Paus Menyebut Maria “Bintang Penginjilan Baru”

(Berita Mingguan GITS 28Juni 2014, sumber: www.wayoflife.org)
Pada tanggal 1 Juni, di dalam sebuah kebaktian di Grotto of Our Lady of Lourdes, Paus Fransiskus menyebut Maria sebagai “Bintang Penginjilan Baru” (“Candlelight Vigil,” Catholic News Agency, 1 Juni 2014). Dia mengatakan, “Dia [Maria] adalah ‘Perawan kesiapsiagaan,’ ‘Madonna kesiapsiagaan,’ siap untuk memberikan kita bantuan ketika kita berdoa, ketika kita meminta pertolongannya, perlindungannya, karunianya.” Program penginjilan Roma yang baru, yang didirikan oleh Paus Benediktus XVI pada tahun 2010, memiliki tujuan membesarkan Gereja Katolik dengan cara apapun: melalui baptisan atas orang-orang yang belum percaya, melalui pertobatan non-Katolik kepada Katolik, dan melalui “penginjilan ulang” orang-orang Katolik yang sempat terhilang. Dari sudut pandang nubuat, ini adalah dorongan besar untuk membangun “gereja” esa-sedunia pada akhir zaman. Gerakan ini berakar pada Konsili Vatikan Kedua, sekaligus pada berbagai aktivitas ekumenis paus Yohanes Paulus II. Dia mendirikan program Evangelization 2000 yang memiliki tujuan yang sama dengan program New Evangelization (Penginjilan Baru) milik Benediktus, dan menaruh program itu di bawah pengawasan Tom Forrest, seorang imam Amerika yang berbasis di Roma.

Tidak lama setelah dimulai, saya menyaksikan program ini bekerja dalam sebuah konferensi ekumenis yang disebut New Orleans ’87, dan pada waktu itulah pertama kali saya mendengar Forrest berbicara. 35-40 ribu peserta yang hadir mewakili 40 denominasi. Lima puluh persennya adalah Roma Katolik. Walaupun ia menyuguhkan dirinya sebagai seorang “Katolik injili” yang kharismatik, dalam bukunya Be Holy, yang saya beli di konferensi tersebut, Forrest memberitakan injil palsu berupa keselamatan melalui sakramen. “Sungai [keselamatan] ini memulai alirannya dari Baptisan kita, dan lalu sekali lagi dengan kasih karunia dari Konfirmasi kita. Ini adalah ‘pembaharuan’ kita yang pertama dalam Roh Kudus, sakramen-sakramen inisiasi ini membuat kita makhluk-makhluk baru, anak-anak Allah yang baru” (Be Holy, halaman 23). Saya mendengar Forrest berbicara lagi dalam konferensi kharismatik-ekumenis di Indianapolis 2000, dan di sana dia mengatakan bahwa tujuan ekumenisme Roma Katolik adalah untuk membuat semua orang Katolik. Dia mengatakan, “Peran kita dalam penginjilan bukan hanya untuk menjadikan Kristen; tugas kita adalah untuk membuat orang menjadi sekaya dan sepenuhnya Kristen sebisa kita, dengan cara membawa mereka ke dalam gereja Katolik.” Dia memuji Tuhan atas kepausan, sakramen-sakramen, para santo santa, keimamatan, Maria, bahkan purgatori. Dia mengatakan, “Saya adalah salah satu orang yang tidak akan pernah masuk Firdaus tanpa purgatori.” Sobat, siapapun yang percaya dalam doktrin purgatori-nya Katolik berarti tidak percaya Injil kasih karunia Yesus Kristus yang adalah Kabar Baik bahwa Yesus telah “membayar semuanya.” Kekacauan yang sesat inilah yang disebut “penginjilan” gaya ekumenisme Roma Katolik.

This entry was posted in Katolik. Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *