Ruangan Gajah dan Dialektika Hegel

(Berita Mingguan GITS 04 Februari 2012, sumber: www.wayoflife.org)

Ruangan Gajah adalah sebuah forum dialog yang diciptakan pada tahun 2011 oleh bintang gerakan emerging, Mark Driscoll, bersama dengan James MacDonald, Steven Furtick, David Platt, Matt Chandler, Greg Laurie, dan Perry Noble. Objektif yang tertulis dari “ruangan” ini adalah untuk mendiskusikan isu-isu doktrinal yang kontroversial dengan “berbagai tamu dari semua tempat dan semua sistem kepercayaan.” dengan tujuan mempertajam theologi. Ketika digali lebih dalam lagi, kita melihat bahwa objektif sejatinya adalah ekumenisme. Driscoll dan teman-teman dengan terang-terangan mengatakan bahwa “tujuan mereka adalah persatuan,” dan bahwa mereka menentang sikap “bersembunyi di balik tembok-tembok perbedaan.” Walaupun mereka mengklaim “memegang poin-poin esensial dari iman dengan intensitas yang tinggi,” mereka lalu melawan kata-kata mereka sendiri dengan berkata bahwa kita tidak seharusnya “mengisolasi diri dari berbagai hubungan bahkan dengan orang-orang yang percaya hal-hal yang sangat berbeda dari kita.” Ini adalah dialektika hegel dalam praktek. Dengan melakukan “percakapan” publik dengan orang-orang yang “menyangkal iman yang engkau pegang,” tembok-tembok diruntuhkan dan sikap menjadi berubah. Pertama kita akan syok terhadap kesalahan theologis, tetapi melalui dialog dengan para penyesat, konsep “sesat” menjadi sesuatu yang aneh. Melalui Ruangan Gajah, kita belajar bahwa para “penyesat” ternyata adalah orang-orang yang enak diajak bicara yang “mengasihi Yesus” dan sekedar memiliki sudut pandang lain dalam beberapa hal. Kita diberitahu bahwa semua kita “melihat dalam cermin suatu gambaran yang samar-samar,” jadi tidak ada yang boleh mengklaim memiliki kebenaran. Jadi, bukannya melakukan separasi dan menegur, mari kita rileks dan berdialog. Rasul Paulus sedemikian kuno dan tidak emerging ketika dia “ngotot” menyampaikan kutuk dari Allah bagi para penyesat di Galatia dan bukannya mengundang mereka untuk berdialog. Bagaimana dia bisa pasti bahwa dia sudah mengerti nuansa-nuansa halus dari posisi mereka? Sepertinya dia tidak cukup pintar. Dan yang jelas dia tidak cukup cool untuk membangun gereja yang besar.

EDITOR: Dialektika Hegel mengacu kepada sistem yang dikembangkan oleh Hegel, seorang filsuf Jerman yang menolak kekristenan tradisional dan menolak adanya kebenaran absolut. Hegel berpendapat bahwa sangatlah “sempit” dan “dogmatis” untuk berkata bahwa kalau ada dua pernyataan yang bertentangan maka salah satunya haruslah salah. Hegel menyatakan bahwa pertama akan muncul THESIS, tetapi lalu akan muncul ANTITHESIS yang bertentangan dengan THESIS. Dari interaksi antara Thesis dan Antithesis inilah akan muncul kondisi ketiga, di mana hal-hal yang bertentangan terintegrasikan untuk mencapai suatu SINTESIS yang lebih tinggi dan lebih kaya. Sistem ini sering dipakai untuk menantang posisi-posisi tradisional. Misalnya, “dialog” antara posisi Alkitab yang tradisional dengan posisi modernisme, dengan tujuan untuk mencapai suatu titik tengah kompromi, suatu SINTESIS. Ini adalah proses yang berbahaya karena proses ini dari awal menolak adanya kebenaran absolut.

This entry was posted in Ekumenisme, Emerging Church. Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *