Tujuan Einstein

(Berita Mingguan GITS 17 Januari 2015, sumber: www.wayoflife.org)

“Albert Einstein pernah berkata, ‘Saya ingin mengetahui pikiran Allah dengan cara yang matematis.’ Einstein menginginkan suatu persamaan, yang mungkin panjangnya hanya beberapa centimeter, yang dapat merangkumkan semua hukum alam, keindahan, keagungan, dan kekuatan alam semesta ke dalam satu persamaan. Itulah tujuan hidupnya” (“Einstein,” History Channel). Einstein, seorang Yahudi berdasarkan kelahiran, adalah seorang yang brilian dan memiliki karunia untuk memahami hukum-hukum “alam,” dan dia tahu bahwa hukum-hukum itu memerlukan seorang Desainer. Tetapi, menurut kesaksiannya sendiri, dia tidak pernah mengenal Desainer itu karena dia telah menolak Firman sang Desainer. Alkitab tidak merangkumkan misteri-misteri alam semesta ke dalam satu persamaan, tetapi Alkitab ada merangkumkan misteri-misteri itu ke dalam pernyataan-pernyataan indah dan penting yang memerlukan kekekalan untuk dapat dipahami sepenuhnya. Misalnya yang satu ini: “Setelah pada zaman dahulu Allah berulang kali dan dalam pelbagai cara berbicara kepada nenek moyang kita dengan perantaraan nabi-nabi, maka pada zaman akhir ini Ia telah berbicara kepada kita dengan perantaraan Anak-Nya, yang telah Ia tetapkan sebagai yang berhak menerima segala yang ada. Oleh Dia Allah telah menjadikan alam semesta. Ia adalah cahaya kemuliaan Allah dan gambar wujud Allah dan menopang segala yang ada dengan firman-Nya yang penuh kekuasaan. Dan setelah Ia selesai mengadakan penyucian dosa, Ia duduk di sebelah kanan Yang Mahabesar, di tempat yang tinggi” (Ibr. 1:1-3).

Dalam paragraf yang singkat ini, yang terdiri dari kata-kata yang sederhana, kita mendapatkan jawaban kepada pertanyaan-pertanyaan terpenting tentang kehidupan dan misteri terbesar dalam alam semesta ini. Kita menjadi tahu bahwa da Allah. Alkitab tidak mencoba membuktikan keberadaan Allah, karena keberadaanNya jelas dari karyaNya. Suatu alam semesta yang harus digambarkan sebagai “indah, agung, hebat,” haruslah memiliki Pencipta yang indah, agung, dan hebat. Allah memberikan manusia cukup akal budi untuk memahami hal ini, kecuali manusia mengkorupkan pikirannya sendiri melalui pemberontakan. Kita juga belajar bahwa Allah memiliki Anak, dan Anak ini adalah gambar wujud pribadi Allah sendiri, dan bahwa sang Anak adalah Pencipta. Kita belajar bahwa Allah memiliki kasih yang begitu besar bagi manusia sehingga AnakNya mati di atas salib bagi manusia. Kita belajar bahwa sang Anak saat ini sedang duduk di sebelah kanan Allah Bapa, dan bahwa Anak menopang segala sesuatu melalui kuasa FirmanNya. Kata “menopang” juga bisa diterjemahkan “mengangkat” dan “menanggung.” Yesus Kristus, Anak Allah yang kekal, menopang alam semesta ini dengan kemahakuasaanNya. “Partikel Allah” adalah Allah sendiri (bukan bahwa ciptaan itu adalah Allah, tentunya. Puji syukur bahwa kita tidak perlu sepintar Einstein untuk mengenal Allah yang indah ini. Kita hanya perlu merendahkan diri dan bertobat akan dosa dan menaruh iman percaya pada Yesus Kristus sebagai Tuhan dan Juruselamat.

This entry was posted in Uncategorized. Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *