Bukti Tambahan Lagi tentang Komunikasi Tanaman

(Berita Mingguan GITS 18Januari2014, sumber: www.wayoflife.org)

Bukti-bukti bahwa tanaman melakukan komunikasi yang kompleks semakin bertambah. Penelitian-penelitian ilmiah pertama mengenai hal ini diterbitkan pada tahun 1983, mendemonstrasikan bahwa pohon willow, poplar, dan sugar maple saling memperingati satu sama lain tentang serangan serangga melalui sinyal-sinyal kimiawi, dan pohon-pohon sekitar yang belum rusak akan mulai “mengeluarkan kimia penangkal serangga untuk menangkis serangan itu” (“How Plants Secretly Talk to Each Other,” Wired, 20 Des. 2013). Penelitian-penelitian ini segera “dijatuhkan dengan alasan salah secara statistik atau terlalu dangkal,” dan riset berhenti hingga beberapa tahun lalu. Tetapi penelitian-penelitian baru menunjukkan bahwa ketika serangga mengunyah daun, tanaman akan mengeluarkan sinyal kimia ke udara, dan 40 penelitian berbeda kini mengkonfirmasi bahwa tanaman lain mendeteksi sinyal di udara ini dan meningkatkan produksi mekanisme pertahanan mereka sebagai respons (Ibid.) Richard Karban, seorang profesor dari University of California, mengatakan bahwa perdebatannya sekarang bukan lagi tentang apakah tanaman dapat menginderai sinyal biokimia satu sama lain, tetapi mengenai mengapa dan bagaimana cara mereka melakukannya. Ted Farmer, dari University of Lausanne, baru-baru ini menemukan bahwa tanaman-tanaman mengeluarkan informasi “dengan denyut listrik dan suatu sistem sinyal yang berbasis voltase yang mirip sekali dengan sistem saraf binatang.” Tanaman meresponi serangan serangga dengan cara memproduksi bahan kimia beracun, dengan menurunkan kualitas nutrisi daun-daunnya, dengan menarik serangga-serangga pemangsa yang membunuh serangga herbivora, dan dengan cara-cara kompleks lainnya.

Karena para ilmuwan yang melakukan eksperimen ini adalah evolusionis yang percaya dalam “seleksi alam” yang buta sebagai produk kompetisi ganas dalam alam, mereka bingung dengan penemuan mereka ini. “Mengapakah suatu tanaman menghabiskan energi untuk memberi petunjuk kepada para pesaingnya tentang adanya bahaya?” mereka bertanya. Jawaban yang sederhana adalah bahwa fakta-fakta sains tidak cock dengan “teori” evolusi. Pertanyaan pertama yang mereka harusnya tanyakan adalah bagaimanakah semua intelijensi dan simbiosis yang luar biasa ini antara tanaman “bodoh” dan serangga dapat berevolusi dari kehampaan melalui kemungkinan belaka? Jawaban logisnya, bagi mereka yang tidak terkurung dalam penjara Darwin, adalah bahwa ini semua produk dari maha-Intelijensi. Tidak ada cukup terang dalam alam ciptaan untuk menyelamatkan seseorang, tetapi cukup ada terang sehingga ia tidak bisa berdalih tidak mempercayai adanya Allah. “Karena apa yang dapat mereka ketahui tentang Allah nyata bagi mereka, sebab Allah telah menyatakannya kepada mereka. 20 Sebab apa yang tidak nampak dari pada-Nya, yaitu kekuatan-Nya yang kekal dan keilahian-Nya, dapat nampak kepada pikiran dari karya-Nya sejak dunia diciptakan, sehingga mereka tidak dapat berdalih. (Rom 1:19 ITB)

This entry was posted in Science and Bible. Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *