Apakah Gereja Roma Katolik Telah Mengubah Doktrin Mereka tentang Pembenaran?

(Berita Mingguan GITS 1 Maret 2014, sumber: www.wayoflife.org)
Uksup Anglikan Episkopal, Anthony Palmer, yang telah bergabung dengan Paus untuk menyerukan persatuan Kristiani dan mengutuki “perpecahan,” mengklaim bahwa masalah pembenaran telah diselesaikan dan bahwa Roma telah setuju bahwa pembenaran hanyalah melalui iman saja. Jadi, tidak ada lagi alasan untuk perpecahan. Protes sudah berakhir, demikian ia katakan; seharusnya tidak ada lagi “Protestan;” semua orang Kristen seharusnya menjadi “Katolik;” seharusnya ada satu “gereja” saja. Jika isu ini bukan sedemikian serius dengan konsekuensi kekal yang begitu berbahaya, posisi ini patut ditertawakan. Palmer mengacu kepada dokumen Deklarasi Bersama tentang Pembenaran, tahun 1999, yang ditandatangani oleh Vatikan dan beberapa denominasi Lutheran dan yang setelah itu diterima juga oleh beberapa Methodis. Deklarasi itu menyatakan, “Bersama kami mengakui: melalu kasih karunia saja, dalam iman kepada karya penyelamatan Kristus, dan bukan karena jasa apapun dari pihak kita, kita diterima oleh Allah dan menerima Roh Kudus, yang memperbaharui hati kita sambil memperlengkapi kita dan memanggil kita kepada pekerjaan-pekerjaan baik.”
PERTAMA, PALMER SALAH MENGENAI DOKTRIN KESELAMATAN ROMA. Deklarasi Berama tentang Pembenaran tidak berarti bahwa Gereja Roma Katolik tidak lagi mengkhotbahkan keselamatan melalui sakramen! Roma memiliki kejeniusan dalam hal memberikan makna baru kepada istilah-istilah theologi. Roma adalah bunglon yang telah berubah warna tak terhitung seringnya. Dalam debat yang satu ini, dia telah meredefinisikan “kasih karunia,” “saja,” dan “pembenaran.” Dia adalah contoh gereja yang seperti seorang anak nakal mengucapkan kebohongan sambil menyilangkan jarinya dibalik punggungnya. Dan orang-orang Protestan yang sesat yang duduk semeja dengan dia tidak tahu atau tidak peduli. Dalam Konsili Trent dan Konsili Vatikan Kedua, dan dalam Katekismus Katolik Baru, Roma menyatakan doktrin keselamatannya dalam bahasa yang paling jelas: keselamatan adalah melalui iman dalam Kristus PLUS sakramen. Keselamatan dibeli oleh Kristus dan diberikan kepada “gereja” untuk dibagi-bagikan melalui sakramen, dan itu berawal dari baptisan yang melahirbarukan. Roma SAMA SEKALI TIDAK menyesali atau membantah injil palsu ini.
KEDUA, PALMER SALAH MENGENAI ESENSI DARI REFORMASI. Perjuangan utama yang benar dalam Reformasi (dan ada banyak hal dalam Reformasi yang tidak alkitabiah), adalah mengenai otoritas Alkitab – sola Scriptura. Dan Roma Katolik bahkan tidak berpura-pura bahwa Kitab Suci adalah satu-satunya otoritas bagi iman dan praktek mereka. Mengabaikan fakta yang esensial ini memperlihatkan kebohongan dari gerakan persatuan.
KETIGA, PALMER SALAH MENGENAI DASAR PERSATUAN. Bahkan jika dua orang yang mengaku Kristen atau dua gereja, setuju masalah doktrin keselamatan, itu masih jauh dari cukup untuk menjadi dasar persatuan dalam persekutuan dan pelayanan. Kita diperintahkan untuk dengan giat berjuang demi iman yang telah diberikan kepada orang-orang kudus (Yudas 3). Bagian mana dari iman tersebut? Semuanya! Kita harus menandai dan menghindari orang-orang yang mengajar berlawanan dari doktrin yang telah kita pelajari dari Alkitab (Roma 16:17). Bahkan jika ada yang mau mengelompokkan doktrin menjadi “esensial” vs. “non-esensial,” masih ada lusinan doktrin “esensial” yang menjadi basis separasi. Kita harus menguji SEGALA SESUATU, bukan hanya sebagian doktrin (1 Tes. 5:21). Paulus mengajar Timotius untuk tidak mengizinkan “ajaran lain” (1 Tim. 1:3). Ini bukanlah masalah yang kompleks. Intinya adalah tidak mungkin untuk bergabung dengan gerakan persatuan apapun hari ini sambil setia kepada Firman Allah.

This entry was posted in Ekumenisme, Katolik. Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *