Menjadi Kontemporer

(Berita Mingguan GITS 10 September 2018, sumber: www.wayoflife.org)

“Menjadi Kontemporer” (Gone Contemporary) adalah judul dari sebuah artikel yang ditulis oleh Dave Mallinak, yang memaparkan kesalahan dan bahaya dari filosofi musik kontemporer yang sudah dianut oleh dunia kekristenan pada umumnya, dan sedang melanda gereja-gereja Baptis juga. Kami merekomendasi seluruh tulisan tersebut, yang juga memberikan tautan-tautan kepada contoh-contoh kebaktian-kebaktian Baptis Independen yang sudah menggunakan musik kontemporer, dan juga sebuah video dialog antara Josh Teis dan Robert Bakss, penulis dari buku Worship Wars. Berikut ini cuplikan dari laporan tersebut yang berkaitan dengan inti dari masalah ini, dan dengan tepat menyerukan separasi dari mereka yang sudah berkomitmen pada filosofi kontemporer: “Seruan untuk musik kontemporer adalah raungan kematian dari suatu gereja yang sekarat. Gaya ‘penyembahan’ ini tidaklah menjadi populer karena orang Kristen menjadi semakin setia. Dalam usaha untuk menyenangkan audiens, kita telah lupa bahwa Allah adalah audiens yang sebenarnya. Kita sekarang merasa bosan dengan Tuhan. Semakin tergantung kita pada pendekatan ‘penyembahan’ yang eksternal seperti ini, semakin kita kehilangan inti dari penyembahan. Pada akhirnya, orang Kristen akan mendapatkan bahwa mereka harus memiliki musik jenis kontemporer, atau mereka tidak bisa menyembah. Penyembahan kontemporer mengubah audiens menjadi penonton dan musiknya menjadi suatu pertunjukan. Hal ini menghasilkan suatu pandangan yang rendah akan Allah, suatu kesenangan terhadap pengalaman penyembahan itu, bukan pada Allah yang kita sembah, suatu passion yang superfisial yang kehilangan passion terhadap penyembahan yang sejati, suatu ketergantungan yang semakin hebat pada pengalaman yang dihasilkan oleh musik tersebut, dan suatu ide palsu bahwa penyembahan itu sesuatu yang mudah, bahwa devosi dapat ditingkatkan dengan beberapa baris reff nyanyian. Penyembahan yang sebenarnya adalah menantang – memerlukan fokus dan ketekunan dan kedalaman, yaitu hal-hal yang justru ditentang oleh CCM. … Gaya musik mengindikasikan apa yang suatu gereja konsepkan tentang Tuhan. Secara alkitabiah, kami tidak dapat berpura-pura bersekutu baik dengan gereja-gereja yang lebih mengutamakan relevansi dibandingkan reverensi (Ed: lebih mengutamakan relevan di mata dunia dari menghormati Allah). Jadi, walaupun kami tidak berusaha mendikte cara suatu gereja melakukan kebaktian, kami jelas memiliki tanggung jawab dari Allah untuk menentukan dengan siapa kami bersekutu atau tidak. … Klaim bahwa gaya musik tidak lebih dari suatu pilihan preferensi saja, menunjukkan betapa relativistiknya orang-orang ini. Mereka dengan sengaja mengabaikan pembelajaran teori musik. Mereka percaya bahwa kita hanya perlu mempelajari Alkitab untuk melihat gaya musik apa yang diperlukan. Mereka mengingat kita, dengan nada merendahkan, bahwa Alkitab tidak berkata apa-apa tentang sinkopasi, atau ‘ketukan antisipasi.’ Dengan demikian, mereka dengan sengaja mengabaikan pesan yang jelas yang disampaikan oleh gaya musik tentang makna dari kebaktian dan penyembahan itu. Para produsen film menyadari hal ini. Kebanyakan orang tahu bahwa ada musik tertentu yang cocok untuk pernikahan, untuk penguburan, untuk restoran kelas atas, untuk barbecue di halaman belakang, untuk parade militer, dan untuk pertandingan basket. Orang-orang ini percaya bahwa kita bisa menyeret gaya apa saja untuk suatu kebaktian rohani, menempelkan kata-kata yang bagus padanya, dan dengan cara demikian ‘menebusnya.’ … Gaya musik itulah makna dari musik tersebut. Musik, pakaian, dan penampilan trendy dari kaum Baptis Independen yang kontemporer, lebih memberitahu kepada kita pandangan mereka tentang Allah daripada pandangan mereka tentang gaya musik. Hal ini benar untuk kebanyakan acara. Cara kita berpakaian dan musik yang kita mainkan, menyampaikan pandangan kita tentang acara tersebut, daripada pandangan kita tentang gaya yang kita pakai.” Laporan yang sepenuhnya dari Dave Mallinak dapat dilihat di villagesmithysite.wordpress.com/2018/08/31/gone-contemporary/

Posted in musik | Leave a comment

Protein Penting untuk Kehidupan

(Berita Mingguan GITS 10 September 2018, sumber: www.wayoflife.org)

Berikut ini disadur dari Seeing the Non-existent: Evolution’s Myths and Hoaxes, David Cloud, copyright 2011: “Sel-sel tubuh terbuat dari protein-protein (sekitar satu juta protein per sel, terdiri dari ribuan variasi), dan sel-sel dan protein-protein membentuk tubuh. Protein adalah ‘mesin di dalam jaringan makhluk hidup yang membangun struktur dan melaksanakan reaksi-reaksi kimia yang penting untuk kehidupan’ (Michael Behe, Darwin’s Black Box). Otot, kulit, rambut, mata, antibodi, enzim (senyawa yang menghasilkan reaksi kimia esensial seperti memecahkan gula), dan hormon-hormon, semua terbuat dari protein. Pembekuan darah dihasilkan oleh protein fibrinogen dan thrombin. Hemoglobin dalam sel darah merah adalah suatu protein yang memungkinkan oksigen dibawa ke semua bagian tubuh. Protein kolagen dan keratin, yang bersifat elastik dan lebih kuat dari baja, membentuk kulit, rambut, dan kuku, sekaligus juga dukungan struktural di dalam sel itu sendiri. Sel dapat membuat ribuan jenis protein yang berbeda-beda, masing-masingnya sangat kompleks dan didesain untuk fungsi yang spesifik. Sebagai contoh, ada ratusan tipe protein yang menjembatani membran sel, bertugas sebagai gerbang dan transporter. Pertama, DNA (deoxyribonucleic acid) membuat tiga macam RNA (ribonucleic acid). RNA lalu membaca kode DNA yang rumit, mengetahui dengan persis di mana mulainya dan bagaimana menyelesaikan tugas ini, bekerja sama dengan berbagai organ sel untuk membuat protein menurut cetak biru master tersebut. Proses ini sangat kompleks, sulit dijelaskan dengan kata-kata, dan para ilmuwan barulah mulai memahami bagian kecil darinya. Setiap protein terdiri dari serangkaian panjang sekitar 20an asam amino yang berbeda, biasanya ribuan asam amino panjangnya, dan setiap asam amino haruslah pada urutan yang tepat agar protein tersebut berfungsi dengan baik. Setelah protein itu selesai dirangkaikan, ia akan dilipat dan dibentuk secara sempurna dalam pabrik-pabrik sel, dan lalu diantarkan ke tempat yang benar. Pemberian bentuk yang tepat adalah essensial. Protein memerlukan DNA untuk dapat dibentuk, tetapi DNA itu sendiri terbentuk dari protein. ‘Karena DNA dan protein saling tergantung secara intim agar dapat eksis, sulit untuk membayangkan salah satunya berevolusi terlebih dahulu. Tetapi sama tidak mungkinnya kedua-duanya muncul berbarengan dari lautan pre-biotik’ (Carl Zimmer, “How and Where Did Life on Earth Arise?” Science, Vol. 309, 1 Juli 2005, hal. 89).”

Posted in Science and Bible | Leave a comment

Penelitian Baru Mematahkan Mitos Bahwa Minum Alkohol Baik untuk Kesehatan

(Berita Mingguan GITS 01 September 2018, sumber: www.wayoflife.org)

Dengan mengutip berbagai penelitian secara selektif, industri alkohol dengan gencar mempromosikan ide bahwa minum alkohol secara moderat membawa keuntungan medis. Namun sebuah penelitian skala besar yang baru-baru ini selesai, oleh Institute for Health Metrics di Universitas Washington, telah menemukan bahwa keuntungan apapun yang diperoleh dari minum alkohol, kalah dari kerugian yang diakibatkan. Dr. Max Griswold, pemimpin penelitian tersebut, mengatakan, “Kami telah menemukan bahwa kombinasi resiko-resiko kesehatan yang berhubungan dengan alkohol, meningkat seiring dengan konsumsi alkohol dalam jumlah berapapun” (“Study shows women in Ireland have three alcoholic drinks a day,” RTE, Ireland’s national public service broadcaster, 24 Agus. 2018). “Para ilmuwan mengumpulkan data dari 592 penelitian, dengan total 28 juta peserta, untuk mengakses data resiko kesehatan global yang terhubung ke alkohol.” “Setiap tahun, 2,2% wanita dan 6,8% pria mati dari masalah kesehatan yang berhubungan dengan alkohol, termasuk kanker, tuberkulosis, dan penyakit hati. Konsekuensi merugikan lainnya dari minum alkohol mencakup kecelakaan dan kekerasan. Secara global, minum alkohol adalah faktor resiko ketujuh untuk keseluruhan kematian prematur dan penyakit pada tahun 2016, demikian didapatkan oleh hasil penelitian tersebut.”

Posted in Kesehatan / Medical | Leave a comment

Superhero Favorit di Coastline Baptist

(Berita Mingguan GITS 01 September 2018, sumber: www.wayoflife.org)

Sangat disayangkan bahwa gereja-gereja hari ini semakin lama semakin menyerupai dunia. Hal ini bahkan terjadi di kalangan Independen Baptis juga [apalagi di gereja-gereja lain], dengan sebagian gereja semakin menuju dunia dan sikap yang kontemporer. Kami telah memperingatkan akan hal ini sejak lama, tetapi kebanyakan gembala sidang lebih senang menyembunyikan kepala di dalam pasir, dan masalah bertambah serius dari tahun ke tahun. Banyak orang yang seharusnya tahu lebih baik, terus mendukung sekolah-sekolah yang menghasilkan pengkhotbah-pengkhotbah kontemporer yang memulai gereja-gereja kontemporer, sambil berpura-pura bahwa mereka tidak mendukung posisi kontemporer. Perhatikan salah satu contoh, Coastline Baptist Church di Oceanside, California, yang digembalakan oleh Steve Chappel, saudara dari Paul Chappell, yang adalah gembala dari Lancaster Baptist Church, Lancaster, California, dan kepala dari West Coast Baptist College. Putra Paul, Matt, yang mendirikan Rock Hill Church di Fontana, California, pada tahun 2017, adalah seorang gembala muda di Coastline selama beberapa tahun setelah ia meninggalkan Lancaster, jadi Matt ini pernah dididik oleh Paul dan Steve. Paul menahbiskan Matt untuk mendirikan gereja baru pada tanggal 25 April 2016, dan men-tweet pujian untuk pekerjaan baru tersebut. Dalam sebuah blog saat pendirian Gereja Rock Hill, Paul Chappell men-tweet, “Bersyukur karena mendengar dari putra kami, Matt, bagaimana Tuhan sudah mulai bekerja sementara mereka mendirikan Rock Hill Baptist Church di Fontana, CA.” (Nama “Baptist” jarang sekali muncul dalam koneksi dengan gereja tersebut, dan sepertinya dimasukkan di sini hanya untuk dilihat kalangan tertentu.)

Robert Bakss, seorang gembala sidang yang terang-terangan memeluk rock ‘n roll, dengan filosofi emerging, yang telah menimbulkan kebingungan besar di kalangan gereja-gereja Baptis Independen di Australia, menjadi pembicara di Coastline pada tanggal 5 Februari 2017. Di website Coastline, pada halaman mengenai “Our Team,” para hamba Tuhan di sana menyampaikan super-hero favorit mereka. Gembala Sidang Worship, Ryan Gass, mem-favoritkan Wolverine; Asisten Gembala, Jon Telles, memilih Captain America; Gembala Pelajar Pelayanan, J.J. Mordh, memilih Batman; Gembala Sidang bahasa Spanyol, Jairo Dominguez, memilih Spiderman; Sekretaris Kantor, Lisa Chappel, memilih Wonder Woman. Hal-hal seperti ini adalah sinyal lampu hijau yang terang benderang kepada kaum muda di gereja tersebut untuk mencelupkan diri sepenuh-penuhnya ke hal-hal yang sensual dan duniawi, yang dilarang dalam Firman Tuhan (Ef. 5:11; 1 Yoh. 2:15-16). Tidak heran bahwa kebanyakan gereja telah mencampakkan standar berpakaian yang saleh dan sopan, ketika pikiran para pemimpinnya sendiri sudah dipenuhi oleh sampah-sampah seperti itu.

Posted in Gereja, Separasi dari Dunia / Keduniawian | Leave a comment

Para Peneliti Menemukan Bahwa Neanderthal Dapat Membuat Api Mereka Sendiri

(Berita Mingguan GITS 01 September 2018, sumber: www.wayoflife.org)

Para peniliti yang menyelidiki alat-alat yang dipakai oleh “Neanderthal,” telah menemukan bahwa mereka bisa memulai api dengan menggunakan batu api. Arkeolog, Andrew Sorensen, dari Universitas Leiden di Belanda, mengatakan, “Saya mengenali pola pemakaian seperti ini dari pekerjaan eksperimental saya dulu. … Mampu membuat api mereka sendiri memberikan para Neanderthal lebih banyak fleksibilitas dalam kehidupan mereka. Ini adalah keahlian yang telah kita duga, tetapi yang tadinya tidak kita pastikan mereka miliki” (“Neanderthals could start their own fires,” UPI, 19 Juli 2018). Ini adalah penemuan terakhir yang mematahkan klaim-klaim terdahulu kaum Darwinis bahwa Neanderthal adalah manusia gua yang hanya bisa menggeram satu terhadap yang lain. Pada tahun 1907, Ernst Haeckel, murid utama Charles Darwin di Jerman, menggambarkan Neanderthal sebagai pra-manusia, dan menaruh mereka di antara Pithecanthropus (Java Man) dan Homo Australis, yang dia sebut “ras terendah dari manusia belakangan.” Paleontologis terkenal Perancis, Marcellin Boule, percaya bahwa Neanderthal adalah suatu cabang manusia-kera yang menjadi punah tanpa menjadi “manusia modern.” Dia percaya bahwa Neanderthal berjalan dengan bungkuk, dengan lutut yang tertekuk dan mengesot, dan memiliki “hanya bahasa yang paling sederhana” (Fossil Men, 1957, hal. 251). Pada tahun 1930, Frederick Blaschke membuat model sebuah keluarga Neanderthal dalam setting gua, didasarkan pada interpretasi Boule. Mereka bungkuk, setengah berpakaian, memegang tulang-tulang, dan memiliki ekspresi wajah yang sangat bodoh. Model ini ditaruh sebagai ekshibit permanen di Field Museum of Natural History di Chicago, dan disalin di banyak sekali buku teks, ensiklopedia, jurnal, majalah-majalah populer dan koran-koran, dan museum-museum. Ini adalah pandangan yang berkuasa selama hampir setengah abad, tetapi ini bukan sains; ini adalah pembentukan mitos didasarkan pada asumsi dan spekulasi. Sejak tahun 1960an, Neanderthal telah perlahan-lahan semakin di-manusiawi-kan. Neanderthal bahkan telah diklasifikasikan ulang menjadi Homo sapiens neanderthalensis, suatu tipe “manusia modern.” Sekarang diakui bahwa Neanderthal memiliki budaya yang maju (mereka mempedulikan kaum yang sakit dan lanjut usia, menguburkan orang-orang mereka yang mati, memegang agama), membuat obat-obatan, menggunakan berbagai jenis alat, menggunakan pelekat, membuat tindik atau jarum dari tulang, membangun rumah-rumah berdinding, membuat tempat perapian untuk memasak dan kehangatan, membuat ornamen-ornamen dan patung-patung dari tulang, gigi, gading, dan kayu halus, dan memainkan suling dengan sistem musik tujuh not yang didapatkan juga dalam sistem musik Barat (Marvin Lubenow, Bones of Contention, hal. 239-244, 254-257). Apakah para evolusionis telah meminta maaf karena kesalahan yang telah mereka sebarkan di dunia? Tentu tidak sama sekali. Faktanya, barulah setelah dua dekade penuh, Chicago Field Museum mengoreksi ekshibit Neanderthal mereka yang berpengaruh namun sangat salah tersebut. Sebagaimana dikatakan oleh Melvin Lubenow di Bones of Contention, “Barulah pada pertengahan 1970an, Field Museum tersebut menurunkan ekshibit mereka yang lama yang menggambarkan Neanderthal yang mirip kera, dan menggantinya dengan Neanderthal yang tegak, yang terlihat hari ini. Apa yang mereka lakukan dengan ekshibit yang lama? Apakah mereka membuangnya ke tong sampah, tempat yang pantas untuknya? Tidak. Mereka memindahkan ekshibit lama ke lantai dua, dan menaruhnya persis di samping kerangka dinosaurus Apatosaurus yang besar, dan di sana jauh lebih banyak lagi orang – terutama anak-anak – akan melihat ekshibit lama tersebut. Mereka memberikan label pada ekshibit itu ‘Suatu pandangan alternatif tentang Neanderthal.’ Ini bukan pandangan alternatif. Ini adalah pandangan yang salah. Dan para ilmuwan sering mengklaim bahwa sains memiliki mekanisme koreksi diri sendiri. Ternyata dalam kasus Neanderthal, tidak demikian.”

Posted in Arkeologi, Science and Bible | Leave a comment

Laporan Mengidentifikasikan Lebih dari 1000 Korban Abuse Imam di Pennsylvania

(Berita Mingguan GITS 25 Agustus 2018, sumber: www.wayoflife.org)

Sebuah grand jury (Editor: di Amerika, grand jury adalah kumpulan orang yang meneliti sebuah kasus, dan menentukan apakah kasus ini layak untuk dilanjutkan ke pengadilan) telah menyimpulkan bahwa lebih dari 1000 anak-anak mengalami abuse oleh imam-imam Roma Katolik dalam enam keparokian di Pennsylvania saja, sealam beberapa dekade terakhir. Laporan itu, yang adalah hasil penyelidikan selama dua tahun, mengidentifikasi 300 imam dan “bruder” awam yang menjadi pelaku abuse, dan menemukan bukti-bukti adanya penyembunyian sistematis oleh para pemimpin gereja senior di Pennsylvania, dan di Vatikan di Roma (“Report Identifies More Than 1,000,” Associated Press, 14 Agus. 2018). Dalam sebuah konferensi berita, Penuntut Umum Pennsylvania, Josh Shapiro, mengatakan, “Penyembunyian dilakukan secara canggih. Dan, yang mengejutkan adalah, sambil itu berlangsung para pemimpin gereja menyimpan catatan mengenai abuse dan penyembunyiannya. Dokumen-dokumen tersebut, dari ‘Arsip Rahasia’ milik keparokian itu sendiri, menjadi tulang punggung penyelidikan ini.” Enam keparokian tersebut mewakili hanya setengah dari gereja-gereja Katolik di Pennsylvania. Kebanyakan korbannya adalah anak-anak lelaki. Gereja Roma Katolik di Amerika telah membayar lebih dari $2 milyar untuk menyelesaikan berbagai tuntutan hukum terhadap imam-imam yang imoral. Organisasi Bishop Accountability mengatakan bahwa lebih dari 4000 imam telah dituduh melakukan abuse terhadap anak-anak (“US Church to Pay 12.6 Million,” AFP, 11 Agus. 2008). Sebuah organisasi Katolik konservatif mendokumentasikan hal yang jahanam ini di majalah Ad Majorem Dei Gloriam, edisi musim semi/dingin 2002, dengan observasi: “… mayoritas besar kasus-kasus sexual abuse di Gereja Katolik – sekitar 90% – melibatkan imam-imam yang homoseksual yang memangsa anak-anak remaja. Media dan kebudayaan AS secara umum mau menyangkal atau menghilangkan faktor homoseksual dari skandal ini.” Dalam sebuah wawancara baru-baru ini, Kardinal Raymod Burke mengatakan, “Saya percaya bahwa ada keperluan untuk kesadaran yang terbuka bahwa kita memiliki masalah yang sangat parah, yaitu budaya homoseksual di dalam Gereja, terutama di antara para imam dan hirarki…” (“Cardinal Burke Addresses the Clergy Scandal,” Catholic Action for Faith and Family, 16 Agus. 2018). Ini bukanlah masalah yang terbatas hanya di Amerika saja. Pada tahun 2003, Gereja Roma Katolik di Irlandia sepakat untuk membayar $110 juta untuk menghindari tuntutan hukum mengenai skandal seks. Pada tahun 2013, Paus Fransiskus mengakui bahwa ada “lobi gay” yang eksis di level-level tertinggi di Katolikisme. “Dalam Curia, ada orang-orang kudus. Tetapi juga ada aliran yang korup. ‘Lobi gay’ disebut-sebut, dan memang benar, ada. Kita perlu melihat apa yang bisa kita lakukan” (“Pope Francis,” CNN Belief Blog, 11 Juni 2013). Paus waktu itu sedang merujuk kepada laporan-laporan yang muncul di koran-koran Italia, tahun 2012, yang didasarkan pada bocoran-bocoran kepada wartawan dari orang-orang dalam Vatikan. La Repubblica mengatakan bahwa ada “keimamatan level tinggi di Vatikan yang terlibat dalam skandal-skandal homoseksual.” Doktrin Roma yang mengharuskan “selibasi” adalah bertentangan dengan Firman Allah dan adalah kekacauan yang konyol.

Posted in Katolik | Leave a comment

Gereja di Kalifornia Akan Kebaktian di Tempat Pembuatan Bir

(Berita Mingguan GITS 25 Agustus 2018, sumber: www.wayoflife.org)

Gereja Greater Purpose Community, di Santa Cruz, California, sedang membangun sebuah brewery bir (tempat pembuatan bir), yang juga akan menjadi tempat pertemuan mereka. Gembala Chris VanHall mengatakan, “Saya berpikir dalam diri saya sendiri, bukankah akan hebat jika suatu gereja dapat memiliki suatu cara untuk menghasilkan suatu produk, yang hasil keuntungannya akan dibagi dengan organisasi pelayanan komunitas lokal, dan kami tersentak ‘hei, kita suka bir, kita suka membuat bir, mengapa tidak membuat suatu brewery?’” Dia mengatakan bahwa meminum beberapa botol bir dapat “membuat khotbah lebih baik.” Website gereja itu mengatakan, “[Kami] akan merangkul anda, tidak peduli apa iman anda, pilihan hidup pribadi anda, ras, seks, orientasi seks, identitas gender, preferensi politik, status sosial, atau status ekonomi.” Keuntungan dari pembuatan bir di gereja ini akan masuk ke organisasi penyedia jasa aborsi, Planned Parenthood. Ini adalah kekristenan gaya “The Shack,” yang sama sekali nihil pemahaman akan dosa, pertobatan, dan kelahiran kembali yang mengubah hidup. Hal-hal seperti itu akan dianggap “theologi yang penuh kebencian” oleh Gereja Greater Purpose Community.

Posted in Emerging Church, Gereja | Leave a comment

“Theybies”

(Berita Mingguan GITS 25 Agustus 2018, sumber: www.wayoflife.org)

Berikut ini disadur dari “Boy or girl? Parents raising ‘theybies’ let kids decide,” NBCNews.com, 19 Juli 2018: “Anak kembar berusia tiga tahun, Zyler dan Kadyn Sharpe berkeliaran di sekitar rak baju-baju anak laki dan perempuan di dalam sebuah toko yang sempit yang penuh dengan mainan. Zyler, yang sedang memakai kaus kaki panjang dengan motif pelangi, memperhatikan sepasang sendal dengan warna pink dan ungu mentereng. Kadyn, yang sedang memakai kaos T-Rex, terfiksasi pada sebuah kotak musik yang memendarkan lampu warna-warni. Sekilas nampak, satu-satunya perbedaan yang terlihat antara kedua kembar fraternal (kembar tidak identik) ini adalah rambut mereka – punya Zyler warna coklat, sedangkan Kadyn pirang. Apakah Zyler seorang anak lelaki atau perempuan? Bagaimana dengan Kadyn? Ini adalah pertanyaan, yang menurut orang tua mereka, Nate dan Julia Sharpe, hanya dapat ditentukan oleh para kembar tersebut. Pasangan dari Cambridge, Massachussets tersebut, mewakili sekelompok kecil orang tua yang kini membesarkan ‘theybies’ (bukan babies) – yaitu anak-anak yang dibesarkan tanpa dinyatakan jenis kelaminnya sejak lahir. Sebuah komunitas Facebook bagi para orang tua demikian, saat ini sudah mengklaim adanya 220 anggota di seluruh AS. … Orang tua di AS semakin sering membesarkan anak di luar dari norma-norma gender tradisional – membiarkan anak lelaki dan perempuan bermain dengan mainan yang sama dan memakai pakaian yang sama – walaupun para ahli mengatakan bahwa hal-hal ini terjadi kebanyakan di kantong-kantong yang progresif dan makmur. Tetapi hal yang membuat gaya membesarkan anak ‘gender-open’ ini mencuat, dan bahkan kontroversial dalam beberapa lingkaran, adalah bahwa orang tua tidak memberitahukan jenis kelamin anak mereka kepada siapa pun. Bahkan anak-anak itu sendiri, yang sadar akan bagian tubuh mereka dan bagaimana mereka berbeda satu sama lain, tidak diajarkan untuk mengasosiasikan bagian tubuh tersebut dengan identitas sebagai lelaki ataupun perempuan. Jika tidak ada yang tahu jenis kelamin anak itu, demikian para orang tua ini berteori, maka mereka tidak bisa dipaksakan ke dalam stereotip gender manapun.”

Posted in Kesesatan Umum dan New Age, LGBT | Leave a comment

Mata Trilobite yang Luar Biasa

(Berita Mingguan GITS 18 Agustus 2018, sumber: www.wayoflife.org)

Berikut ini disadur dari Seeing the Non-existent: Evolution’s Myths and Hoaxes, David Cloud, copyright 2011: “Trilobite adalah artropoda, yaitu binatang laut bersegmentasi dengan cangkang keras, yang telah punah. Ia pernah eksis dalam sejumlah besar variasi, dengan sekitar lima belas hingga dua puluh ribu spesies yang diketahu, berkisar dari ukuran satu milimeter hingga lebih dari 2 kaki panjangnya. Para evolusionis menempatkan trilobite di tahapan kehidupan yang paling awal, yaitu di lapisan yang mereka sebut lapisan Cambrian. Trilobite-trilobite yang paling awal dikatakan hidup 570 juta tahun yang lalu, dan mahkluk ini diperkirakan telah punah 240 juta tahun yang lalu. Ia dianggap sebagai salah satu makhluk hidup yang khas untuk zaman Paleozoic. Tulisan-tulisan evolusionistik penuh dengan berbagai ulasan tentang trilobite, bagaimana mereka ‘berevolusi,’ ‘termodifikasi,’ ‘mengembangkan mata,’ dan hal-hal lain seperti itu, tetapi tidak ada bukti untuk hal-hal ini. Bukti ilmiah bahwa trilobite berevolusi dari makhluk lain atau bahwa matanya atau organ-organ kompleks yang lain berevolusi, sama sekali tidak ada. Pandangan ini didasarkan semata-mata pada asumsi evolusionistik dan pemikiran yang mengada-ada dan bukan pada bukti yang riil. Perhatikan mata majemuk milik trilobite, yang memberikan sinyal bahwa ia adalah hasil suatu desain yang luar biasa. Clarkson dan Levi-Setti (1975) dari Universitas Chicago, memberikan pembahasan yang baik tentang optik dari lensa mata trilobite. “Ternyata, setiap lensa adalah suatu doublet, yaitu terdiri dari dua lensa, sementara bentuk perbatasan antara kedua lensa itu tidaklah mirip dengan apapun yang dipakai saat ini – baik oleh hewan maupun manusia (Shawver 1974). Tetapi, bentuk lensa dan taut muka dari kelengkungannya hampir sama persis dengan desain-desain yang diterbitkan secara independen oleh Descartes dan Huygens di abad 17. Desain mereka bertujuan untuk menghindari aberasi (kelainan) sferis dan dikenal sebagai lensa aplanatik. Levi-Setti menunjukkan bahwa lensa kedua dalam doublet di mata trilobite itu, sangatlah diperlukan agar sistem lensa bisa bekerja di lingkungan air tempat tinggal trilobite. Jadi, makhluk-makhluk yang hidup di tahapan terdahulu dari kehidupan ini menggunakan desain lensa optimal yang memerlukan prosedur keinsinyuran optisk tingkat tinggi yang dikembangkan hari ini’ (Ian Taylor, In the Minds of Men, hal. 164). Sebagian trilobite memiliki 15.000 lensa per mata, dan semuanya bekerja dalam harmoni yang sempurna untuk memberikan penglihatan yang tajam bagi makhluk yang ‘sederhana’ ini. Terlepas dari klaim evolusi bahwa ‘trilobite mengembangkan salah satu sistem visual paling canggih dalam dunia binatang,’ tidak ada bukti bahwa mata trilobite ataupun mata apapun lainnya, adalah hasil evolusi. Mata ditemukan utuh dalam banyak makhluk hidup yang terfosilisasi, bahkan dari yang dikatakan zaman-zaman terawal dari sejarah fosil, dan mata muncul sudah berkembang sepenuhnya dalah jumlah variasi yang tak terhitung, tanpa adanya bukti sama sekali bahwa satu tipe mata berevolusi menjadi tipe mata lainnya. Membariskan berbagai mata dari yang paling ‘sederhana’ hingga yang lebih ‘kompleks,’ bukanlah bukti evolusi. Deret semacam itu bisa sama kuatnya membuktikan bahwa masing-masing jenis mata didesain oleh Allah untuk makhluk yang sesuai.”

Posted in Science and Bible | 2 Comments

Roti Yehezkiel 4:9

(Berita Mingguan GITS 18 Agustus 2018, sumber: www.wayoflife.org)

Roti Yehezkiel 4:9 adalah sebuah produk komersial yang “terinspirasi” oleh ayat Alkitab sesuai namanya, yang mengatakan, “Selanjutnya ambillah gandum, jelai, kacang merah besar, kacang merah kecil, jawan dan sekoi dan taruhlah dalam satu periuk dan masaklah itu menjadi roti bagimu. Itulah makananmu selama engkau berbaring pada sisimu, yaitu tiga ratus sembilan puluh hari” (Yeh. 4:9). Pembuat roti ini menyatakan, “Kami menemukan bahwa ketika keenam jenis bahan pangan dan kacang-kacangan ini bertumbuh dan lalu digabungkan, hal-hal yang luar biasa terjadi. Suatu protein yang lengkap tercipta, yang hampir sama dengan protein yang ditemukan dalam susu dan telur.” Saya tidak meragukan sedikitpun bahwa Roti Yehezkel 4:9 adalah makanan yang sehat. Roti ini kaya akan protein, vitamin, mineral, serat alami, dan tidak menambahkan gula atau lemak. Masalahnya terletak pada klaim mereka bahwa roti ini roti yang memiliki dasar alkitabiah. Diet yang diperintahkan Allah untuk dimakan Yehezkel, bukanlah untuk kesehatan; tetapi ini adalah diet untuk menghadapi pengepungan. Perhatikan konteksnya: “Dan makananmu yang harus kaumakan akan ditentukan timbangannya, yakni dua puluh syikal satu hari; makanlah itu pada waktu-waktu tertentu. Air minumpun bagimu akan ditentukan, seperenam hin banyaknya; minumlah itu pada waktu-waktu tertentu. Makanlah roti itu seperti roti jelai yang bundar dan engkau harus membakarnya di atas kotoran manusia yang sudah kering di hadapan mereka. …Aku akan memusnahkan persediaan makanan di Yerusalem dan mereka akan memakan roti yang tertentu timbangannya dengan hati yang cemas; juga mereka akan meminum air dalam ukuran terbatas dengan hati yang gundah-gulana 17 dengan maksud, supaya mereka kekurangan makanan dan minuman dan mereka semuanya menjadi gundah-gulana, sehingga mereka hancur di dalam hukumannya” (Yeh. 4:10-12; 16-17). Yehezkiel disuruh untuk menggunakan berbagai biji dan kacang-kacangan untuk membuat rotinya, karena dalam pengepungan Babel akan Yerusalem, orang-orang harus berusaha keras menggunakan apa yang ada pada mereka. Ini adalah diet untuk masa kelaparan. Dua puluh syikal roti adalah sekitar delapan ons, dan seperenam hin air adalah sekitar dua pertiga quarts [Editor: sekitar 600 ml air]. Yeremia, seorang saksi mata, menggambarkan horor dari kelaparan yang terjadi pada pengepungan selama satu setengah tahun tersebut. Orang-orang tua mati kelaparan (Rat. 1:19). Orang-orang menukarkan barang-barang paling berharga mereka demi makanan (Rat. 1:11). Anak-anak pingsan di jalanan (Rat. 2:11-12). Orang-orang kaya mengais-ngais di tumpukan kotoran dan tumpukan sampah, mencari makanan (Rat. 4:5). Manusia menjadi tinggal tulang dan kulit (Rat. 4:8). Rasa nyeri karena lapar sedemikian keras, sehingga orang lebih memilih mati (Rat. 4:9). Ada yang memakan anak mereka sendiri (Rat. 4:10). Jika Roti Yehezkel 4:9 mau dijadikan “makanan yang alkitabiah,” maka harus dimakan tidak lebih dari 8 ons sehari, dan dimasak dengan kotoran manusia! Ada banyak diet gadungan yang mengklaim diri didasarkan pada Alkitab. Ada Diet Allah, Diet Pencipta, Diet Kejadian, Diet Daniel, Diet Eden, Diet Haleluya, Diet Advent Hari Ketujuh, dan lain-lain, tetapi kebenarannya adalah bahwa tidak ada diet yang alkitabiah, selain dari beberapa prinsip sederhana yang didapatkan dari berbagai perikop, yang dibahas secara lebih ekstensif dalam buku The Bible, Diet, and Alternative Health Care [oleh Dr. David Cloud]. Tetapi jika kita memang mencari diet yang ada dalam Alkitab, mengapa tidak diet susu dan madu saja? Empat puluh delapan kali tanah Israel disebut sebagai tanah yang “berlimpah susu dan madunya.” Sepertinya mirip dengan es krim vanilla! (Bercanda guys).

Posted in Kesehatan / Medical | Leave a comment