Ketika Paus Menculik Seorang Bocah Yahudi

(Berita Mingguan GITS 26 Desember 2015, sumber: www.wayoflife.org)

Tindakan inkuisisi Italia yang tercatat terakhir kali adalah pada tahun 1858, ketika pihak otoritas Katolik menyita seorang anak lelaki berumur enam tahun, Edgardo Mortara, dari sebuah keluarga Yahudi. Karena ditenggarai bahwa dia telah dibaptiskan secara rahasia oleh susternya yang Katolik ketika dia hampir mati, maka bocah lelaki itu sudah dianggap seorang Katolik dan seorang Kristen! Karena adalah ilegal di negara-negara kepausan bagi seorang anak Katolik untuk dibesarkan oleh orang Yahudi, polisi dan para inkuisitor Katolik memasuki rumah itu satu sore pada bulan Juni dan menyita anak itu. Dia dibawa ke Roma dan diadopsi oleh Paus Pius IX. Orang tuanya tidak diizinkan untuk melihat dia selama berminggu-minggu, dan setelah itu mereka hanya boleh mengunjungi dia di bawah pengawasan. Ayah anak itu, Momolo Mortara, sungguh kelimpungan, dan menghabiskan bertahun-tahun mencari bantuan “ke segala penjuru,” tetapi sia-sia. Dia diberitahu bahwa mereka hanya bisa mendapatkan Edgardo kembali jika keluarga mereka masuk menjadi Katolik, yang mereka tolak untuk lakukan. Mereka memiliki tujuh anak lainnya.

Teriakan protes terhadap tindakan Paus nyaring diserukan, tetapi dia menyebut para pemrotesnya itu “anjing-anjing.” Dalam sebuah pidato tahun 1871, dia mengatakan, “Di antara anjing-anjing ini, terlalu banyak dari mereka berada di Roma, dan kita mendengar lolongan mereka di jalan-jalan, dan mereka mengganggu kita di semua tempat” (Kenneth Stowe, Popes, Church, and Jews in the Middle Ages, pp. 57-58). Edgardo menjadi seorang imam Katolik, berkunjung ke banyak tempat untuk mencoba menobatkan orang-orang Yahudi, tetapi kebanyakan tidak berhasil.

This entry was posted in Katolik. Bookmark the permalink.

1 Response to Ketika Paus Menculik Seorang Bocah Yahudi

  1. Rasnib says:

    Begitulah kalau sudah merasa beriman bahasa2 dan tindakan maupun perilaku pemimpin,penatua,pendeta cendrung di uji oleh Tuhan hingga kebablasan hingga menjadi dosa.
    Semakin merasa dekat dengan Kebenaran maka makin dekat dengan toleransi dosa.
    Karena hanya merasa berarti menurut dirinya, ego menjadi pendekatan dalam sebuah tindakan.
    Alaskan semua sesuai yang telah Kristus ajarkan.
    Amin

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *