Inti dari Separasi (Pemisahan)

(Berita Mingguan GITS 28 Agustus 2010, diterjemahkan dari www.wayoflife.org)
Sebab itu jauhilah nafsu orang muda, kejarlah keadilan, kesetiaan, kasih dan damai bersama-sama dengan mereka yang berseru kepada Tuhan dengan hati yang murni.” Kita melihat di 2 Timotius 2:22 bahwa separasi bukanlah isu yang hanya “negatif,” jangan ini dan jangan itu. Separasi adalah masalah perlindungan rohani dan moral. Timotius disuruh untuk menjauhi “nafsu orang muda.” Gambarannya adalah orang yang melarikan diri dari suatu bahaya yang besar. Allah tidak ingin melarang hal-hal yang menyenangkan dari umatNya. Dia adalah pencipta dari segala pemberian yang baik (Yak. 1:17). Ketika Ia menciptakan Adam dan Hawa, Ia menaruh mereka di Taman yang paling indah yang dapat dibayangkan. Ia mendesain-nya bagi mereka untuk menyediakan segala sesuatu yang indah dan menyenangkan. Allah bukanlah pribadi yang kejam yang mau menyiksa orang dengan hukum-hukum yang tidak berarti. Allah adalah Pribadi yang paling pemberi dan pengasih yang eksis. PerintahNya agar kita memisahkan diri dari hal-hal yang jahat dalam dunia didesain untuk melindungi kita dari kehancuran rohani dan moral. Perintah itu didesain untuk meloloskan kita dari genggaman Iblis. Dalam 2 Timotius 2:22 kita juga diingatkan bahwa separasi adalah masalah hati. Timotius disuruh untuk mengejar keadilan (kekudusan) bersama “dengan mereka yang berseru kepada Tuhan dengan hati yang murni.” Jika hati benar, maka orang percaya itu akan merespons secara positif terhadap perintah Tuhan untuk memisahkan diri dari kejahatan. Sebelum saya diselamatkan, saya membiarkan rambut saya panjang sebagai simbol pemberontakan dan kesombongan. Saya menolak untuk memotong rambut saya itu, demi uang maupun demi cinta, tetapi setelah saya diselamatkan saya memotongnya setelah saya ditantang oleh seorang wanita tua bahwa rambut panjang tidak pantas bagi seorang muda yang mengklaim diri pengikut Kristus. Saya memotongnya karena hati saya benar dengan Allah dan saya mau melakukan kehendakNya bukan kehendak saya sendiri, dan saya tidak mau menjadi batu sandungan bagi orang lain. Kita juga melihat dalam 2 Timotius 2:22 bahwa separasi adalah masalah menggantikan sesuatu dengan hal lain. Timotius bukan hanya diinstruksikan untuk menjauhi hal-hal yang dosa, tetapi juga untuk “mengejar” hal-hal yang saleh. Tidak cukup untuk melepaskan musik yang sensual dan duniawi dan fashion duniawi dan teman-teman yang akan menghalangi pertumbuhan rohani; anak Allah harus menambah teman-teman yang saleh dan musik yang rohani dan literatur yang membangun dan aktivitas yang baik dan menjadi sibuk dalam pelayanan bagi Kristus.

This entry was posted in Fundamentalisme, Separasi dari Dunia / Keduniawian and tagged , , , . Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *