Hakim Jerman Mengambil Anak-Anak dari Keluarga yang Homeschooling

(Berita Mingguan GITS 18Januari2014, sumber: www.wayoflife.org)

Berikut ini disadur dari “Judge: Homeschooling a ‘Concrete Endangerment’ to Kids,” WorldNetDaily, 7 Jan. 2014: “Seorang hakim telah mengeluarkan vonis yang mengagetkan dalam suatu kasus homeschooling (mengajar anak sendiri di rumah) di Jerman. Hakim itu menitahkan bahwa orang tua yang bersangkutan tidak boleh memiliki hak asuh atas anak-anak mereka karena keluarga itu bisa saja pindah ke negara lain dan melakukan homeschool, dengan demikian “secara konkrit membahayakan” anak-anak tersebut. Kasus Dirk dan Petra Wunderlich masuk berita internasional pada bulan Agustus ketika 20 polisi bersenjata tiba dan mendobrak pintu dan secara paksa mengambil empat orang anak-anak mereka dari rumah mereka di Darmstadt, Jerman, dan memasukkan mereka ke sekolah umum. Sebagaimana dilaporkan oleh WND pada waktu itu, anak-anak tersebut, yang berusia 7 hingga 14 tahun, dibawa ke pengasuhan polisi. Mereka diizinkan kembali ke rumah tiga minggu kemudian, ketika ayah dan ibu mereka, tanpa diberikan pilihan lain oleh birokrasi federal di Jerman, setuju untuk mengizinkan anak-anak mereka masuk sekolah umum walaupun mereka tidak setuju dengan pengajaran sosial dan agamawi di sana. . . Pengacara bagi keluarga tersebut telah meminta hakim untuk mengizinkan orang tua anak-anak tersebut memiliki hak asuh karena mereka telah menuruti semua tuntutan pengadilan agar anak-anak mereka masuk sekolah umum, dan mereka ingin pindah ke Perancis, karena di sana homeschooling legal. Hakim tersebut, dalam keputusannya, mengatakan bahwa walaupun anak-anak Wunderlich secara akademis profisien, secara sosial teradaptasi baik, dan tidak memiliki kekurangan pendidikan, ia bagaimana pun juga sangat takut dengan homeschooling. Malkmus mengatakan bahwa homeschooling adalah seperti membuat anak-anak itu mengenakan jaket-tahanan dan ia mengatakan ia harus memastikan anak-anak tersebut tinggal di Jerman supaya mereka bisa terintegrasi ke dalam masyarkat. Ia takut ‘anak-anak itu akan tumbuh besar dalam masyarakat paralel tanpa belajar integrasi atau berdialog dengan orang-orang yang berpikiran berbeda dan menghadapi mereka sambil mempraktekkan toleransi.’ Perlakuan seperti itu, dia berkata, adalah ‘bahaya konkrit atas kebaikan sang anak.’”

EDITOR: Betapa kacaunya dunia, ketika orang tua yang tidak peduli dengan pendidikan anaknya, hanya mengantar ke sekolah setiap hari, dianggap lebih baik dari pada orang tua yang ingin mendidik sendiri anak mereka, dan menghabiskan sehari-hari mendidik mereka dengan teliti. Iblis paling tidak suka dengan keluarga yang baik, tidak duniawi, dan mau terpisah dari filosofi dunia ini yang kacau.

This entry was posted in Education / Pendidikan, Penganiayaan / Persecution. Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *