Perbedaan Kalvinis dengan non-Kalvinis (1)

PERBEDAAN KALVINIS DENGAN NON-KALVINIS
Bagian 1: Jika manusia harus beriman agar selamat, apakah berarti ia punya andil dalam keselamatan?
Oleh Dr. Steven E. Liauw

Ketika mendiskusikan mengenai masalah Kalvinisme, banyak terjadi salah pengertian dan debat kusir, karena tidak mengerti inti perbedaan satu pandangan dengan lainnya. Akibatnya, kedua belah pihak ngotot pada posisinya masing-masing, dan saling menyalahkan, bahkan tanpa benar-benar mengerti apa yang dimaksud oleh pihak lawan. Tentu, ini diperparah ketika suatu istilah dipakai dengan dua  pengertian yang berbeda, sehingga diskusi tidak pernah mencapai titik temu. Oleh karena itu, penting untuk mengetahui, di mana letak perbedaan yang sebenarnya, antara seorang Kalvinis dengan seorang non-Kalvinis. Seri ini akan membahas satu-persatu, perbedaan-perbedaan krusial antara Kalvinis dengan non-Kalvinis. Ada cukup banyak perbedaan, tetapi saya akan fokus kepada satu perbedaan di setiap seri.

Pertama-tama, sebelum membahas perbedaan, kita perlu melihat dulu, tentang persamaan mereka. Kalvinis maupun non-Kalvinis (yang Alkitabiah) percaya Alkitab sebagai Firman Allah dan standar kebenaran. Keduanya percaya bahwa keselamatan didasarkan pada karya pengorbanan Yesus Kristus di atas kayu salib, menggantikan manusia. Keduanya percaya bahwa keselamatan hanyalah karena kasih karunia, tanpa ada jasa atau usaha manusia di dalamnya.

Mungkin di sinilah Kalvinis mulai protes, dan menegaskan bahwa non-Kalvinis sedikit banyak mengandalkan jasa/usaha manusia untuk masuk Surga. Tetapi, itu tidak benar. Semua orang yang Alkitabiah akan mengatakan bahwa keselamatan tidaklah tergantung pada jasa/usaha manusia. Letak perbedaan sebenarnya adalah: KALVINIS MENGANGGAP IMAN PERCAYA SEBAGAI SUATU JASA/USAHA, SEDANGKAN NON-KALVINIS MENGATAKAN BAHWA IMAN PERCAYA BUKANLAH USAHA.

Bahwa Kalvinis menganggap iman sebagai suatu bentuk perbuatan baik terlihat dari pernyataan mereka. Sebagai contoh, Lorraine Boettner mengatakan: “Para bapa-bapa gereja yang awal meletakkan penekanan utama pada pekerjaan-pekerjaan baik seperti iman, pertobatan, beramal, doa-doa, tunduk kepada baptisan, dll., sebagai dasar keselamatan. Mereka tentunya mengajarkan bahwa keselamatan adalah melalui Kristus; namun mereka berasumsi bahwa manusia memiliki kekuatan penuh untuk menerima atau menolak Injil” (History of Calvinism, Lorraine Boettner, hal. 1). Jadi, Boettner memasukkan “iman” dalam satu kategori dengan amal, baptisan, dan hal-hal lain yang merupakan “pekerjaan baik.”

Hal lain yang mengindikasikan bahwa Kalvinis mengganggap “iman” sebagai suatu pekerjaan atau usaha adalah dari tuduhan mereka terhadap non-Kalvinis. Kaum Kalvinis rutin menuduh non-Kalvinis sebagai orang-orang synergist, sedangkan mereka mengganggap diri sendiri sebagai monergist. Istilah sinergi berasal dari bahasa Yunani, yaitu gabungan sun (bersama) dan ergon (kerja), yaitu bekerja sama. Dengan menuduh non-Kalvinis (yang mempercayai iman sebagai satu-satunya respons manusia yang merupakan syarat keselamatan) mempercayai sinergisme, maka Kalvinis memperlihatkan bahwa mereka menganggap iman sebagai suatu “kerja.” 

Inilah salah satu poin perbedaan mendasar antara Kalvinis dengan non-Kalvinis. Bagi orang-orang Alkitabiah, keselamatan adalah karena kasih karunia, oleh iman (Ef. 2:8). Artinya, tidak ada suatu apapun dalam diri manusia yang membuat dia pantas diselamatkan. Keselamatan adalah sepenuhnya kasih karunia. Tuhan menyelamatkan manusia bukan karena dia baik (manusia sudah bobrok dalam dosa), bukan karena dia hebat, bukan karena dia memiliki suatu hal yang menarik, bahkan bukan karena dia memiliki iman. Iman bukan dasar dari keselamatan. Kasih karunia adalah dasar dari keselamatan. Allah menyelamatkan manusia, semata-mata karena Ia berbelas kasihan, dan menaruh kasih kepada manusia.

Namun demikian, Alkitab juga tegas mengatakan, bahwa keselamatan itu adalah oleh iman. Artinya, iman adalah syarat dari keselamatan. Tuhan memutuskan untuk memberi keselamatan kepada manusia atas dasar kasih karunia, tetapi Tuhan menuntut syarat, yaitu iman. Harus dibedakan apa itu DASAR dan apa itu SYARAT.

ILUSTRASI: Ada seorang yang kaya dan baik hati, tinggal di rumahnya yang megah. Dia lalu melihat bahwa ada sejumlah anak-anak gelandangan yang tidak memiliki rumah, setiap hari tidur di bawah jembatan tidak jauh dari rumahnya. Ia lalu berbelas kasihan kepada mereka dan memutuskan untuk memberikan tempat tinggal yang layak kepada mereka. Ia memanggil mereka, lalu berkata: barangsiapa yang mencuci mobil saya, akan saya berikan tempat tinggal yang layak. Nah, di sini kita melihat, bahwa bagi seorang gelandangan yang mendapat rumah, DASAR kebahagiaannya adalah belas kasihan dari si orang kaya. Tetapi, SYARATnya adalah mencuci mobilnya. Mencuci mobil bukanlah alasan mengapa orang kaya itu mau memberikan rumah kepada anak gelandangan. Toh, mencuci mobil tidak sebanding dengan harga rumah yang akan dia berikan. Orang kaya itu sudah memiliki ALASAN/DASAR untuk memberi rumah, barulah ia mengajukan SYARAT bagi para gelandangan. ALASANnya adalah belas kasihannya, SYARAT yang dia ajukan adalah “mencuci mobilnya.” Jadi, DASAR berbeda dengan SYARAT.

Nah, kembali ke realita, Allah menyelamatkan manusia dengan DASAR kasih karuniaNya (ini adalah alasan Allah), dengan syarat manusia itu harus beriman/percaya. Efesus 2:8 menyatakan hal ini: “Sebab KARENA (alasan) kasih karunia kamu diselamatkan OLEH (syarat/cara) iman…”

Mungkin ada yang berkata: “Nah, bukankah seperti dalam ilustrasi tadi, jika ada SYARAT mencuci mobil, maka berarti perlu andil/usaha untuk mendapatkan kasih karunia itu.” Benar! Kalau syaratnya adalah “mencuci mobil,” maka ada usaha manusia. Bahkan, syarat apapun yang diajukan, mengimplikasikan adanya usaha manusia, kecuali satu syarat: percaya/beriman atau menerima.(1)

Tetapi, disinilah letak perbedaan Kalvinis dan non-Kalvinis. Kalvinis bersikukuh, bahwa jika manusia diharuskan untuk menerima kasih karunia agar selamat, maka artinya manusia memiliki andil dalam keselamatan. Manusia lalu bisa menyombongkan diri, bahwa adalah karena jasa-jasanya ia selamat. Oleh karena itu, DALAM THEOLOGI KALVINIS, IMAN BUKAN SYARAT KESELAMATAN, IMAN ADALAH HASIL DARI KESELAMATAN! Menurut Kalvinis, manusia tidak menerima kasih karunia, barulah ia lahir baru, justru ia bisa menerima/percaya karena ia sudah dilahirbarukan. Sebagai contoh, Piper mengatakan: “Kami tidak berpikir bahwa iman mendahului…..kelahiran kembali. Iman adalah bukti Allah telah melahirkan kita secara baru.”(2) MacArthur menegaskan bahwa “Regenerasi secara logis harus memulai iman.” (3) Sproul menambahkan: “Regenerasi (kelahiran kembali) bukanlah buah atau hasil dari iman. Sebaliknya, regenerasi mendahului iman, sebagai suatu syarat bagi iman.” (4)

Jadi, urutan Kalvinis terbalik dibandingkan dengan urutan Alkitab. Kalvinis mengatakan: lahir baru dulu (selamat) barulah beriman/menerima. Sedangkan Alkitab mengatakan: “Tetapi semua orang yang menerima-Nya diberi-Nya kuasa supaya menjadi anak-anak Allah, yaitu mereka yang percaya dalam nama-Nya” (Yoh. 1:12). Jadi, menurut Alkitab, menerima dulu (percaya dulu), barulah menjadi anak Allah (dilahirbarukan). Menurut Kalvinis, lahir baru adalah syarat iman. Menurut Alkitab, iman adalah syarat lahir baru. Efesus 2:8 sudah membuktikan hal ini. Ayat-ayat lain mengukuhkan hal ini: Kisah Rasul 3:19 (bertobat dulu baru dosa dihapus), Kisah Rasul 16:31 (percaya dulu, baru dosa dihapus/selamat).(5)

Tetapi kita harus kembali kepada: mengapakah Kalvinis membuat urutan yang sedemikan aneh? Dari mana mereka mendapat ide bahwa manusia lahir baru dulu, barulah beriman? Ini semua berakar dari dua konsep mereka yang salah, yaitu:
1. Bahwa manusia tidak bisa beriman/percaya tanpa lahir baru (Poin ini akan secara mendalam dibahas di seri lain).
2. Bahwa jika manusia harus beriman/menerima kasih karunia untuk keselamatannya, maka itu sama dengan keselamatan karena usaha. Poin nomor dua ini yang menjadi pokok pembahasan kita di artikel ini.

Seorang Kalvinis yang pernah berdiskusi dengan saya menyatakannya seperti demikian: “Jika saya dapat memilih untuk menerima atau menolak kasih karunia Allah, maka ketika saya masuk Surga, saya dapat menyombongkan diri, bahwa saya telah memilih untuk menerima.” Untuk memperkuat pandangannya, Kalvinis menyerang orang-orang Alkitabiah. Kalvinis berkata bahwa jika harus percaya dulu, baru selamat, maka berarti manusia menyelamatkan dirinya sendiri. Tetapi benarkah konsep ini? Sepertinya hanya Kalvinis yang berpikir demikian. Coba kita lihat dalam skenario hidup.

Ilustrasi: Ada seorang yang sangat miskin sekali. Dia tidak memiliki apa-apa, bahkan makan pun sulit. Tambahan lagi, dia tidak memiliki keterampilan apapun yang dapat dibanggakan. Suatu hari, seorang yang sangat kaya, memutuskan untuk memberikan kepada si miskin ini, suatu harta yang besar jumlahnya. Si miskin tidak perlu melakukan apapun, selain dari menerima hadiah itu. Hadiah itu gratis! Jika si miskin menerima harta tersebut, dapatkah ia berbangga, bahwa dia kini kaya karena usahanya? Dapatkah ia menyombongkan diri kepada teman-temannya bahwa ia berjasa atas kekayaan yang kini ia nikmati? Bisakah dia berdalih: “Saya hebat, karena saya memilih untuk menerima?” Dapatkah dia berkata bahwa karena dia menerima hadiah itu, dia sendirilah yang telah membuat dirinya kaya? Teman-temannya yang berpikiran sehat tentu akan berseru: “Tinggal menerima saja, itu sih bukan hebat! Itu terima bersih namanya!” Tidak seorangpun yang belum terkontaminasi Kalvinisme, akan berpikir bahwa si miskin ini memiliki jasa dalam hal itu. Juga tidak ada yang akan berkata bahwa ia menjadi kaya karena usahanya. Semua akan mengatakan bahwa dia menjadi kaya karena kasih karunia dari sang orang kaya!

Demikian juga, tidak ada satu orangpun yang belum terkontaminasi oleh Kalvinisme, akan mengatakan bahwa tindakan percaya/beriman merupakan jasa manusia dalam keselamatan. IMAN BUKANLAH USAHA/JASA! Tetapi Kalvinisme, secara sistematis menuduh bahwa kita yang mengajarkan “iman” sebagai syarat keselamatan, adalah orang-orang yang mengandalkan “usaha sendiri” atau “kehebatan sendiri” untuk masuk Surga. Tidak demikian bung! Secara logis, jika seseorang memberikan hadiah, memang harus diterima, dan tindakan menerima itu bukanlah suatu usaha atau jasa pihak penerima. Kalau ada orang-orang yang menolak hadiah tersebut, bukan berarti ada kehebatan di pihak orang-orang yang menerima, melainkan adanya kebodohan di pihak orang-orang yang menolak.

Jadi kita lihat, bahwa theologi Kalvinis, yang menyamakan iman dengan usaha, tidak sesuai dengan logika. Tetapi, logika bukanlah standar tertinggi kita. Lebih parah lagi, theologi Kalvinis ini menyalahi Alkitab. Alkitab dengan tegas menyatakan bahwa iman berbeda dengan usaha. Salah satu perikop yang jelas sekali dalam hal ini adalah Roma 4:1-6.

“Jadi apakah akan kita katakan tentang Abraham, bapa leluhur jasmani kita? Sebab jikalau Abraham dibenarkan karena perbuatannya, maka ia beroleh dasar untuk bermegah, tetapi tidak di hadapan Allah. Sebab apakah dikatakan nas Kitab Suci? “Lalu percayalah Abraham kepada Tuhan, dan Tuhan memperhitungkan hal itu kepadanya sebagai kebenaran.” Kalau ada orang yang bekerja, upahnya tidak diperhitungkan sebagai hadiah, tetapi sebagai haknya. Tetapi kalau ada orang yang tidak bekerja, namun percaya kepada Dia yang membenarkan orang durhaka, imannya diperhitungkan menjadi kebenaran. Seperti juga Daud menyebut berbahagia orang yang dibenarkan Allah bukan berdasarkan perbuatannya:” (Roma 4:1-6)

Dari ayat-ayat di atas, jelas sekali bahwa Alkitab membedakan antara PEKERJAAN atau USAHA dengan IMAN! Iman bukanlah usaha! Alkitab tegas dalam hal ini! Jadi, jika kita mengatakan bahwa “anda perlu percaya Yesus untuk lahir baru,” itu tidaklah mengajarkan keselamatan berdasarkan usaha/jasa sendiri.

Siapapun yang membaca Alkitab tanpa pernah dipengaruhi oleh Kalvinisme sebelumnya, tidak akan berkesimpulan bahwa “lahir baru” mendahului “iman.” TIDAK ADA SATU AYAT PUN YANG MENGAJARKAN LAHIR BARU DULU BARU BERIMAN. Sebaliknya, untuk mempertahankan theologi mereka, Kalvinis membuat berbagai skema yang rumit. Untuk mengakomodasi Roma 4:1-6, sebagian Kalvinis menyatakan bahwa pembenaran adalah setelah percaya, tetapi lahir baru adalah sebelum percaya.
Jadi, urutan keselamatan Kalvinis:
1. Dilahirbarukan secara pasif oleh Tuhan (Regenerasi)
2. Menjadi percaya atau beriman atau menerima
3. Dibenarkan (Justification)

Urutan demikian sungguh tidak masuk akal, karena memisahkan regenerasi dengan pembenaran. Dalam skema Kalvinis, “iman” hanyalah formalitas belaka. “Iman” hanyalah suatu buah dari keselamatan itu sendiri, sama seperti pekerjaan baik adalah buah dari keselamatan. Kalau Kalvinis benar, maka “iman” bukanlah syarat atau alasan pembenaran, karena iman itu sendiri adalah efek dari kelahiran kembali.
Artinya, secara logis Kalvinis mengajarkan:
1. Orang lahir baru dulu, baru beriman
2. Orang menjadi anak Allah dulu (lahir ke dalam keluarga Allah), baru beriman
3. Orang memiliki hidup dulu (lahir baru), baru beriman

Sebaliknya, banyak sekali ayat-ayat Alkitab yang bertentangan dengan urutan tersebut:
1. Yoh. 6:47 berkata “barangsiapa percaya, ia mempunyai hidup yang kekal” BUKAN “barangsiapa memiliki hidup menjadi percaya.”
2. Yoh. 1:12 berkata menyatakan bahwa yang menerima Yesus menjadi anak-anak Allah, BUKAN bahwa anak-anak Allah menjadi menerima Yesus.
3. Kis. 16:31 menyatakan bahwa percaya kepada Tuhan Yesus Kristus akan membawa selamat, BUKAN selamat dulu lalu akan menjadi percaya.
4. Yoh. 20:31 menyatakan “oleh imanmu memperoleh hidup dalam nama-Nya,” BUKAN memperoleh hidup agar bisa beriman. Ayat ini juga menegaskan iman sebagai SYARAT keselamatan.
5. Roma 10:13-14, percaya dulu, kemudian bisa berseru kepada Tuhan (dalam iman), lalu diselamatkan. BUKAN lahir baru dulu baru percaya.
6. 1 Kor. 4:15, orang-orang Korintus lahir baru, melalui percaya INJIL yang diberitakan Paulus. BUKAN lahir baru lalu menjadi percaya INJIL.

Dengan demikian, dapat diambil kesimpulan, bahwa:
1. Kalvinis menganggap bahwa jika iman dijadikan syarat keselamatan, itu sama saja dengan menyelamatkan diri sendiri. Iman dianggap sebagai suatu jasa atau usaha dari pihak manusia.
2. Kalvinis menganggap bahwa orang lahir baru dulu, barulah ia menjadi percaya. Iman adalah buah dari keselamatan/regenerasi.
3. Alkitab menyatakan bahwa iman adalah syarat keselamatan, kasih karunia adalah dasar keselamatan.
4. Alkitab menyatakan bahwa keselamatan oleh iman, bukanlah keselamatan oleh usaha manusia. Iman berbeda dengan usaha. Iman tidak dapat dianggap sebagai suatu jasa.
5. Alkitab menegaskan bahwa iman mendahului keselamatan, mendahului kelahiran kembali, mendahului hidup kekal, mendahului pembenaran, mendahului adopsi menjadi anak Allah.

Endnotes
(1) Saya jadikan ketiganya satu, karena memang ketiganya merujuk kepada hal yang sama. Dalam Alkitab, beriman sama dengan percaya. Keduanya adalah syarat keselamatan. Dalam Yoh. 1:12, menerima Yesus juga adalah syarat keselamatan. Artinya, beriman dan percaya pada Yesus sama dengan menerima Yesus. Dengan kata lain, iman adalah sarana untuk menerima Yesus. Kita menerima Yesus dengan cara beriman kepadaNya. Istilah “bertobat” juga satu paket dengan beriman atau menerima Yesus.

(2) John MacArthur, Faith Works (Dallas, Texas: Word Publishing, 1993), 62.

(3) John MacArthur, The Gospel According to Jesus (Grand Rapids, Michigan: Zondervan Publishing House, 1988), 172-173.

(4) R.C. Sproul, Chosen by God (Wheaton, Illinois: Tyndale Publishing House, 1986), 13.

(5) Kalvinis sering mencoba untuk menjelaskan kesulitan mereka demikian: bahwa orang lahir baru dulu, baru beriman, baru dibenarkan (diselamatkan). Tetapi ini adalah usaha menjaring angin. Adakah orang yang lahir baru, tetapi tidak selamat? Proses kelahiran kembali sudah merupakan proses keselamatan. Jadi, tetap saja menurut Kalvinis: selamat dulu, barulah beriman.

This entry was posted in Kalvinisme and tagged , , , , , . Bookmark the permalink.

33 Responses to Perbedaan Kalvinis dengan non-Kalvinis (1)

  1. Daniel Arianto says:

    Thank you so much for the biblical argument, and good explanations of the truths. May good bless Dr. Steven E. Liauw

  2. benny says:

    What’s Next:The global economy is being remade before our eyes. Here’s what’s on the horizon

    * Jobs Are the New Assets
    * Recycling the Suburbs
    * The New Calvinism
    * Reinstating The Interstate
    * Amortality
    * Africa: Open for Business
    * The Rent-a-Country
    * Biobanks
    * Survival Stores
    * Ecological Intelligence

    resource: Time Magazine 23 March 2009

    http://www.time.com/time/specials/packages/0,28757,1884779,00.html

  3. JB Damopoly says:

    Saya dr GPIB Cimanggis, dan saya kira GPIB juga calvinis, akan tetapi mengapa yang saya alami apalagi saya sebagai pengajar katekisasi, kok tidak seperti yang disampaikan. Kami mempunyai Konsep Pemahaman Iman sendiri. Dan kami juga mangaku bahwa kalau kita sungguh beriman kepada Yesus sbg Tuhan dan Juruslamat kita, maka kita memperoleh keselamatan. Iman itu dikaruniakan Allah kepada kita dan semua orang. Allah tau mana org yang ketika diberi kesempatan, menerima atau menolak, Dia tetap memberi kebebasan pd manusia utk mengambil atau menolak, sama seperti Adam dan Hawa.Demikian dulu komentar saya.

  4. Dr. Steven says:

    Pengajaran Kalvinis bahwa “Allah menentukan segala sesuatu” didokumentasikan dengan baik dalam berbagai tulisan Kalvinis yang terkenal. Banyak gereja atau individu mengaku diri Kalvinis, tanpa mengerti apa yang Kalvinisme sebenarnya ajarkan. Jika anda tidak percaya bahwa “Allah menentukan segala sesuatu,” maka mestinya anda menanggalkan sebutan sebagai Kalvinis. Untuk apa tetap memakai label Kalvinis, padahal memang sudah tidak sepaham?

    Thanks for the comments, I appreciate it,

    GBU

  5. Alfian Rano says:

    Yth: Dr. Steven E. Liauw,

    Jika kita dianugrahi-Nya untuk bisa memahami makna kedaulatan Allah, maka kita akan dapat pula memahami dari mana asalnya iman.

    GBU

  6. Agus Sani says:

    Mohon penjelasan dari ayat-ayat di bawah ini, kok rasanya mendukung dalam pemahaman doktrin “Predestinasi”. Penjelasan dari Bapak akan sangat bermanfaat buat saya, karena saya lagi menggumuli hal itu.
    John 10:26 tetapi kamu tidak percaya, karena kamu tidak termasuk domba-domba-Ku.
    John 10:29 Bapa-Ku, yang memberikan mereka kepada-Ku, lebih besar dari pada siapapun, dan seorangpun tidak dapat merebut mereka dari tangan Bapa.
    John 6:65 Lalu Ia berkata: “Sebab itu telah Kukatakan kepadamu: Tidak ada seorangpun dapat datang kepada-Ku, kalau Bapa tidak mengaruniakannya kepadanya.”

  7. hendri says:

    gereja apa sajakah yang termasuk kedalam kalvinisme?

  8. Dr. Steven says:

    Antara lain: Reformed, Presbyterian…

  9. Dr. Steven says:

    Sdr. Agus, ayat-ayat ini tidak mengajarkan predestinasi kecuali jika dibaca dari sudut pandang predestinasi.

    Tidak seorangpun bisa datang kepada Bapa tanpa dikaruniakan. Tidak ada yang salah dengan hal ini.
    Ibarat seseorang yang jatuh ke jurang. Tidak seorang pun dapat naik ke atas, jika bukan regu penolong menurunkan tali (dikaruniakan).
    Tetapi tidak berarti tidak ada tanggung jawab manusia itu untuk menerima karunia tersebut!

    Tidak ada seoranpun masuk Surga (datang kepada Bapa) tanpa karunia Bapa. Ini benar sekali! Tidak menghilangkan ratusan ayat yang menuntut tanggung jawab manusia untuk percaya dan menerima kasih karunia tersebut.

    Bapa lebih besar dari siapapun. Amin! Ini tidak ada hubungan dengan predestinasi. Tidak ada seorang pun bisa merebut apapun dari Bapa. Amin lagi!
    Tetapi, Bapa memberi syarat untuk keselamatan: yaitu yang percaya kepada Yesus Kristus.

    Kamu tidak percaya, karena bukan domba. Ya benar. Orang yang bukan domba, tidak akan percaya.
    Tetapi ayat ini tidak menghilangkan tanggung jawab manusia.
    Apakah ayat ini mengajarkan bahwa Tuhan-lah yang menentukan siapa yang percaya dan siapa yang tidak?
    Kalau begitu, Tuhan tidak benar-benar ingin semua masuk Surga?

    Tidak mungkin. Domba adalah orang yang mendengarkan suara Yesus (ay. 27), jadi ada respons manusia.

  10. Agus Sani says:

    Terima kasih Bapak Steven untuk penjelasannya, sangat bermanfaat untuk saya.
    Bagaimana kita menjelaskan ayat ini:
    1 Korintus 12:9 Kepada yang seorang Roh yang sama memberikan iman, dan kepada yang lain Ia memberikan karunia untuk menyembuhkan.

    Dari ayat di atas kan dapat juga ditafsirkan bahwa iman kita itupun diberikan oleh Roh, jadi hanya kelihatannya saja kita yang berinisiatif.

    Juga ayat di bawah ini, kelihatannya saja kita yang berinisiatif tapi sebenarnya Allah yang mengerjakan semua itu.

    Filipi 2:12-13 Hai saudara-saudaraku yang kekasih, kamu senantiasa taat; karena itu tetaplah kerjakan keselamatanmu dengan takut dan gentar, bukan saja seperti waktu aku masih hadir, tetapi terlebih pula sekarang waktu aku tidak hadir, karena Allahlah yang mengerjakan di dalam kamu baik kemauan maupun pekerjaan menurut kerelaan-Nya.

    Terima kasih Pak untuk waktu yang sudah diberikan.

  11. Esra says:

    Kenapa postingan saya dihapus?

  12. Dr. Steven says:

    Karena posting anda, atau “kutipan” anda, mengandung bahasa yang tidak sopan, tidak terdidik, dan tidak mencerminkan seorang lahir baru yang siap berdiskusi.

  13. Esra says:

    Kalau bahasanya anda tidak senang, lalu bagaimana dengan argumentasi di dalamnya? Kan itu semua mementahkan argumentasi anda kan? Apa itu tidak dijawab?

  14. Dr. Steven says:

    Silakan suruh dia buat lagi tanggapan yang “sopan” atau civilized. Saya tidak meminta dia memuji saya atau setuju dengan saya, tetapi minimal supaya ada jembatan diskusi atas dasar saling menghormati.
    Kalau ada ajakan diskusi yang sopan, saya pasti tanggapi. Tetapi saya tidak mau terlibat dalam adu mengejek, adu kasar.

  15. Dr. Steven says:

    Ya, sori agak lama balasnya Sdr. Agus.

    Mengenai 1 Korintus 12:9, bukan bicara mengenai iman dalam arti percaya yang menyelamatkan.
    Ia bicara mengenai “iman” sebagai salah satu karunia Roh.
    Jelas dari konteks bahwa bukan iman percaya yang dimaksud, karena tidak semua orang percaya mendapat “karunia iman” ini.
    “kepada yang seorang Roh memberikan iman, kepada yang lain ia memberikan [karunia lain]”
    Apakah berarti ada orang dengan karunia menyembuhkan yang tidak percaya Tuhan?
    Tidak masuk akal.
    Konteks memberitahu kita bahwa Paulus bicara mengenai suatu karunia rohani yang khusus yang disebut secara singkat “iman.”
    Apa makna dari karunia rohani ini? Ini karunia untuk melakukan hal-hal besar bagi Tuhan dengan bergantung padaNya.
    Misalnya, George Muller yang mendirikan sebuah panti asuhan di Inggris tanpa pernah minta sepeser pun kepada manusia. Sepertinya “karunia iman” seperti inilah yang dimaksud, bukan iman keselamatan. Iman percaya tentunya harus dimiliki oleh setiap orang Kristen.

    Mengenai Filipi 2:12-13, ini ayat yang menarik.
    Ada perintah: “kerjakan…”
    Tetapi ada juga penjelasan: “Allah-lah yang mengerjakan…”

    Kedua pernyataan ini pastinya benar, karena sama-sama Firman Allah.
    Jadi ada sesuatu yang harus kita lakukan, karena toh diperintahkan.
    Singkat saja: Allah yang memberi kekuatan kepada kita untuk melakukan apa yang perlu kita lakukan. Tetapi tanggung jawab untuk melakukannya tetap pada diri manusia.

  16. tumbur Lumban raja says:

    Salam sejahtera untuk semua teman-teman yang ikut ambil bagian dalam diskusi ini.
    saya tidak berkomentar tentang apa yang ditulis oleh pak Steven, tapi saya mau memberikan sedikit pesan bagi kita semua yang coment di sini. setiap kita masing-masing berhak untuk berpendapat, juga berhak untuk menentukan kita di posisi mana, dan janganlah itu karna paksaan. tetapi saya percaya, orang Kristen lahir baru yang berhikmat tidak akan memakai/menggunakan kata-kata yang tidak pantas dan melukai kasih Yesus. jauhkanlah segala bentuk hujat dan hinaan kepada pribadi dan kelompok, karena itu akan menunjukkan ketidakbenaranan anda sebagai seorang yang mengaku Kristen. tetapi ‘kebenaran’ HARUS diungkapkan, karena itu pesan Firman Tuhan.
    kiranya pesan ini akan membuat diskusi kita lebih enak dan bermanfaat. salam.

  17. Elfian says:

    Yth Bpk Steven. terima kasih untuk uraiannya
    Ada satu hal lagi yang menjadi perbedaan/perdebatan antara Kalvinis dan non-Kalvinis, yaitu “keselamatan yang tidak bisa hilang/sekali selamat tetap selamat” (Kalvinis) vs “Keselamatan bisa hilang/ harus dipertahankan”. Bagaimana pendapat bapak? mohon maaf kalau ternyata sudah Bapak bahas tapi sy mungkin belum membacanya.
    (bagian ini mohon tidak dipublikasi/ditampilkan dlm postingan: melihat ada komentar/tanggapan yg terlalu kasar thd artikel bapak, mungkin karena ada dua kata “…yang waras” yg bapak gunakan membuat orang Kalvinis tersinggung. Maaf, kalau saya di pihak mereka, pasti merasa dihakimi sbg org yg tdk berpikiran waras. mungkin bisa digunakan kata lain yg lebih halus.)
    terima kasih, Tuhan Yesus memberkati Bapak.

  18. Dr. Steven says:

    Terima kasih untuk masukannya.
    Mengenai doktrin Sekali Selamat Tetap Selamat, sudah saya bahas juga, tetapi belum saya posting. Nanti saya posting.

  19. Pingback: edvano - berbagi sukacita » Kasih Dan Keadilan Tuhan

  20. Antono Adhi says:

    Luar biasa. Heran, apa Anda yang mengaku doktor ini sudah pernah belajar tentang Calvinisme? Calvinisme tidak kayak gitu setahu saya yang notabene tidak punya pendidikan Theologi.
    Mengapa Anda berbohong tentang Calvinisme? Apa Anda pendeta? Pendeta apa boleh berbohong dan membohongi publik? Apalagi memfitnah? Gila bener.
    Apa mungkin Anda memang bodoh dan tidak tahu? Silakan baca, banyak buku tentang Calvinisme yang ditulis orang Calvinis.
    Saya tantang demi Yesus Raja Surgawi, komen saya ini tetap Anda publish. Kalau tidak berarti Dr Steven memang benar dugaan saya, seorang nabi palsu dan ini blognya nabi palsu.

  21. Dr. Steven says:

    Justru karena anda kurang membaca buku-buku Kalvinis, maka anda tidak tahu.
    Non-Kalvinis percaya bahwa iman adalah tanggung jawab manusia.
    Menurut Kalvinis, iman yang seperti itu sama dengan usaha. Makanya Kalvinis sering menuduh Non-Kalvinis sebagai “Semi-Pelagian.” Saya sudah kutipkan satu contoh, yaitu pernyataan Boettner yang mengkategorikan iman sebagai pekerjaan baik.
    Justru artikel ini membantah bahwa jika manusia bertanggung jawab untuk beriman itu digolongkan kepada keselamatan melalui usaha.
    Anda rupanya tidak bisa membantah poin-poinnya, sehingga hanya melakukan penyangkalan saja.

  22. Antono Adhi says:

    Ini Calvinis dari mana ? :
    Jadi, urutan Kalvinis terbalik dibandingkan dengan urutan Alkitab. Kalvinis mengatakan: lahir baru dulu (selamat) barulah beriman/menerima.

    Jangan bohong lah. Apalagi urutan yang Anda buat sendiri :
    Artinya, secara logis Kalvinis mengajarkan:
    1. Orang lahir baru dulu, baru beriman
    2. Orang menjadi anak Allah dulu (lahir ke dalam keluarga Allah), baru beriman
    3. Orang memiliki hidup dulu (lahir baru), baru beriman

    Dari mana asal kata ‘lahir baru’ itu? Istilah ini cuma ada di gereja karismatik. di Alkitab tidak ada. Adanya ‘dilahirkan kembali’, tidak bisa lahir sendiri. Calvin tidak pakai kata itu. Gak ngerti Calvinis arek iki, mau fitnah segala.

  23. Dr. Steven says:

    Justru kata-kata kamu sendiri membuktikan saya mengatakan apa adanya pengajaran Kalvinis.
    Untuk informasi, orang yang sekolah theologi pasti tahu bahwa “lahir baru” itu ekivalen dengan “lahir kembali.”
    Tidak ada seorangpun yang berkata ada orang yang bisa “melahirkan diri sendiri.” Kelahiran kembali/baru itu tindakan Allah, tetapi Allah menuntut suatu syarat tanggung jawab dari manusia!
    Untuk hal seperti itu jangan bingung, nanti bagaimana yang lebih dalam?

    Urutan Kalvinis bertentangan dengan Alkitab:
    “Tetapi semua orang yang menerima-Nya diberi-Nya kuasa supaya menjadi anak-anak Allah, yaitu mereka yang percaya dalam nama-Nya” (Yohanes 1:12).

    Alkitab mengajarkan:
    1. Menerima dulu (beriman) baru
    2. Menjadi Anak-anak Allah

    Ini sudah ada di artikel, jadi seperitnya kamu main komen tanpa membaca/memahami artikel yang di-komentari!

  24. Antono Adhi says:

    Bagaimana dengan ini :
    Kis 13:48 Mendengar itu bergembiralah semua orang yang tidak mengenal Allah dan mereka memuliakan firman Tuhan; dan semua orang yang ditentukan Allah untuk hidup yang kekal, menjadi percaya.

  25. Dr. Steven says:

    Ayat ini disalahterjemahkan oleh LAI. Dalam ayat ini sebenarnya tidak ada kata “Allah” sama sekali.
    Kata “ditentukan” berasal dari kata tasso, bukan proorizo, yang biasa untuk “predestinasi”
    Tasso berarti “mengatur” atau “memihak”
    Dalam ayat ini kata tasso itu bisa bentuk pasif ataupun middle.
    Ayat ini mengajarkan bahwa orang-orang yang berpihak/mengatur diri kepada hidup yang kekal, percaya kepada Firman Tuhan.
    Ini sepadan dengan ayat 46-nya:
    “Memang kepada kamulah firman Allah harus diberitakan lebih dahulu, tetapi kamu menolaknya dan menganggap dirimu tidak layak untuk beroleh hidup yang kekal”

  26. Antono Adhi says:

    Coba lihat sekali lagi Kis 13:48b versi lain:
    Bahasa sehari-hari:
    “Dan orang-orang yang sudah ‘ditentukan’ oleh Allah untuk mendapat hidup sejati dan kekal, orang-orang itu percaya.”
    King James Version:
    “and as many as ‘were ordained’ to eternal life believed.”
    Contemporary English Version:
    “Everyone who ‘had been chosen’ for eternal life then put their faith in the Lord.”
    Today’s English Version:
    “and those who ‘had been chosen’ for eternal life became believers.”
    New International Version:
    “and all who ‘were appointed’ for eternal life believed.”
    Atau yang bahasa daerah yang mungkin kamu kenal:
    Jawa:
    “Wong-wong sing pancèn wis ‘ditemtokaké’ tampa urip langgeng, nuli iya padha precaya.”
    Sunda:
    “. Eta sakur anu ku Allah geus ‘ditangtukeun’ kana hirup langgeng teh jaradi jelema anu palercaya.”
    Dari semua Alkitab yang dikenal itu, semua menulis itu kata PASIF. Kamu lebih memilih AKTIF? Apa karena kamu doktor kamu merasa lebih jago dari para ahli kitab suci? Mengatur? Semua menerjemahkan: ditentukan/dipilih. Oooo ternyata Dr. Steven lebih jago bahasa daripada para ahli Alkitab.
    Kamu ternyata lebih memilih memlintir Alkitab untuk mendukung pemikiranmu daripada pemikiran Allah?

  27. Dr. Steven says:

    Bukan Aktif, tetapi Middle. Memang secara grammatis itu dimungkinkan.
    Untuk pembahasan penuh Kisah Rasul 13, mungkin saya akan buat artikel tersendiri.

  28. Antono Adhi says:

    “orang-orang yang berpihak/mengatur diri kepada hidup yang kekal”
    Ini kata aktif nggak? Orang itu berpihak atau ditetapkan pada pihak tertentu? Mengatur atau diatur? Anak SD juga tahu kalo itu kata aktif. Ayo berani taruhan? Kamu kumpulin 100 guru bahasa Inggris, kata ‘were ordained’ atau ‘had been chosen’ itu termasuk aktif, middle atau pasif?
    Kamu itu sudah punya pemikiran sendiri, kemudian memlintir Alkitab agar sesuai dengan pemikiranmu, tidak mau tunduk kepada pemikiran Allah dalam Alkitab.
    Nggak usahlah buat artikel-artikel setan untuk memlintir Alkitab, hanya untuk menyesatkan orang Kristen. Daripada batu kilangan yang dikalungkan di lehermu tambah diperberat.

  29. Dr. Steven says:

    Kalau tidak paham, sebaiknya bertanya kepada yang lebih paham.
    Pernah belajar bahasa Yunani?
    Dari komentar kamu, sepertinya belum pernah, atau kalau sudah pernah artinya gurumu kacau luar biasa!
    Nih, saya kasih PR. Cari tahu, apa arti Middle Voice dalam bahasa Yunani! Tanya saja sama guru-guru Kalvinismu.
    Belum tahu duduk permasalahan sudah marah-marah, itu menunjukkan arogansi dan kepicikan.
    Saya bicara akademis, setidaknya kamu riset sebentar.

  30. Dr. Steven says:

    Antono Adhi, satu comment kamu dihapus karena tidak memenuhi standar. Mungkin ada forum yang mengizinkan makian dan kata-kata kasar, tetapi kami tidak forum ini tidak mengizinkan hal itu. Belajarlah untuk berbeda pendapat dengan orang tanpa harus kasar terhadap orang tersebut.
    Mengenai Middle, kalau kamu sudah paham arti Middle, maka pertanyaan kamu akan terjawab sendiri. Kalau mau bertanya kepada saya, saya akan beritahu, asal dengan rendah hati.

  31. Antono Adhi says:

    Kamu sudah bikin situs pemfitnahan, harus siap dimaki. Apalagi omong soal Islam, kamu harus siap dipenggal. Memlintir Alkitab, kamu harus siap dikalungi batu kilangan dan ditenggelamkan. Enak saja.
    Apa kamu mau ngeles pertanyaan saya? Jawab dulu Roma I:28 itu.

  32. Dr. Steven says:

    Nah, terlihatlah bahwa mental Kalvinis persis mental Islam.
    Mungkin kalau Kalvinis yang berkuasa di Indonesia ini, saya sudah dipenggal.
    Tidak heran, leluhur rohani mereka, John Kalvin, juga seperti itu. Orang yang dia anggap sesat, dia bakar, dia hukum mati.
    Sungguh berbeda dari ajaran Kristus. Sejak kapan Kristus menyuruh kita memaki orang sesat, apalagi membunuh mereka?

    He he, demi kebenaran sih saya siap dimaki, bahkan dibunuh. Tapi ini situs saya, jadi saya berhak menentukan tingkat kesopanan yang berlaku di sini. Kalau kamu maki-maki saya di rumah kamu sendiri, siapa peduli.

    Roma 1:28 justru membuktikan bahwa Allah tidak menentukan segala sesuatu. Tidak dikatakan: “Allah menentukan mereka memiliki pikiran terkutuk,” melainkan “Allah menyerahkan mereka kepada pikiran MEREKA yang terkutuk.” Pikiran itu berasal dari kehendak bebas mereka, tidak ditentukan Tuhan.

    Anehnya, kalau kamu percaya semua tindakan manusia ditentukan Tuhan, kenapa berdebat sama saya? Artinya yang saya lakukan ini semua ditentukan Tuhan.

  33. Adi Putra says:

    wah..wah.. berbahaya sekali konsep pikiran Antono Adhi ini..

    ” Memlintir
    Alkitab, kamu harus siap
    dikalungi batu kilangan dan
    ditenggelamkan.”

    Antono Adhi menuduh pihak lain memlintir Alkitab..
    apakah dia gak mikir kalo pihak lain juga dengan iman berpikir bahwa Antono Adhi lah yg memlintir Alkitab. Jadi kedua belah pihak berpikir yg sama, bahwa pihak lawan lah yg memlintir Alkitab. Jadi kalo semuanya diselesaikan dengan main penggal… apa jadinya dunia ini… semua org berpikir dia yg benar… apakah utk mempertahankan diri bahwa dialah yg benar harus main penggal?? jadi yg KUAT lah yg benar.. kalo begitu…

    nanti yg sesat pasti dihukum, tapi itu nanti di NERAKA (dipenggal berkali2, ataupun dikasi batu kilangan) bukan di dunia ini. Manusia gak berhak menghukum sesamanya karena iman yg berbeda.. karena seperti kata Tuhan Yesus lewat perumpamaan kepada muridnya, bahwa nanti di akhir jaman malaikat lah yg akan menuai “lalang” dan akan dicampakkan ke dalam api “lalang” tersebut.

    Saya sungguh gak habis pikir dengan Antono Adhi yg mengaku dirinya Kristen, kalo di luar Kristen yg maki2 tentu wajar. Tapi ini org Kristen sendiri.. yg harusnya tahu konsep ini.. kita sebagai pengikut Kristus diperintahkan utk menobatkan sebanyak mungkin org, bukan utk “menuai”. Bagaimana bisa anda menobatkan org dengan makian atau intimidasi?

    Saya sertakan ayat Alkitab tentang hari penuaian.. supaya saya gak dibilang memlintir Alkitab.. anda renungkan sendiri..

    Matius 13:36-43 Maka Yesus pun meninggalkan orang banyak itu, lalu pulang. Murid-murid-Nya datang dan berkata kepada-Nya: “Jelaskanlah kepada kami perumpamaan tentang lalang di ladang itu.”
    Ia menjawab, kata-Nya: “Orang yang menaburkan benih baik ialah Anak Manusia;
    ladang ialah dunia. Benih yang baik itu anak-anak Kerajaan dan lalang anak-anak si jahat.
    Musuh yang menaburkan benih lalang ialah Iblis. Waktu menuai ialah akhir zaman dan para penuai itu malaikat.
    Maka seperti lalang itu dikumpulkan dan dibakar dalam api, demikian juga pada akhir zaman.
    Anak Manusia akan menyuruh malaikat-malaikat-Nya dan mereka akan mengumpulkan segala sesuatu yang menyesatkan dan semua orang yang melakukan kejahatan dari dalam Kerajaan-Nya.
    Semuanya akan dicampakkan ke dalam dapur api; di sanalah akan terdapat ratapan dan kertakan gigi.
    Pada waktu itulah orang-orang benar akan bercahaya seperti matahari dalam Kerajaan Bapa mereka. Siapa bertelinga, hendaklah ia mendengar!”

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *