Tidak Sabar dengan Pasien yang Tidak Mau Mati

(Berita Mingguan GITS 05 Juni 2010, diterjemahkan dari www.wayoflife.org)
Berikut ini disadur dari Rebecca Hagelin, “Impatience with Patients,” Washington Times, 24 Mei 2010: “Suau malam saya menerima telpon dari keluarga saya di Florida bahwa Ayah sedang sekarat. Saya disuruhuntuk ke sana sesegera mungkin. Suami dan anak-ank saya segera berangkat, dan kami khawatir akan berjumpa ayah terakhir kali. Ayah dalam kondisi yang buruk. Jantungnya sangat payah, ginjalnya mulai gagal, dan ia memiliki organ hati yang rusak. Dari saat pertama kami masuk ke rumah sakit, seorang perawat menarik saya dan memberitahu saya untuk menandatangani surat ‘jangan melakukan resusitasi.’ ‘Jika jantungnya berhenti,’ dia berkata, ‘adalah kejam dan menyakitkan untuk mencoba membangkitkan dia kembali dalam kondisinya saat ini.’ Saya memberitahunya dengan tidak ragu-ragu bahwa saya tidak akan menandatangani instruksi tersebut. Perawat tersebut juga mendekati saudari saya dengan intensitas yang sama. Saya dengan cepat menemukan bahwa seorang teman keluarga juga dipepet di lorong dan diberitahu bahwa ia harus meyakinkan seorang anggota keluarga untuk menandatangani instruksi tersebut. ….Saya tidak akan pernah lupa bagaimana ayah saya memandang kepada saya dengan mata yang cemas sambil ia menceritakan kepada saya bagaimana ia didatangi banyak kali oleh staf untuk menandatangani instruksi tersebut. ….Ayah saya akhirnya pulang setelah beberapa hari kembali ke keluarganya. Tadinya para staf medis berpikir ia akan mati kapan saja. Tetapi mereka salah….Ia mulai sembuh: Fungsi ginjalnya bertambah baik dua kali lipat, hatinya kembali sehat, dan jantungnya menjadi cukup kuat sehingga ia menjalani penanaman alat pacu jantung yang memberikan kehidupan baru baginya. Karena kami kuat dalam kepercayaan kami bahwa kehidupan itu berharga, bahwa para pengerja medis profesional tidak boleh menahan prosedur dasar yang dapat menyelamatkan hidup, Ayah memiliki kesempatan untuk hidup. Ayah saya adalah seorang dokter selama hampir 45 tahun. Selama prakteknya, ia melihat dengan penuh tidak percaya bagaimana kedokteran berubah dari suatu ‘seni menyembuhkan’ yang berfokus pada ‘kebaikan pasien’ menjadi suatu ‘ilmu’ yang bekerja bagi ‘kebaikan masyarakat.’….Saya pertama kali membagikan cerita tentang ayah saya ini beberapa tahun yang lalu, tetapi sangatlah relevan dengan apa yang terjadi hari ini. Gerakan euthanasia telah menembus dunia kedokteran bertahun-tahun lamanya, dan dengan semakin banyak pemerintah yang mengambil alih bidang kesehatan, maka jelaslah orang-orang yang tua dan yang sangat sakit akan menjadi korban pembagian ransum kesehatan.”

This entry was posted in Science and Bible and tagged , , , , . Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Your email address will not be published.