Salah Satu Pendiri Gerakan Pantekosta Menolak Jalan Azusa

(Berita Mingguan GITS 22 Februari 2014, sumber: www.wayoflife.org)
Wiliam Seymour dan Charles Parham sering disebut sebagai “para pendiri Pantekostalisme dunia” (Antonio Arnold, We Are Living in the Finished Work of Christ, p. 143), tetapi Parham tidak menerima pengalaman-pengalaman Jalan Azusa sebagai suatu gerakan dari Allah. Seymour adalah bagian dari gerakan Apostolic Faith (Iman Rasuli)-nya Parham, dan dia adalah seorang murid di Sekolah Alkitab-nya Parham di Houston ketika dia mendapat panggilan untuk pindah ke Los Angeles. “Berbahasa lidah” telah muncul pada tahun 1901 di Sekolah Alkitab Bethel milik Parham di Topeka, Kansas, sebelum dia pindah ke Houston. Kita bahkan memiliki deskripsi dari kata-kata persis yang diucapkan dalam “bahasa lidah” itu oleh salah satu murid Parham di Topeka, yang direkam oleh seorang wartawan Topeka State Journal. Saya menemukan satu salinan dari koran tersebut ketika mengunjungi Kansas Historical Society pada tahun 2002: “Mr. Parham memanggil Miss Lilian Thistlethwaite ke dalam ruangan dan bertanya apakah dia bisa berbicara sedikit lagi. Dia [Lilian] … mulai mengucapkan kata-kata yang aneh yang terdengar seperti ini: ‘Euossa, Euossa, use rela sema calah mala kanah leulla ssage nalan. Ligle logle lazie logle. Ene mine mo, sah rah el me sah rah me’ (“Hindoo and Zulu Both Are Represented at Bethel School,” Topeka State Journal, 9 Jan. 1901). Ini tidak lain murni adalah kata-kata sembarangan. Ketika Parham mengunjungi kebaktian di Jalan Azusa pada Oktober 1906, dia menjadi kecewa oleh “sentakan-sentakan dan kejang-kejang kacau” yang dilakukan para “peneriak suci dan penghipnotis.” Dia mengatakan bahwa kebaktian-kebaktian Jalan Azusa sebagian besar dicirikan oleh manifestasi kedagingan, pengendalian rohani atas orang lain, dan praktek hipnotisme (Sarah Parham, The Life of Charles F. Parham, Joplin, MO: Tri-state Printing, 1930, hal. 163). Ketika Parham tiba di Jalan Azusa tahun 1906, dia memulai khotbah pertamanya dengan memberitahu orang-orang di sana bahwa “Allah sakit perut” karena hal-hal yang terjadi di Azusa (Charles Shumway, A Study of the “Gift of Tongues,” A.B. thesis, University of California, 1914, hal. 178, 179; dikutip oleh Goff, Fields White Unto Harvest, hal. 131). Menurut Parham, dua pergia orang yang mengaku sebagai Pantekosta di zaman dia adalah “terhipnotis atau didorong oleh rasa takut” (Sarah Parham, hal. 164).

This entry was posted in Kharismatik/Pantekosta. Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *