Mantan Uskup Agung Canterbury Mempraktekkan Meditasi Buddha/Katolik

(Berita Mingguan GITS 26Juli 2014, sumber: www.wayoflife.org)

Dalam sebuah wawancara baru-baru ini, Rowan Williams, mantan Uskup Agung Canterbury, mengaakan bahwa ia mempraktekkan suatu kombinasi meditasi cara Buddha/Katolik/Ortodoks. Setiap pagi dia mengulangi doa yang sama sambil melakukan latihan pernapasan. Disebut “Doa Yesus,” doa ini terdiri dari repetisi kosong dari kata-kata “Tuhan Yesus Kristus, Anak Allah, kasihanilah aku, seorang berdosa.” Dia mengatakan bahwa “keterpaparan dan interaksi dengan dunia Buddha, khususnya, telah membuat saya sadar akan praktek-praktek yang tidak jauh berbeda dari ‘Doa Yesus’ dan memperkenalkan saya kepada disiplin-disiplin yang semakin memperkuat keheningan dan fokus fisik yang diperlukan dalam doa itu” (“Rowan Williams: How Buddhism Helps Me Pray,” The Telegraph, London, 2 Juli 2014). Dia mengatakan bahwa praktek tersebut membantu dia melepaskan dirinya sendiri dari “gambar-gambar dan pikiran-pikiran yang menganggu dan melayang-layang.” Mempraktekkan teknik imajinasi mental, dia membayangkan tubuh manusia seperti suatu goa yang dilewati oleh nafas. Dia mengatakan bahwa para pengikut teknik-teknik ini dalam mencapai “tingkatan atas” dan menjadi sadar akan suatu “terang internal yang tidak terputus.”

Praktek-praktek perenungan yang tidak alkitabiah, seperti Doa Yesus, doa visualisasi, doa nafas, dan doa pemusat, sangatlah berbahaya. Banyak orang yang mempraktekkan hal-hal ini pada akhirnya menjadi percaya akan konsep kafir tentang Allah, seperti Pantheisme (Allah adalah segala sesuatu) dan panentheism (Allah ada dalam segala sesuatu). Melalui praktek-praktek ini, orang biasanya menjadi semakin ekumenis dalam pemikiran. Doa kontemplatif adalah salah satu balok penting pembangung gereja-esa-sedunia akhir zaman. 

This entry was posted in Ekumenisme, Kesesatan Umum dan New Age. Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *