Kepausan Didedikasikan bagi “Bunda Fatima”

(Berita Mingguan GITS 8Juni2013, sumber: www.wayoflife.org)

Paus Fransiskus meminta agar “kepausan”nya didedikasikan bagi “Bunda Fatima” (Our Lady of Fatima) di Portugal. Sebagai jawaban, Jose Polycarp, Patriarkh Lisbon, berdoa kepada Fatima Maria pada tanggal 13 Mei sebagai berikut: “Berikanlah (Paus Fransiskus) karunia pengenalan, agar tahu bagaimana mengenali jalan-jalan pembaharuan bagi Gereja, berikanlah kepadanya keberanian untuk tidak melemah di jalan-jalan yang telah diusulkan oleh Roh Kudus, lindungilah dia dalam waktu-waktu penderitaan yang sulit, sehingga ia dapat mengatasi, dalam kasih, pencobaan-pencobaan yang akan datang karena pembaharuan Gereja” (EWTN News, 14 Mei 2013).

Dia juga berdoa agar Fransiskus dapat memberkati umat manusia dengan cara mengajarkan bahwa Maria “memimpin mereka dengan penuh kelembutan ke jalan-jalan keselamatan.” Menyatakan Maria ikut ambil bagian dalam elemen berkat rohani apapun, apalagi dalam keselamatan, adalah penghujatan dan kesesatan. Setiap “Injili,” “Protestan,” ataupun “Baptis” yang berpikiran ekumenis dan yang menutup mulutnya di hadapan kekejian ini akan harus bertanggung jawab di hadapan Tuhan. “Siapa menerima bagian dari pencuri, membenci dirinya. Didengarnya kutuk, tetapi tidak diberitahukannya” (Ams. 29:24). “Jikalau seorang datang kepadamu dan ia tidak membawa ajaran ini, janganlah kamu menerima dia di dalam rumahmu dan janganlah memberi salam kepadanya. Sebab barangsiapa memberi salam kepadanya, ia mendapat bagian dalam perbuatannya yang jahat” (2 Yoh. 1:10-11).

This entry was posted in Katolik. Bookmark the permalink.

3 Responses to Kepausan Didedikasikan bagi “Bunda Fatima”

  1. Febrian says:

    Shaloom Dr. Steven. salam kenal ya. saya Febrian dari Medan. saya penggemar dari graphe ministry karena telah banyak memberikan informasi penting buat saya sehingga “mencelikkan” mata saya tentang dunia khususnya “dunia Kekristenan”.

    ada hal yang ingin saya tanyakan kepada Dr. Steven dan hal ini telah lama membuat saya bingung pak (maaf agak lari dari postingan anda di atas). saya butuh bimbingan anda pak.

    begini pak, saya adalah keturunan Batak. singkatnya masyarakat batak pasti sudah sangat familiar dengan makanan / olahan makanan dari daging babi (B2) karena itu adalah makanan yang diwariskan turun temurun yang lazim di konsumsi untuk acara-acara tertentu, yakni buat syukuran, pesta pernikahan, kelahiran, dll. Nah, ada salah satu olahan daging b2 yang sangat terkenal di medan (sumatera utara) pak, namanya BPK (Babi Panggan Karo). olahan makanan ini terkenal dengan bumbu nya yang bahan dasarnya adalah darah b2 itu pak. dan mayoritas umat Kristen (yang bukan golongan Kharismatik) mengkonsumsi bumbu itu pak. ketika saya berdiskusi dengan teman saya yang Kharismatik, dia bilang itu adalah dosa karena melanggar perintah Tuhan dan dia menunjukkan ayat yang mendukung pernyataannya itu yang tidak memperbolehkan mengkonsumsi darah (maaf, saya lupa ayatnya pak) dan menurut saya pendapatnya itu benar. ketika saya tanyakan ini kepada Pendeta (yang bukan golongan Kharismatik), dia mengatakan tidak masalah jika mengkonsumsi itu karena menurut dia “bukan apa yang masuk ke dalam mulut yang membuat sesuatu itu jadi haram”, pendapatnya ini disertai dengan ayat yang terdapat dalam perjanjian baru pak. bagaimana ini pak? ada dua pendapat yang menurut saya benar dan sama-sama kuat. namun jika pendapat teman saya yang kharismatik itu yang benar, berarti kami yang secara turun temurun mengkonsumsi bumbu darah b2 itu sudah melakukan dosa besar dong pak. bagaiamana kami harus menyikapinya pak? mohon bimbingannya.
    🙁

  2. Dr. Steven says:

    Walaupun agak lari dari bahan posting, tetapi tidak apa-apa.

    Memang ini menjadi topik yang bisa membingungkan. Tetapi begini: larangan untuk makan darah terdapat dalam Perjanjian Lama (Kejadian 9)
    Dalam Perjanjian Baru, Yesus mengajarkan bahwa tidak ada yang masuk ke mulut yang menajiskan (Mat. 15:11), dan Paulus mengajarkan bahwa tidak ada yang haram (1 Tim. 4:4; lalu 1 Kor. 10:23).

    Tetapi, Firman Tuhan juga berkata bahwa masalah makanan tidak perlu diributkan, dan bahwa makan atau tidak makan tidaklah esensi bagi iman kita.
    Lagi pula, segala sesuatu harus dilakukan dengan iman. Bagi orang yang yakin bahwa makan darah itu dosa, maka jika ia makan, ia berdosa, karena ia tidak melakukannya dengan iman.
    Orang yang lebih “kuat” bisa yakin bahwa makan darah tidak apa-apa, karena darah hanyalah lambang/simbol di PL.
    Tetapi, Paulus juga menasihatkan untuk tidak menjadi batu sandungan bagi sesama, sehingga jika ada yang keberatan dengan kita makan darah, maka baiknya kita tidak melakukannya di hadapannya.

  3. Febrian says:

    Terima kasih banyak buat pendapatnya pak. Melalui pendapat bapak ini, saya sudah punya gambaran ke depan untuk menyikapinya. terimakasih banyak pak Dr. Steven. Tuhan Yesus Memberkati. 🙂

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *