Pemenang Grammy Tidak Paham Soal Separasi Alkitabiah

(Berita Mingguan GITS 8Februari2014, sumber: www.wayoflife.org)

Penyanyi musik kontemporer Kristen, Mandisa, tidak mengikuti acara pemberian hadiah Grammy minggu lalu (walaupun dia memenangkan hadiah album musik Kristen kontemporer terbaik) karena dampak negatif dari tempat-tempat seperti itu pada kehidupan rohaninya. Dalam halaman Facebook-nya, dia mengakui bahwa dia telah dicelakai oleh keterlibatannya di dalam dunia. “Dua kali saya pergi ke Grammys, saya menyaksikan pertunjukan-pertunjukan yang saya sangat ingin bisa hapus dari ingatan saya, dan ya, saya melongkapi banyak pertunjukan tahun ini; tetapi alasan saya bukanlah karena mereka, tetapi karena saya sendiri. …Saya telah menjadi mangsa dari tarikan daging, kesombongan, dan keinginan-keinginan egois belakangan ini” (“Mandisa Wary of Grammys’ ‘Allure of Pleasure,’”Baptist Press, 29 Jan. 2014). Dia tinggal di rumah untuk mencoba memperbaharui pikirannya daripada menempatkan dirinya dalam suatu lingkungan yang merayakan hal-hal yang dia anggap “berisiko.” Dia mengidentifikasi hal-hal ini sebagai “tarikan kenikmatan, nafsu untuk memiliki benda-benda dan rasa superioritas yang penuh kesombongan.” Selain kuota sampah moral yang biasa membludak, Grammys tahun ini juga menampilkan suatu “pernikahan” homoseksual massal, dan sebuah pertunjukan rock okultik (“Dark Horse” oleh Katy Perry). Sungguh berisiko!

Setelah membuat keputusan bijak untuk menjauh dari sampah ini dalam kesempatan yang satu ini, jelas bahwa Mandisa sendiri tidak paham penuh tentang separasi alkitabiah. Dia tidak bertobat dari cintanya kepada musik dunia dan pakaian yang tidak sopan; dia tetap terbuka kepada kemungkinan menghadiri pembagian hadiah Grammy di masa depan; dan dia dengan salah mengutip Yesus sebagai contoh teman orang-orang berdosa dalam konteks seperti ini. Tuhan Yesus sungguh memang adalah teman orang-orang berdosa. Ia bahkan menyerahkan nyawaNya bagi orang-orang berdosa. Tetapi Yesus tidak berpesta pora dengan orang-orang berdosa. Ia mengasihi orang-orang berdosa, tetapi Ia selalu “saleh, tanpa salah, tanpa noda, yang terpisah dari orang-orang berdosa” (Ibrani 7:26). Tidak seperti tipikal artis CCM, Yesus memperingatkan orang tentang penghakiman Allah atas orang-orang berdosa, menuntut pertobatan, dan memberitakan tentang api neraka yang kekal, dan hal-hal ini pastinya merusak suasana pesta duniawi mana pun, sekaligus menyebabkan pemberitanya tidak lagi diundang di pesta-pesta selanjutnya! Setelah saya diselamatkan pada usia 23 tahun dari gaya hidup rock & roll, saya menghabiskan banyak waktu bersaksi kepada mantan teman-teman hippie saya. Saya pergi ke rumah-rumah mereka, dan bertemu dengan mereka di restoran-restoran, dan berbicara dengan mereka secara pribadi, tetapi saya cukup memiliki akal sehat bahkan sebagai seorang yang baru percaya, untuk menjauh dari pesta-pesat mereka. Menjadi teman orang-orang berdosa tidak berarti ikut dalam konser rock, atau pesta immoral Hollywood. Jangan tertipu. Para rocker Kristen kontemporer, tidak peduli betapa tulusnya mereka, tidak sedang meneladani Kristus dan Paulus. Mereka sedang mengikuti jejak Lot dan Demas. “Janganlah turut mengambil bagian dalam perbuatan-perbuatan kegelapan yang tidak berbuahkan apa-apa, tetapi sebaliknya telanjangilah perbuatan-perbuatan itu” (Efesus 5:11). “Janganlah kamu sesat: Pergaulan yang buruk merusakkan kebiasaan yang baik” (1 Kor. 15:33). 

This entry was posted in Separasi dari Dunia / Keduniawian. Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *