Budaya Kematian Belgium

(Berita Mingguan GITS 18 Juli 2015, sumber: www.wayoflife.org)

Berikut ini disadur dari “Thousands of people in Belgium,” Business Insider, 3 Juli 2015: “Seorang wanita sehat berusia 24 tahun di Belgium menjadi topik utama berita ketika dia mengumumkan bahwa dia akan mati dengan cara bunuh diri yang dibantu, bukan karena ada rasa sakit kronis atau penyakit terminal, tetapi karena dia ada pikiran bunuh diri yang terus muncul. Wanita tersebut, yang hanya memberikan nama depannya saja, Laura, adalah satu dari 50 orang yang setiap tahun di Belgium diizinkan untuk bunuh diri karena alasan psikiatris saja. Belgium membuat sejarah pada tahun 2002 ketika negara itu melegalkan bunuh diri yang dibantu bagi orang-orang dengan kesakitan yang tak tertahankan, baik itu secara fisik ataupun psikis. Pendukung hukum ini mengatakan bahwa aturan itu memanusiawikan orang-orang dengan penyakit parah dengan cara memberikan mereka kebebasan untuk mengakhiri segala sesuatu. Para penentang hukum itu berargumen bahwa dokter-dokter Belgia sering kali meresepkan bunuh diri bahkan ketika pasien tersebut masih memiliki opsi-opsi lain. Sejak hukum itu berlaku, sekitar 10.600 orang telah bunuh diri di Belgium secara resmi dan dibantu, setengahnya berusia 70-90 tahun. Tetapi dari antara 1.924 orang yang di-euthanasia pada tahun 2014, sekitar 2-3 persen adalah orang-orang yang menderita penyakit psikiatris, dan banyak di antara mereka berusia muda, demikian berita dari Profesor Wim Distelmans, ketua dari komisi federal euthanasia, kepada publikasi Humo.”

This entry was posted in Kesehatan / Medical, Kesesatan Umum dan New Age. Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *