Apakah Iman Pemberian Allah atau Tanggung Jawab Manusia?

Orang Kristen yang percaya Alkitab mempercayai apa yang Paulus katakan dan ajarkan, bahwa “keselamatan” adalah “oleh iman kepada Kristus Yesus” (2 Tim. 3:15). Kebenaran ini bukan hanya satu dua kali diserukan, tetapi berulang kali diajarkan dan ditekankan oleh penulis-penulis yang terinspirasi. Jadi, iman adalah komponen yang sangat penting dalam keselamatan, yaitu menjadi syarat keselamatan. Oleh karena pentingnya iman dalam keselamatan, sangatlah penting bagi orang percaya untuk memahami secara persis tentang iman itu sendiri.

Dalam artikel pendek ini, isu yang dibahas adalah mengenai asal usul iman. Apakah iman berasal dari Allah sebagai suatu pemberian, ataukah iman adalah respons manusia, suatu tanggung jawab individu? Isu ini adalah sesuatu yang memisahkan antara Kalvinis dan non-Kalvinis.

Kalvinisme mengusung konsep bahwa keselamatan seseorang sebenarnya ditentukan oleh Allah dalam kekekalan melalui dekrit rahasia. Penentuan Allah atas keselamatan seseorang ini bersifat tidak bersyarat (unconditional election). Jadi, dalam Kalvinisme, seseorang yang dipilih untuk diselamatkan, akan dilahirbarukan (tanpa dapat ditolak, irresistible grace), dan kemudian pasti akan menjadi percaya, atau dengan kata lain dibuat menjadi percaya. Dengan demikian, posisi Kalvinis secara alami adalah bahwa iman, atau percayanya seseorang, itu sebenarnya tergantung kepada Allah. Kalau Allah memilih seseorang, maka Allah akan melahirbarukannya, dan ia akan percaya. Percaya atau iman adalah salah satu dari mata rantai tindakan Allah pada diri orang pilihan. Oleh karena itu, Kalvinis mengatakan bahwa iman adalah karunia atau pemberian Allah

G. J. Baan adalah tipikal Kalvinis ketika ia menulis: “Iman ini dikerjakan oleh Roh Kudus, yang adalah Pekerja dan Penanam iman. Melalui Panggilan dan kelahiran kembali, Roh Kudus telah menanamkan iman di dalam hati.”1 Perhatikan kata “menanamkan” yang dipakai. Dalam skema Kalvinis, manusia sama sekali pasif, tidak bertanggung jawab untuk ada atau tidak adanya iman di dalam dirinya. Roh Kuduslah yang “menanam,” yang mengerjakan melalui “panggilan” dan “kelahiran kembali.”

Sebaliknya, non-Kalvinis melihat bahwa iman adalah tanggung jawab dan respons manusia terhadap Injil keselamatan. Iman adalah sikap percaya dan menerima karya keselamatan yang lengkap diselesaikan oleh Yesus Kristus. Ada banyak ayat Alkitab yang mengajarkan hal ini, yang akan dipaparkan nanti, tetapi artikel ini ingin mengemukakan bahwa sebenarnya non-Kalvinis (yang Alkitabiah) tidak menentang konsep bahwa iman adalah karunia Allah. Ini mungkin mengejutkan, tetapi dapat ditegaskan bahwa non-Kalvinis juga bisa melihat iman sebagai karunia atau pemberian Allah! Tentu paham “karunia” atau “pemberian” di sini berbeda dengan paham Kalvinis.

Non-Kalvinis percaya bahwa iman adalah karunia atau pemberian Allah, tetapi dalam pengertian yang tidak bertentangan dengan konsep bahwa iman adalah tanggung jawab atau respons manusia. Artinya, non-Kalvinis dapat mengakui kedua kebenaran ini: iman adalah karunia/pemberian Allah, sekaligus juga adalah tanggung jawab manusia.

Secara lebih mendetil, bisa dikatakan bahwa iman adalah karunia Allah bagi manusia karena beberapa hal. Pertama, manusia tidak mungkin bisa beriman kepada Allah tanpa dimampukan oleh Roh Kudus. Sebagian Kalvinis mengira bahwa non-Kalvinis percaya manusia bisa percaya kepada Yesus dengan kemampuannya sendiri. Hal ini sama sekali tidak benar untuk non-Kalvinis yang Alkitabiah.2 Alkitab tegas mengatakan bahwa “Tidak ada seorangpun yang dapat datang kepada-Ku, jikalau ia tidak ditarik oleh Bapa yang mengutus Aku.” Ayat ini tidak perlu dibaca dengan pengertian Kalvinistik, tetapi ayat ini menegaskan bahwa kemampuan untuk datang kepada Yesus adalah suatu karunia.3 Tanpa tindakan Allah menarik manusia, ia tidak mungkin beriman. Kedua, iman adalah karunia Allah karena Allah memberikan kesempatan kepada manusia untuk beriman. Allah bisa saja memusnahkan manusia sebelum ada kesempatan untuk beriman. Tetapi setiap orang percaya haruslah mengucap syukur bahwa Allah memberikannya waktu dan kesempatan untuk beriman. Itu adalah suatu karunia. Selain itu, iman juga bisa dikatakan karunia Tuhan karena Tuhan-lah yang menyediakan objek iman, yaitu Yesus Kristus. Jika Yesus Kristus tidak datang ke dalam dunia, tidak ada yang dapat kita imani untuk keselamatan kita. Dari ini semua, cukup jelas bahwa iman adalah karunia Allah.

Tetapi, penjelasan tentang karunia iman di atas tidaklah bertentangan dengan konsep alkitabiah bahwa iman adalah tanggung jawab manusia. Artinya, walaupun Allah memampukan seseorang untuk beriman (melalui kerja Roh Kudus dalam hatinya), dan memberikan kesempatan dia untuk beriman, dan menunjukkan kepadanya Yesus Kristus sebagai objek iman, orang yang bersangkutan itu sendirilah yang harus beriman. Tidak mungkin juga Tuhan yang beriman untuk orang tersebut. Dan ada kemungkinan bahwa walaupun Roh Kudus sudah bekerja dalam hati seseorang untuk menarik dia kepada Yesus, orang itu tetap menolak untuk beriman. Keputusan untuk beiman atau tidak beriman tetap merupakan tanggung jawab individu.

Jadi, iman adalah karunia, karena Allah memampukan manusia beriman (dan hal-hal lain), tetapi iman juga tanggung jawab karena keputusan untuk beriman atau tidak tetap adalah respons individu, bukan ditentukan oleh Allah. Konsep karunia seperti ini cocok dengan konsep karunia pada umumnya. Jikalau seseorang memberikan kepada temannya suatu karunia, atau hadiah, orang itu tetap dapat merespon, menerima atau menolak hadiah tersebut. Sekalipun seseorang tidak perlu membayar, atau bekerja, tetap saja ia harus memilih untuk menerima suatu hadiah. Kalau ia tidak menerimanya, maka hadiah yang sudah disediakan baginya itu tidak akan dapat ia nikmati. Ini paralel dengan keselamatan atau iman yang adalah karunia, namun tanpa menghilangkan adanya tanggung jawab untuk menerima karunia itu.

Jika demikian, apakah konsep non-Kalvinis ini menjadi sama dengan Kalvinis? Bukankah keduanya mengakui bahwa iman adalah karunia Allah? Tidak juga. Pertama, Kalvinis tidak mau menegaskan bahwa iman adalah tanggung jawab atau respons manusia. Dan, mereka memiliki konsep yang berbeda tentang iman sebagai “karunia Allah.” Konsep Kalvinis adalah bahwa kalau seseorang dipilih, maka ia pasti beriman. Iman dalam Kalvinisme adalah salah satu hasil pemilihan. Dengan demikian, sebenarnya posisi Kalvinis adalah bahwa iman adalah karunia yang tidak dapat ditolak, selaras dengan pengajaran mereka tentang irresistible grace. Terkadang, dalam perdebatan antara Kalvinis dengan non-Kalvinis, ada non-Kalvinis yang menentang konsep “iman adalah pemberian Allah.” Tetapi, yang ditentang sebenarnya adalah “karunia” dalam pengertian “tidak dapat ditolak.” Non-Kalvinis tidak menentang konsep iman sebagai karunia yang tetap harus diterima, tetapi bisa juga ditolak, oleh manusia.

Jadi, non-Kalvinis percaya bahwa iman adalah tanggung jawab manusia, dan JUGA karunia Allah. Tanpa kerja Roh Kudus, kesempatan yang Allah berikan, dan objek iman Yesus Kristus, manusia berdosa tidak mungkin bisa beriman. Namun, setiap individu tetap harus bertanggung jawab untuk beriman. Ia bisa menolak tarikan Allah. Sebaliknya, Kalvinis mengajarkan iman sebagai suatu pemberian/karunia yang tidak dapat ditolak. Pembaca sekalian bisa memutuskan, apakah sesuatu cocok untuk disebut karunia jika tidak dapat ditolak, ataukah suatu karunia tetap harus diterima. Bagian berikut artikel ini akan membahas yang mana dari kedua model ini yang benar, berdasarkan ayat-ayat Alkitab, dan argumentasi lainnya.

A. Iman Adalah Karunia Allah

Kalvinis terkadang menunjuk kepada ayat-ayat Alkitab yang mengindikasikan bahwa iman adalah suatu karunia, dan mereka berpikir bahwa hal ini membenarkan Kalvinisme. Tetapi, sebenarnya, seperti yang sudah dibahas di atas, non-Kalvinis yang alkitabiah juga percaya bahwa iman adalah karunia, jadi ayat-ayat ini tidaklah mendukung Kalvinisme. Kalvinisme baru akan terbukti benar jika ada ayat yang mengajarkan bahwa iman adalah karunia yang tidak dapat ditolak. Tetapi tidak ada ayat yang mengajarkan bahwa iman adalah karunia yang tidak dapat ditolak. Berikut adalah beberapa ayat yang terkadang disalahgunakan.

Filipi 1:29Sebab kepada kamu dikaruniakan bukan saja untuk percaya kepada Kristus, melainkan juga untuk menderita untuk Dia”

Ayat ini sering dipakai untuk membuktikan bahwa “iman adalah karunia.” Tetapi sekali lagi, konsep demikian tidaklah membahayakan bagi non-Kalvinis. Sebaliknya, kita bertanya, apakah ayat ini membicarakan karunia yang tidak dapat ditolak, ataukah suatu karunia dalam pengertian normal, yaitu sesuatu yang bisa ditolak dan bisa diterima?

Poin ayat ini sebenarnya adalah untuk menegarkan orang percaya terhadap penderitaan yang akan datang dalam perjuangan hidup Kristiani. Karunia untuk percaya diparalelkan dengan karunia untuk menderita bagi Kristus. Bagaimanakah “menderita bagi Kristus” bisa dianggap karunia? Apakah hal itu terjadi tanpa tanggung jawab manusia. Apakah seseorang ditentukan untuk menderita bagi Kristus secara sepihak oleh Tuhan, ataukah ada respons manusia yang dituntut?

Ada banyak ayat yang menegaskan tanggung jawab manusia untuk ikut menderita dalam perjuangan Kristiani. Misalnya, Paulus berkata “Ikutlah menderita sebagai seorang prajurit yang baik dari Kristus Yesus” (2 Tim. 2:3). Penderitaan bukanlah sesuatu tanpa tanggung jawab manusia. Ada ajakan untuk ikut menderita, ada respons manusia yang diminta oleh Tuhan.Namun demikian, menderita juga disebut karunia karena kemuliaan Tuhan janjikan menyertai penderitaan itu. Jadi, ayat ini sama sekali tidak mendukung konsep iman sebagai karunia yang tidak dapat ditolak, tetapi cocok dengan konsep iman sebagai karunia dalam pengertian non-Kalvinis, yaitu karunia yang tetap menuntut respons manusia.

Efesus 2:8 “Sebab karena kasih karunia kamu diselamatkan oleh iman; itu bukan hasil usahamu, tetapi pemberian Allah”

Kalvinis terkadang memakai ayat ini untuk mengatakan bahwa “iman” adalah pemberian Allah, dan lebih lanjut lagi, bukanlah “hasil usahamu,” sehingga bukanlah tanggung jawab manusia. Tetapi pengertian seperti ini sangatlah salah dan asing bagi ayat ini. Pertama, iman memang bukan usaha atau pekerjaan, melainkan suatu sikap menerima pemberian Allah. Jadi, iman bisa saja memang “bukan usaha” tetapi adalah “tanggung jawab” manusia. Tidak semua “tanggung jawab” adalah “usaha.”

Kedua, Kalvinis salah menafsirkan frase “itu bukan hasil usahamu.” Mereka melihat kata “itu” mengacu kepada iman. Gill, berkomentar tentang Efesus 2:8 dengan berkata, “…dan iman ini bukanlah hasil kehendak bebas dan kuasa manusia, tetapi adalah pemberian bebas dari Allah.”4 Padahal, frase “itu bukan hasil usahamu” tidak mungkin mengacu kepada iman jika ditilik dari bahasa aslinya. Dalam bahasa Yunani, “iman” berasal dari kata pistis, suatu kata benda feminim. Sedangkan, kata “itu” dalam ayat ini adalah kata touto, suatu kata penunjuk netral. Jadi, secara grammatis, tidak mungkin suatu kata penunjuk netral mengacu kepada kata benda feminim. Sebenarnya, “itu” yang dimaksud adalah konsep keselamatan yang dibahas Paulus dalam perikop ini. “Keselamatan” bukan hasil usaha manusia, tetapi pemberian Allah. Tentu non-Kalvinis sangat setuju bahwa keselamatan adalah pemberian Allah. Justru hal ini membuat kita kembali kepada pertanyaan, bukankah suatu “pemberian” seharusnya bisa ditolak dan bisa diterima? Ayat ini sama sekali tidak mendukung iman sebagai karunia yang tidak bisa ditolak.

2 Tesalonika 3:2dan supaya kami terlepas dari para pengacau dan orang-orang jahat, sebab bukan semua orang beroleh iman.”

Ayat ini sekilas tampak mengajarkan bahwa orang-orang jahat adalah orang-orang yang tidak “beroleh” iman. Jadi, mereka tidak diberikan iman (oleh Tuhan), sehingga mereka tetap orang jahat. Tetapi penafsiran seperti in tentu sangat berbahaya, karena ujung-ujungnya mempersalahkan si pemberi iman (kenapa tidak memberikan iman kepada mereka). Selain itu, penafsiran ini didasarkan kepada penerjemahan yang salah. LAI melakukan kesalahan besar dalam penerjemahan ayat ini dengan memakai kata “beroleh.”

Pengertian sebenarnya ayat ini tercermin dalam terjemahan yang lebih baik. KJV misalnya, berbunyi, “And that we may be delivered from unreasonable and wicked men: for all men have not faith.” Jadi, “tidak semua orang memilikiiman.” Itulah sebabnya mereka jahat, karena mereka tidak memiliki iman. Ayat ini sama sekali tidak berbicara mengenai asal usul iman itu, tetapi mempersalahkan orang-orang itu sendiri, mereka jahat karena tidak beriman.

Roma 12:3 “… tetapi hendaklah kamu berpikir begitu rupa, sehingga kamu menguasai diri menurut ukuran iman, yang dikaruniakan Allah kepada kamu masing-masing.”

Ayat ini berbicara mengenai iman yang dikaruniakan Allah. Tetapi, ada beberapa alasan mengapa ayat ini sama sekali tidak mendukung konsep Kalvinis tentang iman sebagai karunia yang tidak dapat ditolak. Terutama adalah fakta bahwa perikop ini sama sekali bukan berbicara mengenai iman keselamatan. Perikop ini berbicara mengenai iman sebagai salah satu karunia rohani, yang diberikan kepada seseorang yang sudah percaya Yesus. Karunia rohani yang sama disinggung Paulus dalam 1 Korintus 12:9, “Kepada yang seorang Roh yang sama memberikan iman, dan kepada yang lain Ia memberikan karunia untuk menyembuhkan.” Tidak mungkin ini mengacu kepada iman keselamatan, karena tidak semua orang yang selamat mendapatkan karunia ini. Karunia rohani ini mengacu kepada kemampuan yang Tuhan berikan kepada orang-orang tertentu untuk melakukan hal-hal besar bagi Tuhan berdasarkan iman. Iman dalam Roma 12:3 dan 1 Korintus12:9 berkenaan dengan iman dalam pelayanan khusus.

2 Petrus 1:1 “Dari Simon Petrus, hamba dan rasul Yesus Kristus, kepada mereka yang bersama-sama dengan kami memperoleh iman oleh karena keadilan Allah dan Juruselamat kita, Yesus Kristus.”

Ayat ini juga terkadang dipakai Kalvinis untuk mengajarkan bahwa iman adalah karunia atau pemberian Allah. Tetapi, sekali lagi perlu ditekankan, sistem non-Kalvinis tidaklah anti dengan konsep iman sebagai karunia, bahkan non-Kalvinis mengajarkan bahwa iman adalah karunia sekaligus tanggung jawab. Yang tidak dipercayai non-Kalvinis, adalah implikasi Kalvinisme bahwa iman adalah karunia yang tidak dapat ditolak, dan yang tidak melibatkan tanggung jawab manusia.

Ayat ini sama sekali tidak mengatakan bahwa iman adalah karunia yang tidak dapat ditolak, itu harus dibaca oleh Kalvinis ke dalam teks. Orang percaya memperoleh iman dari Tuhan, itu benar! Apakah ini menghilangkan tanggung jawab manusia? Sama sekali tidak! Jika seseorang berkata bahwa ia memperoleh ilmu dari gurunya, apakah itu berarti ia tidak bertanggung jawab untuk belajar? Iman adalah karunia Tuhan, tetapi manusia bertanggung jawab untuk menerima karunia itu. Bagian berikut akan mempertegas hal ini.

Apakah Iman itu Usaha atau Jasa?

Kalvinis sering mengatakan, bahwa jika iman itu bukan kasih karunia (yang tidak dapat ditolak), melainkan respons manusia, maka iman menjadi semacam jasa yang dapat dibanggakan oleh manusia. Dengan kata lain, mereka menuduh iman versi non-Kalvinis sebagai “usaha manusia” atau “jasa.” Tetapi, ini adalah logika mereka sendiri. Iman itu tidak lain dari sikap menerima. Apakah menerima suatu hadiah bisa dikatakan suatu jasa? Apakah menerima hadiah berarti ikut bekerja untuk hadiah itu? Sama sekali tidak! Untuk pembahasan lebih lanjut mengenai tuduhan Kalvinis bahwa iman (non-Kalvinis) adalah jasa/usaha, silakan llihat artikel lain di http://www.graphe-ministry.org/downloads/Perbedaan_Kalvinis_dengan_non-Kalvinis(1).pdf.

B. Iman Adalah Tanggung Jawab Manusia

Manusia diperintahkan untuk percaya!

Ketika kepala penjara Filipi bertanya tentang apa yang harus ia lakukan untuk diselamatkan, Paulus tidak berkata, “Tidak ada apa-apa yang bisa kamu lakukan. Silakan menantikan pemberian iman, jika memang engkau orang pilihan.” Tidak, sebaliknya, Paulus berkata, “Percayalah kepada Tuhan Yesus Kristus dan engkau akan selamat, engkau dan seisi rumahmu” (Kis. 16:31). Ada sesuatu yang harus ia lakukan, bukan dalam pengertian suatu usaha atau pekerjaan, atau jasa, tetapi ada tanggung jawab untuk beriman.

Perintah untuk beriman kepada Yesus merupakan inti dari Injil, dan sudah dikumandangkan sejak semula. Tuhan Yesus sendiri memulai pelayananNya dengan menekankan tanggung jawab ini: “Waktunya telah genap; Kerajaan Allah sudah dekat. Bertobatlah dan percayalah kepada Injil!” (Mar. 1:15). Belakangan Ia juga berkata, “Janganlah gelisah hatimu; percayalah kepada Allah, percayalah juga kepada-Ku.” Ini adalah perintah.5 Manusia diperintahkan untuk percaya! Jelas ini menunjuk kepada suatu tanggung jawab! Jika iman adalah suatu pemberian yang tidak dapat ditolak, maka sama sekali tidak ada gunanya untuk memerintahkan hal ini. Lebih masuk akal untuk meminta Allah memberikan iman, daripada memerintahkan manusia untuk percaya!

Posisi Kalvinis bagaikan seorang guru yang secara rahasia menyelipkan pita-pita biru ke dalam tas sebagian murid-muridnya pada saat mereka beristirahat. Lalu guru ini memberikan perintah kepada semua murid untuk memiliki pita biru, padahal tidak ada cara untuk memperoleh pita biru itu kecuali melalui “pemberian” guru tadi. Apakah tanggapan kita tentang perintah guru demikian? Tentunya ini adalah suatu perintah yang aneh. Guru itu tahu bahwa yang tidak dia berikan pita biru tidak mungkin memiliki pita biru. Lebih lagi, yang sudah dia berikan pita biru (secara rahasia) tidak perlu diperintah. Perintah ini menjadi sesuatu yang sama sekali tidak berguna, dan boleh dikategorikan sebagai suatu sandiwara.

Demikian juga jika iman dikonsepkan sebagai suatu pemberianyang tidak dapat ditolak, maka semua perintah Tuhan agar manusia percaya dan bertobat kepadaNya menjadi tidak berguna, dan tidak lebih dari suatu sandiwara.

Ketidakpercayaan adalah pilihan manusia

Ibrani 3:12 berbunyi, “Waspadalah, hai saudara-saudara, supaya di antara kamu jangan terdapat seorang yang hatinya jahat dan yang tidak percaya oleh karena ia murtad dari Allah yang hidup.” Ayat ini dengan jelas mengajarkan bahwa sikap tidak percaya adalah pilihan manusia, dan suatu pilihan yang dapat dihindari. Oleh sebab itu, penulis menghimbau audiensnya untuk jangan menjadi tidak percaya. Tetapi ini berarti audiens kitab Ibrani bisa memilih untuk percaya! Itu berarti percaya adalah tanggung jawab manusia yang bisa ia pilih.

Manusia dipuji Tuhan berdasarkan imannya

Ada beberapa perikop yang memperlihatkan pujian Tuhan (atau sejenisnya) atas iman manusia. Matius mencatat: “Maka Yesus menjawab dan berkata kepadanya: “Hai ibu, besar imanmu, maka jadilah kepadamu seperti yang kaukehendaki.” Dan seketika itu juga anaknya sembuh” (Mat. 15:28). Lukas mencatat, “Setelah Yesus mendengar perkataan itu, Ia heran akan dia, dan sambil berpaling kepada orang banyak yang mengikuti Dia, Ia berkata: ‘Aku berkata kepadamu, iman sebesar ini tidak pernah Aku jumpai, sekalipun di antara orang Israel!’” (Luk. 7:9). Jika memang iman adalah pemberian yang tidak dapat ditolak, untuk apa Yesus heran akan iman perwira yang dicatat dalam Lukas pasal 7? Bukankah iman itu diberikan oleh Yesus sendiri (oleh Allah) secara tidak dapat ditolak? Jika saya memberikan sebuah rumah besar kepada seseorang, lalu mengunjungi rumah orang tersebut, akankah saya heran bahwa rumahnya besar? Ini hal yang sangat konyol. Tetapi, jika iman tetap menyertakan porsi tanggung jawab manusia, maka pujian Tuhan terhadap iman ibu di Matius, atau perwira di Lukas, adalah pujian yang tulus, bukan sandiwara murahan.

Manusia dituntut tanggung jawabnya untuk percaya

Pertanyaan mendasar adalah: jika iman bukan tanggung jawab manusia, bagaimana bisa Tuhan menuntut pertanggungan jawab manusia untuk percaya? Tetapi jelas Allah menuntut tanggung jawab dari manusia yang tidak percaya! “Barangsiapa percaya kepada-Nya, ia tidak akan dihukum; barangsiapa tidak percaya, ia telah berada di bawah hukuman, sebab ia tidak percaya dalam nama Anak Tunggal Allah” (Yoh. 3:18). “supaya dihukum semua orang yang tidak percaya akan kebenaran dan yang suka kejahatan” (2 Tes. 2:12). Markus mencatat bagaimana Tuhan Yesus mencela ketidakpercayaan sebagian muridNya, “Akhirnya Ia menampakkan diri kepada kesebelas orang itu ketika mereka sedang makan, dan Ia mencela ketidakpercayaan dan kedegilan hati mereka, oleh karena mereka tidak percaya kepada orang-orang yang telah melihat Dia sesudah kebangkitan-Nya” (Mar. 16:14). Masih banyak lagi ayat lain yang memperlihatkan bagaimana Tuhan akan menuntut pertanggungan jawab dari orang yang tidak percaya!

Dalam konsep Kalvinis, iman bukanlah tanggung jawab manusia. Tetapi bagaimana mungkin Allah menuntut manusia bertanggung jawab untuk percaya kalau begitu? Bagaimana Tuhan bisa mencela ketidakpercayaan seseorang jika orang itu tidak bisa percaya tanpa disetel untuik percaya oleh Tuhan? Lebih lanjut lagi, dalam Kalvinisme, jika seseorang tidak beriman, apakah sebabnya? Tidak lain dan tidak bukan, karena Allah tidak memberikan dia iman. Jadi, jika ditarik kepada kesimpulan logisnya, Kalvinisme secara tidak langsung membuat Allah bertanggung jawab atas ketidakberimanan seseorang. Betapa berbahayanya konsep Kalvinisme ini.

Coba kita ganti Yohanes 3:18 menjadi berikut: “Barangsiapa percaya kepadaNya, ia tidak akan dihukum; barangsiapa tidak percaya, ia telah berada di bawah hukuman, sebab ia tidak memperoleh iman dalam nama Tunggal Allah.” Tentu saya yakin semua orang Kristen akan protes dengan bunyi ayat yang demikian! Tetapi dalam Kalvinisme, tidak memiliki imansama dengan tidak dikaruniakan iman oleh Tuhan. Sebaliknya, konsep non-Kalvinis adalah bahwa Allah memberikan kasih karunia, memampukan seseorang beriman, dan menarik dia, tetapi orang itu bisa menolak atau menerima kasih karunia Allah. Jadi, jika seseorang beriman, itu adalah kasih karunia Allah dan respons manusia. Jika seseorang tidak beriman, itu adalah tanggung jawab dia yang telah menolak karunia Allah. Ini adalah model yang alkitabiah.

Manusia Dituntut untuk Tetap Percaya

Hal lain lagi yang dengan tegas menggarisbawahi tanggung jawab manusia dalam hal iman/percaya adalah fakta bahwa manusia dituntut Tuhan untuk “tetap percaya.” Jika “tetap percaya” adalah tanggung jawab manusia, maka dapat dipastikan bahwa iman/percaya itu memang sejak awalnya adalah tanggung jawab manusia.

Banyak ayat yang menyatakan tanggung jawab manusia untuk “tetap percaya.” “Sebab itu janganlah kamu melepaskan kepercayaanmu, karena besar upah yang menantinya” (Ibr. 10:35). “Dan sekarang, saudara-saudara, aku mau mengingatkan kamu kepada Injil yang aku beritakan kepadamu dan yang kamu terima, dan yang di dalamnya kamu teguh berdiri. Oleh Injil itu kamu diselamatkan, asal kamu teguh berpegang padanya, seperti yang telah kuberitakan kepadamu kecuali kalau kamu telah sia-sia saja menjadi percaya” (1 Kor. 15:1-2). Masih banyak lagi yang lain. Intinya adalah bahwa hal ini menegaskan iman sebagai tanggung jawab manusia.

C. Kesimpulan

Kalvinis mengatakan bahwa iman adalah karunia atau pemberian. Ini adalah deskripsi yang kurang lengkap. Non-Kalvinis juga bisa mengatakan bahwa iman adalah karunia dan pemberian. Gambaran yang lebih tepat adalah bahwa Kalvinis mengajarkan iman sebagai karunia yang tidak dapat ditolak. Non-Kalvinis melihat iman sebagai karunia sekaligus tanggung jawab manusia. Dengan kata lain, iman bisa dilihat sebagai karunia, namun manusia tetap punya tanggung jawab untuk menerima atau menolak suatu karunia. Iman bisa disebut karunia dalam beberapa pengertian, misalnya: Allah memungkinkan manusia untuk beriman; Allah memberi manusia kesempatan untuk beriman; Allah memberikan objek iman (Yesus Kristus) kepada manusia. Pada umumnya manusia mengerti bahwa suatu karunia bisa ditolak dan bisa juga diterima.

Ayat-ayat Alkitab yang diteliti memperlihatkan bahwa memang Allah mengaruniakan iman, tetapi tidak ada ayat yang mengatakan bahwa iman adalah kasih karunia yang tidak dapat ditolak, atau mengindikasikan hal tersebut. Sebaliknya, banyak ayat Alkitab lain yang menegaskan bahwa iman adalah tanggung jawab manusia. Sebagai kesimpulan, posisi Non-Kalvinis, bahwa iman adalah karunia (yang bisa diterima/ditolak) sekaligus tanggung jawab manusia, adalah posisi yang Alkitabiah, sedangkan posisi Kalvinis tidak Alkitabiah, tidak logis, dan pada ujungnya mempersalahkan Allah atas ketidakpercayaan manusia.

1G. J. Baan, TULIP (Surabaya: Penerbit Momentum, 2009), hal. 130.

2Bisa saja ada kelompok-kelompok non-Kalvinis yang percaya demikian, tetapi tidak untuk banyak kelompok non-Kalvinis.

3Kalvinis melihat “tarikan” di ayat ini sebagai irresistible grace, tetapi itu adalah eisegesis. Sebaliknya, Yohanes 12:32 berbunyi, “dan Aku, apabila Aku ditinggikan dari bumi, Aku akan menarik semua orang datang kepada-Ku.”

4John Gill, John Gill’s Exposition of the Entire Bible, s.v. Efesus 2:8, diakses dari program The Word.

5Kata “percaya” (pisteuo), muncul 13 kali dalam Perjanjian Baru dalam bentuk perintah (Imperative).

This entry was posted in Kalvinisme. Bookmark the permalink.

31 Responses to Apakah Iman Pemberian Allah atau Tanggung Jawab Manusia?

  1. Pingback: Iman | kebenaran Absolut

  2. Pingback: novsupriyanto93

  3. Antono Adhi says:

    Seperti Arminian lainnya, Dr. Steven ini orang-orang sombong di hadapan Allah. Pelajaran pertama dari Calvinisme: menyadari manusia itu debunya debu di hadapan Allah. Gelar doktormu itu debu di hadapan Allah. Hanya membuatmu semakin menjadi sampah di hadapanNya.
    Mana ada orang bisa percaya Yesus itu Tuhan dan Juru Selamatnya kalau tidak dipilih.
    Mana bisa Allah yang tak terbatas dan tak terbayangkan otakmu yang debu itu gagal memilih debu yang dipilih sebelum dunia dijadikan.
    Saya tantang demi Yesus Raja Surga, komen saya ini tetap dipublish.

  4. Dr. Steven says:

    Anda menghakimi sesuatu yang tidak bisa anda ketahui ketika anda berkata saya “sombong.” Anda tahu hati saya?
    Saya memang adalah debu. Doktor saya kurang dari debu. Yang saya junjung adalah Firman Tuhan.
    Firman Tuhanlah yang membantah Kalvinisme. Firman Tuhan mengatakan bahwa Allah memilih berdasarkan pra-pengetahuan.
    Firman Tuhan menuntut manusia untuk percaya.
    Firman Tuhan mengatakan Allah mengasihi SEMUA manusia.
    Firman Tuhan mengatakan Allah menghendaki SEMUA manusia diselamatkan.
    Kalvinis yang mengubah-ubah Firman Tuhan, dari SEMUA menjadi ‘semua orang pilihan.’
    Di artikel ini saya suguhkan banyak Firman Tuhan, yang tidak bisa anda bantah sama sekali.

  5. Antono Adhi says:

    Bisakah Allah yang Maha itu salah memberi iman kepada manusia yang debu itu sehingga ia menolak iman pemberian-Nya?
    Allah macam apa itu bisa salah pilih. Atau Anda begitu sombongnya mampu menolak kuasa Allah.

  6. Dr. Steven says:

    Sepertinya anda tidak membaca artikelnya sama sekali, makanya hal sederhana pun masih bingung.
    Pahami dulu ayat berikut:
    “Yerusalem, Yerusalem, engkau yang membunuh nabi-nabi dan melempari dengan batu orang-orang yang diutus kepadamu! Berkali-kali AKU RINDU mengumpulkan anak-anakmu, sama seperti induk ayam mengumpulkan anak-anaknya di bawah sayapnya, tetapi KAMU TIDAK MAU.” Matius 23:37
    Allah sendiri yang memutuskan untuk menciptakan manusia yang diberi kehendak bebas, termasuk untuk menolak Allah.
    Kalvinis seperti kamu percaya Allah menghendaki sebagian (besar) orang masuk neraka!

  7. Antono Adhi says:

    Ah tolol lu. Siapa bilang Calvin omong Allah menghendaki orang masuk neraka. Semua natur manusia berdosa pasti masuk neraka. Allah hanya menghendaki orang yang telah dipilihNya diselamatkan dari neraka. Yang lain? Memang mereka pasti mati karena dosanya. Bisa bedakan? Tidak? Copot saja gelar doktormu.
    Lihat ini:
    Yoh 3:18 Barangsiapa percaya kepada-Nya, ia tidak akan dihukum; barangsiapa tidak percaya, ia telah berada di bawah hukuman –> naturnya semua dihukum, telah berada di bawah hukuman.
    Mat 13:15 Sebab hati bangsa ini telah menebal, dan telinganya berat mendengar, dan matanya melekat tertutup; supaya jangan mereka melihat dengan matanya dan mendengar dengan telinganya dan mengerti dengan hatinya, lalu berbalik sehingga Aku menyembuhkan mereka. –> orang tertentu yang tidak dipilihNya dibiarkannya tetap dalam hukuman karena dosa yang diperbuatnya.
    Siapa yang dipilih Allah, siapa yang enggak, mengapa dipilih, mengapa enggak, nggak ada yang tahu. Itu hak Allah, yang punya sorga.
    Hoi bisa bedakan nggak? Makanya kalo tak bilang kamu nggak tahu Calvin, ya nggak tahu. Sok tahu lo. Jangan2 kamu ngotot gitu karena merasa tidak dipilih….

  8. Dr. Steven says:

    Ah, seorang Kalvinis yang tidak berpikir jernih, malah memaki-maki orang.
    Semua natur manusia berdosa pasti masuk neraka. Ini saya setuju.
    Perbedaan Krusial: Kalvinis percaya bahwa Allah yang menentukan manusia untuk berdosa!
    Jadi, dalam Kalvinisme, dosa hanyalah “alasan” Allah untuk menghukum manusia! Karena Allah sudah sejak kekekalan menentukan Adam (dan semua manusia lain) untuk berdosa!
    Itulah sebabnya saya mendapatkan Kalvinisme sebagai pengajaran yang sangat mengerikan: Allah tetapkan manusia untuk berdosa, lalu Allah menghukum manusia yang telah Dia tetapkan berdosa itu untuk masuk neraka dengan alasan ia berdosa.
    Ini sama dengan Jendral yang perintahkan anak buahnya membunuh orang, lalu menangkap dan menghukum anak buah itu karena ia membunuh sesuai ketetapannya sendiri.

    John Kalvin sendiri berkata: “All are not created on equal terms, but some are preordained to eternal life, others to eternal damnation; and, accordingly, as each has been created for one or other of these ends, we say that he has been predestinated to life or to death.” ( Institutes, III, 21.5)

    Kalau Allah menciptakan sebagian orang untuk masuk neraka (kata-kata Kalvin sendiri), bukankah itu berarti Allah memang menghendaki mereka masuk neraka?
    Coba renungkan dulu dengan hati terbuka.

  9. Antono Adhi says:

    Jawabnya ya kembali ke kamu.
    Kalau Allah sudah tahu sebelum dunia jadi, bahwa manusia bakal berdosa dan masuk ke neraka karena dosanya, kenapa Dia masih tetap melanjutkan rencanaNya untuk menciptakan bumi dan isinya? Ini kan sama saja dengan pemikiranmu kalau Allah menghendaki mereka masuk neraka. Lho kalau Allah tahu bakalan dikianati, menurut pemikiranmu kan seharusnya Allah membatalkan rencanaNya menciptakan manusia? Setidaknya menciptakan manusia yang lebih super daripada Adam yang tidak jatuh dosa? Tapi kenapa tetap menciptakan manusia dan mempersiapkan nerakanya? Ini kan fakta Alkitab. Ayo kamu mau jawab apa?
    Atau jangan-jangan kamu tidak percaya Allah itu tidak tahu kalau manusia yang akan diciptakannya bakalan berontak? Setelah Adam jatuh dosa baru Allah bingung, kok bisa begini ya? Sama dengan pemikiranmu, saat Allah menawarkan keselamatan , kamu menolak, Allah lalu bingung, kok bisa ditolak ya? Ayo jawab apa?

    Kamu merasa ngeri ya? Tapi kenapa Allah harus menciptakan neraka? Kenapa tidak surga saja? Ini faktanya sehingga memang seharusnya kamu layak mendapat kengerian itu. Bagi kami orang pilihan, kami lebih memilih pikiran berkat anugerah, dipilih untuk diselamatkan. Kami tidak berpikir pada yang tidak dipilih untuk tidak diselamatkan. Bagi kamu orang yang merasa tidak dipilih, terbukti kamu lebih memilih berpikir pada yang tidak dipilih . Karena kamu lebih memilih mempunyai hak untuk memilih diselamatkan atau tidak. Maka kengerian menjadi bagianmu. Kalo kamu bingung, berarti kamu bukan doktor.

  10. Dr. Steven says:

    Nah, jadi kamu tidak lagi protes bahwa Kalvinis memang mengajarkan Allah menghendaki manusia tertentu untuk masuk neraka.
    Tetapi, sekarang taktik kamu berubah, kamu sekarang mencoba untuk membuat posisi saya sama dengan kamu.
    Toh, Allah yang mahatahu bahwa sebagian orang akan masuk neraka, tetap menciptakan mereka! Itu inti argumen kamu saat ini.

    Tetapi, ada perbedaan yang sangat hakiki antara posisi Kalvinis dengan posisi Alkitabiah.
    Saya yang berposisi Alkitabiah dapat dengan jujur dan sejati berkata Allah tidak menghendaki mereka masuk neraka.
    Memang Allah menciptakan mereka, tetapi perhatikan perbedaan berikut:

    1. Kalvinis mengajarkan Allah menentukan Adam untuk berdosa
    Alkitabiah mengajarkan Allah tidak menentukan Adam untuk berdosa, itu kehendak bebas Adam sendiri

    2. Kalvinis mengajarkan Allah menentukan setiap manusia untuk melakukan setiap dosa yang mereka lakukan
    Alkitabiah mengajarkan Allah sama sekali tidak menentukan siapapun untuk berdosa, itu kehendak bebas mereka sendiri

    3. Kalvinis mengajarkan Allah tidak mengasihi sebagian manusia (non-pilihan) [tidak semua Kalvinis senekat itu mengakui hal ini, tetapi sebagian mengakuinya terus terang]
    Alktiabiah mengajarkan Allah mengasihi semua manusia

    4. Kalvinis mengajarkan Allah tidak menginginkan keselamatan non-pilihan
    Alkitabiah mengajarkan Allah menginginkan keselamatan semua manusia

    5. Kalvinis mengajarkan Allah tidak menyediakan keselamatan untuk non-pilihan (Yesus hanya mati untuk pilihan)
    Alkitabiah mengajarkan Allah menyediakan keselamatan untuk semua manusia

    Jadi, walaupun Kalvinis dan Alkitabiah sama-sama setuju bahwa Allah mahatahu, dan bahwa Allah menciptakan, ada perbedaan besar tentang bagaimana menjelaskan kemahatahuan Allah.
    Terlihat dari pengajaran Kalvinis bahwa dari awal Allah sudah merencanakan, menetapkan, dan memastikan orang-orang tertentu untuk masuk neraka.
    Alkitabiah melihat bahwa Allah menginginkan dan berusaha untuk keselamatan semua manusia.
    Oleh karena itu, dapat dikatakan bahwa Kalvinis mengajarkan Allah menghendaki sebagian (mayoritas) manusia masuk neraka, tetapi tuduhan yang sama tidak bisa diterapkan pada posisi Alkitabiah.

  11. Dr. Steven says:

    Mengetahui sesuatu akan terjadi tidak sama dengan menghendaki itu terjadi.
    Ketika Allah menciptakan manusia, Ia tahu bahwa sebagian akan masuk neraka, tetapi tidak sama dengan Ia menghendaki mereka masuk neraka.

    Dalam ilustrasi manusia:
    Seorang guru/dosen bisa saja dapat memprediksikan secara cukup akurat, bahwa sebagian muridnya tidak akan lulus ujian.
    Tetapi ketika ia memberikan ujian itu, bukan berarti ia menghendaki ada yang tidak lulus.

    Beda lagi ajaran Kalvinis bahwa Allah yang mahatahu sama dengan Allah yang menentukan segala sesuatu.
    Dalam ilustrasi tersebut, berarti guru itu yang memastikan murid itu menjawab dengan salah (Allah menentukan manusia berdosa).

  12. Antono Adhi says:

    Ya ndak sama babar blas mbul.
    Guru tidak tahu siapa yang tidak lulus, siapa yang lulus sampai selesai ujian. Allah tahu, semua bakal tidak selamat, lalu siapa yang tidak selamat, siapa yang akan diselamatkan, meskipun ujian keselamatan belum dijalankan.
    Guru tidak berhak tidak meluluskan muridnya kalau muridnya tidak diberi ujian. Kalau Allah, membiarkan manusia mengerjakan keselamatannya sendiri, tidak ada yang lolos ujian. Semua bakal binasa. Tidak ada yang lolos. Semua berdosa.
    Coba sekarang pikir (kalo masih punya pikiran), kalau Yesus tidak ditugaskan menyelamatkan, adakah secuil manusia pun yang selamat? Tidak ada bukan? Semua bakal binasa.
    Alkitab mengatakan, beberapa orang dipilih untuk ditentukan selamat dengan diselamatkan oleh Allah. Yang harusnya mati karena cacat dipandangnya tidak cacat karena Yesus mati buat mereka yang percaya. Lih Ef 1:4., 1 Pet 1:20. Hayo jangan pelintir Alkitab lagi.
    Yang lainnya? Bukan salah Allah kalau tidak memilih mereka. Itu hak Allah. Apa mereka mati karena Allah sewenang-wenang? Bukan mbul. Mereka mati karena mereka berdosa, cacat. Sama sepertimu yang merasa tidak pernah sama sekali dipilih.
    Allah yang sewenang-wenang menurut pikiranmu itu kalau manusia tidak diberi ujian keselamatan tetapi sebagian dimasukkan surga sebagian dimasukkan neraka.
    Masih sama analoginya? Bodoh kamu.
    Allah menentukan segala sesuatu? Ya. Lih Yeremia dan Yesaya. RancanganNya bukan rancanganmu. RancanganNya damai sejahtera. Allah menentukan rancangan keselamatan. Terserah kalo kamu punya rancangan sendiri, pasti bukan rancangan Allah. Berarti kamu tidak termasuk orang yang ada dalam rancangan keselamatan Allah.
    Saya jadi nggak yakin Allah YAHWEH yang di dalam Yesus tak sembah itu juga allahmu. Bedanya Calvin menghormati posisi Allah yang tak terbatas itu. Kalo kamu, allahmu, allah yang tak berdaya, bisa kamu tawar, bisa kamu tolak rancangan keselamatannya. Gerejamu itu pasti kalo tidak saksi jehovah ya aliran armenian.
    Sori saja, Allah kita lain. Bagi anggota jemaat GBIA Graphe hati-hati. Kasihan kamu kalo kamu masih menerima pengajaran dr. Steven ini.

  13. Dr. Steven says:

    Wah, rupanya belum mengerti juga Sdr. Antono Andi ini.

    Mari saya perjelas:
    1. Kalau Yesus tidak mati, semua manusia akan binasa. SAYA SETUJU.
    2. Jadi, kalau ada yang binasa, itu bukan salah Tuhan. SAYA SETUJU, tetapi kalau Kalvinisme benar, pernyataan ini jadi salah. Bagi saya ini benar, karena Allah sudah menyediakan keselamatan bagi semua orang, tetapi Kalvinisme menolak itu.

    Kamu bilang: “Bukan salah Allah kalau tidak memilih mereka”
    Tapi saya tanya:
    Salah siapa bahwa Allah menentukan Adam berdosa?
    Salah siapa bahwa Allah menentukan seorang pribadi tertentu berdosa?
    Karena Kalvinisme percaya bahwa Allah menentukan manusia berdosa, dan lalu dosa menyebabkan manusia ke neraka, maka dalam Kalvinisme, Allah adalah penyebab manusia masuk neraka!

    Mari berakal sehat dan lihat dari sudut pandang lain:
    Semua orang lahir dalam dosa. Kalvinis setuju akan hal ini.
    Apakah ada pilihan? Tidak, semua orang sudah lahir dalam dosa, tidak ada pilihan lain.
    Terus orang yang lahir dalam dosa, mati dalam dosa. Dia pasti berbuat dosa. Kalvinis setuju akan hal ini.
    Lalu Allah bisa menyelamatkan dia, tetapi Allah tidak mau, karena suatu alasan yang sampai sekarang Kalvinis pun tidak bisa jelaskan.
    Apakah Allah yang demikian itu maha kasih?
    Katakanlah 20 anak main korek api di suatu rumah, sehingga terjadi kebakaran. Lalu Sdr. Antono Andi lewat, dan memilih untuk menyelamatkan 10 saja, padahal bisa menyelamatkan semuanya, maka itu adalah tindakan yang cacat moral.
    Apakah berani tidak setuju?
    Kalau manusia saja punya standar begitu, apalagi Allah yang mahakasih, mahaadil, mahabenar? Jangan berkilah dengan berkata bahwa Allah beda. Allah memang beda, tetapi beda lebih baik dari manusia, bukan lebih buruk!

    Tidak ada satu ayatpun dalam Alkitab yang mengatakan bahwa Allah menentukan segala sesuatu. Yesaya dan Yeremia tidak mengatakan itu sedikitpun. Tuhan punya rancangan, itu benar. Tetapi tidak dikatakan Ia menentukan segala sesuatu, termasuk dosa.
    Bahkan, Yeremia 19:5 dan 32:25 dengan jelas menyatakan Allah tidak menentukan manusia berdosa.

  14. Dr. Steven says:

    Mengenai ilustrasi guru, sekali lagi kamu salah sasaran dan tidak menangkap inti ilustrasi.
    Seorang guru, kadang-kadang bisa dengan cukup yakin memprediksikan seorang murid akan gagal dalam ujian.
    Ini analogi dengan kemahatahuan Allah, tapi hanya analogi, karena Tuhan tidak mungkin salah.
    Tetapi, guru tidak bersalah jika ia tetap memberikan ujian, karena bukan dia yang “membuat” murid itu gagal, dia hanya sekedar tahu.

    Demikian juga, dalam kepercayaan saya, Allah tahu manusia tertentu akan masuk neraka. Tetapi Ia tidak bersalah, karena bukan Allah yang menentukan orang itu berdosa sehingga masuk neraka.
    Orang itu berdosa dari kehendak bebas dia sendiri. Lagi pula dalam kepercayaan saya, Allah menyediakan keselamatan bagi dia, hanya dia tidak terima.
    Dalam Kalvinisme, “Allah” membuat orang itu berdosa, jadi bertanggungjawab langsung atas masuknya dia ke neraka.
    Lalu dalam Kalvinisme, “Allah” yang sama tidak menyediakan keselamatan bagi dia, dan tidak ingin dia selamat.

    Memang, “Allah” Kalvinisme beda dengan Allah saya.

  15. Antono Adhi says:

    Ah bodoh. Adam yang makan buah, berontak pada Allah. Allah yang disalahkan. Ya jelas salahnya Adam sendiri. Adam harus dihukum.
    Kalau Steven yang sesat masak Allah yang disalahkan. Ya kamu yang disalahkan. Wong kau yang menyesatkan. Tapi Steven sesat dan menyesatkan tetap dalam ketetapan Allah. Allah tahu kamu menyesatkan. Tidak mungkin Allah tidak tahu. Sekarang kalau Allah sesuai pemikiranmu harus menghalangi setiap kejadian yang BAKAL berdosa, ya dunia aman tentram. Nyatanya dunia kan banyak penyesatan. Apa itu Allah tidak tahu? Baca juga tesis reprobasi yang kedua dan ketiga. Gitu ngaku tahu Calvin.

    Matius 18:7. Celakalah dunia dengan segala penyesatannya: memang penyesatan harus ada, tetapi celakalah orang yang mengadakannya. Kan tetap yang menyesatkan yang dihukum. Penyesatan harus ada berarti kan Yesus menetapkan demikian. Baca sekali lagi:MEMANG PENYESATAN HARUS ADA (for it must needs be that offences come). Mau protes? Silakan diplintir ayat ini kalo kamu ingin dikalungi batu kilangan.

    Kamu tanya Allah apa tidak adil. Baca Roma 9 seluruhnya. Kalau Allah tidak membenci Esau, tentunya Allah menolong Esau sehingga Esau tidak terhilang. Kenapa yang dipilih diselamatkan hanya Yakub. Padahal Yakub juga penipu. Bodoh kamu. Apa hakmu atas kedaulatan Allah ini. Apa hakmu atas sorga. Yang punya sorga siapa? Alkitab sudah omong demikian. Kamu memlintir Alkitab karena kamu punya pemikiran sendiri yang berbeda dari pemikiran Allah di Alkitab. Mau protes juga. Go to hell saja.

    Sori saja. Memang Allah Calvinis, YAHWEH, yang diakui kedaulatanNya tanpa setitik sanggahan apapun, berbeda dengan allahmu yang bisa ditolak, tak berdaya, tak berkutik, bingungan, yang bisa kamu bentuk dengan pemikiranmu. Yang agar tidak diprotes kamu menciptakan allah di pikiranmu sendiri. Itu dewa bukan Allah. Dewa yang ada di pemikiranmu. Kamu membela allah dewamu dan memlintir Allah YAHWEH, bakal tak sanggah. Meski kamu doktor Teologi, meski secuilpun aku nggak sekolah Teologi, nggak bakalan takut melawan allah dewamu.

  16. Dr. Steven says:

    Sekali lagi Kalvinis seperti kamu melarikan diri dari fakta bahwa Adam berdosa karena ditetapkan Allah.
    Kalvinis mengajarkan bahwa Allah menetapkan Adam berdosa (demikian juga Steven atau Antono, atau siapapun), sedemikian rupa sehingga Adam tidak mungkin tidak berdosa. Ia harus berdosa!
    Kalau begitu, jelas Allah patut dipersalahkan JUGA.

    Kalau seorang Jenderal menetapkan anak buahnya untuk melakukan suatu tindakan kriminal, apakah hanya anak buahnya yang dihukum, atau Jenderalnya juga?
    Allah Kalvinis lebih parah lagi dari Jenderal tersebut, karena Jenderal masih bisa ditentang, sedangkan ketetapan Allah agar Adam dan Antono berdosa, tidak bisa ditentang.

    Saya mendapatkan Kalvinis dalam berargumen selalu tidak mau menatap masalah ini dalam theologi mereka dengan tepat.
    Kamu bilang: “Ya jelas salahnya Adam sendiri. Adam harus dihukum.” Tetapi menurut Kalvinis, Adam ditetapkan, dipastikan, untuk berdosa, oleh Allah.

    Kamu bilang: “Sekarang kalau Allah sesuai pemikiranmu harus menghalangi setiap kejadian yang BAKAL berdosa, ya dunia aman tenteram.”
    Saya tidak pernah berkata demikian. Yang saya katakan adalah: Allah MENGIZINKAN dosa, tetapi tidak MENETAPKAN dosa. Saya harap kamu paham perbedaan MENGIZINKAN dengan MENETAPKAN.
    Artinya, keinginan berdosa itu tidak berasal dari ketetapan Allah, tetapi dari kehendak bebas manusia itu sendiri.
    Jadi, dalam posisi saya yang alktiabiah, Allah tidak bersalah.
    Dalam posisi Kalvinis, keinginan untuk berdosa berasal dari ketetapan Allah, jadi Allah turut bersalah.

    Matius 18:7, bukan berbicara mengenai keharusan karena ketetapan Allah! Matius 18:7 menyatakan keharusan karena kebejatan hati manusia yang sudah Allah ketahui (bukan Allah tetapkan). Allah sudah tahu sifat manusia, jadi tahu bahwa pasti akan ada kesesatan. Tidak perlu dipelintir sudah jelas. Justru Kalvinis memelintir sifat Allah: Allah menetapkan kesesatan, lalu Allah menghukum kesesatan. Ini membuat Allah menjadi pribadi yang jahat. Dia tetapkan Antono untuk sesat, lalu Dia hukum Antono karena sesuatu yang Dia tetapkan. Kalau saya menyuruh anak saya lempar bola, lalu saya hukum dia karena lempar bola, itu artinya saya sinting atau super-jahat!
    Allahnya Kalvinis itu schizofrenia atau jahat, pilih saja salah satu. Orang ditetapkan Allah untuk sesat, lalu kenapa marah kalau dia sesat? Kenapa dihukum?
    Makanya saya setuju 100% bahwa Allah saya beda dengan Allah Kalvinis. Allah saya sesuai Alkitab, tidak pernah menginginkan dosa.

    Lihat Yeremia 32:35 “Mereka mendirikan bukit-bukit pengorbanan untuk Baal di Lembah Ben-Hinom, untuk mempersembahkan anak-anak lelaki dan anak-anak perempuan mereka kepada Molokh sebagai korban dalam api, sekalipun AKU TIDAK PERNAH MEMERINTAHKANNYA kepada mereka dan sekalipun HAL ITU TIDAK PERNAH TIMBUL DALAM HATI-KU, yakni hal melakukan kejijikan ini, sehingga Yehuda tergelincir ke dalam dosa.”

    Kalvin mengajarkan bahwa Allah menentukan orang Israel untuk membakar anak-anak mereka. Alkitab berkata hal itu TIDAK PERNAH TIMBUL DALAM HATI ALLAH.

    Saya lebih percaya Alkitab daripada John Kalvin!! Antono Adhi, bertobatlah! Tinggalkan John Kalvin, kembalilah kepada Alkitab.
    Bertobatlah! Pikiran kamu sudah teracuni Kalvinisme, sehingga menginginkan orang masuk neraka (saya saya disuruh “go to hell”), beda jauh dari Yesus Kristus yang mau semua orang diselamatkan! Baca lagi 2 Petrus 3:9.

    Peringatan: jangan memaki-maki orang dalam komen. Yang berikutnya kalau ada makian, saya tidak akan tampilkan. Belajar berbeda pendapat dengan santun. Dan jangan bawa-bawa Petrus atau Yesus sebagai pembenaran tidak bisa santun berdiskusi.

  17. Adi Putra says:

    saya bingung dengan Antono Adhi. Untuk apa dia bersusah payah berdebat… sampai marah2 pula. Padahal menurut pengakuannya, dia beriman kepada Allah yg dari awal menetapkan (menentukan siapa2 saja) manusia ke surga dan tidak ada manusia yg bisa menolak penetapan itu. Penetapan itu absolut dan siapa yg dipilih Allah sudah pasti ke surga. Jadi apapun hasil perdebatan ini, bagi iman Antono Adhi, tidak dapat mengubah ketetapan itu. Yg dipilih ke surga tetap ke surga dan yg sudah dipilih tidak dapat disesatkan.
    Lain halnya bagi yg beriman bahwa Allah tidak menetapkan sebagian org masuk surga tapi yg menginginkan semua org masuk surga, tapi sebagian manusia (dengan kehendak bebasnya) memilih utk menolak kasih karunia tersebut. Bagi yg beriman seperti ini, akan dengan gigih berdiskusi (secara santun tentunya, agar lawan bicara tidak illfeel lalu menutup telinga tak mau mendengar) agar yg mendengar dapat bertobat, menerima kasih karunia Allah sehingga dapat masuk surga.
    Jadi sekali lagi saya bingung dengan Antono Adhi.. atau mungkin karena artikel ini membuat imannya terhadap kalvinisme goyah.. tapi apakah kalo kita tidak percaya predestinasi membuat kita berdosa dan tidak masuk surga? ah.. tapi kalo menurut predestinasi itu bukan merupakan masalah.. karena iman kita telah ditetapkan.. yg jadi masalah kalo kita tidak dipilih Allah.. Apakah Antono Adhi merasa was was karena dia merasa ragu apakah dia dipilih Allah atau tidak.. ?

  18. Trima kasih penjelasannya pak Steven.
    Diskusi yang menarik. Sebenarnya banyak yang ingin saya tanyakan, tapi bingung juga nanya dari mana. he..he…

    Semoga suatu hari bisa ketemu langsung di RITS, jadi bisa bertanya sampai puas ….

    Salam
    Partisimon.Com

  19. Antono Adhi says:

    Kenapa sampean marah kalo saya marah. Yang bikin rubrik pemfitnahan Calvinisme tanpa tahu Calvinisme kan sampean. Meguru dulu sama guru Calvin sampek nglotok, baru kritisi. Saya tidak akan komentari sampean kalo sampean tidak menulis ini.
    Pak Rudi kalo sampean tidak tahu Armenian macam Steven siapa, Calvin siapa, nonton aja lah, gak usah komentar daripada terlihat bodoh.
    Inilah kalo sampean tidak mengakui kuasa Allah. Bertobato sampean kalo tidak ingin memlintir Alkitab.
    PERTANYAANNYA:
    Dr Steven tahu bedanya mengijinkan dan menetapkan gak?
    Kalo mengijinkan itu Allah tidak tahu apa-apa, tiba-tiba AKAN terjadi sesuatu dan Allah mempertimbangkan, OK lah biar terjadi, Ok jangan terjadi. Lho dari definisi ini saja, pertimbangan Allah itu sudah menetapkan, karena Dia bisa saja menolak.
    Kalo menetapkan, artinya Allah sudah tahu semuanya, dan Dia berperan aktif, dan membiarkan ada yang terjadi, ada yang tidak boleh terjadi. Kok ada Jendral yang disalahkan, ayah disalahkan? Berarti sampean tidak belajar Calvin nglotok.
    Sekarang saya tanya soal Adam, sudah tahukah Allah, Adam bakal melanggar, saat memberi perintah larangan makan buah pengetahuan baik jahat dan kehidupan? Atau Dia tahunya saat Adam sedang dibujuk iblis dan mengijinkannya untuk dicobai?
    Ini tantangannya sampean mengakui kemahatakterhinggaan Allah atau tidak.
    Kenapa Allah menanam pohon itu dan melarangnya untuk dimakan kalau Dia tahu bakal dimakan? Dia tahu sebelumnya atau kaget saja setelah kejadian, kok dimakan ya?
    Kita tarik lebih jauh. Sebelum dunia dijadikan, tahukah Allah bakal dikianati ciptaanNya? Kalo sampean masih mengakui kemahatakterhinggaan Allah, pasti bilang tahu. Kalo tidak, bubar wae lah.
    Lalu, kenapa Dia tetap menciptakan? Bahkan menyiapkan Penyelamatnya? Lho yang ini namanya menetapkan. Bukan mengijinkan lagi.
    Jawaben sik dengan segala pengetahuan doktormu. Saya yang tidak dididik teologia mohon petunjuk.

  20. Dr. Steven says:

    Ha ha, ternyata kamu yang Kalvinis tidak paham Kalvinis, atau pura-pura tidak tahu. Kalau berdiskusi jangan pakai makian, saya akan ladenin.
    Ingin mengajari saya beda “mengizinkan” dan “menetapkan” kok malah jadi ngak karuan. Justru membuktikan kamu sama sekali tidak paham perbedaan keduanya.
    Beda antara “mengizinkan” dan “menetapkan” bukan pada Allah tahu atau tidak tahu. Baik “mengizinkan” maupun “menetapkan” Allah pasti sudah tahu dari awal!

    Baik, saya ajari. Beda mengizinkan dan menetapkan:
    Kalau seseorang mengizinkan, berarti kehendak itu datang dari luar dirinya. Misal: Murid minta izin pergi ke WC. Guru mengizinkan. Artinya kehendak datang dari murid.
    Kalau seseorang menetapkan, berarti kehendak datang dari dirinya. Misal: Guru menetapkan semua murid saat ini pergi ke lapangan. Jadi Guru memang ingin muridnya ke lapangan.

    Jadi, saya percaya Allah mengizinkan dosa. Ini bukan masalah Allah kaget, atau tidak tahu. Allah sudah tahu, tidak kaget sama sekali. Tetapi keinginan berdosa datang dari manusianya. Allah tidak ingin manusia berdosa, tetapi mengizinkan.
    Kalvinis percaya Allah menetapkan Adam berdosa. Jadi, artinya Allah memang ingin Adam berdosa!

    Perbedaan krusial lagi antara mengizinkan dan menetapkan:
    1. Dalam kepercayaan saya, Adam bisa saja tidak berdosa, karena tidak ditetapkan (dinasibkan). Adam berdosa murni karena kehendak dia, bukan ditetapkan pribadi lain.
    2. Dalam kepercayaan Kalvinis, Adam tidak bisa tidak berdosa, karena sudah ditetapkan Allah. Jadi, Adam berdosa, itu sebenarnya taat pada ketetapan Allah. Apa Kalvinis mau bantah? Jadi, Adam taat pada ketetapan Allah untuk berdosa, eh malah dihukum. Ini artinya Allahnya Kalvinis sadis, kejam, manipulatif, dan jahat.

    Allah ada menetapkan hal tertentu, bukan tidak ada.
    Antara lain Allah MENETAPKAN untuk menciptakan manusia dengan kehendak bebas. Sesuai dengan gambar dan rupa Allah, manusia bisa membuat keputusan dari dirinya sendiri.
    Karena Allah sudah menetapkan untuk menciptakan manusia dengan kehendak bebas, maka Allah tidak akan menetapkan tindakan/pilihan manusia itu, melainkan sekedar mengizinkan apa yang tidak keluar dari rencana Tuhan.
    Allah tidak menetapkan dosa! Ini jelas dari ayat seperti Yeremia 7:31 yang tidak pernah bisa dijelaskan Kalvinis.
    Kalau ditanya, mengapa Allah menetapkan untuk menciptakan manusia yang berkehendak bebas, walaupun sudah tahu ia akan berdosa?
    Jawabannya adalah karena Allah tidak ingin disembah oleh ROBOT, yang hanya melakukan apa yang telah diprogramkan/ditetapkan!
    Allah ingin disembah oleh makhluk berkehendak bebas, yang dengan bebas (tanpa ditetapkan) mengasihiNya!

  21. mele malmsten says:

    peace

  22. Anju Hutabarat says:

    S

    Sebaiknya Injil itu dibagikan bukan untuk diperdebatkan.
    Saya setuju dengan Bapak Steven sebab beliau berbicara berdasarkan sumber terpercaya yaitu Alkitab.
    Tetapi, daripada terlalu menghabiskan banyak waktu untuk berdebat lebih baik kita pergunakan kesempatan yang ada untuk memberitakan Injil sebagai persiapan untuk kehidupan kekal di sorga.
    Mari sama-sama meneladani Yesus Kristus sebagai Tuhan dan Juruselamat kita secara pribadi dalam berpikir, bertindak, berbicara, dll. Supaya orang lain melihat dan memuliakan Allah. :)
    Terima kasih pak.
    Tuhan memberkati!!

  23. Anggiat says:

    Jika tidak keberatan, pak Steven, saya ingin ralat frase “bertanggung jawab” untuk percaya/beriman tidak tepat. Seharusnya karunia iman menuntut keputusan manusia. Artinya manusia dihadapkan pada pilihan dan membuat keputusan (commitment) untuk percaya atau tidak percaya.
    Untuk hal lain, saya sangat setuju bahwa Allah “menginginkan” SEMUA manusia selamat; tetapi keputusan untuk ingin diselamatkan atau tidak sangat tergantung pada keputusan manusia itu sendiri.
    Mengenai kata umat “pilihan” atau “terpilih” menurut iman saya adalah apabila umat tersebut mengambil keputusan untuk menerima kasih karunia keselamatan dan hidup seturut Firman Tuhan. Hal seperti inilah yang diinginkan Tuhan. Banyak yang terpanggil, tetapi sedikit yang terpilih. Banyak yang telah mendengar Injil keselamatan, tetapi tidak semua yang mau merespon. Mereka yang merespon inilah yang disebut “pilihan”. Ilustrasinya sebagai berikut: Saya mau mengadakan pesta. Saya datang menemui semua orang untuk mengundang mereka ke pesta saya. Saya telah siapkan segalanya. Tetapi, pada saat hari yang telah ditentukan tiba, ternyata tidak semua yang saya undang hadir. Hanya sedikit yang hadir. Mereka yang sedikit inilah yang mendengarkan ajakan/undangan saya dan membuat keputusan untuk menghadiri pesta tersebut. Bagi mereka inilah hidangan yang telah saya siapkan saya berikan. Dan mereka inilah yang disebut undangan pilihan (terpilih). Demikian juga halnya dengan “undangan” Allah dalam Yesus Kristus. Yesus telah datang memberikan undangan (kasih karunia) kepada semua manusia dengan harapan semua mau mendengar, menerima undangan dan memutuskan untuk menghadirinya. Tetapi, Allah telah mengetahui jauh sebelumnya bahwa tidak semua yang merespons undangan itu. Tetapi, Allah tetap mengundang. Di sini, Allah menunjukkan kasih-Nya, keadilan-Nya. Alangkah “kejamnya” Allah jika Ia pilih kasih dalam “mengundang” manusia itu (hanya kepada orang-orang tertentu!). Tetapi, Allah tidak demikian. Bahkan, undangan disebarkan sampai ke ujung bumi agar tidak ada alasan bagi manusia mengatakan bahwa Allah tidak adil; bahwa Allah pili-kasih; atau agar tidak ada alasan bagi suatu kelompok manusia untuk mengatakan bahwa undangan tidak samapai kepada mereka.
    Demikianlah mungkin yang dapat saya berikan untuk memperjelas pengertian kasih karunia Allah. Semoga menjadi berkat. Tuhan Yesus memberkati.

  24. Dr. Steven says:

    Sdr. Anggiat,

    Terima kasih untuk komen-nya. Bahwa manusia “dituntut” untuk membuat keputusan, sama saja dengan bahwa manusia itu bertanggungjawab.
    Yang anda tulis, saya aminkan dan setuju semua. Tuhan mengundang semua, sebagian merespon, sebagian tidak. Ini tidak ditentukan Tuhan, tetapi adalah dari kehendak manusia itu sendiri. Itulah tanggung jawab manusia, yaitu untuk merespon undangan Tuhan.

    Salam,

  25. Hiraki007 says:

    menurut Ane yg bodoh nih, sebelum kita mengambil suatu kesimpulan pengertian dari suatu maksud dari perkataaan- perkataan dalam Alkitab, Marilah kita buat dahulu batasan2-nya / standart-nya.
    BATASAN SEDERHANA SAJA YG ANE COBA BUAT:
    1.Firman Tuhan itu Berisi banyak RAHASIA – RAHASIA ALLAH yang tersembunyi.
    2.Firman Tuhan itu sesungghnya Banyak menggambarkan kehidupan di alam Ilahi & alam nyata.
    3.Banyak simbol2 atau kata2 atau kalimat2 yang TIDAK DAPAT di artikan secara pengertian harafiah otak kita manusia.
    4.Banyak mengisyaratkan kejadian2 yang terjadi sebelum dunia ini di jadikan yg kita tidak tahu.
    5.Banyak & sangat JELAS serta TEGAS menyatakan ALLAH itu “MAHA SEGALANYA”.& ALLAH ITU SUCI/KUDUS.
    6. Allah itu dalam kasihnya “MENDIDIK” kita dalam KEBIJAKSANAAN-NYA.

    Dari 6 saja batasan/standart yg saya coba ungkapkan (sebetulnya masih sangat banyak), mari kita coba merenungkan PENGERTIAN kita tentang ” SUDAH DI TENTUKAN DARI SEMULA UNTUK SELAMAT” dengan tolak ukur ke 6 batasan/standart di atas.

    Mari kita berpikir dgn pikiran & hikmat kita yang tidak sempurna ini:
    *JIKA..,dalam dunia nyata kita manusia saja, jika ada suatu pertandingan & pemenangnya sudah di tentukan dari mulanya oleh “sang MANAJER” pertandingan tersebut, kira- kira “sang MANAJER” macam apakah yg sudah menentukan darimulanya siapa yg bakal menang atau kalah ?? terus pertandingan macam apakah itu??? Adilkah??? Sportifkah pertandingan semacam itu???
    *JIKA ada orang yang amat kaya raya & orang kaya tersebut mempunyai 3 anak yg masih kecil2 (misal umur ke tiga anaknya itu antara 1-3 tahun) & orang kaya tersebut sudah menentukan siapa diantara anak2nya itu yang akan mewarisi seluruh kekayaannya dan kepada anak lainnya sudah menentukan juga akan tidak akan mendapatkan warisan kekayaannya,…kira-kira menurut pikiran kita saja manusia yg bodoh, BIJAKSANAKAH orang kaya tersebut??? MENDIDIKAH orang kaya tersebut pada anak2nya?????

    Jika kita saja yang manusia ini sudah bisa menjawab perumpamaan cerita diatas, apalagi BAPA kita yang di surga? apakah Bapa kita yang di surga itu seperti “SANG MANAJER PERTANDINGAN” di atas??
    Ataukah seperti Orang kaya raya yg memiliki 10 anak bayi itu???

    Mudah2an mesukan ane ini bisa sedikit membantu buat teman2 yg sedang mencari kebenaran.

    Salam..

  26. Hiraki007 says:

    Efesus 2:8 “Sebab karena kasih karunia kamu diselamatkan oleh iman; itu bukan hasil usahamu, tetapi pemberian Allah”

    IMAN adalah pemberiaan dari Allah,Begitupun Anugerah keselamatan adalah MUTLAK Allah sendiri yang mengerjakan-NYA untuk manusia. Oleh sebab itu tidak ada seorang manusiapun yang boleh memegahkan diri. Tetapi satu hal jangan kita lupakan Yaitu “PERBUATAN IMAN”.
    Perbuatan Iman ini adalah respon manusia terhadap Iman yang sudah di berikan Allah itu, dan RESPON manusia itu adalah Bukti Nyata dalam bentuk Perbuatan manusia itu sendiri dalam hal PEMBUKTIAN terhadap imannya tersebut.
    Jadi…,Apalah gunanya Kasih Karunia Keselamatan & Iman itu jika Manusia itu sendiri tidak MEMILIKI bukti PERBUATAN dari IMAN itu sendiri ????
    Bukanlah IMAN TANPA PERBUATAN ADALAH MATI ????
    Nuh, Daniel & Ayub diselamatkan oleh kebenaran karena perbuatan2 mereka itu sendiri ?? (Yehezkiel 14 ;20)

    Yakobus 2:14 Apakah gunanya, saudara-saudaraku, jika seorang mengatakan, bahwa ia mempunyai iman, padahal ia tidak mempunyai perbuatan? Dapatkah iman itu menyelamatkan dia

    Yakobus 2:24 Jadi kamu lihat, bahwa manusia dibenarkan karena perbuatan-perbuatannya dan bukan hanya karena iman.

    KESIMPULAN:
    Jadi keselamatan itu memang benar adalah Anugerah dari Allah….
    jadi Iman itu memang adalah benar berasal dari allah….
    Tetapi semuanya itu tidaklah dapat menyelamatkan JIKA dari pihak manusianya sendiri tidak menunjukkan PERBUATAN – PERBUATAN dari Iman tersebut.

    Salam….

  27. Dr. Steven says:

    Sdr. Hiraki,

    Terima kasih untuk commentnya. Iman memang berasal dari Allah….setuju, dengan syarat: pemberian yang dapat ditolak. Sesuai dengan yang telah saya uraikan di artikel ini.

    Salam,

  28. hendrayandi says:

    Ketauan yang mana kristen yang bodoh (maki maki dan pake bahasa yang kasar ) dan yang berhikmat….kalo menurut saya jangan berdebat kalo ga pake forum atau level ga sama,,,mana bisa debat anak sd sama anak kuliahan,,,,
    Ps :saya orang awam dan bukan pro siapa siapa di sini,,

  29. avatar says:

    Pak Steven, terimakasih, sdh menjelaskan dengan jelas apa beda ajaran kalvinis (kalau betul begitu) dengan alkitab, pertanyaan saya, masing masing ajaran kalvinis dan armenian, mengklaim masing masing mempunyai refrensi dalam alkitab. Hati hati terhadap penafsiran yang menjurus kepada adu domba sesama pengikut kristus sejati. pemutarbalikan penafsiran pasti ada ditengah tengah kita. tp saya bersyukur sdr Steven, mampu betahan dalam kekudusan walau diserang secara peson. Puji Tuhan.

  30. sam says:

    kalau bisa marilah kita berdebat dengan kepala yang dingin, jangan emosional sehingga terjerumus dalam kata2 yang tidak bermakna. Ada poin2 penting yang mau saya kemukakan:
    1. Kalvinisme sebenarnya tidak boleh dibahas sebagai pembuka/pendahuluan dalam mendiskusikannya, karena pasti akan mengakibatkan lahirnya pemahaman yang salah mengenai hal itu
    2. Jangan menempatkan pembahasan mengenai kehendak bebas manusia dalam pengertian yang tidak jelas, maksud saya kehendak bebas sewaktu Adam belum berdosa dengan kehendaknya setelah ia berdosa
    3. Ajaran Kalvinisme sebenarnya ajaran penghiburan bagi orang yang telah percaya
    4. Ajaran pak Suhento saya dapat nilai sangat tidak memahami Kalvinisme, sehingga tidak mungkin menjelaskan ajaran itu secara obyektif.
    5. Saya sangat memahami ajaran arminian bapak, luar dan dalamnya, namun tidak dapat dipercaya
    6. Saya sangat percaya bahwa semua mahasiswa anda sedang ragu bahkan goyah dengan doktrin armenian yang anda ajarkan
    7. Saya saraankan jangan pernah mengandaikan yang kekal dengan hal2 yang tidak kekal, karena pasti tidak bisa menjawab persoalan yang sedang didiskusikan, KARENA YANG KEKAL TIDAK PERNAH BISA DIANDAIKAN DENGAN APAPUN YANG TIDAK KEKAL.

  31. Dr. Steven says:

    Daripada berbicara berdasarkan pendapat sendiri, lebih baik membahas ayat Firman Tuhan yang terkait topik ini.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>

Current ye@r *