evolusi dari satu jenis ke jenis lainnya, justru adalah sesuatu yang sangat jarang terjadi, dan mayoritas besar bersifat merugikan.

Untuk membuktikan doktrinnya, Darwin memerlukan zat “gemmule,” tetapi apa yang ditemukan oleh keturunan rohani Darwin justru adalah sebaliknya. Genetika modern menghancurkan bukan hanya ide tentang gemmule, tetapi juga doktrin evolusi itu sendiri.

 

(berlanjut minggu depan)

Posted in Science and Bible | Leave a comment

oleh GI Hasan Karman

Tahun Baru Imlek: Bolehkah Dirayakan Orang Kristen?

Tahun Baru Imlek merupakan salah satu hari raya terpenting dalam tradisi dan budaya Tionghoa. Ada kalangan yang menganggap hari raya ini sebagai hari raya keagamaan, namun sebenarnya hari raya ini sama sekali bukan milik pemeluk keyakinan tertentu seperti agama Budha, Khonghucu maupun Taoisme atau umat Sam Kauw (San jiao ??, tiga agama). Ini dapat dibuktikan bahwa jauh sebelum ketiga keyakinan tersebut berakar di negeri Tiongkok, Tahun Baru Imlek sudah dirayakan. Memang benar Tahun Baru Imlek senantiasa dikaitkan dengan berbagai ritual penyembahan, legenda dan mitos yang membuat kalangan Kristen tertentu menganggap bahwa Tahun Baru Imlek itu bertentangan dengan ajaran Kristen. Ini adalah kesalahpahaman yang harus diluruskan. Menurut penulis, merayakan Tahun Baru Imlek sama sekali tidak bertentangan dengan iman Kristen, sejauh orang Kristen tidak ikut-ikutan dalam penyembahan yang bertentangan dengan Alkitab. Orang Kristen boleh dengan tenang dan damai merayakan Tahun Baru Imlek sebagai sebuah peristiwa budaya dan tradisi yang positif sama seperti menyambut Tahun Baru Internasional. Jika ada cerita legenda dan mitos yang dikaitkan dengan Tahun Baru Imlek, anggap saja sebagai dongeng karena negeri Tiongkok yang berusia ribuan tahun itu memang penuh dengan legenda dan mitos. Ritual penyembahan yang melekat erat dalam tradisi Imlek yang tidak selaras dengan ajaran Kristen itu sebenarnya baru ditambahkan kemudian setelah ajaran Sam Kauw mengakar luas disana. Padahal Tahun Baru Imlek adalah perayaan dalam rangka menyambut pergantian Musim Dingin ke Musim Semi yang sekaligus dihitung sebagai pergantian tahun dan masuk tahun yang baru dengan rasa syukur kepada Tuhan.

Asal-usul

Sebelum Dinasti Qin (Qín Cháo, ??, ± 221- 206 SM [Sebelum Masehi]), tanggal perayaan permulaan tahun baru masih belum jelas. Ada kemungkinan awal tahun bermula pada bulan 1 (pertama) semasa Dinasti Xia (Xià Cháo, ??, ± 2070–1600 SM), bulan 12 semasa Dinasti Shang (Sh?ng Cháo, ??, ± 1766-1122 SM), dan bulan 11 semasa Dinasti Zhou (Zh?u Cháo, ??, ?± 1046–256 SM) di Tiongkok. Bulan kabisat (Run Yue, ??) yang dipakai untuk memastikan agar kalendar Tionghoa yang berpatok pada peredaran bulan (Im) sejalan dengan edaran mengelilingi matahari (Yang), selalu ditambah setelah bulan 12 sejak Dinasti Shang (menurut catatan tulang ramalan) dan Zhou (menurut Sima Qian, ??? atau ???, sejarawan besar Tiongkok yang hidup sekitar tahun 145 atau 135 – 86 SM). Kaisar pertama Tiongkok, Qin Shi Huang (???) menukar dan menetapkan bahwa tahun Tionghoa berawal di bulan 10 pada 221 SM. Pada 104 SM, Kaisar Wu (Han Wudi, ???, 156–87 SM) yang memerintah sewaktu Dinasti Han menetapkan bulan 1 sebagai awal tahun sampai sekarang.

Tahun pertama Tahun Baru Imlek dihitung berdasarkan tahun pertama kelahiran Kongfuzi (???, Khonghucu) baru ditetapkan oleh Kaisar Han Wudi pada tahun 104 SM sebagai penghormatan kepada Kongfuzi, yang telah mencanangkan agar menggunakan sistem penanggalan Dinasti Xia dimana Tahun Baru dimulai pada tanggal 1 bulan kesatu. Oleh sebab itu sistem penanggalan ini dikenal pula sebagai Kongzili (Kalender Kongzi) yang tahun ini merupakan Tahun 2566. Itulah sebabnya umat Khonghucu mengklaim bahwa Tahun Baru Imlek sebagai hari ulang tahun Khonghucu.

Istilah atau sebutan untuk Tahun Baru Imlek

Secara tradisi, perayaan-perayaan seputar Tahun Baru Imlek dikenal sebagai Festival Nian atau Nián Jié (?? atau ??), yang berarti “Festival Tahunan” atau “Festival Tahun Baru”. Istilah turunannya yang dikenal dengan Guò Nián (?? atau ??), secara literal artinya “melewati tahun”, secara umum masih digunakan untuk merujuk kegiatan perayaan menyambut datangnya tahun baru itu. Sebutan lain untuk Tahun Baru Imlek adalah “Tahun Baru Kalender Pertanian” atau Nónglì X?nnían (???? atau ????). Kalender Pertanian (Nónglì, ?? atau ??) merupakan sebutan yang sangat umum untuk penanggalan ini di Tiongkok.

Secara tradisi Hari Tahun Baru disebut Yuándàn (??), secara literal berarti “pertama kali matahari terbit”, namun pada tahun 1913 pemerintah Republik Tiongkok yang baru terbentuk menyesuaikan nama tersebut dengan Tahun Baru Tionghoa yang disebut “Festival Musim Semi” (Ch?njié, ?? atau ??) sebagai rujukan daripada menggunakan Hari Tahun Baru yang baru diadopsi dari Kalender Gregorian (Tahun Internasional). Ini merupakan sebutan resmi hari libur publik Tahun Baru di Tiongkok Daratan maupun di Taiwan. Sebelum tahun 1913, “Festival Musim Semi” malah merujuk pada Lichun (4 atau 5 Februari), periode Solar pertama dalam Kalender Imlek yang menandakan berakhirnya Musim Dingin dan mulainya Musim Semi.

Sebutan alternatif lainnya untuk Tahun Baru Imlek adalah (Dà) Nián Ch?y? [(?) ???] yang secara literal berarti “Hari Pertama Tahun (Raya).” Di Hongkong dan Macau dikenal dengan sebutan Nónglì Nián Ch?y? (????? atau ?????), yang berarti “Hari Pertama Tahun Kalender Pertanian”, sedangkan sebutan resmi dalam bahasa Inggris adalah “The First Day of Lunar New Year”. Malam Tahun Baru, hari dimana keluarga Tionghoa berkumpul untuk makan malam bersama tahunan (Nian Ye Fan, ???), disebut “Malam dari yang Berlalu” (Chúx?,  ??).

Legenda dan Mitos

Sebutan Tahun Baru Imlek kontemporer berasal dari 2 kata: “Guò Nián” [secara literal berarti “melewati Nián atau lolos dari Nián”]. Menurut legenda dan mitos yang berkembang kemudian, “Nián(?) adalah seekor hewan buas mistis. Hewan ini akan keluar pada hari pertama Tahun Baru Imlek untuk memakan ternak, hasil panen, bahkan juga penduduk desa, terutama anak-anak. Untuk melindungi diri, penduduk desa akan meletakkan makanan didepan pintu pada awal setiap tahun. Mereka percaya bahwa setelah Nián menghabiskan makanan yang disediakan, ia tidak akan menyerang penduduk lagi. Suatu hari seorang penduduk desa memutuskan untuk melawan Nián. Seorang rahib yang sedang berkunjung memberitahu kepadanya untuk menempelkan kertas merah di rumahnya dan membakar petasan. Akhirnya penduduk desa mengerti bahwa Nián takut dengan warna merah dan bunyi ledakan. Ketika Tahun Baru tiba, penduduk desa menggantungkan lampion merah dan gulungan merah berbentuk spiral di pintu dan jendela. Penduduk juga menggunakan petasan untuk mengusir Nián. Sejak saat itu, Nián tidak pernah datang lagi ke desa tersebut. Menurut pemeluk Sam Kauw, Nián ditangkap oleh Hóngj?n L?oz? (???? atau  ????), yakni salah satu dewa dalam ajaran Tao yang menyamar sebagai rahib yang berkunjung ke desa. Nián kemudian menjadi tunggangan Hóngj?n L?oz?. Tentu ini adalah mitos yang dikembangkan kemudian. Yang jelas kata Nián ini diartikan sebagai “Tahun”, dan merayakan Tahun Baru disebut Guò Nián”.

Penutup

Sebenarnya masih banyak pernak-pernik dibalik perayaan Tahun Baru Imlek, namun kebanyakan adalah tradisi yang dikembangkan oleh umat Sam Kauw dalam perkembangan sejarah Tiongkok yang telah berusia ribuan tahun. Pernak-pernik ini erat berhubungan dengan tahyul, ritual dan penyembahan. Mungkin karena masalah inilah ada kalangan Kristen tertentu yang merasa alergi merayakan Tahun Baru ini karena takut dicap penyembah berhala. Yang jelas Tahun Baru Imlek itu sendiri adalah netral karena intinya hanya menyambut pergantian tahun dan bersyukur kepada Tuhan karena telah menyertai dan memberkati kita selama tahun yang lewat, kini masuk tahun baru. Bagi orang Kristen alkitabiah yang berasal dari keturunan Tionghoa, tidak ada salahnya menggunakan momentum ini untuk bersyukur, dan tradisi budaya ini sama positifnya seperti ketika mereka menyambut pergantian tahun 2014 ke tahun 2015 yang baru lalu. Bedanya Tahun Imlek yang akan berlalu ini hanya di angka 2565 dan akan segera berubah menjadi Tahun Baru Imlek 2566 pada tanggal 19 Februari 2015 nanti! Jadi, silakan merayakan.


Posted in General (Umum) | Leave a comment

Asal Usul Hari Santo Valentine

oleh Hasan Karman, SH, M.M.

Ditengah dunia yang semakin materialistis ini, umat manusia di seluruh dunia terserang virus pop culture dan mengikuti gaya hidup trend setter yang kadang-kadang berasal dari dunia industri. Orientasi mereka adalah bisnis dan bagaimana menjual serta meraup keuntungan sebanyak-banyaknya. Salah satu industri besar yang menjadi target para pebisnis adalah Hari Valetine yang jatuh pada tanggal 14 Februari setiap tahun. Perayaan ini dilakukan dengan mengirim bunga, permen, coklat, kartu, bahkan perhiasan yang mahal, kepada orang yang dikasihi. Perayaan ini menjadi incaran karena merupakan bisnis komersil raksasa penjualan bunga, permen, coklat, pakaian, perhiasan dan sebagainya. Namun tahukah anda bahwa asal-usul Hari Santo Valentine yang kelam ini berasal dari masa pra-Kristen (zaman paganisme) yang berhubungan dengan ketelanjangan (nudity) dan penderaan (menyakiti dengan cambuk). Sebelum anda ikut-ikutan merayakannya, ada baiknya anda mengetahui sejarahnya dan dari mana nama St. Valentine itu berasal.

Era Pra-Kristen

Pada masa Romawi kuno, tanggal 13, 14 dan 15 Februari dirayakan sebagai Hari Lupercalia, yaitu festival kesuburan penyembah berhala (pagan). Kelihatannya tanggal-tanggal ini menjadi dasar hari perayaan cinta-kasih. Menurut Noel Lenski, professor sastra Universitas Colorado di Boulder, yang menjadi narasumber di National Geographic, pria-pria muda akan bertelanjang bulat dan menggunakan cambuk dari kulit kambing atau anjing untuk mencambuki punggung wanita-wanita muda untuk meningkatkan kesuburan mereka. Ritual itu juga dipercayai dapat menangkal serangan serigala terhadap ternak dan untuk menghormati dewa kesuburan mereka. Ada kalangan yang meyakini Hari Valentine dirayakan pada pertengahan Februari untuk mengenang hari kematian St. Valentine – yang kemungkinan terjadi sekitar tahun 270 AD – namun ada juga yang mengklaim bahwa gereja Katolik kemungkinan memutuskan untuk menempatkan hari peringatan St. Valentine pada pertengahan Februari sebagai upaya untuk “mengkristenkan” perayaan pagan Lupercalia. Lupercalia yang dirayakan pada tanggal 15 Februari merupakan sebuah festival kesuburan yang dipersembahkan kepada Faunus, dewa pertanian Romawi, dan juga kepada pendiri Roma, Romulus and Remus.

Mengawali festival, para anggota Luperci, sebuah sekte pendeta Romawi, akan berkumpul di sebuah gua suci tempat dimana diyakini bayi Romulus dan Remus, para pendiri Roma, diasuh oleh seekor serigala betina atau Lupa. Pendeta-pendeta itu akan mengorbankan seekor kambing untuk kesuburan, dan seekor anjing untuk kemurnian. Mereka kemudian akan menguliti hewan itu, memotong-motong dagingnya dan mencelupkannya kedalam darah suci serta membawanya ke jalan-jalan dan memecutkan kulitnya kepada para wanita dan ladang-kebun tanaman. Wanita-wanita Romawi itu sama sekali tidak takut, namun malah antusias menyentuh kulit itu karena dipercayai akan membuat mereka lebih subur pada tahun mendatang. Menurut legenda kemudian semua wanita muda di kota itu akan menaruh nama mereka kedalam sebuah jambangan besar. Setiap pria bujangan kota itu akan memilih sebuah nama dan menjadi pasangan selama setahun dengan wanita yang dipilihnya tanpa ikatan pernikahan. Jika pasangan itu cocok, maka kemungkinan akan dilanjutkan dengan pernikahan sah.

Tiga nama Valentine yang dikaitkan dengan Hari Valentine

Sekitar Tahun 197 AD terdapat seorang Kristen bernama Valentine dari Terni mati martir karena keyakinannya pada masa Kaisar Aurelian. Sedikit sekali diketahui tentang kehidupannya, kecuali bahwa ia ditahbiskan sebagai Uskup Interamna (kini Terni) pada tahun 197 M dan wafat tidak lama kemudian. Rupanya ia dipenjarakan, disiksa dan dipenggal di Via Flaminia (Roma) atas perintah seorang gubernur Romawi yang dijuluki dengan nama yang ganjil, yaitu Placid Furius (‘Pemarah yang Kalem’). Menurut legenda, ia wafat pada 14 Februari, namun kelihatannya ini ditambahkan kemudian. Sekitar Tahun 289 AD dikisahkan St. Valentine adalah seorang rahib yang melayani di Roma pada abad ketiga. Kaisar yang berkuasa pada masa itu adalah Claudius II. Kaisar Claudius II berpendapat bahwa bahwa tentara bujangan lebih bagus daripada tentara yang menikah, sehingga ia melarang semua pria muda yang menjadi tentara untuk menikah. Valentine menentang putusan ini karena menurutnya tidak adil dan memilih tetap menikahkan pasangan muda secara rahasia. Ketika tindakannya ketahuan Kaisar, ia ditangkap dan dipenjarakan serta dihukum mati. Alkisah, pasangan-pasangan muda yang dinikahkan Valentine mengirimkan bunga dan surat kepada Valentine ketika mereka menjenguk dirinya di penjara. Legenda lain yang agak berbeda mengisahkan bahwa Valentine menolong orang-orang Kristen yang melarikan diri dari tahanan karena tidak tahan disiksa. Perbuatannya ini membuat dirinya ditangkap. Ketika dipenjara ia menobatkan kepala penjaranya karena menyembuhkan kebutaan puteri kepala penjara tersebut. Menurut versi yang muncul kemudian Valentine dikisahkan jatuh cinta kepada puteri kepala penjara itu. Sebelum dihukum mati, ia mengirim “surat valentine” pertama kepada kekasihnya dan menandainya dengan kata-kata “Dari Valentine-mu”. Kata-kata inilah yang ditiru dan digunakan dalam kartu Valentine. Nama Valentine dari Roma disebut-sebut wafat pada tanggal 14 Februari, ini adalah hal yang mustahil. Sekitar Tahun 496 AD Paus Gelasius yang memegang tahta kemudian menetapkan 14 Februari sebagai Hari St. Valentine, sebuah hari raya Katolik. Kelihatannya ini merupakan strategi kompromi “jika kamu tidak bisa mengalahkan mereka, bergabunglah dengan mereka” terhadap festival paganism Lupercalia yang masih populer.

Tahun 1382

Geoffrey Chaucer menulis Parlement of Foules (atau “Parliament of Fowls”, secara literal berarti “parlemen unggas atau burung”), yang diterima luas sebagai hal pertama yang dikaitkan dengan Hari Valentine sebagai cinta yang romantis. Dalam merayakan pertunangan Richard II dari Inggris dan Anne dari Bohemia, ia menulis: “Karena ini adalah Hari Valentine/Saat setiap unggas keluar memilih pasangannya”. Namun diperkirakan hal tersebut merujuk ke tanggal 2 Mei, hari santo dalam kalender liturgis Valentine dari Genoa – yang lebih tepat merupakan musim kawin unggas di Inggris. Tahun 1400 pada Hari Valentine di Paris dibentuk Pengadilan Tinggi Cinta, yang khusus mengurus masalah perikatan: perjanjian pernikahan, perceraian, perselingkuhan, dan KDRT (kekerasan dalam rumah tangga). Beberapa tahun kemudian, Charles, Duke dari Orleans (yang asli orang Perancis) menulis surat Valentine pertama yang tercatat dalam sejarah kepada kekasihnya ketika dipenjarakan di Menara London setelah tertangkap dalam Pertempuran Agincourt pada tahun 1415. Pada tahun 1601 popularitas Hari Valentine menjadi begitu merasuk kedalam pikiran masyarakat ketika muncul syair ratapan Ophelia didalam Hamlet karya William Shakespeare: “Esok adalah Hari Santo Valentine,/Saat pagi menjelang,/Dan aku gadismu ada di jendela,/Sebagai Valentine-mu .”

Pertengahan abad ke-18 trend saling mengirim surat cinta menjadi populer di Inggris, sebuah pembuka tradisi kartu Valentine yang kita kenal sekarang. Awalnya hanya berupa kertas digulung dan diikat dengan tali renda. Pada tahun 1797, terbit The Young Man’s Valentine Writer, yang menganjurkan tulisan pesan dan syair yang sesuai dalam kartu Valentine. Munculnya pelayanan pos menjadi lebih mudah dijangkau, sehingga pengiriman kartu Valentine tanpa nama dimungkinkan. Menjelang awal abad ke-19, kartu ini menjadi begitu populer sehingga pabrik-pabrik percetakan mulai melakukan produksi massal. Tahun 1847 mengikuti tradisi Inggris tersebut, Esther Howland dari Worcester, Massachusetts, mulai mencetak kartu – dengan menggunakan kertas renda yang baru ditemukan dan lebih murah – di Amerika Serikat. Tahun 1913 munculnya Hallmark Cards yang mencetak kartu Valentine pertamanya yang dirancang dengan mewah, mahal dan bergengsi. Kartu Hallmark menjadi simbol status kelas atas yang banyak menguras kantong para kekasih yang ingin menunjukkan gengsinya kepada kekasih atau calon kekasihnya. Cara pengungkapan perasaan dengan bertemu langsung dianggap kuno karena munculnya promosi kartu mewah dan mahal merek Hallmark ini. Mengirim kartu Valentine merek Hallmark dianggap lebih tinggi gengsinya daripada cara lain. Pada pertengahan 1980-an komersialisasi berlanjut: melihat dampak penjualan coklat, bunga dan kartu pada Hari Valentine yang sangat dahsyat, industri berlian ikut ambil bagian dengan mempromosikan Hari Valentine sebagai saat yang tepat untuk memberikan perhiasan. Kekasih-kekasih digenjot gengsinya agar memberikan hadiah perhiasan mahal pada Hari Valentine. Promosi ini akhirnya menjadi “tradisi” bagi kalangan berduit. Tahun 2009 Hari Valentine menghasilkan penjualan retail sekitar $14.7 milyar (£9.2 milyar) di Amerika Serikat. Tahun 2010 diperkirakan 1 milyar kartu Valentine dikirim ke seluruh dunia, sehingga Hari Valentine menjadi perayaan No. 2 yang tertinggi pengiriman kartunya setelah Hari Natal. Penulis tidak menelusuri angka yang diperoleh pada tahun 2011-2014. Yang jelas tahun 2015 tak akan lebih rendah dari tahun-tahun sebelumnya.

Penutup

Barangkali kita tak akan pernah mengetahui jatidiri dan kisah sebenarnya dibalik orang-orang yang bernama St. Valentine, namun satu hal yang tak bisa dipungkiri, 14 Februari telah menjadi hari perayaan cinta-kasih para penyembah berhala (paganism), kemudian berlanjut pada masa keemasan gereja Katolik Abad Pertengahan. Secara faktual Hari Valentine menempati urutan ke-2 dalam record jumlah pengiriman kartu ucapan dibawah Hari Natal. Sebagai orang Kristen pencinta kebenaran apakah anda juga merayakan Hari Valentine setelah mengetahui asal-usul dan faktanya? Satu pribadi lagi yang mungkin ingin anda ketahui pada Hari Valentine, yaitu Cupid (kata Latin Cupido berarti hasrat atau napsu cinta). Dalam Mitologi Romawi, Cupid adalah putera Venus, dewi Cinta. Rekannya dalam mitologi Yunani adalah Eros. Dewa Cinta. Cupid adalah dewa yang digambarkan sebagai anak nakal yang terbang kesana-kemari dengan sayap kecilnya dan memanahi dewa-dewi dan manusia sehingga mereka menjadi saling jatuh cinta. Percayakah anda pada dewa?

Posted in General (Umum), Keluarga | 1 Comment

Fragmen Injil Markus dari Abad Pertama

(Berita Mingguan GITS 31 Januari 2015, sumber: www.wayoflife.org)

Sepertinya sebuah fragmen Injil Markus dari abad pertama telah ditemukan di sebuah mumi Mesir. Fragmen ini adalah bagian dari pembungkus muka mumi tersebut, yang terbuat dari lembar-lembar papirus yang direkatkan bersama secara berlapis-lapis dan setelah itu dicat. Para ilmuwan dan ahli, dipimpin oleh Craig Evans dari Acadia Divinity College telah menemukan cara untuk melepaskan lem yang merekatkan kumpulan papirus itu dan menarik keluar tiap-tiap lembarnya masing-masing, dengan tinta asli tulisan pada papirus-papirus itu masih utuh. (“Ancient Biblical text discovered in an Egyptian mummy mask,” Science Alert, 20 Jan. 2015). Evans memberitahu Live Science, “Kami sedang menemukan ulang dokumen-dokumen kuno dari abad pertama, kedua, dan ketiga. Bukan hanya dokumen Kristen, bukan hanya dokumen Alkitab, tetapi teks-teks Yunani klasik, kertas-kertas bisnis, berbagai dokumen biasa lainnya, surat-surat pribadi. Dari satu tutup muka, tidaklah aneh untuk mendapatkan satu dua lusin, atau bahkan lebih. Kami pada akhirnya akan mendapatkan ratusan papirus ketika pekerjaan ini sudah selesai, bahkan bisa jadi ribuan.” Tim tersebut telah menetapkan tanggal fragmen Injil Markus itu ke tahun sekitar 90 M, melalui carbon-14, analisis tulisan, dan dokumen-dokumen lain yang didapatkan bersama dengannya. Ketika dokumen itu diterbitkan, kemungkinan belakangan tahun ini, kita akan tahu lebih banyak lagi, termasuk bagian Injil Markus mana yang tertulis di papirus itu. Penanggalannya lalu akan dikritisi oleh berbagai ahli lainnya. Tetapi ini adalah penemuan besar. Bisa jadi ini adalah fragmen Injil yang paling awal yang pernah ditemukan, yang semakin menambah otentisitas Kitab Suci Perjanjian Baru dan menyediakan lebih banyak lagi bukti untuk membantah teori liberal kuno bahwa kitab-kitab Injil ditulis lama setelah peristiwa-peristiwanya terjadi. Saat ini, fragmen Injil tertua adalah Rylands Library P52 (P singkatan dari papirus), yang adalah sepenggal Injil Yohanes yang ditanggali antara 117 hingga 138 M. Sebelum ini, bagian Injil Markus yang paling tua yang ditemukan adalah P45, yang ditanggali 200-250 M.

Posted in Alkitab, Arkeologi | Leave a comment

Pemerintahan Obama Menolak RUU yang Akan Melarang Aborsi Setelah Kehamilan Lima Bulan

(Berita Mingguan GITS 31 Januari 2015, sumber: www.wayoflife.org)

Dukungan Presiden Barack Obama terhadap pembunuhan anak-anak yang belum lahir sekali lagi terlihat jelas dalam tindakan pemerintahannya yang menolak suatu RUU yang bertujuan untuk melarang aborsi setelah kehamilan 20 minggu. Gedung Putih menyebut RUU itu sebagai “serangan terhadap hak wanita untuk memilih,” dan adalah “opresif.” RUU H.R. 36 diajukan oleh Senator Trent Franks, dan mendapat dukungan luas, dengan hampir 160 sponsor. Office of Management and Budget yang di Gedung Putih memberi pendapat, “Wanita seharusnya bisa membuat pilihan mereka sendiri tentang tubuh mereka dan layanan kesehatan mereka, dan pemerintah tidak boleh mencampuri keputusan yang dibuat antara seorang wanita dengan dokternya.” Aborsi bukanlah masalah tubuh wanita; aborsi adalah mengenai tubuh seorang bayi. Dan pemerintahan Obama yang munafik sama sekali tidak bermasalah mencampuri banyak urusan pribadi lainnya kalau itu memang yang mereka mau lakukan. Kongres (semacam DPR) Amerika sekarang dikuasai oleh partai Republik, dan dua tahun berikutnya akan menjadi tahun-tahun presiden Obama banyak melakukan veto terhadap berbagai RUU yang keluar dari Kongres. Christian News Network melaporkan, “Mayoritas anak-anak yang diaborsi setelah kehamilan 20 minggu, kehilangan nyawa mereka melalui suatu prosedur yang disebut dilatasi dan evakuasi (D&E). Dilatasi dan evakuasi melibatkan pertama memasukkan obat yang akan menghentikan jantung si bayi. Lalu leher rahim sang ibu didilatasi (dibuka), dan bayi itu dikeluarkan sepotong demi sepotong dengan alat forceps. Menurut laporan, dokter pelaku aborsinya akan merangkai kembali potongan-potongan badan bayi itu di atas nampan untuk memastikan tidak ada yang ketinggalan di dalam” (“Obama Administration Opposes Bill,” Christian News Network, 21 Jan. 2015).

Posted in General (Umum) | Leave a comment

Mempelajarai Ciptaan Allah Adalah Suatu Petualangan

(Berita Mingguan GITS 31 Januari 2015, sumber: www.wayoflife.org)

Almarhum astronomer, Edwin Hubble, mengatakan, “Diperlengkapi dengan kelima inderanya, manusia menjelajahi alam semesta di sekitarnya dan menyebut petualangan itu ilmu pengetahuan” (The Nature of Science, 1954). Sejauh yang kita tahu, Dr. Hubble tidak pernah mengaku percaya Kristus, jadi dia bahkan belum bisa mulai memahami betapa ilmu pengetahuan itu suatu petualangan. Sebelum saya diselamatkan, saya menikmati membaca. Saya membaca banyak topik, dan saya tertarik akan banyak hal, tetapi ada sesuatu yang hilang, sesuatu yang mendalam dan mendasar. Belajar bukan sungguh-sungguh suatu petualangan seru. Memang ada kalanya semua itu menarik dan bahkan menakjubkan, tetapi secara keseluruhan mempelajari kehidupan membawa kebingungan, mematahkan semangat, dan mengecewakan. Dua pikiran sering muncul pada diri saya pada waktu itu: Siapa yang bisa tahu pasti apa yang benar? Dan apa gunanya saya belajar banyak hal, karena saya akan mati? Tetapi sejak saya diselamatkan, semuanya menjadi berubah. Saya memiliki “kunci” belajar, yaitu pengenalan akan Allah yang sejati dalam Yesus Kristus dan memiliki WahyuNya dalam Alkitab. Saya telah dipanggil “keluar dari kegelapan kepada terangNya yang ajaib” (1 Petrus 2:9). Sekarang, belajar sungguh-sungguh adalah suatu petualangan. Tidak peduli apapun yang saya pelajari, dari sejarah manusia hingga ilmu alam, saya memiliki terang untuk menafsirkan setiap subjek dengan benar, dan saya memiliki motivasi untuk melakukannya karena saya mengenal sang Pencipta, dan saya tahu bahwa saya memiliki hidup yang kekal. Semua yang saya pelajari tentang kehidupan menunjuk kepada Allah, dan itu membuat segala sesuatu menjadi suatu petualangan. Johannes Kepler, penemu hukum alur gerak planet-planet, memahami hal ini. Seperti kebanyakan bapa-bapa sains modern, ia percaya pada Allah dalam Alkitab dan pada penciptaan ilahi, dan dia berkata, “Saya hanyalah memikirkan pikiran-pikiran Allah. Karena kami para astronom adalah imam-imam dari Allah yang maha tinggi berkaitan dengan buku alam semesta, adalah baik bagi kami untuk merenung, bukan tentang kemuliaan pikiran kami, tetapi sebaliknya, di atas segala yang lain, kemuliaan Allah.”

Posted in Science and Bible | Leave a comment

Kemunafikan Berteman dengan Katolik Tetapi Tidak dengan Mormon

(Berita Mingguan GITS 24 Januari 2015, sumber: www.wayoflife.org)

Kemunafikan dan ketidakkonsistenan gerakan Ekumene terlihat jelas baru-baru ini di Cairns Christian Ministers Network (CCMN, terletak di Cairns, Queensland, Australia). Pada tanggal 13 Januari, CCMN membuat suatu pernyataan bahwa mereka tidak mendukung kebaktian World Day of Prayer lokal pada bulan Maret, karena acara itu akan dilaksanakan di gereja Mormon. Pengumuman menyatakan bahwa “CCMN (secara korporat maupun individu) dengan tegas tidak mendukung kepercayaan gereja Mormon dalam bentuk apapun.” Dua hari kemudian, CCMN mengirimkan suatu pengumuman lain yang mempromosikan Kebaktian Blessing Cairns yang diadakan tahunan di Katedral Katolik St. Monica. Mereka mengatakan, “Kami percaya kamu akan diberkati juga tahun ini. Gembala-gembala dari sepuluh denominasi berpartisipasi tahun ini, memberi kesaksian jelas kepada kota kita bahwa kita sungguh adalah satu Gereja.” Tetapi mereka sebenarnya bukan satu. Mereka memisahkan kaum Mormon yang kasihan itu, walaupun Mormon juga memakai nama Kristus. Kelompok ekumene mengritik kaum “fundamental” sebagai orang-orang yang suka menghakimi dan bersikap Farisi karena menguji segala sesuatu berdasarkan Firman Allah, tetapi ketika mereka sendiri menghakimi kaum Mormon atau Unitarian atau yang lainnya, maka itu boleh-boleh saja. Ini tidak konsisten. Kalau mau memisahkan diri dari kesesatan, maka harus dilakukan konsisten. Jika boleh menghakimi sebagian sekelompok doktrin sebagai doktrin yang sesat, maka semua doktrin yang salah harus dinilai dan dihakimi juga. Jika boleh menghakimi “kristus” palsu Mormonisme dan injil palsu mereka berdasarkan 2 Korintus 11:4, maka sama bolehnya untuk menghakimi “kristus” palsu Roma yang berupa “roti hosti” dan injil sakramental mereka yang dimulai dari kelahiran melalui baptisan.

Posted in Ekumenisme | 1 Comment

Kepemimpinan yang Lemah Bisa Berbahaya

(Berita Mingguan GITS 24 Januari 2015, sumber: www.wayoflife.org)

Kepemimpinan adalah hal yang sulit, terutama ketika melibatkan peneguran, memberi peringatan, dan disiplin, dan seringkali hal-hal ini memang harus dilakukan oleh pemimpin. Kita semua ingin disukai. Kita lebih memilih untuk menjadi populer daripada tidak populer, tetapi hal ini bisa menghalangi kita untuk menolong orang-orang yang seharusnya kita pimpin. Ini adalah jerat yang dapat menyandung pemimpin manapun, dari seorang ayah atau ibu, ke seorang polisi, ke seorang gembala sidang. Baru-baru ini saya membaca tentang serangan seekor beruang grizzly di sebuah taman nasional di Amerika. Dua orang yang terbunuh adalah pekerja di taman nasional itu, dan mereka sebenarnya sudah diberikan instruksi dan peringatan mengenai bagaimana harus bersikap ketika berhadapan dengan beruang, tetapi para pemimpin di sana (dalam hal ini para ranger taman dan manager) tidak selalu mengetatkan peraturan tersebut. Salah satu pemimpin di sana dideskripsikan sebagai seseorang yang “sangat populer di antara bawahannya; gayanya cenderung ringan dan penuh canda.” Dan walaupun dia “menyatakan peraturan” tentang keselamatan berurusan dengan beruang, dia tidak selalu memastikan peraturan itu diikuti dengan baik. Ketika dia diberitahu bahwa ada pegawai-pegawai wanitanya yang mengabaikan “peraturan” yang dia buat, dan malam-malam jalan-jalan ke daerah beruang untuk pacaran, dia “mengangkat tangan” dan mengatakan bahwa “ada batasan seberapa banyak nasihat yang bisa diberikan sebelum kita dianggap tukang celoteh yang membosankan, dan bahwa dia merasa dia sudah sampai kepada batasan tersebut.” Motivasinya adalah dia ingin populer, dan tidak dianggap “tukang celoteh yang membosankan.” Dalam kasus ini, wanita-wanita yang bersangkutan tidak terbunuh oleh beruang, tetapi ada dua orang lain yang terbunuh. Kita semua ingin “disukai,” tetapi kasih yang sejati menjalankan teguran dan disiplin yang saleh. Alkitab mengatakan, “Siapa tidak menggunakan tongkat, benci kepada anaknya; tetapi siapa mengasihi anaknya, menghajar dia pada waktunya” (Ams. 13:24). Orang tua bijak yang mengasihi anaknya akan mengoreksi dan menghukum dia walaupun terasa sulit, karena sang orang tua lebih peduli kepada anak itu dan hubungan anak itu dengan Tuhan dan karakter dan masa depannya daripada perasaannya sendiri dan kenyamanannya sendiri. Ini juga adalah salah satu motivasi besar bagi seorang gembala untuk melaksanakan disiplin. Disiplin tidak pernah mudah, baik bagi yang memberi maupun menerimanya, tetapi ini hal yang penting di dunia yang jatuh dalam dosa ini, dan ketika dilakukan dengan benar sesuai dengan Firman Allah, ini adalah suatu tindakan kasih yang besar.

Posted in General (Umum) | Leave a comment

Laodikia dan Hukum Termodinamika Kedua

(Berita Mingguan GITS 24 Januari 2015, sumber: www.wayoflife.org)

Aku tahu segala pekerjaanmu: engkau tidak dingin dan tidak panas. Alangkah baiknya jika engkau dingin atau panas! Jadi karena engkau suam-suam kuku, dan tidak dingin atau panas, Aku akan memuntahkan engkau dari mulut-Ku” (Wahyu 3:15-16). Salah satu dari banyak pelajaran dari perikop ini adalah fakta bahwa orang percaya harus berapi-api bagi Tuhan, dan jika tidak ia akan mundur. Tidak ada daerah netral. Saya entah sedang “menuju tempat yang lebih tinggi,” atau saya sedang mundur. Untuk tetap panas memerlukan banyak usaha. Begitu saya selesai menuangkan kopi pagi saya, sebelum saya menyeruputnya, gelas kopi itu sudah mulai mendingin. Kami memiliki sebuah teko air panas yang bekerja 24/7 di rumah kami, tetapi air di situ tetap panas hanya karena ada aliran listrik yang konstan ke elemen-elemen pemanasnya. Para ilmuwan menyebut prinsip ini sebagai Hukum Termodinamika Kedua. Ada suatu hukum universal tentang pembusukan, peluruhan, yang mengingatkan kita bahwa kita hidup di dunia yang jatuh dalam dosa. Untuk mempertahankan apapun memerlukan aplikasi energi yang konstan, apakah itu kekuatan otot tubuh, hingga mobil yang tetapi kinclong, dan ini benar di dunia rohani maupun fisik. Sumber energi yang mempertahankan hidup kekristenan tetap panas adalah keselamatan pribadi yang dipahami dengan baik, persekutuan yang intim dengan Kristus, hubungan yang mendalam dengan FirmanNya, iman dan ketaatan seorang murid. Hidup Kristen yang panas adalah tentang semangat, gairah, roh yang berapi-api, fokus, kesetiaan yang tidak berubah, dan kasih mula-mula.

Posted in Renungan | Leave a comment

Hillsong Masih Memuaskan Telinga Orang

(Berita Mingguan GITS 17 Januari 2015, sumber: www.wayoflife.org)

Beberapa tahun yang lalu, Brian Houston, gembala sidang senior dari Gereja Hillsong di Sydney, ditanya oleh seorang wartawan koran mengenai mengapa gerejanya begitu sukses di suatu negara seperti Australia, yang jelas-jelas tidak begitu mendukung kekristenan. Dia menjawab, “Kami memberikan kepuasan kepada orang-orang di tempat mereka ingin dipuaskan” (“The Lord’s Profits,” Sydney Morning Herald, 30 Januari 2003). Sungguh menyegarkan mendengar kejujurannya dalam mengakui bahwa ia menggenapi nubuat. “Karena akan datang waktunya, orang tidak dapat lagi menerima ajaran sehat, tetapi mereka akan mengumpulkan guru-guru menurut kehendaknya untuk memuaskan keinginan telinganya” (2 Tim. 4:3). Angkatan yang sesat yang digambarkan oleh nubuat ini memiliki telinga yang gatal untuk mendengar hal-hal baru dan cerita-cerita fiksi, dan ada begitu banyak guru-guru yang berlombaan untuk memuaskan keinginan tersebut.

Salah satu cara utama Hillsong memuaskan keinginan telinga orang-orang yang sesat adalah melalui musik mereka, yang diakui dalam ulasan dari album Young & Free milik Hillsong, yang berjudul “This Is Living,” sebagai berikut: “Mungkin terdengar aneh, tetapi YESUS JELAS TERDENGAR MERDU DI LANTAI JOGET. Sementara Hillsong Worship dan Hillsong UNITED berfokus pada suara-suara yang jelas lebih seperti stadium pop-rock, Hillsong Young & Free (Y&F) hadir bagi mereka yang ingin membawa Yesus ke dalam area musik dansa elektronik. Dengan beat-beat yang bergoncangan dan lampu-lampu disko yang gemerlap membingungan, Y&F telah memberikan musik penyembahan suatu suara terbaru yang bisa ditandingkan dengan musiknya Meghan Trainor dan Bruno Mars . . . Dengan semakin banyaknya anggota UNITED yang beranjak dari keremajaan, Y&F telah menjadi pionir untuk memimpin orang-orang yang lebih muda kepada Yesus DENGAN MUSIK YANG MENGGELITIK TELINGA MEREKA dan membuat mereka BERJOGET DEMI INJIL” (“Hillsong Young and Free,” Hallels.com, 6 Jan. 2015). Tidak diragukan bahwa Hillsong adalah salah satu penggelitik telinga yang paling hebat di planet ini. Angkatan ini mencari suatu “perasaan,” dan CCM sungguh memuaskan keinginan telinga itu.

Posted in Kharismatik/Pantekosta, musik | Leave a comment