Islam Agama Damai?

(Berita Mingguan GITS 30 Januari 2016, sumber: www.wayoflife.org)

Narasi yang sering didengungkan hari ini adalah bahwa Islam sebenarnya adalah agama damai, dan bahwa para teroris bukanlah Muslim sejati, dan bahwa ISIS bukanlah wajah Islam sama sekali. Tetapi benarkah demikian? Atau sebenarnya para teroris adalah Muslim yang secara serius mengikuti pengajaran Islam? Memang, ada banyak Muslim yang sangat tidak setuju terorisme, tetapi mereka perlu memikirkan mengapa para teroris dan pejuang ISIS dapat mengklaim dukungan sejarah dan Kitab Suci bagi tindakan mereka. Mereka mengikuti jejak kaki sejarah awal Islam mulai dari pendirinya. Islam berarti “menyerah” dan definisi “damai” dalam Islam adalah pengendalian Islam atas dunia. Menurut Islam, dunia dibagi menjadi Dar al-Harb (dunia perang atau dunia orang-orang non-Islam/kafir) dan Dar al-Islam (dunia damai atau dunia orang Islam). “Diasumsikan bahwa tugas jihad akan berlanjut, hanya diselingi oleh berbagai gencatan senjata, sampai seluruh dunia menerima iman Muslim atau berada di bawah kuasa Muslim” (Gene Gerganus, Peril of Islam: Telling the Truth, hal. 59, 60).

Dalam 200 tahun setelah Muhammad, pasukan-pasukan Muslim telah mengalahkan banyak negara dan menciptakan suatu kalifah Islam yang mencakup lebih dari lima juta mil persegi. Mereka telah mengalahkan Kerajaan Sassanid (Persia, Mesopotamia, Asyur). Mereka telah mengalahkan kebanyakan kerajaan Byzantium. Mereka telah mengalahkan Afrika utara dan Spanyol. Ini semua dilakukan dengan mata pedang dan pemaksaan untuk masuk ke dalam Islam atas orang-orang yang dikalahkan. Ini adalah fakta sejarah yang tak terpungkiri, dan kelompok Islam seperti ISIS hanyalah mencoba untuk mengulangi hal ini. Para teroris merasa tidak melakukan kesalahan ketika membunuh banyak orang, termasuk wanita dan anak-anak, karena Kitab Suci mereka mengajarkan darah kafir itu halal. Orang-orang Muslim yang cinta damai perlu merenungkan apakah mengikuti al-Quran dan Hadits secara serius dan literal akan memimpin kepada kekerasan atau kedamaian?

This entry was posted in Islam. Bookmark the permalink.

14 Responses to Islam Agama Damai?

  1. nadia says:

    anda tidak benar-benar memahami definisi jihad sesungguhnya, jadi tolong jangan banyak bicara tentang apa yang anda tidak mumpuni tentang ilmunya.

  2. Dr. Steven says:

    Yang bisa membicarakan “jihad” bukan hanya yang melakukan jihad, tetapi juga orang-orang yang terkena dampak jihad.

  3. Delon says:

    Banyak postingan bpk Steven yang baik,tapi ketika melihat ada archive ttg Islam saya kurang setuju, mengapa hrs membahas kekurngan atau kkejaman dri agama lain yg kita pun kurng mngerti. Kalau mau mbhas agama lain ada banyak agama diIndonesia n dunia dan tdk akan hbis2nya. Kesannya bbrpa topik mlah mbawa kbencian bknnya mbawa kasih. saya yakin msh bnyak org dri agama lain yg kecewa ketika melihat rekan seiman berbuat jahat.
    Mbaca postingan2 tsb bkn tdak mngkin mmbuat bbrapa org mlah membenci tmannya krn beragama lain. yg saya yakin bkn kemauan bpk Steven. Trims

  4. Dr. Steven says:

    Terima kasih untuk komentarnya.
    Saya sama sekali tidak ingin menebar kebencian, tetapi yang saya ingin lakukan adalah menebar kebenaran.
    Memang, kadang kebenaran itu tidak enak, bisa menyinggung orang. Tetapi itulah kebenaran.
    Saya rasa tidak ada satu kalimat pun di artikel yang menghimbau untuk membenci orang Islam atau orang manapun juga, yang ada adalah mengajak orang Islam untuk berpikir, bagaimana menyikapi ayat-ayat yang dipakai oleh para teroris untuk membenarkan tindakan mereka atas nama Islam.

  5. Elisna says:

    Islam sama saja dgn katolik Roma,melakukan kejahatan bertopengkan kebenaran.minta hikmat Allah agar bisa mengerti,dgn hikmat manusia km tdk bisa mengerti kebenaran sesungguhnya.Kebenaran sesungguhnya.

  6. Lukas says:

    Saya baru-baru ini berdiskusi di Facebook dengan seorang hamba Tuhan dari New Zealand. Ia pernah menyatakan bahwa halal itu sebenarnya persembahan kepada berhala, dan uang dari sertifikasi itu digunakan untuk syiar islam, akar dari terorisme. Apa pendapat anda?

    Kalau penasaran, cari di Facebook “God or Absurdity Revolutions”

  7. Dr. Steven says:

    Bisa jadi. Yang jelas, sertifikasi “halal” seringkali hanyalah masalah uang. Seperti kata orang: ujung-ujungnya DUIT.

  8. Lukas says:

    Masih seputar jihad islam; apakah bapak pernah membaca situs seperti Jihad Watch atau Pamela Geller atau Breitbart?

  9. Dr. Steven says:

    Breitbart dan Jihad Watch pernah sekilas. Tetapi saya tidak rutin/sering membaca ke sana.

  10. Lukas says:

    Kalau yang pernah baca halaman facebook orang-orang seperti yang saya sebutkan (Jihad Watch/Robert Spencer, Pamela Geller, Breitbart), komentarnya banyak yang intinya menjurus demikian “semua negara Islam harus dilenyapkan/diduduki termasuk Indonesia”, “semua muslim harus mati” . Bagaimana menanggapi komentar-komentar yang sangat keras ini?

  11. Lukas says:

    Bagaimana menyikapi pendapat beberapa orang barat yang menyarankan (di komentar-komentar media sosial) untuk melakukan genosida total terhadap umat Islam untuk menghentikan jihad, termasuk dengan senjata nuklir? (menurut mereka pemikiran orang Islam tidak bisa diubah, tak dapat diselamatkan)

  12. Dr. Steven says:

    Ya, tentu kita sebagai orang Kristen tidak menyikapinya demikian. Kita berpikir dari sudut pandang Kristus: jadikanlah semua bangsa muridKu! kata Tuhan kita.

  13. Dr. Steven says:

    Tentu kita tidak setuju. Injil adalah kekuatan Allah untuk menyelamatkan (Roma 1:16-17), lebih hebat dari senjata jasmani.

  14. saputra says:

    Islam sama saja dgn katolik Roma,melakukan kejahatan bertopengkan kebenaran.minta hikmat Allah agar bisa mengerti,dgn hikmat manusia km tdk bisa mengerti kebenaran sesungguhnya.Kebenaran sesungguhnya.

    katholik salah karena tidak mengikuti ajaran Kristus yaitu

    Matius 5:44 Tetapi Aku berkata kepadamu: Kasihilah musuhmu dan berdoalah bagi mereka yang menganiaya kamu

    sedangkan ada kelompok tertentu melakukan pembunuhan karena memang dianjurkan oleh kitab suci nya

    periksa dan bacalah dengan bahasa yang kamu bisa mengerti, bukan hanya menghafal bunyi bahasa asing tanpa mengerti apa apa

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *