Perhiasan Neanderthal

(Berita Mingguan GITS 23 Januari 2010, diterjemahkan dari www.wayoflife.org)
Fosil-fosil Neanderthal telah sejak lama dipakai untuk mendukung mitos evolusi, tetapi sebuah penemuan baru seharusnya mengubur dalam-dalam pandangan bahwa para Neanderthal adalah makhluk-makhluk di bawah manusia yang bodoh. Kerang-kerang yang diberi cat dan dilubangi telah ditemukan di situs-situs Neanderthal di Spanyol selatan. Perhiasan tersebut, yang kemungkinan dipakai di leher Neanderthal, mengandung warna merah, kuning, oranye, dan hitam, yang dibuat dari “resep-resep yang kompleks.” Ekspesidi tersebut, yang dipimpin oleh Profesor Joao Zilhao dari Bristol University di Inggris, menyimpulkan bahwa penemuan ini menguburkan “pandangan bahwa Neanderthal itu bodoh” (“Neanderthal ‘Make-up’ Containers,” BBC News, 9 Jan. 2010). Beberapa dari kerang-kerang itu juga sepertinya adalah kontainer untuk make-up. Sebuah editorial di koran The Guardian mengatakan, “Sepertinya kita semua telah bersalah merusak reputasi manusia Neanderthal” (“In Praise of … Neanderthal Man,” 13 Jan. 2010). Ini adalah pernyataan yang hanya mengungkapkan sedikit kebenaran. Setelah penemuan tahun 1908 akan sebuah kerangka tulang Neanderthal yang hampir komplit di La Chapell-aux-Saints di Perancis, paleontologis Perancis, Marcellin Boule, mendeklarasikannya sebagai Homo neanderthalensis, yang katanya adalah nenek moyang manusia modern. Boule melaporkan ke Academy of Sciences bahwa Neanderthal mirip kera dalam banyak karakteristik, termasuk tengkorak dan “ibu jari yang berbeda.” Ia percaya bahwa Neanderthal tidak berjalan tegak lurus tetapi seperti kera dengan lutut yang dibengkokkan. Juga ditenggarai bahwa manusia Neanderthal tidak dapat berbicara, hanya mengeluarkan bunyi-bunyi geraman. Pada tahun 1930, Frederick Blaschke membuat model sebuah keluarga Neanderthal dalam setting sebuah gua, berdasarkan interpretasi Boule. Mereka digambarkan bungkuk, setengah berpakaian, sambil menggenggam tulang belulang, dan memiliki ekspresi yang sangat tidak intelijen. Model ini dipasang sebagai displai permanen di Field Museum of Natural History di Chicago dan telah diperbanyak di buku-buku teks, ensiklopedi, jurnal, majalah-majalah populer, koran-koran, dan museum-museum yang tak terhitung lagi jumlahnya. Pada tahun 1919, H.G.Wells menulis, “[Neanderthal], memang, bukanlah sepenuhnya manusia” (The Outline of History). Ini adalah mitos yang merajalela selama lebih dari setengah abad dan yang disebarkan ke ujung dunia oleh mesin propaganda evolusi. Baru-baru ini mulai diakui bahwa para Neanderthal membuat berbagai perkakas dan senjata, menguburkan anggota mereka yang meninggal, memakai api, membangun tempat berteduh yang kompleks, menguliti binatang, membuat alat-alat musik, berbicara, dan meninggalkan berbagai bukti lainnya bahwa mereka adalah manusia “sejati.” Seharusnya sudah jelas dari semulabahwa mereka ini bukanlah manusia-kera yang bodoh, karena bahkan di awal abad ke-20 sekalipun ada banyak suku-suku “zaman batu” yang hidup dan mirip Neanderthal dalam potongannya dan struktur tengkoraknya, tetapi yang jelas adalah manusia sepenuhnya. Faktanya, para paleoanthropologis yang terlibat telah dibutakan oleh semangat evolusi mereka. Mereka melihat apa yang mereka ingin lihat.

This entry was posted in Science and Bible and tagged , , , , . Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *