Melihat Samar-Samar Melalui Suatu Cermin

(Berita Mingguan GITS 04 Februari 2012, sumber: www.wayoflife.org)

Dalam sebuah dialog baru-baru ini dalam Ruangan Gajah, T. D. Jakes mengklaim bahwa doktrin Tritunggal adalah suatu contoh “melihat dalam cermin suatu gambaran yang samar-samar,” dan orang-orang yang berdialog dengan dia setuju dengan dia. Jake berkata, “Kita berdua sedang mencoba menggambarkan Allah yang kita kasihi, yang kita layani, dan yang kita belum lihat. Dan kita sedang melihat Dia melalui konteks Kitab Suci, tetapi melalui suatu cermin yang samar-samar. Mengapakah saya harus melawan atau membenci dan mengata-ngatai anda ketika semua yang saya ketahui dan mengerti, walaupun sangat ortodoks, hanyalah suatu gambaran yang samar-samar?” Jakes merujuk kepada 1 Korintus 13:12, yang mengatakan, “Karena sekarang kita melihat dalam cermin suatu gambaran yang samar-samar, tetapi nanti kita akan melihat muka dengan muka. Sekarang aku hanya mengenal dengan tidak sempurna, tetapi nanti aku akan mengenal dengan sempurna, seperti aku sendiri dikenal.” Jakes menyalahgunakah Kitab Suci ini dengan mengaplikasikannya kepada doktrin Alkitab. Paulus sedang berbicara tentang fakta bahwa kita belum memiliki semua pengetahuan tentang segala sesuatu yang ingin kita ketahui. Dia yang jelas BUKAN sedang membicarakan doktrin Alkitab, yang adalah terang, bukan sesuatu yang samar-samar. Hal-hal yang Allah telah singkapkan, kita dapat ketahui secara pasti dan dapat kita mengerti melalui Roh Kudus (Ul. 29:29). Hanyalah hal-hal yang tidak Allah singkapkan yang belum dapat kita ketahui. (Cara Jakes mengacu kepada “membenci” adalah strategi ekumenisme. Dalam pikiran seorang ekumenis, berjuang membela iman dan menegur para penyesat adalah “membenci,” tetapi jika hal ini adalah membenci, maka rasul Paulus dan rasul Yohanes dan rasul Petrus dan Yudas dan semua nabi-nabi adalah pembenci-pembenci besar!) Jakes mengatakan lebih lanjut, “Saya rasa sangatlah penting agar kita menyadari bahwa Allah kita berada di luar intelek kita. Dan jika kamu dapat mendefinisikan Dia dan dengan sempurna menggambarkan Dia dan berkata bahwa andalah definisi yang paling lengkap tentang Allah, maka Dia sudah bukan Allah lagi.” Tidak ada yang mengatakan bahwa kita dapat mendefinisikan Allah secara sempurna. Ini adalah argumen strawman yang konyol. Isu yang sebenarnya adalah bahwa Allah menyingkapkan hal-hal tertentu tentang DiriNya dalam Kitab Suci, dan pertanyaannya adalah apakah kita mau percaya apa yang telah Ia singkapkan dan berdiri teguh dalam hal itu, atau tidak. Paulus memberitahu Timotius bahwa seseorang dapat “berterus terang memberitakan perkataan kebenaran itu” (2 Tim. 2:15) dan kita akan dimintai pertanggungan jawab oleh Allah mengenai hal ini. Jakes lebih lanjut lagi mengatakan, “Karena alasan Paulus mengatakan bahwa itu adalah suatu misteri, adalah bahwa kita menuhankan fakta bahwa Allah melakukan hal-hal yang tidak cocok dengan formula kita.” Di sini Jakes salah besar dalam mendefinisikan arti “misteri” dalam Perjanjian Baru dan tidak ada theolog di Ruangan Gajah yang memberitahukannya. Paulus dengan jelas dan konsisten mendefinisikan “misteri” (rahasia dalam LAI) sebagai suatu doktrin yang tersembunyi dalam Perjanjian Lama tetapi kini telah disingkapkan. “… rahasianya dinyatakan kepadaku dengan wahyu … yang pada zaman angkatan-angkatan dahulu tidak diberitakan kepada anak-anak manusia, tetapi yang sekarang dinyatakan di dalam Roh kepada rasul-rasul dan nabi-nabi-Nya yang kudus” (Ef. 3:3-5). Lihat juga Roma 11:25-26; 1 Korintus 2:7-10; Efesus 3:9; Kolose 1:26. Ruangan Gajah adalah tempat orang buta menuntun orang buta; mereka bahkan tidak bisa melihat gajah!

This entry was posted in Ekumenisme, Emerging Church. Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *