Neanderthal Yang Pintar

(Berita Mingguan GITS 15 Maret 2014, sumber: www.wayoflife.org)
“Riset-riset terbaru” mengenai tulang hyoid milik manusia Neanderthal telah menemukan bahwa “para Neanderthal bisa jadi telah berbicara dalam bahasa-bahasa yang tidak jauh berbeda dari yang kita pakai hari ini” (“Talking Neanderthals Challenge the Origins of Speech,”Science Daily, 2 Maret 2014). Sebuah tim internasional memakai pemindaian x-ray 3D, dipimpin oleh Stephen Wroe dari University of New England, membandingkan sebuah “tulang hyoid Neanderthal berusia 60.000 tahun,” dengan milik “manusia modern,” dan menyimpulkan bahwa “dalam hal perilaku mekanis, hyoid milik Neanderthal secara mendasar tidak bisa dibedakan dari punya kita, memunculkan suatu sugesti kuat bahwa bagian kunci dari organ suara ini dipakai dengan cara yang sama.” Ini adalah contoh lain bagaimana para ilmuwan yang percaya evolusi berhasil membantah evolusi itu sendiri. Sepanjang abad 20, mulai dari ditemukannya sebuah kerangka manusia lengkap di Perancis, Neanderthal telah dipresentasikan sebagai “mata rantai yang hilang,” suatu kombinasi manusia-kera, suatu simbol evolusi yang prominen. Pada tahun 1909, Marcellin Boule melaporkan kepada French Academy of Sciences bahwa Neanderthal berjalan dengan kaki agak menjinjit seperti kera, dengan pola langkah lutut tertekuk, dan “pastinya memiliki kemampuan psikis yang sangat sederhana … dan bahasa bunyi-bunyian yang paling sederhana.” Boule mengulangi hal ini dalam bukunya Fossil Men, tahun 1957 (hal. 251).
Pada tahun 1930, Frederick Blaschke membuat model sebuah keluarga Neanderthal dalam setting sebuah gua, menggambarkan mereka bongkok, hanya setengah berpakaian, menggenggam tulang-tulang, dan dengan ekspresi wajah yang sangat bodoh. Ini ditayangkan secara promine di Field Museum of Natural History di Chicago dan disalin di banyak sekali buku teks, ensiklopedia, jurnal, majalah populer, koran, dan museum-museum. Ini adalah pandangan yang prevalen selama lebih dari setengah abad. Ini bukan sains, ini adalah pembuatan mitos. Sejak tahun 1970an, Neanderthal mengalami transformasi perlahan. Kini sudah diakui umum bahwa Neanderthal adalah makhluk yang kompleks (mereka merawat yang sakit dan tua, menguburkan orang-orang mati mereka, dan mempraktekkan agama), yang bisa membuat dan menggunakan berbagai jenis peralatan, memakai lem, menempelkan ujung yang tajam kepada tombak kayu menggunakan tali kulit, membuat jarum dari tulang, membangun tempat tinggal bertembok dengan tempat api untuk memasak dan berdiang, membuat ornamen-ornamen dan patung-patung dari tulang, gading, dan kayu licin, dan bahkan memainkan seruling dengan sistem musik tujuh not yang dipakai di dunia modern (Marvin Lubenow, Bones of Contention, hal. 239-244, 254-257). Apakah kaum evolusionis telah meminta maaf karena kesalahan yang telah mereka timpakan ke atas dunia? Sama sekali tidak.
Editor: Kesimpulannya Neanderthal adalah sepenuhnya manusia. Mereka adalah bagian dari keturunan Nuh yang tersebar setelah peristiwa menara Babel.

This entry was posted in Science and Bible. Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *