Pengaruh Darwin Terhadap Psikologi

(Berita Mingguan GITS 07 Mei 2011, sumber: www.wayoflife.org)
Charles Darwin dapat melihat ke depan bahwa teori evolusinya akan mengubah bidang psikologi. Dalam buku Origin of Species, dia menulis: “Di masa depan yang jauh, saya melihat bidang-bidang riset yang jauh lebih penting akan terbuka. Psikologi akan didasarkan pada suatu fondasi baru, yaitu perlunya setiap kekuatan dan kapasitas mental bertambah secara gradual. Terang akan bersinar pada isu asal usul manusia dan sejarahnya.” Faktanya, bukan terang melainkan kegelapan yang telah menyelimuti sifat dasar manusia. Pengaruh Darwinisme terhadap psikologi terlihat dari kepercayaan dasar (dalam psikologi) bahwa manusia adalah binatang yang berevolusi. Terlihat juga dalam kepercayaan bahwa tidak ada jiwa di luar dari otak, bahwa perilaku manusia dapat dimengerti dengan mempelajari perilaku binatang, dan bahwa rasa takut manusia terhadap Allah dan neraka adalah irrasional dan harus ditantang, dan bahwa tidak ada suatu kode moral yang absolut yang akan meminta pertanggungan jawab dari manusia, dan bahwa harga diri manusia dan rasa aman dan nyaman-nya adalah hal yang paling penting dalam hidup ini. Kita bahkan dapat mengidentifikasikan kakek Darwin, Erasmus, sebagai pengaruh besar terhadap psikologi. Erasmus adalah seorang skeptik, seorang humanis, dan seorang evolusionis, dan dia menyerukan doktrin evolusinya dalam satu set buku populer yang terdiri dua volume, Zoonomia; atau, Hukum Kehidupan Organik (1794-96). Dalam volume kedua Zoonomia, Erasmus mengidentifikasikan agama dan neraka sebagai penyakit psikologis. Salah satu penyakit ini dinamakan “spes religiosa” atau “pengharapan takhayul.” Dia menyebutnya “halusinasi manik,” suatu bentuk kegilaan yang menghasilkan “kekejaman, pembunuhan, pembantaian” ke dalam dunia. Satu lagi penyakit psikologis yang diidentifikasikan oleh Erasmus adalah “orci timor” atau “takut akan neraka.” Yesus Kristus memperingatkan orang untuk “takutlah terutama kepada Dia yang berkuasa membinasakan baik jiwa maupun tubuh di dalam neraka.” Kristus menggambarkan neraka sebagai tempat dengan api yang tidak padam (Mar. 9:43). Puji syukur, Yesus telah mengalahkan dosa dan menggantikan kita dan memiliki kunci neraka maupun kunci maut (Wahyu 1:18). Dia berjanji bahwa siapapun yang percaya padaNya tidak akan binasa, tetapi memiliki hidup yang kekal (Yoh. 3:16).

This entry was posted in Psikologi. Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *