MENGHAKIMI ATAU TIDAK MENGHAKIMI?

Oleh: Dr. Steven E. Liauw
Purek Akademis GITS
Salah satu hal yang sering saya dengar dari orang-orang Kristen, ketika saya sedang berdiskusi Alkitab dengan mereka, terutama ketika saya menunjukkan kesalahan mereka, adalah seruan: “Jangan menghakimi!” Gereja-gereja Alkitabiah, seperti Graphe, sering dicap sebagai gereja yang “menghakimi gereja lain.” Tuduhan ini akhirnya menjadi sesuatu yang klise, dan menjadi jalan lari bagi mereka yang sudah merasa doktrin mereka tersudutkan oleh ayat-ayat Alkitab, atau yang tidak berminat sama sekali untuk menyelidiki kebenaran dari Kitab Suci. Demikianlah ketika kita mengatakan bahwa Gereja Roma Katolik salah dalam pengajaran keselamatan mereka, kita dituduh sebagai orang yang “sok menghakimi.” Atau ketika menunjukkan kepada seorang “hamba Tuhan” wanita, bahwa sesuai dengan 1 Tim. 2:11dst, ia tidak dipanggil oleh Tuhan untuk berkhotbah di kebaktian umum, apalagi menjadi “pendeta,” maka kita diberitahu untuk “jangan menghakimi orang lain!”

Karena hal ini muncul dengan begitu kerapnya, maka sungguh penting bagi setiap orang percaya untuk mengerti benar mengenai masalah “menghakimi” dalam Alkitab. Benarkah bahwa orang Kristen tidak boleh menghakimi? Apakah ini sama dengan tidak boleh menyatakan kesalahan orang lain? Kesalahpahaman mengenai masalah ini begitu besar, sehingga banyak orang yang akan kaget jika diberitahu:

1. Tuhan Menyuruh Orang Percaya untuk Menghakimi

Banyak orang Kristen tidak pernah membaca Yohanes 7:24, yang berisi perintah Yesus: “Janganlah menghakimi menurut apa yang nampak, tetapi hakimilah dengan adil.” Walaupun Tuhan Yesus tidak merincikan tentang cara menghakimi yang benar, tetapi jelas sekali bahwa Tuhan mengizinkan, dan bahkan mengharapkan, bahwa orang percaya menghakimi dengan adil. Bertentangan dengan opini umum, orang percaya bukan tidak boleh menghakimi! Sebaliknya, ORANG PERCAYA DIHARAPKAN UNTUK MENGHAKIMI DENGAN ADIL.

2. Arti Kata “Menghakimi”

Di dalam benak banyak orang, kata “menghakimi” memiliki konotasi yang negatif. Bahkan, ada orang mengidentikkan “menghakimi” dengan “menghukum.” Seorang Kristen pernah bertanya kepada saya demikian: “Saya sudah percaya Yesus Kristus, lalu kenapa setelah saya mati, saya masih akan dihakimi lagi oleh Tuhan.” Pertanyaan ini muncul ketika saya menerangkan bahwa setelah Hari Pengangkatan (Rapture), akan ada Pengadilan Kristus (1 Kor. 3:10-15; 2 Kor. 5:10). Bapak tersebut menyamakan “penghakiman” dengan “penghukuman” sehingga merasa kaget akan “dihukum” lagi di Surga.

Persoalan menjadi jelas ketika kita mengerti arti kata “menghakimi” yang sesungguhnya. Untuk itu, kita harus menyelidiki kata apa yang dipakai oleh Roh Kudus dalam Kitab Suci bahasa asli (Yunani untuk Perjanjian Baru). Kata krino (Yunani) adalah kata utama yang diterjemahkan “menghakimi” dalam bahasa Indonesia. Kata krino ini muncul 114 kali dalam 98 ayat Perjanjian Baru, dan 88 kali diterjemahkan “judge” dalam King James Version. Selain diterjemahkan “judge” (menghakimi dalam bahasa Indonesia), krino terkadang diterjemahkan “memutuskan” (Luk. 12:57; Kis. 20:16; 25:25; 1 Kor. 2:2), “berpendapat” (Kis. 3:13; Luk. 7:43), “menganggap” (Roma 14:5), atau “mempertimbangkan” (1 Kor. 10:15). Jadi kita lihat bahwa “menghakimi” (krino) dapat memiliki beberapa konotasi arti.

Selain kata krino, ada juga turunan dari krino. Dua kata turunan krino yang paling signifikan adalah anakrino dan katakrino.1 Anakrino berasal dari gabungan krino dan preposisi ana, dipakai sebanyak 16 kali dalam Perjanjian Baru, Anakrino diterjemahkan “menghakimi” sebanyak tiga kali (1 Kor. 4:3 [2]; 4:4), dan paling sering diterjemahkan “memeriksa” atau “diperiksa” (Luk. 23:14; Kis. 4:9; 12:19; 24:8; 18:18; 1 Kor. 10:25, 27). Selain itu, anakrino juga diterjemahkan “menyelidiki” (Kis. 17:11; 1 Kor. 14:24), “menilai” (1 Kor. 2:14, 15 [2]), dan “mengeritik” (1 Kor. 9:3).

Katakrino (gabungan dari krino dan preposisi kata) dipakai 19 kali dalam Perjanjian Baru, dan LAI menerjemahkannya menjadi “menghukum” atau “memberi hukuman.” Hanya satu kali saja katakrino diterjemahkan “menghakimi” (Roma 2:1).

Jadi, dari riset kata di atas, kita mendapatkan bahwa kata “menghakimi” dalam Alkitab bahasa Indonesia berasal dari kata krino (sebagian besar) atau turunannya anakrino dan katakrino (sebagian kecil). Kita mengetahui pula bahwa kata krino dan turunannya memiliki rentang arti yang cukup luas, antara lain “memutuskan,” “berpendapat,” “menganggap,” “mempertimbangkan,” “memeriksa,” “menilai,” dan “menghukum.” Semua definisi ini memiliki persamaan dan berpusar pada satu poros inti. Dapat disimpulkan bahwa kata krino, memiliki pengertian dasar “memutuskan atau membuat penilaian tentang sesuatu.” Itulah inti dari “menghakimi,” yaitu membuat penilaian akan sesuatu. Pengertian ini muncul dalam berbagai bentuk, apakah “menilai,” “memeriksa,” atau “mempertimbangkan.” Semua ini adalah krino. Ketika Paulus mengajarkan bahwa “manusia rohani menilai segala sesuatu,” (1 Kor. 2:15) ia sama saja berkata bahwa “MANUSIA ROHANI MENGHAKIMI SEGALA SESUATU.”

Orang-orang yang berkata bahwa “orang Kristen tidak boleh menghakimi,” sama sekali tidak mengerti arti kata “menghakimi.” Kita bisa bertanya balik, apa maksud anda “tidak boleh menghakimi.” Apakah orang Kristen tidak boleh punya penilaian tentang apapun juga? Apakah orang Kristen tidak boleh berpendapat? Apakah orang Kristen tidak boleh memeriksa? Mereka yang dengan buta berkata “jangan menghakimi” sama saja berkata: “orang Kristen tidak boleh menilai apa-apa,” atau “orang Kristen tidak boleh memiliki pendapat tentang apapun.” Ketika seseorang berpendapat tentang sesuatu hal, maka ia sudah melakukan penghakiman! Adalah sesuatu yang sangat konyol, jika ada yang secara universal melarang untuk “menghakimi.”

Sekali lagi kita lihat, kata “penghakiman” sebenarnya berbeda dengan kata “penghukuman.” Walaupun demikian, dalam konteks tertentu, “penghakiman” dapat disamakan dengan “penghukuman.” Misalnya, pernyataan bahwa Allah akan “menghakimi” dunia. Menghakimi di sini dapat disamakan dengan “menghukum,” karena Allah akan menilai dunia, dan mendapatkannya jahat, dan tentu akan menghukumnya.

Jadi, apakah seseorang senang dihakimi atau tidak, tergantung kepada status dirinya. Orang percaya akan menghadap takhta pengadilan Kristus suatu hari, untuk dihakimi Tuhan mengenai pekerjaannya (bukan masalah keselamatan). Orang yang sudah bekerja sekuat tenaga bagi Tuhan sesuai FirmanNya, akan mendapat sukacita pada hari itu, ketika Tuhan berkata: “Baik sekali perbuatanmu itu, hai hambaku yang baik dan setia.” Sebaliknya, orang yang menyia-nyiakan hidupnya, atau yang “melayani” bertentangan dengan Firman Tuhan, justru akan malu pada hari itu. Jadi, penghakiman tidaklah selalu hal yang buruk! Itu tergantung pada orang atau hal yang dihakimi atau dinilai!

3. Alkitab Melarang Menghakimi Hanya Dalam Konteks Tertentu

Ayat yang paling sering disalahgunakan dalam hal “menghakimi” adalah Matius 7:1, “Jangan kamu menghakimi, supaya kamu tidak dihakimi.” Terlalu banyak orang, yang tanpa pengertian dan sekedar membeo, memakai ayat ini untuk bersembunyi dari kebenaran, seolah-olah ayat ini memberi mereka hak untuk mengabaikan teguran-teguran dan nasihat-nasihat yang menyatakan kesalahan mereka.

Dalam menafsir Alkitab, salah satu prinsip yang paling penting adalah bahwa penafsir harus selalu memperhatikan konteks. Apakah Matius 7:1 melarang segala jenis penghakiman? Prinsip lain dalam penafsiran Alkitab adalah bahwa Alkitab konsisten secara internal. Tidak ada ayat-ayat yang bertentangan. Oleh karena itu, jika Tuhan memerintahkan, mengharapkan, dan mengizinkan orang percaya untuk menghakimi di bagian Firman Tuhan lain, maka ayat ini tidak mungkin melarang semua jenis penghakiman. Dan setelah meneliti konteks Matius 7:1-5, maka jelaslah bahwa dalam perikop ini TUHAN MELARANG PENGHAKIMAN YANG MUNAFIK. Hal ini terlihat jelas dari nasihat Tuhan: “keluarkanlah dahulu balok dari matamu.” Tuhan tidak ingin orang yang hanya ingin mengorek kesalahan orang lain sebagai suatu serangan, padahal dirinya melakukan kesalahan yang sama dan yang lebih besar lagi.

Prinsip yang sama (internal consistency dan konteks) dapat kita terapkan pada perikop-perikop lain yang melarang orang percaya untuk menghakimi. Sekilas Paulus sepertinya tidak mau orang Korintus menghakimi sebelum kedatangan kedua Kristus (1 Kor. 4:5). “Karena itu, janganlah menghakimi sebelum waktunya, yaitu sebelum Tuhan datang. Ia akan menerangi, juga apa yang tersembunyi dalam kegelapan, dan Ia akan memperlihatkan apa yang direncanakan di dalam hati. Maka tiap-tiap orang akan menerima pujian dari Allah.” Tetapi, jika kita cocokkan dengan pernyataan Paulus lainnya tentang menghakimi, dan kita lihat lebih teliti ayat ini lebih cermat lagi, kita dapatkan bahwa di sini Paulus mengajarkan untuk TIDAK MENGHAKIMI HAL-HAL YANG TERSEMBUNYI. Maksudnya, orang percaya janganlah sok menghakimi hal-hal yang tidak mungkin ia ketahui, melainkan hanya ia duga-duga saja, yaitu hati orang lain. Banyak orang sok menghakimi hati dan motivasi orang lain yang terdalam. Sikap seperti ini tidak benar. Kita bisa menilai kelakuan orang, karena memang terlihat; tetapi mengenai hal-hal yang berada dalam hati seseorang yang tidak ia nyatakan, jangan kita terburu-buru untuk memastikannya.

Prinsip ini dipraktekkan sendiri oleh Rasul Paulus. Dalam 1 Korintus 4:5, dia mengatakan “jangan menghakimi.” Tetapi tidak lama kemudian masih dalam surat yang sama kepada jemaat Korintus, Paulus berkomentar tentang seorang anggota jemaat di sana yang berbuat dosa zinah: “Sebab aku, sekalipun secara badani tidak hadir, tetapi secara rohani hadir, aku sama seperti aku hadir telah menjatuhkan hukuman atas dia, yang telah melakukan hal yang semacam itu” (1 Kor. 5:3). Kata “menjatuhkan hukuman” dalam bahasa Yunaninya berasal dari kata krino, kata yang persis sama diterjemahkan “menghakimi” di 1 Kor. 4:5. Bagaimana ini? Apakah Paulus sedemikian tidak konsisten? Baru saja dia mengajarkan “jangan menghakimi” (1 Kor. 4:5), kenapa malah dia sendiri “menghakimi” (menjatuhkan hukuman, 1 Kor. 5:3)? Jawabannya sederhana. Dalam 1 Kor. 4:5, Paulus mengajar orang percaya untuk tidak menghakimi hati orang (sesuatu yang tidak dapat diketahui dari luar), tetapi dalam 5:3, Paulus menghakimi perbuatan orang yang memang nyata. Ada anggota jemaat Korintus yang melakukan zinah (1 Kor. 5:1-2), dan ini adalah yang hal yang nyata, yang dapat segera dibandingkan dengan pengajaran Alkitab. Rupanya untuk hal seperti ini Paulus tidak segan-segan menghakimi, bahkan memberi hukuman!

Jadi prinsip ini harus diulang lagi. Untuk hal yang tidak dapat diketahui, misalnya isi hati orang, janganlah menghakimi. Kalau kita melihat seseorang memberi persembahan, janganlah kita menghakimi hatinya, “ah, pasti dia tidak tulus.” Itu adalah penghakiman yang dilarang, karena kita tidak bisa tahu hati orang tersebut. Tunggulah hingga Tuhan datang kembali. “Ia akan menerangi, juga apa yang tersembunyi dalam kegelapan, dan Ia akan memperlihatkan apa yang direncanakan di dalam hati” (1 Kor. 4:5). Tetapi, kalau ada seseorang mencuri uang persembahan gereja, apakah kita boleh berkata, “itu salah”? Jelas! Bukan hanya boleh, bahkan harus ditegur dan bila perlu dikenakan disiplin jemaat. Itu karena hal ini bukan barang tersembunyi, melainkan barang yang jelas dan dapat langsung dicek dan diperbandingkan dengan Firman Tuhan. Prinsip yang sama berlaku untuk doktrin. Ketika ada pengajaran yang salah, yang tidak sesuai Firman Tuhan, bolehkah kita menyerukan: “itu salah,” atau “itu sesat”? Jelas! Bukan hanya boleh, malah harus ditegur. “Beritakanlah firman, siap sedialah baik atau tidak baik waktunya, nyatakanlah apa yang salah, tegorlah dan nasihatilah dengan segala kesabaran dan pengajaran” (2 Tim. 4:2). 1 Korintus 4:5 tidak dapat dipakai untuk melarang orang Kristen menyelidiki doktrin yang diajarkan seseorang dan menyatakannya benar atau salah!

Sayangnya, ketika ditegur mengenai doktrin yang salah, banyak orang lari ke Roma 14:4-14. Mereka bersembunyi dibalik kalimat: “Karena itu janganlah kita saling menghakimi lagi!” (ay. 13). Mereka tidak mau menyelidiki lebih lanjut, “menghakimi” seperti apa yang dilarang oleh Paulus. Mereka tidak mau peduli bahwa Tuhan tidak mungkin melarang orang percaya untuk saling bersaksi tentang kebenaran, saling menegur kesalahan sesamanya.

Pada kenyataannya, dalam Roma 14, PAULUS TIDAK INGIN ORANG PERCAYA SALING MENGHAKIMI DALAM HAL-HAL YANG TIDAK DIATUR OLEH ALKITAB. Paulus memberi contoh 2 hal, yaitu dalam hal makanan dan hari-hari raya. Alkitab tidak mengatur bahwa orang percaya harus makan suatu jenis makanan, atau tidak boleh makan makanan lain. Alkitab mengatakan bahwa semua makanan halal, tetapi tidak mengharuskan orang untuk makan semua makanan. Oleh karena itu, orang percaya jangan saling menghakimi jika ada sesamanya yang memilih untuk makan sesuatu atau jika ia memilih untuk tidak makan sesuatu. Mengenai hari-hari raya, Alkitab juga tidak melarang atau menganjurkan orang percaya untuk ikut dalam berbagai hari raya. Kita melihat aplikasinya dalam kebebasan orang percaya untuk ikut atau tidak ikut merayakan hari Ibu, hari Bapa, bahkan hari Natal. Tentu untuk hari-hari yang mengandung makna menentang Tuhan (misal hari Homoseksual), orang Kristen tidak boleh ikut mendukung, karena melanggar prinsip-prinsip Alkitab lainnya.

Yang terakhir, kita lihat dalam Yohanes 7:24, bahwa ORANG KRISTEN TIDAK BOLEH MENGHAKIMI HANYA DARI SUDUT LAHIRIAH, MELAINKAN SECARA ADIL. Ini berarti penghakiman kita haruslah didasarkan pada Firman Tuhan yang maha adil.

4. Orang Kristen Perlu Melakukan Penghakiman

Jika kita mengerti bahwa arti dasar kata “menghakimi” adalah “memutuskan atau membuat penilaian tentang suatu hal,” maka jelaslah bahwa bukan saja orang percaya boleh menghakimi, bahkan ORANG PERCAYA HARUS MENGHAKIMI. Dalam hal-hal apa saja orang percaya harus menghakimi?

Orang percaya harus menghakimi pengajaran. Tuhan menyuruh kita untuk berhati-hati terhadap nabi-nabi palsu (Mat. 7:15). Bagaimanakah kita dapat waspada terhadap mereka, jika kita tidak menilai mereka? Paulus berkata, “Tetapi aku menasihatkan kamu, saudara-saudara, supaya kamu waspada terhadap mereka, yang bertentangan dengan pengajaran yang telah kamu terima, menimbulkan perpecahan dan godaan. Sebab itu hindarilah mereka!” (Rom. 16:17). Bagaimana kita dapat waspada dan menghindari orang-orang ini jika kita tidak menghakimi mereka? Alkitab mengharuskan setiap orang hamba Tuhan yang setia untuk “menyatakan kesalahan,” dan “menegor” (2 Tim. 4:2). Ini tidak dapat dilakukan tanpa menghakimi. Sangat penting sekali untuk memperhatikan juga di sini, bahwa Tuhan ingin agar orang yang mengenal kebenaran, memberitahukan kesalahan orang lain yang belum tahu akan hal itu. Seharusnya, setiap orang Kristen yang ditegur kesalahannya, tidak marah, melainkan merenung, dan menyelidiki Kitab Suci untuk mengetahui kebenarannya. Ketahuilah, bahwa orang yang menegur anda, sebenarnya sangat mengasihi anda. Bahkan ia rela mengambil resiko dibenci oleh anda, agar anda bisa sampai kepada kebenaran.

Selain itu, orang percaya harus menghakimi perbuatan anggota-anggota gereja. Salah satu fungsi gereja adalah untuk menjadi tempat orang-orang percaya bertumbuh. Dalam proses pertumbuhan, ada proses pendisiplinan. Anggota-anggota gereja yang berbuat dosa, harus ditertibkan. Hal ini diajarkan oleh Paulus dalam 1 Korintus 5. Ada anggota jemaat Korintus yang berbuat zinah, dan Paulus menekankan bahwa orang itu harus dikeluarkan dari jemaat. “Sebab dengan wewenang apakah aku menghakimi mereka, yang berada di luar jemaat? Bukankah kamu hanya menghakimi mereka yang berada di dalam jemaat? 1 Mereka yang berada di luar jemaat akan dihakimi Allah. Usirlah orang yang melakukan kejahatan dari tengah-tengah kamu” (1 Kor. 5:12-13).
Masih banyak lagi hal-hal lain yang harus dihakimi/dinilai oleh orang percaya, karena “manusia rohani menilai segala sesuatu” (1 Kor. 2:15). Jangankan penghakiman berbagai hal di dunia ini, orang percaya bahkan akan menghakimi dunia dan malaikat (1 Kor. 6:2-3). Sungguh aneh jika ada orang yang berkata bahwa “orang Kristen tidak boleh menghakimi.” Saya harap, dengan pembahasan singkat Firman Tuhan ini, anda dapat menentukan, MENGHAKIMI ATAU TIDAK MENGHAKIMI?

1Kedua kata ini termasuk golongan compound verb, yaitu kata kerja yang menggabungkan kata kerja dasar dengan preposisi. Selain anakrino dan katakrino, ada beberapa turunan krino lainnya, yaitu egkrino, epikrino, dan sugkrino, tetapi ketiga kata ini hanya muncul total 4 kali dalam PB.

This entry was posted in Fundamentalisme, General (Umum) and tagged , , , , . Bookmark the permalink.

46 Responses to MENGHAKIMI ATAU TIDAK MENGHAKIMI?

  1. daisy_liauw says:

    Nice article.

  2. Artikel yang bagus. Memang uang asli tidak takut untuk di 3D (Dilihat, Diraba, Diterawang) kecuali uang palsu seperti yang barusan terjadi di pulo gadung.
    Banyak gereja dan pribadi takut dengan kata menghakimi, jangan-jangan mereka takut karena pengajaran mereka mirip uang palsu d..

  3. Articlenya boleh dicopy kan?

  4. Dr. Steven says:

    Artikel di sini boleh di copy semua dan boleh disebarluaskan.

  5. dede wijaya says:

    Saya mohon izin menggunakan artikel2 di blog anda untuk saya sebarluaskan di milist2:), terimakasih Dr. Steven. Btw mohon sering2 update web GRAPHE. Terimakasih. Tampilan web udah semakin oke. GBU.

  6. Dr. Steven says:

    Ok Sdr. Dede, silakan pakai saja…memang kita perlu menyebarkan kebenaran. Semoga studi anda cepat sukses.

  7. Vicky says:

    BAik sekali artikelnya, dan perlu dipraktekkan doktrinnya. Alkitabiah OK! DIktatoris NO! NEPOTISME NO! GBU.

  8. John Sung says:

    Kebenaran memang harus diberitakan sampai akhir zaman, tidak peduli orang suka atau tidak.
    Jika setiap orang mengenal kebenaran yang disampaikan graphe maka dunia ini akan berubah menjadi baik.
    Celakalah mereka yang mencemooh dan memfitnah Dr. Liauw

    Maju Terus Dr. Liauw!!

  9. JB Damopoly says:

    Saya,dari GPIB, setelah membaca artikel bapak, tidak merasa dihakimi, saya lebih senang berdiskusi, karena kebenaran hanya pada Allah didalam Kristus, bukan manusia atau gereja.Jadi Bapak terus maju dengan kritikan-kritikan yang alkitabiah.

  10. blue berrian says:

    Permisi tanya dr Steven,

    Seingat saya beberapa tahun lalu gereja ini ada kata kata “FUNDAMENTALIS”, what going on then ? sekarang kok sudah hialng kata tsb ?

  11. Dr. Steven says:

    Halo Blue berrian,

    Sebenarnya kata “fundamentalis” tidak pernah ada dalam nama gereja kami. Nama gereja kami adalah: Gereja Baptis Independen Alkitabiah Graphe. Istilah “Fundamentalis Kristen” memang kami pakai juga, tetapi bukan untuk nama gereja.

  12. aji sastro says:

    Apa yang dinyatakan oleh Dr. Steven E. Liauw berdasarkan kebenaran Alkitab itu bukan kebenaran yang dipalsukan, tetapi kebenaran yang didapat dalam Injil itu sendiri, untuk membela Injil dan untuk pempermalukan Pendeta, Penginjil, Rohaniawan, dan antek-anteknya yang tidak bertanggung jawab yang hatinya dibutakan karena kebutuhan perut.

  13. frendyl says:

    semoga semakin banyak orang kristen menyadari kesalahan mereka selama ini,dan segera berbalik.
    semoga Graphe maju terus dari generasi ke generasi sampai dengan kedatangan Tuhan,maranatha.amin

  14. yonas prima S.J. P.hd. says:

    Kalau anda ingin mendapatkan jawaban dari pihak katholik roma maka saya akan dengan senang hati bertemu dengan anda untuk mendiskusikan tentang masalah yang dibahas dalam Blog anda ini, atau dengan kata lain saya akan kirimkan sebuah buku sebagai suatu bahan acuan saudara sebelum kita membahas masalah ini, yaitu mengenai (“MENGUJI KEBENARAN IMAN KITA” , Bagaimana Gereja Katolik menjelaskan ajaran iman yang biasa menjadi sorotan Kaum Evangelis).Bukankah tubuh kita bukan terdiri dari satu bagian tubuh saja? melainkan dari banyak anggota tubuh?.Thanks.GBU.JLU.

  15. yonas prima S.J. P.hd. says:

    Buku yang saya sebutkan diatas tadi adalah karangan dari Pastor Dr. Aloysius Budyapranata, Pr yang diterbitkan oleh Yayasan Pustaka Nusatama Jl. Sawit 21, Sawitsari, Yogyakarta 55283. Telp.(0274) 885471, 882959 Fax.(0274) 566250. Email:ypn-ykt@plasa.com.

  16. yohanes fransiskus says:

    maaf. saya adalah seorang katolik sebagaimana anda sebut dalam artikel anda diatas. saya ingin bertanya bagaimanakah kriteria menghakimi yg adil menurut anda. sebagai manusia biasa dgn segala kekurangan, hak apa yg membuat kita boleh menghakimi sesuatu atau orang lain?. dalam kehidupan bermasyarakat pun, menghakimi ada aturannya, yaitu di dalam pengadilan di muka hakim. tidak serta merta setiap orang boleh menghakimi sendiri2 sekehendak hati.
    Salam, Semoga Tuhan memberkati.

  17. Dr. Steven says:

    Manusia memang terbatas, dan seringkali tidak adil. Tetapi itu tidak berarti kita tidak “mencoba” untuk menghakimi dengan adil. Contoh konkrit: pemerintahan manusia tidak ada yang sempurna, tetapi toh kita masih setiap pemilu, mencoba untuk membangun suatu pemerintah yang sebaik mungkin.

    Tentu tidak boleh menghakimi sekehendak hati. Itulah yang dilarang Yesus dan Alkitab. Jadi, yang dilarang dalam Alkitab adalah menghakimi secara tidak benar (lihat lagi artikel). Sebaliknya, Alkitab mengharuskan kita menghakimi berbagai hal. Misalnya, kita harus bisa menghakimi apakah suatu pengajaran itu benar atau salah. Kalau kita tidak bisa menentukan sesuatu itu benar atau salah, maka kita celaka!

    Dengan standar apakah kita menghakimi segala sesuatu? Jawabannya hanya satu: Dengan Firman Tuhan.
    Ketika kita melihat perilaku seseorang, kita membandingkannya dengan Firman Tuhan: benar atau salah.
    Ketika kita mendengar suatu pengajaran, kita membandingkannya dengan Firman Tuhan: benar atau salah.

    Salam, semoga Tuhan memberkati juga.

  18. patria says:

    Kitab Suci

    Ketika ditanya bagaimana Kitab Suci seharusnya digunakan, Sang Guru menceritakan pengalaman waktu ia menjadi guru di sekolah dan melontarkan pertanyaan ini kepada para murid, “Bagaimana kamu menentukan tinggi sebuah bangunan dengan menggunakan alat barometer?”

    Salah seorang anak yang cerdas menjawab,
    “Saya akan menurunkan barometer dengan tali dan kemudian mengukur panjang tali itu”

    “Banyak akal ketidaktahuannya, “komentar Sang Guru”

    Kemudian ia menambahkan, “Begitulah akal dan ketidaktahuan orang-orang yang menggunakan otak mereka untuk memahami Kitab Suci,
    sama dengan mereka mencoba memahami matahari terbenam atau samudra atau desiran angin malam di pepohonan dengan menggunakan otak mereka.”

    Diambil dari buku: Berbasa – basi sejenak 1
    Ditulis oleh : Anthony de Mello

  19. patria says:

    Menemukan Allah

    Waktu itu waktu ceramah,
    Sang Guru berkata, “Kehebatan seorang komponis diketahui lewat nada-nada musiknya,
    tetapi menganalisis nada-nada saja tidak akan mengungkapkan kehebatannya.
    Keagungan penyair termuat dalam kata-katanya, namun mempelajari kata-katanya tidak akan mengungkapkan inspirasi.

    Tuhan mewahyukan diri-Nya dalam ciptaan, tetapi dengan meneliti ciptaan secermat apa pun kamu tidak akan menemukan Allah;
    demikian juga bila kamu ingin menemukan jiwa melalui pemeriksaan cermat terhadap tubuhmu.”

    Pada waktu tanya jawab, seorang bertanya, “Kalau begitu bagaimana kita menemukan Allah?”

    “Dengan melihat ciptaannya, tapi bukan dengan menganalisisnya.”

    “Dan bagaimana seseorang harus melihat?”

    “Seorang petani keluar untuk melihat keindahan pada waktu matahari terbenam, tetapi yang ia saksikan hanyalah matahari, awan, langit, dan cakrawala – sampai ia memahami bahwa keindahan itu bukan ‘sesuatu’, melainkan cara khusus untuk melihat.

    Kamu akan sia-sia mencari Allah sampai kamu memahami bahwa Allah tidak bisa dilihat sebagai ‘sesuatu’.
    Yang diperlukan ialah cara khusus untuk melihat – mirip seperti cara seorang anak kecil yang pandangannya tidak diganggu oleh pelbagai ajaran dan keyakinan yang telah dibentuk sebelumnya.”

    Diambil dari buku: Berbasa – basi sejenak 1
    Ditulis oleh : Anthony de Mello

  20. acun says:

    saya kurang setuju dengan masalah penghakiman yang Bpk steven katakan..karena dasar dari ajaran Yesus Kristus adalah kasih..kalau kita mengambil mentah mentah tentang kisah paulus,saya rasa setiap gereja pasti tidak ada jemaat nya ( kita harus bisa melihat or menyesuaikan kontek paulus melakukan pengusiran jemaat pada waktu itu ),karena kita harus sadar sebagai manusia tidak mungkin luput dari dosa kecuali anda atau semua orang benar benar akan mengerti arti percaya..lagipula bagaimana fungsi gereja akan ada, jika setiap ada orang yang melakukan kesalahan kita usir dari gereja??

    tulisan dari pak Steven” Dengan standar apakah kita menghakimi segala sesuatu? Jawabannya hanya satu: Dengan Firman Tuhan.
    Ketika kita melihat perilaku seseorang, kita membandingkannya dengan Firman Tuhan: benar atau salah.
    Ketika kita mendengar suatu pengajaran, kita membandingkannya dengan Firman Tuhan: benar atau salah.

    Apakah penafsiran setiap orang akan sama pada firman Tuhan???

    Karena kasih lah yang akan membentuk itu semua untuk menjadi yang sesuai dengan firman Tuhan,

    Kita harus menyadari bahwa kita hidup di dunia dengan kenyataan bukan hanya dengan teoritis dari Alkitab,Alkitab yang menurut saya adalah sebagai Pedoman hidup bagi kita semua..
    jadi hanya diri kita sendiri yang bisa menilai apakah Penghakiman itu pantas atau tidak menurut alkitab dengan sebuah dasar yang berasal dari iman diri sendiri,maupun itu benar apakah salah..yang penting adalah hati nurani kita yang memutuskan apakah sesuai firman atau tidak.
    jadi untuk suatu kebenaran hanya ALLAH yang bisa menilai bukan manusia yang berdasarkan perbuatan.

    Terima Kasih
    GBU

  21. mksh artikel…
    kbnaran memang hrs disebar luaskan,
    spy mc tahu yg bnr & buruk 🙂

  22. bnr jg kata acun….
    keputusan ada ditangan kitA masing2
    otoritas tertinggi adalah Firman Allah jd pegang yg bnr ja dhe 🙂

  23. Kevin Marcellius says:

    @ Dr Steven

    Wah rupanya Dr Steven juga belum paham perbedaan “Menghakimi” dng “Menilai” kok sampai Menghakimi didefinisikan sebagai “memutuskan atau membuat penilaian tentang sesuatu.”

    Menghakimi dan Menilai itu sangat berbeda, sebab menghakimi sudah bersifat memutuskan suatu perkara benar atau salah, sedangkan menilai itu masih dalam tahap pertimbangan tentang sesuatu. Gampangnya kita pakai metode ilmiah saja. Menilai itu ibarat Hipotesa, sedangkan Menghakimi itu Hasil Eksperimennya.

    Demikian ulasan saya semoga ada manfaatnya.

  24. Dr. Steven says:

    He he he…
    @Kevin
    Itu definisi siapa? Definisi anda?

    Lihat Kamus Besar Bahasa Indonesia, salah satu definisi dari “hakim” adalah: “3. juri atau penilai”
    Dan “menghakimi” adalah “berlaku sebagai hakim…”

    Jadi, “menghakimi” dapat juga “berlaku sebagai juri atau penilai…” atau sama juga dengan “menilai”

    Kata “judge” dalam bahasa Inggris memiliki banyak arti, satu di antaranya:
    “to form an idea, opinion, or estimate about (any matter)” Webster Third College Edition

    Anda membaca artikel ini tidak sih? Dalam Alkitab sendiri, kata krino yang artinya “menghakimi” juga diterjemahkan “menilai” dalam 1 Kor. 2:15.

    Pada kenyataannya, ketika kita menilai sesuatu, itu bukan hanya tahap pertimbangan, tetapi pasti ada keputusannya: benar atau salah. Kalau belum sampai bisa bilang “benar” atau “salah” berarti belum ada penilaian. Atau minimal hasilnya: “tidak tahu.”

  25. Kevin Marcellius says:

    @ Dr Steven,

    Nih Dok saya tunjukin artinya menurut KBBI:
    ———————————–
    Arti MENILAI:
    me·ni·lai v 1 memperkirakan atau menentukan nilainya; menghargai: pedagang itu belum dapat ~ harga intan itu; 2 memberi nilai; menganggap: ia ~ perkumpulan tari itu terlalu mementingkan pemasukan uang; 3 memberi angka (biji): saya berani ~ tujuh untuk gambar itu;

    linknya disini: http://pusatbahasa.diknas.go.id/kbbi/index.php
    —————————————-
    Arti MENGHAKIMI:
    meng·ha·kimi v mengadili atau berlaku sbg hakim thd: penduduk mengerti bahwa mereka tidak boleh ~ sendiri pencopet yg tertangkap itu;

    linknya disini:
    http://pusatbahasa.diknas.go.id/kbbi/index.php
    —————————————-
    Menghakimi jelas berbeda sekali dengan menilai, dari asal katanya saja beda jauh…
    Menghakimi itu dari asal kata Hakim, yg adalah orang yang memutuskan suatu perkara.
    Sedangkan Menilai itu asal katanya Nilai, yang artinya adalah harga / ukuran / mutu / taksiran / perkiraan. Makanya orang sering mengartikan Menilai dengan menakar, menaksir, menghargai (memberi harga),dsb.

    Saya belum pernah mendengar orang berkata, “Menurut penghakiman kamu, gadis itu cantik atau tidak?”, yang sering saya dengar adalah, “Menurut penilaian kamu, gadis itu cantik atau tidak?”.

    Di TV maupun koran, ada banyak kejadian dimana pencopet / perampok dihajar habis2an oleh massa, dan TV maupun koran menyebutnya, “Dihakimi massa” dan saya belum pernah baca / dengar mereka menyebutkan “Dinilai massa”

    Dalam pertandingan sepakbola, ada petugas di sebelah kanan dan kiri lapangan yg mengawasi jatuhnya bola dan orang tersebut diberi tugas untuk MEMUTUSKAN apakah bola keluar garis atau tidak, dan orang itu disebut HAKIM GARIS, bukan NILAI GARIS atau PENILAI GARIS.

    Di pengadilan, ada orang yg memimpin sidang pake jubah hitam, dan dia bertugas untuk MEMUTUSKAN apakah seseorang /institusi bersalah atau tidak, juga MEMUTUSKAN perkara yang berkaitan dengan hak dan kewajiban, dan orang itu disebut HAKIM, dan tidak disebut NILAI atau PENILAI.

    Di dunia asuransi, ada seseorang yg kerjanya MENILAI manusia dari segi umur, gaya hidup, kesehatan, dsb guna diukur daya hidupnya dan diaplikasikan dng ilmu keuangan dan statistik hingga bisa ditentukan nilai / harga premi yg harus dibayar. Dan orang itu disebut AKTUARIS / PENILAI, dan tidak disebut HAKIM.

    Ini bukan soal orang tidak familiar dng istilah Menilai atau Menghakimi, namun memang karena makna / arti kata Menilai dan Menghakimi itu sangat berbeda.

    Jadi bila mau memahami perbedaannya lebih dalam, sebaiknya belajar Epistemology.

    Bila kita bicara kata Yunani “krino” (ibraninya “shaphat”) maka arti harafiahnya adalah menghakimi. Bila mau yang artinya menilai maka bisa kita pakai “dokimazo” atau setara dng kata ibrani “arak”.

    Bila Dr Steven memakai dasar “krino” di 1 Kor 2:15 dan mengartikannya “menilai” krn TB menterjemahkannya demikian, maka anda perlu juga melihat 2 Kor 5:16, dimana kata “ginosko” yg arti harafiahnya “mengetahui / mengenal / mengerti” juga diterjemahkan menjadi “menilai” oleh TB.
    Apakah itu berarti mengetahui = menilai? atau mengenal = menilai, atau mengerti = menilai?

    Bila anda mengutip bahasa aslinya, saya sarankan anda juga memahami epistemologynya agar pemahamannya benar, jangan malah terbalik mengadopsi dari terjemahannya… itu namanya kontra epistemology, sebuah pemahaman yg menyesatkan Dok.

    Banyak penerjemahan Alkitab dari bahasa aslinya ke bahasa Indonesia atau bahasa Inggris tidak tepat seperti maksud sebenarnya, itu karena memang bisa disebabkan oleh perbedaan vocab yg sulit dicari padanannya atau bahkan ketiaadaan vocab itu sendiri di bahasa lawannya.
    Dan proses penerjemahannya itupun tak luput dari unsur subyektifitas manusia krn berbagai pertimbangan aspek “harmonisasi” makna lintas ayat dan lintas pasal. Saya tidak sepenuhnya menyalahkan hal ini, walaupun sejatinya memang tidak benar.

    Kalo anda mau tahu kenapa TB menerjemahkan “krino” menjadi “menilai” silakan baca Lukas 6:37, Matius 7:1 “Janganlah kamu menghakimi, supaya kamu tidak dihakimi”. Ayat tersebut melarang orang percaya menghakimi, namun ketika penterjemah ketemu 1 Kor 2:15 mereka jadi bingung, kok di Injil dibilang jangan menghakimi, tapi Surat Paulus ini bilang malah disuruh menghakimi? Akhirnya mereka putuskan untuk menterjemahkannya dng “menilai” agar tidak terkesan ada kontradisi antar ayat.

    Jadi kesimpulannya, KRINO bukanlah MENILAI, tapi MENGHAKIMI. Jika anda masih menganggap bahwa MENGHAKIMI = MENILAI, maka saya bilang anda salah besar, dan anda memang tidak paham makna kedua kata tersebut.

    Demikian penjelasan saya, kiranya Dr Steven dapat memahaminya dng rendah hati.

  26. Dr. Steven says:

    @ Sdr. Kevin,

    Ck ck ck…

    Sdr. Kevin, kenapa kutip kok tanggung-tanggung…
    Apakah anda menyangkal bahwa kata “hakim” memiliki juga arti “juri, penilai?”
    Silakan cek lagi di link anda sendiri….itu definisi no. 3

    Sdr. Kevin, saya tidak mengajarkan bahwa kata “menghakimi” itu ahrus seratus persen sama dengan kata “menilai.”
    Ada pemakaian di antara keduanya yang memiliki konotasi berbeda, tetapi kata “menghakimi” itu tumpang tindih dengan kata “menilai.”
    Dalam banyak konteks, kata “menghakimi” memiliki maksud yang sama dengan “menilai.”

    Di dalam “menghakimi” pasti ada “menilai.” Saya tantang anda untuk membuktikan ada tindakan “menghakimi” tanpa “menilai.”
    Di dalam “menilai” ada tindakan “menghakimi” yaitu menjatuhkan suatu keputusan (minimal untuk diri saya sendiri).
    Contoh: Saya memberi nilai 8 untuk nyanyian tersebut. Sama saja saya menjatuhkan keputusan dalam hati saya tentang hal tersebut.

    Bahwa anda tidak pernah mendengar kalimat: “Menurut penghakiman kamu, gadis itu cantik atau tidak?” bukan berarti kalimat ini tidak ada atau tidak boleh.
    Walaupun untuk tipe kalimat seperti ini kata “menilai” memang lebih sering dipakai, tetapi memakai kata “menghakimi” juga tidak masalah.
    Contoh dalam bahasa Inggris, lazim sekali: “In your judgment, is that woman beautiful?”
    Bagaimana analisa anda terhadap kata “judgment” di atas?

    Wah, anda separuh-separuh menguasai bahasa Yunani Ibrani rupanya.
    Kata “dokimazo” lebih memiliki arti “menguji,” silakan lihat Lexicon, misalnya Thayer, Gingrich, etc.
    Bisakah “dokimazo” diterjemahkan “menilai”? Tentu bisa, karena memang aktivitas “menilai” “menguji” dan juga “menghakimi” ada tumpang tindihnya!

    Oleh karena itulah krino bisa diterjemahkan “menghakimi” bisa juga diterjemahkan “menilai.” Kalau dari penjelasan anda, artinya LAI melakukan kesalahan menerjemahkan krino menjadi “menilai.” Walaupun LAI ada banyak salah, tetapi dalam kasus ini mereka tidak salah. Sebuah kata bisa memiliki suatu range arti, itu sudah biasa.

    Lalu, anda tetap tidak dapat menjelaskan mengapa di Matius 7:1, Tuhan memerintahkan untuk tidak “krino” tetapi di 1 Kor. 2:15, orang percaya justru melakukan tindakan “krino.” Nah, inikan artinya kata “krino” memiliki range arti. Itulah yang dipaparkan dalam artikel ini.

  27. Alki says:

    Mungkin saudara Kevin kebakaran jenggot karena telah dihakimi Alkitab. Sdr. Kevin, sudalah… berubahlah bila anda telah menyimpang. jangan bersilat lidah. Semakin anda ngeless, semakin jauh anda menyimpang.

  28. Alki says:

    Memang generasi pop ini sangat alergi dengan kata salah, benar, sesat atau alkitabiah, sebab menurut Ravi Zakarias, generasi sekarang ini mendengar bukan dengan telinga tapi dengan perasaan.

  29. HMS says:

    Memang perdebatan semantik tidak akan ada habisnya…Tapi menurut saya artikel ini tetap menarik dan dapat memberikan perspektif yang berbeda dari apa yg diketahui selama ini…Mengenai apakah itu merupakan penghakiman atau penilaian atau pemberian pendapat menurut saya yg paling penting adalah esensi dan intensinya, yaitu apakah dilakukan untuk menyatakan kebenaran Firman Allah dan bukan sebaliknya yaitu untuk kepentingan pembenaran diri sendiri atau mencari keuntungan pribadi atau kelompok. Sebagai contoh, yang memprihatinkan saat ini adalah seringkali soal isue penghakiman ini dipakai oleh Pendeta dan Pejabat-pejabat Gereja secara semena-mena dan tidak adil…Mereka akan sangat merasa paling moralis ketika ada jemaat yang melakukan kesalahan dan sangat cepat memberikan penghukuman/siasat/pamerdi namun ketika mereka sendiri melakukan pelanggaran etika maka ayat untuk “Jangan Menghakimi..” digunakan untuk membela diri dan membungkam “penilaian/pendapat/penghakiman” jemaaat…

  30. Pingback: Jangan Menjamah Orang yang Diurapi Tuhan | graphe-ministry.org

  31. Harry Sanoza says:

    Dr. Steven . artikel ini sedang ada dalam hati saya . karena saya melihat kesemrautan “gereja2” sekarang . hanya saya juga tidak mau terjebak pada dosa menghakimi .maka saya sangat bersyukur kalau saya boleh menggunakan artikel anda ini untuk di bagikan pada umat Tuhan . agar mereka tidak tertipu terus oleh ayat “Jangan menghakmi” ini yang sering dipergunakan oleh hamba Tuhan 2 palsu . terima kasih Tuhan memberkati .

  32. Dr. Steven says:

    Silakan dipergunakan. Semoga dapat membantu.

  33. tika says:

    trimakasih pak steven untuk artikel yang ada. saya juga tertarik untuk membahas hal ini dan memgembangkannya menjadi karya tulis, karena ada banyak orang percaya salah mengartikan menghakimi dalam matius 7:1-5 sebagai pembelaan supaya kesalahannya tidak di bukakan. mohon dukungannya

  34. Timothy says:

    Syalom Bpk Dr. Steven,
    dalam artikel Bapak di atas Bapak sempat menyinggung mengenai wanita dalam pelayanan,
    “Atau ketika menunjukkan kepada seorang “hamba Tuhan” wanita, bahwa sesuai dengan 1 Tim. 2:11dst, ia tidak dipanggil oleh Tuhan untuk berkhotbah di kebaktian umum, apalagi menjadi “pendeta,” maka kita diberitahu untuk “jangan menghakimi orang lain!”
    Apakah Bapak berpandangan bahwa wanita tidak diperbolehkan untuk melayani, khususnya dalam pelayanan mimbar?

    Terima Kasih Tuhan Yesus memberkati.

  35. Dr. Steven says:

    Salam kasih Sdr. Timothy,

    Kita harus mendasarkan theologi dan praktek bergereja kita dari Alkitab.
    Berdasarkan 1 Timotius 2 dan 1 Korintus 14 (terutama ayat 34), maka kita tahu bahwa Tuhan mempunyai peran yang berbeda bagi laki-laki dan perempuan dalam jemaat lokal.
    Ini persis sama dengan fakta bahwa Tuhan punya peran yang berbeda bagi laki-laki dan perempuan dalam keluarga (lihat Efesus 5:22-26), yaitu suami sebagai kepala rumah tangga.
    Jadi, dalam jemaat lokal, Alkitab memberitahu kita, bahwa Allah memberikan kepemimpinan kepada laki-laki, dan juga tugas/tanggung jawab untuk mengajarkan kebenaran
    rohani kepada laki-laki.
    Apakah berarti wanita tidak ada pelayanan? Jauh daripada itu. Ada banyak pelayanan yang tidak berhubungan dengan mengajarkan doktrin (khotbah di mimbar) atau memimpin laki-laki dewasa.
    Wanita pun tetap bisa berkhotbah kepada sesama wanita (misalnya komisi wanita).
    Posisi ini tentu tidak populer di zaman ini, tetapi ini adalah posisi yang Alkitabiah.

  36. Shanty says:

    Dan setelah meneliti konteks Matius 7:1-5, maka jelaslah bahwa dalam perikop ini TUHAN MELARANG PENGHAKIMAN YANG MUNAFIK. Hal ini terlihat jelas dari nasihat Tuhan: “keluarkanlah dahulu balok dari matamu.” Tuhan tidak ingin orang yang hanya ingin mengorek kesalahan orang lain sebagai suatu serangan, padahal dirinya melakukan kesalahan yang sama dan yang lebih besar lagi.

    Tapi kenyataan orang banyak hanya menghakimi dengan munafik, dengan dasar alkitabiah juga kadang dijadikan senjata bagi orang-orang yang mempunyai kepercayaan lain, sehingga menimbulkan kebencian, dan mengalahkan kasih Yesus sebagai teladan hidup bagi kita 🙁

  37. Dr. Steven says:

    Menghakimi secara “munafik” artinya: menegur sesuatu hal, padahal dia melakukan yang sama.
    Menyatakan kesalahan pihak lain dari Alkitab adalah hal yang baik. Nadanya harus sopan, dan dilakukan dalam kasih.
    Kalau timbul kebencian, itu artinya pihak yang ditegur tidak mau menerima teguran.

  38. trivo says:

    Dr. Steven membaca tulisan ini saya sepertinya tertarik tentang hal menghakimi atau tidak menghakimi….dan akan lebih tertarik lagi jika Dr. Steven dapat membahas hal menghakimi atau tidak menghakimi dgn berpaduan pada cerita dalam Yohanes 8 : 1-11…..apakah ada kemungkinan bahwa orang banyak,ahli2 taurat, dan orang farisi yang ingin melempari perempuan yg berzinah itu juga semuanya sama berdosa zinah sehingga mereka tidak seorangpun yg melempari wanita itu ?….saya tertarik dengan ayat-ayat terakhir yg berbunyi…8:10 Lalu Yesus bangkit berdiri dan berkata kepadanya: “Hai perempuan, di manakah mereka? Tidak adakah seorang yang menghukum engkau?” 8:11 Jawabnya: “Tidak ada, Tuhan.” Lalu kata Yesus: “Akupun tidak menghukum engkau 2 . b Pergilah, dan jangan berbuat dosa lagi c mulai dari sekarang.”…thanks

  39. Dr. Steven says:

    Sdr. Trivo, pertanyaan yang baik.

    Terkadang ada juga yang memakai Yohanes 8:1-11 untuk mengajarkan “jangan menghakimi.”
    Tetapi, seperti dalam tubuh artikel di atas, “menghakimi” yang tidak diperbolehkan Tuhan adalah dalam konteks tertentu, seperti: konteks kemunafikan, konteks hal-hal yang tidak diatur Firman Allah, dll.

    Mengenai kasus wanita yang berzinah yang dibawa kepada Yesus dalam Yohanes 8:1-11, beberapa poin muncul:
    1. Yesus berkata ia tidak “menghukum” (katakrino) wanita itu. Dalam konteks ini, artinya Yesus tidak akan melemparkan batu kepada wanita tersebut. Ingat Yesus berkata, yang tidak berdosa, silakan lempar batu pertama. Mestinya Yesus yang lempar duluan, karena hanya Yesus yang tidak bedosa, tetapi Yesus tidak mau melakukannya. Mengapa? Masuk poin kedua.
    2. Wanita ini dijebak. Jelas sekali orang-orang Farisi tidak menginginkan keadilan atau menegakkan Taurat, mereka hanya ingin menjebak Yesus, dengan memakai seorang wanita. Laki-laki yang berzinah kok tidak ikut dibawa? Ini jelas adalah jebakan. Wanita itu sendiri pun kemungkinan besar dijebak ke dalam suatu perzinahan.
    3. Yesus ada menghakimi, tetapi tidak menghukum (belum). Yesus berkata di ayat 11: “jangan berbuat dosa lagi.” Artinya Yesus mengkategorikan perbuatan wanita itu sebagai “dosa.” Ini sudah berupa suatu penghakiman!

    Jadi, banyak orang salah memakai “jangan menghakimi.” Misal: orang Kristen mengatakan homoseksualitas itu dosa. Kaum homoseks bilang, jangan menghakimi! Ini penerapan yang salah, karena homoseksualitas jelas bertentangan dengan Firman Tuhan, oleh karena itu dosa. Yesus pun tidak segan menghakimi (menyatakan) dosa perzinahan wanita itu sebagai dosa. Hanya saja, Yesus tidak “menghukum”nya saat itu juga dengan cara melempar batu. Demikian juga orang Kristen tidak melempari batu kaum homoseksual (karena gereja lokal hari ini beda dengan Israel zaman dulu yang adalah suatu theokrasi, hari ini ada pemisahan antara negara dan gereja).

    Contoh secara doktrinal. Orang Kristen mengatakan Saksi Yehovah itu sesat [atau doktrin lain manapun yang sesat]. Kaum Saksi Yehovah bilang, jangan menghakimi! Ini juga penerapan yang salah. Doktrin Saksi Yehovah menyimpang dari Alkitab, oleh karena itu sesat. Yesus, Paulus, ataupun rasul-rasul lain tidak segan-segan menyatakan suatu doktrin yang sesat sebagai sesat, atau yang salah sebagai salah. Hanya saja, kita hari ini tidak boleh “menghukum” orang sesat dengan inkuisisi, atau penganiayaan, dll. Kita hanya memberitakan kepada mereka di mana mereka salah, dan berdoa agar mereka sadar.

    Semoga dapat dipahami.

  40. hendrayandi says:

    artikel luar biasa,,berbobot dan intelektual ,,,

  41. Pingback: Menghakimi Atau Tidak Menghakimi? | Kristen Alkitabiah

  42. YOHANES T. SANTOSO says:

    Kita perlu menghakimi hamba-hamba Tuhan (baca: hama-hama Tuhan) alias parasit. Yakni: mereka yang tidak mengajarkan kebenaran firman Tuhan. Orientasi pelayanan mereka bukanlah untuk menegakkan dignitas Inil Kristus, tapi lebih bertumpu pada popularitas dan duit.

  43. Arya Sakramen Barus says:

    saya tertarik dengan bagian kepelayanan perempuan tidak boleh menjadi pendeta atau mengajar pak

    saya mau tanya jika perempuan memang harus berdiam diri dalam jemaat. Kalau dia tidak mengerti pengajaran yang disampaikan maka kata
    1 Kor. 14:35
    Jika mereka ingin mengetahui sesuatu, baiklah mereka menanyakannya kepada suaminya di rumah. Sebab tidak sopan bagi perempuan untuk berbicara dalam pertemuan Jemaat.(TB)

    Ini yang mau saya tanya pak, kalau seorang perempuan memiliki suami yang tidak mau kegereja atau perempuan itu janda, pada siapa dia harus bertanya ?

    Thanks pak, artikelnya sangat menguatkan
    JBU 🙂

  44. Dr. Steven says:

    Mengenai pelayanan perempuan, ada banyak, tetapi yang bukan bersifat mengajar/memimpin laki-laki dewasa (lihat 1 Tim. 2:9dst; 1 Kor. 14 dst).
    Misalnya, musik, mengajar sekolah minggu anak-anak, pokoknya banyak sekali, tidak bisa disebut satu persatu. Tentu menjadi gembala sidang tidak bisa.
    Ini bukan karena wanita inferior, tidak sama sekali, tetapi karena Tuhan membagi fungsi yang berbeda kepada laki-laki dan perempuan dalam jemaat sekaligus dalam keluarga (suami kepala keluarga).

    Wanita yang tidak punya suami di gereja, tetap bisa bertanya. Yang dimaksud di 1 Korintus 14 adalah bertanya dalam konteks semacam interupsi di forum terbuka. Kalau misalnya dibuka ruang untuk tanya jawab, wanita bisa bertanya. Atau bisa juga bertanya kepada wanita lain, atau secara pribadi kepada gembala/guru Injil. dsb.

  45. Arya Sakramen Barus says:

    ohh jadi gini pak, misalnya ada perempuan umur 60 tahun mengajar laki-laki umur 59 kebawah boleh ?

  46. Dr. Steven says:

    Tergantung mengajar apa. Kalau perempuan itu mengajar laki-laki itu cara memasak, atau mengajar bahasa Inggris, dll., itu silakan saja.
    Yang dilarang dalam Alkitab adalah dalam konteks jemaat lokal, wanita mengajar dan memimpin laki-laki dewasa, jadi misal menjadi pengkhotbah atau gembala sidang, dll.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *