Para Ilmuwan Belajar Keahlian Teknik Tingkat Tinggi dari Lebah

(Berita Mingguan GITS 09 Januari 2010, diterjemahkan dari www.wayoflife.org)
Ilmuwan-ilmuwan yang mempelajari kemampuan lebah yang luar biasa untuk mendarat, mendapatkan pelajaran-pelajaran yang dapat membantu para ahli teknik mendesain pesawat otomatis generasi baru. Lebah, yang tidak pernah masuk sekolah penerbangan dan yang memiliki otak kecil berukuran biji sesawi, dapat melakukan berbagai manuver yang kompleks, mendarat dengan mulus dan tanpa salah di berbagai jenis permukaan mulai dari yang vertikal hingga yang terbalik. Lebah menunggu hingga ia tinggal sekitar setengah inci dari permukaan, kemudian ia langsung melakukan keajaiban pendaratan akrobatiknya yang dimulai dengan gerakan melayang-layang. Seorang ilmuwan neurologi di Queensland Brain Institute, di mana cara terbang lebah sedang dipelajari, mengobservasi demikian, “Ini adalah sesuatu yang tidak akan terpikir oleh seorang ahli teknik sambil ia duduk di kursi dan memikirkan bagaimana mendaratkan sebuah pesawat. Ini adalah sesuatu yang kita tidak akan pikirkan kecuali kita telah memperhatikan bagaimana lebah melakukan pendaratan” (“Why Bees Always Have a Safe Landing,” MSNBC, 23 Des. 2009). Sebagai kesimpulan kami mengutip dari Andrew McIntosh, yang memiliki gelar Ph.D dalam teori kombustio dari Cranfield Institute of Technology dan D.Sc (Doctor of Science) dalam bidang Matematika dari Universitas Wales, “Tidaklah ilmiah untuk, di satu sisi berargumen bahwa Boeing 747 jelas didesain, semantara di sisi lain menolak sama sekali bahwa telah ada suatu desain dalam penerbangan burung elang, hummingbird, atau lebah, yang jauh lebih hebat. Pikiran-pikiran manusa modern dalam media sekuler mengedepankan suatu dualitas yang tidak ilmiah ketika mereka memuji-muji kompleksitas teknis dalam mesin-mesin buatan manusia, berbangga hati dalam kemajuan-kemajuan kreatif manusia, tetapi menggambarkan kompleksitas di dunia sekeliling kita (yang sering jauh lebih rumit dari pada mesin-mesin buatan manusia) sebagai akibat dari suatu eksperimen kosmik yang tidak direncanakan, tanpa seorang Pencipta” (In Six Days: Why Fifty Scientists Choose to Believe in Creation, diedit John Ashton, 2001, hal. 166).

This entry was posted in Science and Bible and tagged , , , , . Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Your email address will not be published.