Amy Grant Dan Teman-Temannya Membangun “Gereja” Esa Sedunia

(Berita Mingguan GITS 2 Mei 2015, sumber: www.wayoflife.org)

Amy Grant, salah satu musisi Kristen kontemporer yang paling berpengaruh, telah berada dalam perjalanan rohani yang menurun sejak awal karirnya. Hari ini, dia senang-senang saja berpegangan tangan dengan semua orang, mulai dari Baptis sampai kaum New Age. Pada tanggal 19 April dia bergabung dengan Dominican Sisters of Mary, Matt Maher (Katolik), dan lainnya, untuk suatu konser gabungan di Ypsilanti, Michigan. Pada bulan Januari, dia adalah salah seorang yang membuat tajuk utama konser “We Are United” yang mempromosikan kesatuan ekumenis. “Ke-33 artis CCM terhebat dalam sejarah” yang ikut serta, mewakili semua nama-nama besar dalam Musik Kristen Kontemporer, dan mengilustrasikan bahwa tidak ada hal lain yang lebih efektif dalam membangun “gereja” esa sedunia selain dari musisi kontemporer. Orang-orang yang ikut serta dalam “We Are United” termasuk Steve Green, Michael W. Smith, Newsboys, Sandi Patti, Travis Cottrell (worship leader-nya Beth Moore), Dallas Holm, Russ Taff, The Imperials, Don Francisco, Jaci Velasquez, Petra, 4Him, Point of Grace, Carman, and Nicole Mullen. “We Are United” adalah buah pikir dari Stan Moser, salah seorang bapa CCM, dan dewan direksi dari Gospel Music Trust Fund, salah satu organisasi yang berada di balik konser itu, termasuk Bill Gaither dan Presiden National Quartet Convention, Les Beasley. Tenda persatuan CCM yang luas ini, bukan hanya mengikutsertakan Roma Katolik, tetapi juga orang-orang New Age. Roma Downey memainkan peran penting dalam “We Are United.” Dia bukan saja berdoa kepada Maria sebagai Ratu Sorga, tetapi dia juga memiliki titel dalam bidang Spiritual Psychology, yaitu praktek “mengenali dirimu sendiri sebagai Makhluk Ilahi.” Injil palsunya Roma Downey, kristus palsunya, dan roh palsunya, semuanya disambut baik dalam tenda besar CCM, dan gereja-gereja yang mengaku alkitabiah tetapi bermain-main dengan musik kristen kontemporer, sedang membangun jembatan dengan dunia yang berbahaya ini.

This entry was posted in Ekumenisme, musik. Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *