Masyarakat “Jangan Menghakimi”

(Berita Mingguan GITS 13 Juni 2015, sumber: www.wayoflife.org)

Sebuah laporan di koran New York Post Sabtu lalu mendokumentasikan filosofi “jangan menghakimi” yang telah masuk ke sumsum masyarakat Amerika. Berjudul “A massive, silent cultural revolution has changed America,” laporan tersebut menggambarkan suatu “pergeseran masal penghakiman moral dari kehidupan publik.” Penulisnya mengobservasi bahwa “kita tidak mau menghakimi orang lain tentang hal apapun, walaupun apa yang mereka lakukan sebenarnya bersifat destruktif.” Dia menawarkan statistik untuk membuktikan bahwa kontras dengan satu dekade yang lalu, mayoritas orang Amerika tidak lagi menganggap salah penggunaan marijuana, melahirkan anak di luar nikah, homoseksualitas, dan “pernikahan” homoseksual. Tetapi artikel itu salah mengenai kapan ini mulai terjadi dan mengapa terjadi. Artikel itu bermula dengan kata-kata, “Ini terjadi tanpa suatu Musim Panas Cinta…” Pada kenyataannya, benih-benih masyarakat hari ini memiliki moral relatif dan tidak mau menghakimi sudah ditaburkan sejak tahun 1960an dan bahkan lebih awal, dan diperlukan satu generasi barulah buahnya terlihat jelas. Kesalahan besar terletak pada gereja-gereja Amerika. Bukannya menjadi garam dan terang dunia, kebanyakan gereja justru berjalan seiring dengan budaya pop dunia. Berapa banyak gereja yang dengan tegas berkhotbah melawan musik-musik dunia, dansa-dansa yang sensual, pakaian yang tidak sopan, budaya pacara yang korup, dan kejijikan yang dihasilkan oleh Hollywood dan Nashville? Bahkan jika kita kembali lagi ke tahun 1950an, jumlah gereja yang menaati perintah Alkitab seperti Efesus 5:11 dan 1 Yoh. 2:15-17 dengan cara yang jelas dan tegas sangatlah sedikit. Ketaatan seperti itu tidak nampak dalam gereja-gereja Southern Baptist tempat saya tumbuh besar, dan pada waktu itu Southern Baptist adalah gereja-gereja yang paling konservatif. Gerakan Baptis independen pada tahun 1960an dan 1970an memang menghasilkan suatu gerakan separatisme alkitabiah, tetapi seringkali tercemarkan oleh kedangkalan doktrin, sikap berpusat pada manusia, dan legalisme, dan hari ini rata-rata gereja Baptis independen tidak berbeda dengan gereja Southern Baptist dalam hal sifat rohani dan praktek separasi. Ini biasanya terlihat jelas jika kita mengamati komisi atau persekutuan remaja pemuda mereka. Orang-orang Kristen yang tidak memperingatkan akan bahaya Beatles atau Beyonce, tidak akan juga memperingatkan akan bahaya DeGeneres (Editor: seorang tokoh pembicara Lesbian yang terkenal di Amerika) atau Jenner (Editor: seorang laki-laki yang baru-baru ini mengganti kelamin menjadi wanita). American Idol (Editor: atau Indonesian Idol), dengan segala kesia-siaannya dan sensualitas moralnya, sama saja dinikmati dan didukung oleh orang-orang yang katanya dari gereja-gereja alkitabiah dibandingkan dengan “dunia.”

This entry was posted in Fundamentalisme, Kesesatan Umum dan New Age. Bookmark the permalink.

4 Responses to Masyarakat “Jangan Menghakimi”

  1. Pingback: harrisoktavianus

  2. Pingback: Masyarakat “Jangan Menghakimi” | harrisoktavianus

  3. Dini says:

    Saya mau bertanya sedikit mengenai “garam” (mungkin di luar konteks tetapi saya masih bingung tentang hal ini). Di Markus pasal 9 ada perikop tentang penyesatan dan konsep digarami dengan api. Apa maksudnya “garam” dan “api” disini? Apa garam berarti ajaran dan api berarti roh kudus? Terima kasih untuk jawabannya.

  4. Dr. Steven says:

    Konteks Markus 9:49, dalam KJV berbunyi “For every one shall be salted with fire, and every sacrifice shall be salted with salt.”
    Garam penting, jadi persembahan dalam PL harus diberi garam. Sepertinya Tuhan mengajarkan bahwa orang percaya akan dibantu oleh api ujian dan tantangan yang mereka hadapi.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *