Ketika Ilmu Pengetahuan Salah

(Berita Mingguan GITS 05 Juni 2010, diterjemahkan dari www.wayoflife.org)
Berikut ini dari Daryl Witmer, ChristianAnswers.net: “Pada tanggal 1 Juli 1818, seorang anak lelaki kecil lahir di Budapest, Hungaria. Ibunya memberikan dia nama Ignaz. Sambil anak itu tumbuh dewasa, minatnya kepada pengobatan dan ilmu pengetahuan juga bertumbuh. Akhirnya ia menjadi seorang dokter. Pada saat ia bekerja di Rumah Sakit Umum Vienna, Ignaz menyaksikan banyak sekali korban yang meninggal karena demam setelah melahirkan. Perlahan-lahan ia mulai mencurigai bahwa resiko meningkat jika ada orang yang berhubungan dengan penderita demam lainnya. Dengan berjalannya waktu, kecurigaannya berubah menjadi keyakinan yang mantap. Berpikir bahwa para dokter di rumah sakit dengan cara tertentu membawa penyakit tersebut dari ruang otopsi mayat dan menularkannya kepada para wanita di ruang bersalin, Ignaz memerintahkan agar semua dokter di bawah dia mencuci tangan mereka sampai bersih di cairan limau yang ber-klorin sebelum mereka memeriksa pasien. Ini adalah tindakan yang radikal dan kontroversial, dan menyebabkan banyak masalah bagi dokter muda tersebut. Harus diingat bahwa Ignaz mengambil pendirian ini bertahun-tahun sebelum Louis Pasteur, dengan mikroskopnya, mendokumentasikan secara ilmiah bahaya dari bakteri-bakteri menular. Tidak usah diragukan lagi, pada zaman Ignaz hidup, posisi radikal seperti ini tidaklah benar menurut ilmu dan politik saat itu. Karenanya, tekanan yang begitu besar ditimpakan kepada orang muda tersebut. Ia diolok-olok, dikejar-kejar, dan bahkan diserang dengan ganas. Karakternya dihitamkan habis-habisan. ‘Ignaz tua yang gila’ menjadi julukan yang diberikan kepadanya oleh tua dan muda yang bertemu dia di mana saja dia pergi. Walau demikian, ia mempertahankan posisinya, sama sekali sendirian – satu orang melawan seluruh komunitas ilmu pengetahuan pada zamannya. Tidak ada – satu pun tidak – yang setuju dengan dia. Ia secara universal dianggap seorang yang gila. Pada akhirnya, walaupun ia tidak pernah menyerah dalam bidang ilmu pengetahuan, tekanan yang luar biasa dan tak henti-hentinya itu, akhirnya mengalahkan dia. Ignaz menjadi gila. Kematiannya menyusul pada tanggal 1 Agustus 1965. Pada umur 47 tahun, Ignaz Philipp Semmelweis sudah berada pada kebenaran yang sebenar-benarnya, walaupun seluruh dunia dan ahli ilmu pengetahuan waktu itu berpikir sebaliknya. Tidak lama setelah itu, Joseph Lister melakukan operasi antiseptik-nya yang pertama, dan Semmelweis, yang belum genap setahun meninggal, sudah mendapatkan pembenarannya” (When Science Errors: The Oft Times Lonely Stand for Truth,” http://aiia.christiananswers.net/resources/thoughtletters/27/).

This entry was posted in Science and Bible and tagged , , , , , , , . Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Your email address will not be published.