Ibu Teresa Akan Diangkat Menjadi Santa

(Berita Mingguan GITS 2 Januari 2016, sumber: www.wayoflife.org)

Dengan pengumuman bahwa mujizat kedua telah terjadi, Paus Fransiskus telah memberikan lampu hijau bagi Ibu Teresa untuk dikanonisasi (diangkat menjadi santa atau orang kudus) pada September berikut, pada peringatan 19 tahun kematiannya. Untuk menjadi seorang santo atau santa, diperlukan dokumentasi dua mujizat yang pernah dilakukan oleh orang yang telah meninggal bersangkutan. Pertama, pada tahun 1988, adalah disembuhkannya seorang wanita India dari tumor perut. Walaupun sang uskup mendeklarasikan bahwa mujizat ini dilakukan oleh biarawati yang telah meninggal tersebut, suami dari wanita itu mengatakan bahwa dia percaya obat-obatan-lah yang telah menyembuhkan istrinya. Kasus kedua, pada tahun 2008, adalah pemulihan yang “tak dapat dijelaskan” seorang lelaki Brazil yang bangun dari koma setelah istrinya berdoa kepada biarawati (Teresa) yang telah meninggal tersebut. Dari pengakuannya sendiri, Ibu Teresa hanya menemukan kegelapan dalam kehidupan dan praktek rohaninya. Ini terdokumentasikan dalam buku yang mengejutkan Mother Teresa: Come Be My Light, the Private Writings of the Saint of Calcutta (2007), yang berisikan pernyataan-pernyataan yang dibuat oleh sang biarawati kepada para imam dan superiornya saat pengakuan dosa, selama lebih dari 65 tahun. Pada bulan Maret 1953, dia menulis kepada imam pengakuan dosanya: “… ADA KEGELAPAN YANG BEGITU MENGERIKAN DALAM DIRI SAYA, seolah-olah semuanya mati. Perasaan ini kurang lebih sudah begini sejak saya memulai ‘pekerjaan itu.’” Pada tahun 1979 dia menulis: “KESUNYIAN DAN KEHAMPAAN YANG SEDEMIKIAN BESAR – sehingga saya menatap dan tidak melihat apa-apa, memperhatikan tetapi tidak mendengar apa-apa.”

Pernyataan-pernyataan pribadinya tentang kegelapan rohani yang dia alami dalam doa perenungan terus berlanjut hingga kematiannya, dan hal-hal ini adalah peringatan yang sekeras mungkin mengenai bahaya mistikisme perenungan (kontemplatif) Katolik yang sekarang ini sedang melanda kaum injili. Praktek-praktek perenungan kontemplatif, seperti Doa Yesus, doa nafas, doa visualisasi, doa centering, dan lectio divina adalah sangat berbahaya. Mereka adalah alat untuk membawa para praktisi mereka untuk berhubungan dengan roh-roh jahat. Banyak orang yang mempraktekkan hal-hal ini ujung-ujungnya menjadi percaya konsep Allah yang kafir misalnya pantheisme (segala sesuatu adalah Allah) dan panentheisme (Allah ada dalam segala sesuatu). Melalui praktek-praktek ini, biasanya orang menjadi semakin ekumenis dan lintas-agama dalam pemikiran.

This entry was posted in Katolik. Bookmark the permalink.

4 Responses to Ibu Teresa Akan Diangkat Menjadi Santa

  1. setwang says:

    Ada 2 tipe orang ketika dikomentari “Anda sangat Pintar”
    1. Orang itu menjawab : “Saya belum sempurna, saya masih harus banyak belajar”
    2. Orang itu menjawab : “Terima kasih atas pujian anda. itu karena saya bekerja keras”

    Ibu Theresa adalah orang pertama, karena banyak pujian mengalir kepadanya bahwa ia adalah orang kudus yang hidup. Anda adalah orang kedua.

  2. Dr. Steven says:

    1. Tidak peduli berapa banyak pun pujian manusia, itu semua tidak ada gunanya. Yang penting adalah apakah Tuhan berkenan atau tidak? Dan untuk mendapatkan perkenanan Tuhan, kita harus menuruti FirmanNya.
    2. Anda tidak kenal saya, tapi anda menghakimi saya. Bukankah filosofi anda jangan menghakimi? Atau itu hanya untuk saya dan bukan untuk anda?

  3. setwang says:

    Saya tidak menghakimi Anda. Pandangan kedua adalah filosofi Protestan. Bukankah Filosofi Protestan : “Apakah Anda Percaya Anda akan masuk Surga?” Jawab :”Ya Pasti, karena saya percaya kepada Kristus” ?

    Perhatikan jawaban pertama yang menurut saya adalah filosofi Katolik. “Apakah Anda Percaya Anda akan masuk Surga?” Walaupun seorang Katolik percaya kepada keselamatan yang dijanjikan Kristus, tetapi tetap menjawab “Masuk surga itu adalah kewenangan Tuhan, bukan saya”. Jawaban seorang Katolik bukan jawaban karena tidak percaya, tetapi jawaban seorang yang bertanya kepada Tuhan :”Tuhan kapan saya melihat engkau sebagai seorang telanjang dan saya memberi Engkau Pakaian”

    Tuhan percaya berjanji di Alkitab, tetapi apa Tuhan pernah berjanji dengan berbicara langsung kepada Anda sehingga Anda berani berkata demikian ?

  4. Dr. Steven says:

    Komentar anda yang pertama adalah masalah ketika dikomentari “sangat pintar.” Anda memproyeksikan bagaimana jawaban saya menurut anda.
    Lalu anda kaitkan kepada kepastian masuk Sorga. Ngga nyambung banget sebenarnya.

    Mengenai kepastian masuk Sorga, baca lagi 1 Yohanes 5:13. Orang Katolik memang tidak akan bilang “yakin” masuk Sorga, karena memang tidak ada jaminan masuk Sorga dalam Katolik.
    Keselamatan dalam Katolik itu bukan hanya melalui beriman pada Yesus, tetapi juga melalui berbagai Sakramen dan perbuatan baik.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *