Kepemimpinan Yang Lemah Adalah Membahayakan

(Berita Mingguan GITS 21 Mei 2016, sumber: www.wayoflife.org)

Kepemimpinan adalah sesuatu yang sulit, terutama jika melibatkan peneguran, memberi peringatan, dan disiplin, dan seringkali kepemimpinan melibatkan hal-hal tersebut. Siapa yang tidak mau populer daripada tidak populer? Tetapi sikap ini justru bisa merugikan orang-orang yang dipimpin. Ini adalah perangkap yang bisa menjebak pemimpin manapun, mulai dari seorang ayah dan ibu, sampai ke polisi, dan juga gembala sidang. Baru-baru ini saya membaca tentang serangan seekor beruang grizzly di sebuah taman nasional di Amerika. Dua orang pegawai mati diserang beruang di taman itu, dan mereka telah diinstruksikan dan diperingatkan tentang bagaimana harus bersikap di daerah beruang, tetapi para pemimpin mereka (dalam kasus ini pada ranger taman dan manajer taman) tidak selalu menerapkan peraturan. Diberitakan bahwa salah satu pemimpin ini, dia “sangat populer di kalangan anah buahnya; sikapnya santai dan bercanda.” Dan walaupun dia “menyatakan aturan yang berlaku” tentang keamanan beruang, dia tidak melanjutkan dengan penerapan dan sanksi. Ketika dikabarkan bahwa para anak buah wanitanya mengabaikan “aturan” dia, dan malam-malam berjalan-jalan di tempat-tempat beruang untuk bertemu pacar mereka, dia “mengangkat tangan” dan berkata “ada batas berapa banyak nasihat yang bisa kita berkan sebelum kita dianggap menjengkelkan, dan dia mereka dia telah mencapai batas itu.” Motivasi dia adalah menjadi populer. Dalam kasus spesifik ini, para anak buah wanitanya tidak dilukai oleh beruang, tetapi itu bisa saja terjadi, seperti dua orang yang terbunuh di daerah yang sama. Kita semua mau “disukai,” tetapi kasih yang sejati menjalankan teguran yang saleh dan disiplin. Alkitab mengatakan, “Siapa tidak menggunakan tongkat, benci kepada anaknya; tetapi siapa mengasihi anaknya, menghajar dia pada waktunya” (Ams. 13:24). Orang tua yang bijak yang mengasihi anaknya akan mengoreksi dan menghajar dia walaupun ini hal yang sulit, karena orang tua lebih peduli tentang hubungan anak itu dengan Tuhan dan karakter anak itu dan masa depannya daripada perasaan dan kenyamanan orang tua itu sendiri. Ini adalah salah satu motivasi terbesar bagi gembala sidang untuk menjalankan disiplin. Peringatan dan disiplin tidak pernah mudah, bagi yang memberi maupun yang menerima, tetapi ini hal yang perlu untuk dunia yang berdosa ini, dan ketika dilakukan dengan benar menurut Firman Allah, ini adalah tindakan kasih yang besar. Seorang yang bijak berkata, “Orang yang memberi saya teguran memberi saya koin emas.” Ini mencerminkan prinsip Alkitab, sebagaimana dapat terlihat jika kita mempelajari kitab Amsal.

This entry was posted in Uncategorized. Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *