Natal yang Imajinatif

(Berita Mingguan GITS 25 Desember 2010, diterjemahkan dari www.wayoflife.org)
Berikut ini oleh Brian Snider “Salah satu definisi dari kata ’embellish’ (membesar-besarkan) adalah ‘meningkatkan daya tarik suatu cerita dengan menambahkan detil-detil yang tidak benar.’ Entah mengapa, kisah kelahiran Kristus banyak sekali ditambah-tambahkan dan dibesar-besarkan lebih dari kisah-kisah Alkitab lainnya. Namun demikian, adalah hal yang menakutkan untuk menambahi kepada Firman Tuhan, apapun alasannya dan walaupun seolah-olah hanyalah menambahi detil-detil yang sepertinya tidak berbahaya. Bulan ini, program “Insight for Living” yang dikelola Chuck Swindoll menayangkan suatu seri yang berjudul “Natal yang Imajinatif.” Judul itu sangat cocok. Di dalam kisah Natal versi Swindoll tersebut, Yusuf dan Maria masih sangat muda (Maria 13 tahun, Yusuf 20 tahun) dan ketika kehamilan Maria diketahui, dia dalam ancaman pembunuhan-karena-kehormatan oleh keluarganya. Fakta bahwa dia bangkit dan ‘pergi ke pegunungan dengan segera’ adalah karena, kata Swindoll, dia sedang lari menyelamatkan nyawanya dan bersembunyi. Swindoll menambagi dialog yang terjadi antara pemilik penginapan dan istrinya dan juga dialog yang terjadi antara keluarga Maria. Ia menciptakan suatu karakter ‘rabbi yang berkompromi’ yang menikahkan mereka dan turut ambil bagian dalam banyak bagian lain dari kisah itu yang tersembunyi selama 2000 tahun ini (misalnya, Maria mengalami persalinan yang sulit dan terbaring di lantai). Tentu saja, Swindoll mempersembahkan detil-detil tambahan ini hanyalah sebagai suatu skenario yang mungkin terjadi, tetapi ia begitu hebat sebagai seorang pencerita, sehingga mampu menciptakan gambaran mental akan kejadian-kejadian fiktif ini, sehingga sulit untuk keluar dari pikiran para pendengarnya. Tidak mau kalah dari para Injili, gembala sidang Baptis Independen Jack Schaap juga memiliki versinya sendiri tentang kisah Natal yang dia sangat yakini. Mungkin anda tidak tahu selama ini bahwa Maria adalah seorang wanita tua – perawan tua, dan Yusuf adalah seorang kakek-kakek renta. ‘Teks di luar Alkitab memberitahu kita bahwa Yusuf mati saat berusia 110 tahun,’ kata Schaap. Maria dan Yusuf berpikir bahwa mereka tidak mungkin menikah dan merasa sangat beruntung dapat menemukan satu sama lain. Yusuf telah dilewati oleh banyak gadis….dia hidup di sebuah gubuk’; dia adalah ‘yang tidak ada apa-apa yang sedang mencari siapa saja dan menemukan….Maria.’ Maria ‘bukanlah gadis idaman tahun itu’; dia adalah ‘salah satu berkat yang tidak diklaim orang…paruh baya, berkeriput, pundak bongkok, rambut rontok.’ Anda meragukan versi cerita ini? ‘Fakta seringkali lucu,’ bantah Schaap. Ulangan 4:2; Amsal 30:5,6 dan Wahyu 22:18 adalah peringatan-peringatan yang serius untuk tidak menambahi Firman Allah, atau memberikan detil-detil mitologis dalam khotbah yang dianggap serius. Dengan banyaknya mitos akan Natal, baiklah kita yang mengasihi Tuhan dan FirmanNya berpegang erat pada Alkitab dan tidak meninggalkan kebenaran yang jelas kita temukan di dalamnya.”
EDITOR: Salah satu mitos Natal yang paling populer adalah bahwa Kristus lahir tanggal 25 Desember. Ada lagi mitos bahwa orang Majus datang bertemu bayi Yesus di palungan, atau bahwa merea bertemu dengan para gembala. Terlalu banyak orang Kristen yang tidak tahu Alkitab yang mengikuti mitos-mitos Natal ini. GBIA Graphe memutuskan untuk memperingati kelahiran Yesus setepat-tepatnya, bukan di bulan Desember, tetapi di bulan Juni.

This entry was posted in General (Umum) and tagged , , , , , , . Bookmark the permalink.

1 Response to Natal yang Imajinatif

  1. Pingback: Natal yang Imajinatif | Semarang-Ministry

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *