Emerging Church Mengajukan “Kekristenan Versi 3.0” yang Menghancurkan Otoritas Alkitab

(Berita Mingguan GITS 29 November 2014, sumber: www.wayoflife.org)

Dalam sebuah pesan yang disampaikan di Greenbelt Festival di Inggris pada bulan Agustus, pemimpin gerakan emerging church, Brian McLaren, mencoba untuk menghancurkan otoritas Alkitab yang absolut dengan mengklaim bahwa kita telah memasuki suatu era baru pembacaan Alkitab. Dia membagi sejarah gereja menjadi tiga bagian: Alkitab v. 1.0 adalah pendekatan Roma Katolik kepada Kitab Suci, yaitu Alkitab “dibaca dan dikendalikan oleh kaum elit agama.” Alkitab v. 2.0 adalah pendekatan Protestan terhadap Kitab Suci, yaitu “Alkitab sendiri dilihat sebagai tanpa salah” dan orang percaya menguji segala sesuatu melaluinya. Alkitab v. 3.0 adalah pendekatan baru yang direkomendasikan oleh McLaren, yaitu bahwa banyaknya penafsiran yang tersedia di Internet, ditenggarai membuat tidak ada satu penafsiran yang berotoritas yang valid. Dia mengatakan bahwa Alkitab v. 3.0 adalah untuk “berada dalam percakapan dengan segala sesuatu dan semua orang.” Dia mengatakan, “Alkitab v. 1.0 tidak menyerah kepada Alkitab v. 2.0 tanpa perlawanan. Dan akan sulit bagi Alkitab v. 2.0 untuk membayangkan dunianya Alkitab v. 3.0,” tetapi “Jika kita siap, kita akan menemukan Alkitab secara lebih baik, lebih mendalam, dan lebih kaya dari sebelumnya” (“Brian McLaren: ‘We’ve entered a new era of Bible reading,’”ChristianityToday.com, 4 Sept. 2014). Pembacaan Alkitab yang “lebih mendalam dan lebih kaya” adalah pendekatan gereja-esa-sedunia yang toleran akan semua pandangan dan meninggikan persatuan, “keadilan sosial,” dll., lebih dari pada kemurnian doktrin. McLaren tumbuh besar di rumah tangga Kristen fundamental, tetapi dia menolak iman orang tuanya dan kakek neneknya yang saleh, yang adalah misionari Brethren.

Untuk menjawab masalah Alkitab v. 1.0, 2.,0, dan 3.0, kita akan memperhatikan bahwa pandangan McLaren tentang sejarah tidak dimulai dari awal sekali. Sebenarnya, Alkitab 1.0 bukanlah versi Roma Katolik, melainkan adalah pandangan jemaat-jemaat Perjanjian Baru di bawah tuntunan para Rasul Kristus. Alkitab 1.0 adalah kekristenan yang mempercayai bahwa suatu iman yang tidak dapat salah telah diberikan satu kali untuk seterusnya dalam Kitab Suci Perjanjian Baru, dan harus diperjuangkan (Yudas 3). Alkitab 1.0 adalah kekristenan yang menerima kata-kata Kristus yang telah dibangkitkan secara serius ketika Ia mengatakan bahwa murid-muridNya haruslah diajar untuk “melakukan segala sesuatu yang telah Kuperintahkan kepadamu” (Mat. 28:20). Tidak ada ruang bagi kebingungan karena banyaknya penafsiran di sini. Alkitab 1.0 adalah kekristenan yang percaya bahwa Paulus menyampaikan kebenaran yang absolut kepada orang-orang yang lahir baru dan setia, yang disuruh untuk mempercayakan “itu” kepada orang-orang lain lagi (2 Tim. 2:2). Alkitab 1.0 adalah kekristenan yang diajarkan untuk menguji, berhati-hbati terhadap, menandai, menjauhi, dan menolak guru-guru palsu dan penyesat-penyesat (Rom. 16:17-18; Ef. 4:4; Fil. 3:2, 17-18; Kol. 2:8; 2 Tim. 3:5; Titus 3:10-11; 1 Tim. 4:1-4; 1 Yoh. 4:1). Ini tidak mungkin dilakukan oleh seseorang yang percaya bahwa sekumpulan variasi penafsiran itu benar semua. Dalam skema McLaren, tidak seorang pun adalah penyesat. Sebaliknya, semua pencari yang tulus datang dengan “perspektif” yang berbeda. Lebih lanjut lagi, Alkitab 1.0 adalah kekristenan yang diajarkan untuk berusaha untuk layak di hadapan Allah, dengan cara “berterus terang memberitakan perkataan kebenaran itu” (2 Tim. 2:15) dan yang “beroleh pengurapan dari Yang Kudus” untuk mengetahui kebenaran (1 Yoh. 2:20, 27). Ini berarti bahwa Roh Allah memimpin orang-orang tebusanNya kepada penafsiran Kitab Suci yang benar.

This entry was posted in Emerging Church. Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *