Musik di Bait Suci Perjanjian Lama: Pelajaran bagi Hari Ini

(Berita Mingguan GITS 14 Mei 2016, sumber: www.wayoflife.org)

Daud mengorganisir program musik untuk kebaktian di Bait Suci (1 Taw. 15:16-28; 16:4-6; 23:1-5; 25:1-31), dan ini dia lakukan melalui penyingkapan ilahi (2 Taw. 29:25). Jelas bahwa Allah menyukai musik rohani yang kudus. Hal-hal ini harus menjadi teladan bagi jemaat-jemaat (Rom. 15:4). Perhatikan beberapa pelajaran dari perikop-perikop ini. Pertama instrumen yang dipakai adalah kecapi, gambus, dan ceracap (1 Taw. 25:1) dan nafiri (1 Taw. 15:24). Keempat instrumen ini juga disebut di 1 Taw. 15:28 dan 2 Taw. 29:25-26. Ini bukanlah tipe-tipe instrumen yang dipakai untuk menciptakan musik yang hingar bingar dengan ritme dansa. Perhatikan bahwa tidak ada drum. Kedua, para penyanyi dan musisi sungguh berkemampuan tinggi (perhatikan kata “to excel” dalam 1 Taw. 15:21 versi KJV, 1 Taw. 15:22, “paham” / “skillful” dalam 1 Taw. 15:22; dan “ahli seni” dalam 1 Taw. 25:7). Ketiga, mereka dilatih (1 Taw. 25:7). Keempat, mereka terorganisir dengan baik; mereka tunduk kepada aturan Tuhan dan otoritas yang Tuhan taruh atas mereka; mereka ditugaskan pada tempat masing-masing (1 Taw. 25:2, 6, 8). Bandingkan 1 Kor. 12:7; 14:40; Rom. 12:3-8; Ibr. 13:17. Kelima, mereka bernyanyi dan memainkan musik dengan antusias dan gembira (1 Taw. 15:16). Umat Tuhan harus mengikuti contoh ini dalam gereja-gereja, dan pemimpin musik harus mengajarkannya dan mendorongnya. Saya percaya bahwa bernyanyi secara jemaat adalah salah satu refleksi dari karakter rohani jemaat itu. Banyak umat Tuhan tidak bernyanyi atau bernyanyi dengan suara yang begitu kecil sehingga tidak ada yang dapat mendengar mereka, tetapi waktu menyanyi berjemaat bukanlah mengenai “aku” dan apakah “aku” sedang merasa ingin bernyanyi atau tidak, dan juga ini bukan waktu untuk dihibur oleh suatu pementasan di atas pangggung. Ini adalah waktu untuk bernyanyi bagi Tuhan dan saling menguatkan satu sama lain, dan seharusnya dilakukan dengan semangat dan gembira. Ini berarti bahwa setiap orang percaya harusnya berpartisipasi dan meresponi setiap bagian dari kebaktian dari dalam hati: baik kepada khotbah dan pengajaran, kepada bernyanyi, dan kepada doa bersama. Ketika ada tamu yang datang dan melihat bahwa anggota jemaat secara antusias terlibat dalam kebaktian, mereka memahami bahwa orang percaya sungguh-sungguh mempercayai apa yang mereka katakan dan bahwa mereka yakin akan kebenaran Injil Yesus Kristus. Keenam, mereka menyanyikan Firman Allah (1 Taw. 25:5). Bandingkan dengan Kolose 3:16. Penyembahan yang sejati tidak mungkin terlibat dengan kesesatan atau hal-hal yang konyol, tetapi sepenuhnya didasarkan pada Kitab Suci. Ketujuh, mereka menyanyikan syukur pada Allah. Ini adalah bagian yang penting dalam tujuan kehidupan dan jemaat Kristiani. Jemaat-jemaat perlu memastikan bahwa mereka menaikkan lagu-lagu dan himne-himne penyembahan dan ucapan syukur dan bukan hanya lagu-lagu yang menguatkan sesama orang kudus.

This entry was posted in musik. Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *