Gereja Inggris Sedang Mati

(Berita Mingguan GITS 31 Oktober 2015, sumber: www.wayoflife.org)

Gereja Inggris sedang dalam spiral kematian, dengan hanya 17% orang Inggris yang mengidentifikasikan diri sebagai Anglikan (turun dari 40% pada tahun 1983), sementara 49% mengidentifikasikan diri “tidak memiliki iman keagamaan.” Jumlah orang yang secara rutin menghadiri gereja-gereja Anglikan sangatlah kecil. Satu dari empat paroki Anglikan memiliki kurang dari 10 pengunjung rutin. Gereja Inggris memang tidak pernah didirikan atas fondasi yang Alkitabiah, dan dalam setengah abad terakhir, gereja ini melakukan bunuh diri melalui sikap tidak percaya dan liberalisme. Pada tahun 1953, Uskup Agung Canterbury [Editor: pemimpin rohani gereja Anglikan], William Temple, mengatakan bahwa “tidak ada yang namanya kebenaran yang diwahyukan.” Pada tahun 1961, Uskup Agung Canterbury Michael Ramsey mengatakan, “…surga bukanlah tempat untuk hanya orang Kristen….Saya yakin akan melihat banyak orang atheis hari ini di sorga nanti” (London Daily Mail, 2 Okt. 1961). Pada tahun 1982, Uskup Agung Canterbury Robert Runcie mengatakan bahwa dia agnostik (tidak tahu) tentang mengapa Yesus menderita di atas kayu salib (Sunday Times Weekly Review, London, 11 April 1982). Pada tahun 1984, David Jenkins, Uskup di Durham, menggambarkan kebangkitan Yesus sebagai “suatu trik sulap dengan tulang-tulang” (AP, St. Louis Post Dispatch, 28 Okt. 1984), dan dua tahun kemudian, Jenkins menyebut Allah dalam Alkitab sebagai “suatu berhala bidat” (Ecumenical Press Service, 16-21 Juli 1986). Pada tahun 1984, Associated Press melaporkan bahwa hanya 20 dari 31 uskup Gereja Inggris yang mengikuti jajak pendapat yang bersikukuh bahwa orang Kristen harus menerima Yesus sebagai Allah sekaligus manusia. Pada tahun 1994, dilaporkan oleh Sunday Time (31 Juli) bahwa sekurangnya 100 imam Anglikan adalah atheis yang tidak percaya akan “Allah yang supranatural di luar dari manusia sendiri.” Pada tahun 1996, Uskup Agung Canterbury George Carey, memarahi para “fundamentalis” yang menempatkan Alkitab “di atas dan di luar jangkauan pertanyaan manusia” (Christian News, 9 Des. 1996). Pada tahun 1997, sebuah survei menemukan bahwa 31% dari pejabat Anglikan di Inggris tidak percaya kelahiran [Yesus] dari perawan (Alliance Life, 12 Maret 1997). Pada tahun 2000, Richard Harries, Uskup di Oxford, mengatakan orang Kristen seharusnya berdoa kepada “Allah Ibu” (The Times, 3 Nov. 2002). Pada 14 September 2008, Gereja Inggris secara resmi meminta maaf karena telah menolak teori evolusi Darwin (“Church Makes ‘Ludicrous’ Apology,” The Daily Mail, 13 Sept. 2008). Pada 16 Mei 2009, lonceng di Katedral Anglikan di Liverpool, membunyikan lagu atheistik yang dikarang John Lennon, “Imagine.”

This entry was posted in Gereja. Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *