Perpuluhan dengan Iman

(Berita Mingguan GITS 26 Juni 2010, diterjemahkan dari www.wayoflife.org)
Satu-satunya cara untuk menjalankan perpuluhan secara efektif adalah dengan mempraktekannya dengan iman. Kita harus percaya akan janji-janji Allah walaupun dalam waktu-waktu kesusahan. Dan kita harus ingat bahwa Allah menguji iman untuk melihat apakah iman itu nyata dan untuk membuatnya lebih kuat lagi (Yak. 1:2-4). Banyak kali jika seorang Kristen memutuskan untuk mulai memberikan perpuluhan, ia akan menghadapi masalah-masalah finansial yang akan menguji keputusannya itu. Almarhum John. R. Rice menceritakan tentang seorang penginjl bernama Kuykendahl di Texas pada awal abad 20. Ia memiliki pelayanan keliling dari satu gereja ke gereja lain dan persembahan yang diterima sangat kecil, sedemikian rupa sehingga keluarganya yang besar sulit untuk mencukupi diri. Satu tahun, seorang pebisnis yang kaya mengunjungi daerah itu dan membagikan kesaksiannya di beberapa gereja, dan penginjil Kuykendahl adalah tuan rumahnya, membawa dia dari satu kebaktian ke kebaktian lainnya di kereta kudanya. Antara lain, pebisnis itu menantang uma tuntuk belajar memberikan perpuluhan. Sambil mereka berperjalanan, pebisnis itu bertanya kepada sang penginjil apakah dia percaya dalam hal memberikan perpuluhan. Ia menjawab, “Ya, saya akan sangat senang memberi perpuluhan, tetapi saya sangat miskin dan saya harus mengurusi keluargaku yang besar.” Pebisnis itu menjawab, “Saya akan memberikan penawaran bagi anda. Jika anda mau memberi perpuluhan selama satu tahun penuh, saya akan bertindak sebagai penjamin anda. Jika kapan saja dalam satu tahun itu anda tidak dapat membayar tagihan-tagihanmu dan tidak ada jalan keluar lain lagi, hubungi saya dan saya akan mengirimkan uang yang diperlukan. Saya orang yang kaya, dan saya juga pegang janji.” Kuykendahl dengan antusias menjawab, “Saya dengan senang hati akan menerima tawaran anda ini.” Penginjil itu menepati janjinya dan memberi persepuluhan dengan setia, tetapi ia tidak pernah perlu menghubungi si pebisnis itu. Pada akhir 12 bulan, si penginjil sedang merenungkan apa yang telah terjadi. Allah telah memberkati dia dengan baik tahun itu dan memenuhi setiap kebutuhan. Orang-orang memberikan kepada dia lebih dari sebelum-sebelumnya, dan keluarga itu mengalami banyak berkat khusus. Sambil dia memikirkan hal-hal ini, hatinya tiba-tiba terpukul ketika ia menyadari bahwa dengan siap ia mau percaya kepada kata-kata seorang pebisnis tetapi ia tidak rela untuk bersandar kepada Firman Allah yang hidup, yang telah memberikan janji-janji yang bahkan lebih hebat lagi! “
Berilah dan kamu akan diberi: suatu takaran yang baik, yang dipadatkan, yang digoncang dan yang tumpah ke luar akan dicurahkan ke dalam ribaanmu. Sebab ukuran yang kamu pakai untuk mengukur, akan diukurkan kepadamu” (Luk. 6:38).

This entry was posted in Renungan and tagged , , , , , , . Bookmark the permalink.

1 Response to Perpuluhan dengan Iman

  1. hijanto says:

    orang yg percaya jangan memaksa orang yang tak percaya .
    orang tak percaya jangan apriori dengan yang percaya..inilah toleransi/ kasih

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *