Serangan Paris dan Menari dengan Iblis

(Berita Mingguan GITS 28 November 2015, sumber: www.wayoflife.org)

Berikut ini disadur dari “Dancing with the Devil” oleh Charles Gardner, Israel Today, 19 Nov. 2015: “Bahkan sebelum saya tahu bahwa sasaran serangan pembunuhan massal di Paris adalah sebuah teater yang sampai baru-baru ini dimiliki oleh orang Yahudi, saya telah lama berpikir apakah kami orang-orang Barat sedang menuai hasil dari “menari dengan Iblis.” … Walikota London, Boris Johnson, menyebut para pelaku – yaitu teroris Negara Islam – sebagai ‘bidat kematian,’ dan itu memang sungguh demikian. Tetapi sepertinya para komentator tidak dapat melihat, atau sengaja tidak mau melihat, bahwa ada hubungan antara ekstrimisme jahat seperti ini dengan sifat gelap dari konser tersebut, tempat terjadinya kebanyakan korban jiwa hari itu. Band Metal Eagles of Death rupanya baru saja memulai lagu dengan judul Kiss the Devil ketika para teroris mulai menembak dan auditorium berubah menjadi sarang Iblis. Fantasi berubah menjadi realita, ketika salah seorang saksi menggambarkan situasi itu sebagai ‘neraka.’ … Hampir tidak ada media yang membicarakan nubuat Alkitab. Namun Alkitab justru bisa menerangkan banyak hal mengenai subjek yang gelap ini! Satu contoh saja adalah nubuat Alkitab bahwa dunia akan menjadi penuh dengan kekerasan – seperti pada zaman Nuh – menjelang datangnya kembali Yesus untuk mendirikan kerajaan damaiNya. Para politisi telah menyebut pembantaian di Paris sebagai ‘serangan terhadap kebudayaan.’ Tetapi respons saya adalah: budaya apa? Kita sepertinya terobsesi dengan fantasi yang gelap dan ngeri, dengan gambaran-gambaran kekerasan di rumah-rumah kita. Kita memberi selamat kepada diri sendiri dengan budaya ‘kebebasan,’ yang dibeli dengan harga mahal dua perang dunia, dan sebelum itu dengan darah para martir Kristen yang dibakar, digantung, dipenggal demi hak untuk menerbitkan dan menyiarkan Firman Allah. Tetapi hal-hal itu sekarang telah dibuang, digantikan dengan relativisme moral, yang hampir sama dengan tidak ada aturan untuk hidup; sekarang kita mempromosikan kematian (melalui aborsi dan euthanasia, misalnya) dan ngotot untuk mendefinisikan ulang pernikahan, keluarga, dan masyarakat. Homophobia dan Islamophobia adalah hal-hal yang secara politis tidak boleh dilakukan, menggantikan ‘Janganlah…’ dalam Sepuluh Perintah Allah. …Namun, secara tragis, pertahanan moral kita telah runtuh, tembok-tembok kita roboh, dan fondasi budaya Judeo-Kristen telah dilemahkan. Inilah alasannya kita terhuyung-huyung sebagai masyarakat yang dalam bahaya keruntuhan. Saya tidak bisa berbicara atas nama Perancis atau sisa Eropa, tetapi mengenai Inggris, waktu sudah hampir habis. …Kita pernah menjadi negara yang hebat, mengirim misi-misi ke seluruh dunia untuk membagikan kabar baik tentang Yesus yang mengubah hidup (ya, bahkan mengubah suatu bangsa). Tetapi kini kita telah melemparkan keluar apa yang pernah menjadi paling berharga bagi kita. Yesus menyuruh kita membangun di atas batu karang, kita telah membangun di atas pasir.”

This entry was posted in General (Umum), Kesesatan Umum dan New Age. Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *