Ratu Hawaii yang Melawan “Dewa Gunung Berapi”

(Berita Mingguan GITS 13 Juni 2015, sumber: www.wayoflife.org)

Berikut ini disadur dari “Christian Missionaries in Hawaii,” Bill Federer, TheMoralLiberal.com: “Hiram Bingham dan Asa Thurston dikirim ke Hawaii oleh American Board of Missions di kapal Thaddeus, mendarat di Kailua pada tanggal 31 Maret 1820. Para misionari tersebut bukan hanya menyebarkan kekristenan, tetapi juga melawan mabuk-mabukan dan berbagai keburukan lainnya yang telah diperkenalkan ke pulau itu oleh para pelaut, penangkap paus, dan narapidana dari Botany Bay. Para misionari itu menciptakan 12 huruf alfabet Hawaii, dan memperkenalkan sistem tulisan untuk bahasa Hawaii. Mereka menerjemahkan Alkitab, memulai koran, mendirikan sekolah-sekolah dan gereja-gereja, dan meyakinkan para wanita Hawaii untuk mengenakan pakaian. Penyembahan berhala dan pengorbanan manusia telah sebelumnya dihentikan oleh Raja Kamehameha II dan Ibu Surinya Ka’ahumanu. Ratu Ka’ahumanu dan enam pemimpin tinggi meminta diri dibaptis pada tahun 1823. Dia lalu melarang prostitusi dan kemabukan, sehingga para pelaut membenci pengaruh misionari-misionari tersebut. Ratu Ka’ahumanu membantu penyebaran Injil di pulau-pulau, memicu suatu “Kebangkitan Besar.” Dia dihadiahi sebuah Perjanjian Baru dalam bahasa Hawaii yang baru saja selesai, tidak lama sebelum dia meninggal. Kata-kata terakhirnya adalah, ‘Saya pergi ke tempat istana telah siap.’ Pemimpin wanita Kapiolani, sepupu dari Raja Kamehameha I, pada tahun 1824, melawan dewi gunung berapi Pele dengan cara mengucapkan doa Kristen, memanjat turun ke liang lava dan kembali lagi tanpa celaka, lalu memakan buah Ohelo yang terlarang. Pemimpin wanita Kapiolani memuji ‘satu-satunya Allah sejati,’ dan menyatakan, ‘Yehovah adalah Allahku. Dialah yang menyalakan api ini. Saya tidak takut Pele. Semua dewa dewi Hawaii adalah sia-sia.’ Keberanian ini menginspirasikan banyak orang Hawaii menjadi misionari ke pulau-pulau lain, seperti Samuel Kauwealoha, yang berlayar pada tahun 1853 ke Kepulauan Marquesas.” Kepada laporan ini kami menambahkan informasi berikut dari buku Our Fascinating Earth oleh Philip dan Nancy Seff: “Imam-imam, teman-teman, dan suaminya sendiri menubuatkan kematian dalam api bagi sang pemimpin wanita, Kapiolani. …Khalayak ramai yang berkumpul terkejut ketika dia melemparkan bebatuan dan sebuah sendal dan menuangkan baskom cucinya ke liang kudus itu. …Alfred, Tuan Tennyson, belakangan memuji ratu yang berani itu dan mengabadikan dia dalam sebuah puisi, berjudul ‘Kapiolani.’ Dia menulis, ‘Hebat dan lebih hebat, dan paling hebat di antara wanita, pahlawan wanita di pulau, Kapiolani, memanjat gunung, melemparkan buah-buah itu, dan menantang sang Dewi, dan membebaskan rakyat Hawaii!’”

This entry was posted in Misi / Pekabaran Injil, Renungan. Bookmark the permalink.

1 Response to Ratu Hawaii yang Melawan “Dewa Gunung Berapi”

  1. Pingback: Menantang Dewa Dewi | Barangsiapa percaya kepada Anak, ia beroleh hidup yang kekal, tetapi barangsiapa tidak taat kepada Anak, ia TIDAK akan melihat hidup, melainkan MURKA Allah tetap ada di atasnya." Yoh 3:36

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *