Aturan Dhimmi di Syria

(Berita Mingguan GITS 8Juni2013, sumber: www.wayoflife.org)

Berikut ini disadur dari “A Conversation with Christian Syrian Refugees,” Religious Freedom Coalition, 1 Juni 2013. Semakin jelas bahwa orang-orang yang sedang berperang dengan pemerintah Syria saat ini, menghendaki suatu negara Islam dan ingin menjalankan hukum Sharia. Bagi orang-orang Yahudi dan Kristen, hal ini lebih buruk daripada pemerintahan sekarang yang memang sudah korup. “Laporan berikut ini adalah dari Martin Janssen di Amman, Yordania (aslinya dalam bahasa Belanda). …Janssen memiliki kesempatan bertemu dengan para pengungsi Syria Kristen, yang memberitahu dia bagaimana mereka bisa menjadi pengungsi, lari dari rumah dan desa mereka.

Desa mereka diduduki oleh pasukan pemberontak, yang lalu mengumumkan bahwa mereka kini berada di bawah emirat Islam, dan harus tunduk kepada hukum Sharia. Para penduduk Kristen ditawarkan empat pilihan: (1) menyangkali “penyembahan berhala” mereka, yaitu kekristenan, dan masuk Islam; (2) membayar upeti yang berat kepada orang-orang Muslim karena dibiarkan tetap hidup dan tetap Kristen (upeti ini disebut jizya); (3) dibunuh: (4) lari menyelamatkan hidup mereka, meninggalkan semua milik mereka.

Sebagian orang Kristen dibunuh, sebagian lari, sebagian mencoba untuk membayar jizya dan menemukan bahwa beban tersebut terlalu berat setelah para pemberontak terus menaikkan jumlah yang harus dibayar, dan sebagian tidak bisa membayar atau lari, sehingga mereka masuk Islam untuk menyelamatkan diri mereka. Skenario yang dilaporkan oleh para pengungsi Syria ini bagaikan mengulangi lagi nasib historis yang menimpa orang-orang Kristen dulu di Timur Tengah.” [Editor: Dhimmi adalah istilah kuno bagi seorang non-Islam yang hidup di suatu negara/kerajaan Islam].

This entry was posted in Islam, Penganiayaan / Persecution. Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *