Teguran Paulus terhadap Petrus

(Berita Mingguan GITS 17 Oktober 2015, sumber: www.wayoflife.org)

Saya belum pernah melihat indikasi apapun dalam Alkitab yang membatasi pelayanan pemberian tegoran sehingga gembala sidang yang populer tidak perlu ditegor. Dan saya belum pernah melihat sedikit pun indikasi dalam Alkitab yang mengharuskan seorang pengkhotbah untuk memberikan tegoran hanya dalam pembicaraan pribadi saja. Para nabi di zaman dahulu menegor bahkan raja-raja yang saleh ketika mereka berkompromi rohani. “Tetapi Eliezer bin Dodawa dari Maresa bernubuat terhadap Yosafat, katanya: “Karena engkau bersekutu dengan Ahazia, maka TUHAN akan merobohkan pekerjaanmu.” Lalu kapal-kapal itu pecah, dan tak dapat berlayar ke Tarsis(2 Taw. 20:37). Paulus secara publik menegor Petrus karena kemunafikannya (Galatia 2:14).

Jika teman-teman Petrus serupa dengan banyak orang Kristen hari ini, tentunya mereka akan marah kepada Paulus karena berani sekali dia menegor hamba Tuhan, apalagi menegor dia di depan umum. “Mengapa Paulus tidak berbicara dengan Petrus secara pribadi daripada membuat isu ini isu publik?” mereka tentunya bertanya. “Jangan-jangan dia iri dengan Petrus? Ya, pastinya begitu. Siapa Paulus dibandingkan Petrus? Nanki kalau Paulus sudah berhasil memenangkan 3.000 orang kepada Tuhan dalam satu kali khotbah dan menggembalakan jemaat dengan ribuan jemaat, baru dia pantas untuk menegor orang hebat ini, dan jangan sebelumnya. Lihat saja, waktu Paulus berkhotbah di bukit Mars, hanya segelintir orang yang merespon, mungkin karena dia terlalu banyak bicara tentang pertobatan! Dan tidak seperti Petrus, Paulus tidak pernah bersama dengan Kristus waktu Dia di bumi dan tidak melihat langsung mujizat-mujizatNya ataupun mendengar langsung pengajaran sang Guru dengan telinga sendiri. Dia pikir dia itu siapa, menegor Petrus karena kemunafikan? Apa dia pikir dia sudah orang Kristen sempurna? Nah, pasti begitu. Dia mungkin penuh dengan kesombongan dan didera oleh rasa iri. Lagipula, Paulus ini membesar-besarkan masalah kecil. “Kemunafikan” Petrus yang kecil ini bukan masalah besar. Paulus harus bisa muncur sedikit dan melihat gambaran besar dari pelayanan Petrus yang sangat berbuah. Mengapa Paulus tidak menodongkan senjatanya kepada kesalahan-kesalahan yang sebenarnya, jangan malah menembak teman sendiri yang terluka! Apakah dia tidak sadar bahwa memecahbelah itu salah? Lagipula, Paulus bahkan bukan anggota jemaat Yerusalem, jadi mestinya dia urus urusan dia sendiri dan menghormati otonomi jemaat. Jika dia mau menegor seseorang, coba tegor orang-orang Yahudi dan para Gnostik, dan jangan sentuh hamba Tuhan.”

Ini adalah pemikiran yang banyak muncul di kalangan orang Kristen, tetapi ini bukan pemikiran yang alkitabiah. Tidak ada hamba Tuhan yang tidak perlu diuji oleh Firman Allah. Hamba Tuhan manapun bisa saja berbuat salah atau berkompromi. Dan jika kesalahannya atau komprominya bersifat publik atau mempengaruhi publik, maka tegorannya seharusnya publik. Memang tidak ada orang yang senang ditegor, tetapi seorang yang saleh tahu bahwa tegoran itu penting. “Siapa mencintai didikan, mencintai pengetahuan; tetapi siapa membenci teguran, adalah dungu(Ams. 12:1). Yang dimaksud tegoran di sini bukanlah sikap menjatuhkan yang karnal, yang suka mengritik tanpa dasar, yang mencari-cari hal-hla yang bukan-bukan. Juga yang dimaksudkan di sini bukanlah gosip murahan, ataupun hal-hal yang didasarkan hanya pada pendapat pribadi saja. Yang dimaksudkan di sini adalah tegoran yang saleh yang diberikan dengan hikmat rohani dan didasarkan pada Firman Tuhan oleh orang-orang yang mengasihi Kristus dan memperjuangkan kemuliaanNya.

This entry was posted in Fundamentalisme, General (Umum). Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *