Kejujuran dan Ketaatan pada Allah Adalah Jalan Terbaik

(Berita Mingguan GITS 25 Juni 2016, sumber: www.wayoflife.org)

Berikut ini dari The Biblical Illustrator tentang Imamat 6: “Seorang lelaki muda datang ke seorang bapak suatu hari dengan kasus yang menganggu hati nuraninya. Dia adalah seorang pegawai urusan korespondensi di sebuah bisnis yang berkembang. Para atasannya mulai menyuruh dia untuk menulis surat-surat kepada pelanggan yang berisikan pernyataan yang dia dan mereka bersama ketahui tidaklah benar. Dia telah menyatakan protesnya, dan mereka berkata: ‘Kami yang bertanggung jawab atas pernyataan-pernyataan ini; tidak ada masalah bagi kamu apakah pernyataan ini benar atau palsu.’ Saya [bapak itu] berkata kepadanya, ‘Apakah surat ini ditandatangani oleh mereka [para atasan] atau haruskah kamu menandatanganinya dengan namamu sendiri?’ Segera sesudah pertanyaan ini keluar dari mulut saya, saya melihat bahwa kalaupun ada perbedaan dalam kedua kasus ini, toh kedua-duanya tetap salah, dan saya segera mengatakan demikian. Dia mengatakan, ‘Saya harus menandatanganinya dengan nama saya sendiri.’ Saya berkata, ‘Kasusmu jelas; kamu harus menolak melakukannya.’ Dia berkata, ‘Saya akan dipecat’; dan setelah hening sejenak, ‘Saya mempunyai istri dan keluarga.’ Saya menjawab, ‘Sobat baik, ini adalah ujian iman dan prinsip; kamu harus melakukan yang benar, dan bersandar pada Tuhan untuk memeliharamu dan keluargamu.’ Saya bertemu dia lagi beberapa hari kemudia. ‘Nah, Mr. _____,’ saya menyapanya, ‘bagaimana situasimu?’ Dia menjawab, ‘Saya masih dalam situasi yang sama; saya telah bertemu muka dengan para pemilik bisnis, dan memberitahu bahwa saya tidak bisa menulis surat yang saya tahu berisi pernyataan tidak benar. Mereka sangat marah, dan saya pikir pasti akan menerima surat pemecatan, tetapi masih belum saya terima.’ Bulan-bulan berlalu, dan dia tetap dalam situasi yang sama. Setelah sekian lama, dia mengunjungi saya, dan saya melihat dari wajahnya, bahwa ada sesuatu yang terjadi. ‘Nah, Mr. ____________,’ saya berkata, ‘apakah engkau sudah dipecat?’ ‘Tidak,’ jawabnya, ‘saya tidak dipecat,’ lalu ia tersenyum. ‘Lalu bagaimana?’ ‘Sebuah posisi dengan tingkat kerahasiaan yang sangat tinggi dalam perusahaan mereka menjadi kosong, dengan gaji yang lebih tinggi, dan mereka telah menaruh saya dalam posisi itu. Setelah berpikir-pikir, orang-orang tanpa prinsip itu menyimpulkan bahwa seorang pegawai yang tidak rela menipu pelanggan mereka pasti tidak akan menipu mereka, dan ia terlalu berharga untuk dipecat.’” [CATATAN TAMBAHAN DR. CLOUD: Kisah ini akan berakhir sama baiknya seandainya orang muda yang jujur itu dipecat juga, karena Allah mengetahui situasi kita dan telah berjanji untuk tidak pernah meninggalkan umatNya].

This entry was posted in General (Umum), Renungan. Bookmark the permalink.

3 Responses to Kejujuran dan Ketaatan pada Allah Adalah Jalan Terbaik

  1. Oge Tampubolon says:

    Apakah dalam perusahaan itu kebohongan pada klien tetap terjadi? Lalu apa gunanya dia memiliki gaji yang bagus di dalamnya! Mengherankan. Dia bagaimana pun terlibat secara tidak langsung dalam menyokong tujuan perusahaan–yang di dalamnya cara-cara menipu digunakan. Tentu saja gaji yang bagus adalah kompensasi atas pengetahuannya atas borok yang tidak boleh lepas keluar perusahaan. Itulah kenapa dia dibayar untuk menyimpan rahasia; berbeda situasinya bila dia keluar dan mengungkapkan kebenaran yang telah merugikan dan menyesatkan klien. Barulah disebut jujur. Ataukah kejujuran sekarang ini diartikan “menyembunyikan kebenaran dari korban-korban di luar sana”? Ingat bagaimana Yesus berbicara secara terang-terangan KELUAR dari kalanganNya sendiri.

  2. Oge Tampubolon says:

    Tambahan: Kisah tersebut dimulai dengan dilema dan nurani yang terganggu. Penyebab masalahnya adalah hasrat akan uang yang membebaskan tindakan dari cara-cara yang benar. Dan hasil akhirnya si Pemuda mendapat posisi yang bagus dengan gaji besar. Tidak menjawab (atau sudah?) persoalan atas rangkaian penipuan itu. Soal menipunya menjadi tidak penting, dan kejujuran sifatnya sangat eksklusif dalam perusahaan. Singkat kata: Anda mengetahui kejahatan–Anda mendapat gaji bagus–Anda masih melihat kejahatan tapi kali ini Anda tersenyum.

  3. Dr. Steven says:

    Kita tidak tahu detil-detil kisah ini. Saya setuju bahwa jika perusahaan ini terus menipu klien, dan pemuda ini tahu akan hal itu, maka ia harus melakukan protes dan menyampaikan keberatan, bahkan jika perlu mundur. Tetapi itu tidak jelas dari cerita. Bisa juga perusahaan itu “tidak jadi” menipu klien karena pemuda ini menolak. Minimal kisahnya sampai di situ.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *