Permintaan Maaf Paus yang Sesungguhnya

(Berita Mingguan GITS 13 Februari 2016, sumber: www.wayoflife.org)

Sejak Yohanes Paulus II, telah ada serangkaian “permintaan maaf” atas masa lalu Roma, yang ketika dicermati, ternyata kosong. Yang paling terakhir adalah permintaan maaf Paus Fransiskus tanggal 25 Januari yang lalu (2016). Permintaan maaf itu dideskripsikan oleh U.S. News & World Report dan banyak lagi pihak lain sebagai “permintaan maaf yang luas tentang kesalahan Katolik terhadap orang-orang Kristen lainnya,” tetapi sebenarnya sama sekali bukan. Ini yang dikatakan oleh Fransiskus di St. Peter’s Cathedral: “Sebagai uskup Roma dan gembala atas Gereja Katolik, saya ingin menyerukan belas kasihan dan pengampunan atas tindakan tidak injili orang-orang Katolik terhadap orang-orang Kristen dari gereja-gereja lain” (“Pope Francis … makes sweeping apology,” U.S. News & World Report, 25 Jan. 2016). Itu yang disebut-sebut sebagai permintaan maaf yang luas! “Tindakan tidak injili” adalah cara yang sangat ajaib untuk menggambarkan pemenjaraan, perampokan, penyiksaan, pembakaran, dan pemerangan terhadap jutaan “orang-orang Kristen dari gereja-gereja lain”! Ini bukanlah suatu permintaan maaf. Ini adalah arogansi; ini adalah kesombongan; ini adalah dusta; ini adalah penghinaan lebih lanjut. “Permintaan maaf” yang dilakukan oleh Yohanes Paulus II juga sama jenisnya. Perhatikan “Memory and Reconciliation: The Church and the Faults of the Past,” yang diterbitkan bulan Desember 1999. Dokumen ini ditulis oleh Kardinal Joseph Ratzinger, yang belakangan akan menjadi Paus Benediktus XVI, dan disetujui oleh Paus Yohanes Paulus II. Yohanes Paulus II menyatakan bahwa “permintaan maaf” yang terkandung dalam dokumen ini akan mengantar kepada suatu “musim semi baru bagi kekristenan.” Laporan ini menyatakan bahwa “berbagai cara yang diragukan telah dipakai untuk mengejar tujuan yang baik” dan menyinggung tentang “intoleransi dan bahkan penggunaan kekerasan untuk melayani kebenaran.” Ya, hanya begitu saja. Itulah “permintaan maaf”nya.

Sebenarnya, permintaan maaf yang sejati dan alkitabiah dari seorang Paus kira-kira akan berbunyi seperti ini: “Saya adalah kepala dari suatu gereja yang sesat yang didirikan dalam pemberontakan terhadap Firman Allah 1600 tahun yang lalu, dan sebenarnya lebih menyerupai pelacur dalam Wahyu 17. Saya melepaskan klaim saya yang palsu dan menghujat bahwa saya mewakili Kristus di bumi untuk menjadi kepala dari semua gereja. Saya melepaskan kesesatan doktrin keimamatan saya, keselamatan melalui sakramen, baptisan bayi, penyembahan Maria, purgatori, santo-santa, relik-relik, monastikisme, dan semua hal lain yang bertentangan dengan Firman Allah yang kudus dan doktrin serta praktek jemaat-jemaat awal yang didirikan Kristus. Saya menerima Kitab Suci sebagai satu-satunya otoritas bagi iman dan praktek sesuai dengan pengajaran Rasul Paulus dalam 2 Timotius 3:16-17, dan saya melepaskan setiap tradisi Katolik yang berlawanan dengan Kitab Suci. Saya menolak semua klaim supremasi. Saya mengutuki semua hal-hal mengerikan yang dilakukan oleh Gereja Roma Katolik terhadap orang-orang selama sejarah. Saya melepaskan semua kotoran moral yang telah dilakukan oleh para paus, kardinal, uskup, imam, biarawan dan biarawati dengan dalih dan topeng kekristenan. Saya bertobat dari hal-hal ini dengan berpakaikan karung dan abu di hadapan seluruh dunia. Saya melepaskan doktrin kelahiran kembali melalui baptisan dan menyerahkan diri saya seluruhnya kepada darah Yesus Kristus untuk keselamatan saya. Kiranya Allah mengasihani jiwa saya karena partisipasi saya dalam kesesatan Roma.”

This entry was posted in Katolik. Bookmark the permalink.

2 Responses to Permintaan Maaf Paus yang Sesungguhnya

  1. setwang says:

    Saya tidak tahu makna “Syahadat” yang diucapkan orang Kristen setiap minggu. Syahadat dalam kamus Bahasa Indonesia didefinisikan sebagai :”[n] (1) persaksian; (2) Isl persaksian dan pengakuan (ikrar) yg benar”. Sesuai pengakuan Iman.

    It’s amazing, dalam Syahadat yang selalu diucapkan umat Kristen yang konon adalah syahadat iman rasuli/syahadat para rasul, tidak mencantumkan “Aku Percaya Atas Alkitab sebagai satu-satunya otoritas”. Syahadat justru mencantumkan “Aku percaya akan gereja yang kudus dan am (atau versi Katolik : “Aku percaya kepada gereja yang katolik dan kudus”).

    Mengapa fundamental sepenting itu tidak dimasukkan dalam Syahadat ???!!!

  2. Dr. Steven says:

    Wah, anda salah alamat.
    Itu boleh ditanya ke gereja Katolik, atau lainnya.
    Kalau ingin mengetahui “pengakuan iman” kami, silakan buka halaman Pengakuan Iman di website ini.
    Pengakuan iman bukan untuk diucapkan tanpa pengertian tiap minggu, tetapi untuk dihayati.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *