Orang-Orang Kristen Siria Dipaksa Menerima Perhambaan Dhimmi

(Berita Mingguan GITS 8 Maret 2014, sumber: www.wayoflife.org)
Berikut ini disadur dari “Syrian Christians,” The Times of Israel, 27 Feb. 2014. Kita tahu bahwa istilah “Kristen” di Timur Tengah seringkali mengacu kepada suatu bentuk sakramentalisme, seperti Katolikisme atau Ortodoksi, dan bukan benar-benar kekristenan yang Alkitbiah. Ini bahkan bisa terlihat jelas dari tuntutan para Muslim dalam laporan berikut ini. Namun tetap saja peristiwa-peristiwa ini adalah tindakan penganiayaan dan seharusnya menjadi perhatian setiap orang percaya. Berikut adalah laporannya: “Para pemimpin Kristen di kota Raqqa, Siria utara, yang ditangkap oleh sebuah organisasi yang pernah berafiliasi dengan al-Qaeda, telah menandatangani sebuah dokumen pernyataan berserah minggu ini, yang melarang mereka untuk mempraktekkan kekristenan di depan umum agar mereka dilindungi oleh para penguasa Islam yang di atas mereka. Dokumen itu, yang bertanggal hari Minggu dan disebarkan melalui akun-akun Twitter Islamis, menyatakan bahwa komunitas Kristen di propinsi Raqqa, yang ditangkap Maret lalu oleh Islamic State of Iraq dan the Levant (ISIS), baru-baru ini diberikan tiga opsi: masuk Islam; tetap Kristen tetapi mengaku menyerah kepada Islam; atau ‘menghadapi pedang.’ Mereka memilih yang kedua dari pilihan-pilihan itu, yang dikenal juga sebagai kondisi dhimmi (dhimmitude). …Menurut hukum Islam klasik, orang-orang Kristen dan Yahudi yang hidup di bawah kekuasaan Muslim harus membayar suatu pajak yang dikenal sebagai jizya, sebagai balas untuk perlindungan dari penguasa Muslim tersebut, yang dikenal sebagai dhimma. …Untuk itu, orang-orang Kristen harus setuju kepada daftar persyaratan: tidak boleh merenovasi gereja atau biara di Raqqa; tidak boleh mempertunjukkan salib atau simbol-simbol agamawi di muka umum atau menggunakan loudspeaker saat berdoa; tidak boleh membaca Kitab Suci di dalam rumah dengan suara yang cukup keras sehingga orang Islam yang berdiri di luar bisa mendengarnya; tidak boleh mengambil aksi subversif melawan orang Muslim; tidak boleh melakukan seremoni agamawi apapun di luar gereja; tidak boleh melarang orang Kristen manapun yang mau masuk Islem; harus menghormati Islam dan orang Muslim dan tidak mengatakan apa-apa yang menyinggung mereka; membayar pajak jizya seharga empat dinar emas bagi yang kaya, dua bagi yang biasa-biasa, dan satu bagi yang miskin, dua kali setahun, untuk setiap orang Kristen dewasa; tidak minum alkohol di depan umum; dan berpakaian sopan.”

This entry was posted in Islam, Penganiayaan / Persecution. Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *