Apakah Alkitab Satu-Satunya Otoritas bagi Iman dan Perbuatan?

Apakah Alkitab Satu-Satunya

Otoritas bagi Iman dan Perbuatan?

Oleh Dr. David Cloud, diterjemahkan Dr. Steven Liauw

Apakah Alkitab Satu-satunya Otoritas bagi Iman dan Perbuatan? Gereja Roma Katolik mengatakan tidak demikian. Konsili Vatikan II menegaskan bahwa “Baik Kitab Suci maupun Tradisi harus diterima dan dihargai dengan perasaan devosi dan hormat yang sama” (Vatican II Documents,“Dogmatic Constitution on Divine Revelation,” Psl. 2, 9, hal. 682). Jadi, Roma telah dengan berani meninggikan tradisi-tradisinya kepada kesetaraan dengan Kitab Suci. Saya sering menerima surat dan email dari orang-orang Katolik yang menantang saya tentang otoritas Alkitab. Mereka tahu bahwa mereka tidak bisa mempertahankan doktrin-doktrin Katolik hanya dari Alkitab saja. Jika Alkitab dijadikan satu-satunya patokan bagi iman dan perbuatan kita, maka dapat dengan mudah ditunjukkan dari Kitab Suci bahwa Gereja Katolik adalah gereja yang palsu. Jadi, otoritas Alkitab adalah inti dari perbedaan antara Roma Katolik dengan gereja-gereja yang mendasarkan doktrin dan perbuatan mereka hanya pada Kitab Suci.

 

Berikut ini adalah contoh dari banyak tantangan yang saya terima:

“Saya tidak menemukan apapun dalam Alkitab yang mengatakan bahwa Alkitab adalah satu-satunya otoritas. Sepertinya bagi saya Alkitab itu sendiri adalah semacam tradisi, karena Alkitab tidak dianggap komplik dalam bentuk seperi sekarang ini hingga banyak tahun setelah kematian semua Rasul. Kita harus mempercayai orang-orang tertentu tentang otentisitas dan kelengkapan Alkitab. Saya menemukan dalam kitab-kitab Suci ajakan untuk mengikuti tradisi-tradisi yang benar, baik itu yang tertulis maupun yang dalam bentuk oral. Tentu saja saya paham bhawa ‘tradisi-tradisi manusia’ tidak boleh diikuti’ (e-mail dari seorang Katolik yang menemukan website Way of Life di internet pada 2 Maret 1999).

JAWABAN SDR. CLOUD:

Kamu mengatakan bahwa kamu tidak menemukan apapun dalam Alkitab yang mengatakan bahwa hanya Kitab Sucilah satu-satunya otoritas. Saya hanya dapat berkata bahwa itu berarti kamu tidak membaca Alkitab dengan hati-hati.

 

PERTAMA, 2 TIMOTIUS 3:16-17 MENGAJARKAN BAHWA KITAB SUCI CUKUP UNTUK IMAN DAN PERBUATAN

Segala tulisan yang diilhamkan Allah memang bermanfaat untuk mengajar, untuk menyatakan kesalahan, untuk memperbaiki kelakuan dan untuk mendidik orang dalam kebenaran. Dengan demikian tiap-tiap manusia kepunyaan Allah DIPERLENGKAPI UNTUK SETIAP PERBUATAN BAIK” (2 Tim. 3:16-17). KJV: “All scripture is given by inspiration of God, and is profitable for doctrine, for reproof, for correction, for instruction in righteousness: That the man of God may be perfect, throughly furnished unto all good works” (2 Tim. 3:16-17)

Hanya Kitab Suci YANG diilhamkan oleh Allah dan dapat membuat manusia kepunyaan Allah sempurna, siap untuk setiap perbuatan baik. Jelas bahwa tidak ada hal lain yang diperlukan di luar dari Kitab Suci. Tradisi Katolik bukanlah Kitab Suci, oleh karena itu tidaklah diilhamkan oleh Allah, dan oleh karena itu tidak diperlukan untuk membuat manusia kepunyaan Allah sempurna. Saya mengatakan ini atas dasar 2 Timotius 3:16-17.

Satu perikop ini saja sudah membantah pengajaran Roma bahwa tradisi mereka sama dengan Kitab Suci. Hanya Kitab Suci yang setara dengan Kitab Suci, karena Kitab Suci diilhamkan Allah. Paulus mengkontraskan kata-kata manusia dengan kata-kata Allah.

Dan karena itulah kami tidak putus-putusnya mengucap syukur juga kepada Allah, sebab kamu telah menerima firman Allah yang kami beritakan itu, bukan sebagai perkataan manusia, tetapi dan memang sungguh-sungguh demikian sebagai firman Allah, yang bekerja juga di dalam kamu yang percaya” (1 Tes. 2:13).

Hari ini pun kita harus terus membuat perbedaan yang jelas antara keduanya. Jika suatu pengajaran bukanlah Firman Allah, maka itu adalah perkataan manusia, dan kata-kata manusia tidaklah untuk dituruti secara absolut. Firman Allah, Kitab Suci, adalah yang dibutuhkan oleh orang percaya, karena dapat membuat orang percaya itu sempurna, diperlengkapi untuk setiap perbuatan baik.

KEDUA, KITA TAHU BAHWA ALKITAB ADALAH FIRMAN ALLAH YANG LENGKAP KARENA KITA DIBERITAHU TENTANG IMAN YANG SEKALI DIBERIKAN KEPADA ORANG-ORANG KUDUS

“Saudara-saudaraku yang kekasih, sementara aku bersungguh-sungguh berusaha menulis kepada kamu tentang keselamatan kita bersama, aku merasa terdorong untuk menulis ini kepada kamu dan menasihati kamu, supaya kamu tetap berjuang untuk mempertahankan iman yang TELAH DISAMPAIKAN KEPADA ORANG-ORANG KUDUS” (Yud. 1:3). KJV : “Beloved, when I gave all diligence to write unto you of the common salvation, it was needful for me to write unto you, and exhort you that ye should earnestly contend for the faith which was ONCE DELIVERED UNTO THE SAINTS” (Yud. 1:3).
“Iman” mengacu kepada kumpulan kebenaran Perjanjian Baru yang disampaikan oleh para rasul melalui pengilhaman Roh Kudus. Istilah “telah disampaikan” (dalam bahasa asli lebih kuat, sebagaimana diterjemahkan dalam KJV: once delivered) memberitahu kita bahwa kumpulan kebenaran ini disampaikan dalam satu periode masa yang spesifik dan telah selesai. Hal ini mengacu kepada Kitab Suci Perjanjian Baru yang diselesaikan pada masa rasul-rasul. Yudas 1:3 dengan sendirinya membantah ide bahwa iman Kristen secara progresif dan perlahan-lahan diberikan melalui Gereja Roma Katolik.

KETIGA, SUATU METERAI DITARUH PADA PASAL TERAKHIR DARI BUKU TERAKHIR DALAM ALKITAB, MENANDAKAN PENYELESAIANNYA DAN PERINGATAN BAGI SETIAP ORANG UNTUK TIDAK MENAMBAHI DAN MENGURANGINYA

“Aku bersaksi kepada setiap orang yang mendengar perkataan-perkataan nubuat dari kitab ini: Jika seorang menambahkan sesuatu kepada perkataan-perkataan ini, maka Allah akan menambahkan kepadanya malapetaka-malapetaka yang tertulis di dalam kitab ini. Dan jikalau seorang mengurangkan sesuatu dari perkataan-perkataan dari kitab nubuat ini, maka Allah akan mengambil bagiannya dari pohon kehidupan dan dari kota kudus, seperti yang tertulis di dalam kitab ini” (Wah. 22:18-19).
Orang-orang yang mengklaim mendapatkan wahyu baru atau suatu tradisi yang setara dengan Alkitab akan jatuh pada penghakiman yang digambarkan di perikop ini. Kitab Wahyu menyimpulkan dan menyelesaikan Kitab Suci. Tidak ada yang boleh ditambah atau dikurangi.

 

KEEMPAT, KANON KITAB SUCI YANG SUDAH SELESAI DIAKUI DI ABAD KEDUA, JAUH SEBELUM MUNCULNYA GEREJA ROMA KATOLIK

Para pemimpin Kristen di abad kedua mengenali kanon Perjanjian Baru dan menerima tulisan-tulisan rasul tersebut sebagai Kitab Suci yang memiliki otoritas sama dengan kanon Perjanjian Lama. Allah memberikan mereka hikmat dalam proses ini dan mereka tidak perlu menunggu pernyataan konsili yang datang berabad-abad kemudian. (Yoh. 16:13; 17:8; 1 Tes. 2:13; 1 Yoh. 2:20).

Irenaeus (125-192 M), misalnya, dalam tulisan-tulisannya yang masih tersimpan hingga hari ini, mengutip 1.800 kali dari kitab-kitab Perjanjian Baru dan memakai ayat-ayat tersebut “dengan cara sedemikian rupa dengan implikasi bahwa ayat-ayat ini telah cukup lama dianggap memiliki otoritas yang tidak dipertanyakan” (Herbert Miller, General Biblical Introduction, hal. 140). Irenaeus menerima empat Injil (Matius hingga Yohanes) sebagai Kitab Suci, dan dia menolak “injil-injil” yang lain. Clement dari Alexandria (150-217 M) mengutip dan mengakui empat Injil dan kebanyakan kitab Perjanjian Baru lainnya, dan menyebut mereka “Kitab Suci yang ilahi.”
Tertullian (150-220 M) membuat 7.200 kutipan dari buku-buku Perjanjian Baru dan menerimanya sebagai Kitab Suci.
Terjemahan ke dalam bahasa Latin, Itala, yang kemungkinan besar dibuat di abad kedua, “berisikan semua buku yang sekarang dikenal sebagai Perjanjian Baru” (John Hentz, History of the Lutheran Version, hal. 59).
Sebuah daftar Kitab Suci Perjanjian Baru yang bertanggalkan paruh kedua abad kedua telah ditemukan di Perpustakaan Ambrosian di Milan, Italia, pada tahun 1740. Daftar dari abad kedua ini berisikan 27 kitab yang ada dalam kanon Perjanjian Baru (Hentz, hal. 60).

Jadi, Kitab Suci Perjanjian Baru yang sudah selesai telah disirkulasikan dan diterima oleh umat Allah di bawah pimpinan Roh Kudus. Banyak dari para ahli tekstual modern yang menulis hari ini tentang abad-abad awal tersebut, menyangkali atau mengabaikan pekerjaan Roh Kudus dalam pengilhaman dan pengkanonan Perjanjian Baru. Rasul-rasul tidak dibiarkan bekerja sendiri untuk menuliskan catatan tentang Kristus, dan juga orang-orang Kristen awal tidak dibiarkan sendiri untuk mengenali yang mana tulisan yang adalah Firman Tuhan (1 Tes. 2:13). Kata-kata dalam Perjanjian Baru adalah kata-kata Tuhan Yesus Kristus melalui pengilhaman ilahi, dan domba-domba Tuhan mengenal suara Gembala Baik mereka dan dapat membedakan suaraNya dari para gembala palsu (Yoh. 10:4, 5, 27).

KELIMA, PERIKOP-PERIKOP YANG MENGAJAK ORANG KRISTEN UNTUK MENGIKUTI TRADISI MENGACU KEPADA TRADISI YANG DIILHAMKAN YANG DIBERIKAN OLEH PARA RASUL, BUKAN KEPADA TRADISI YANG TIDAK DIILHAMKAN DARI ORANG-ORANG SETELAH MEREKA

Istilah “tradisi” dipakai dalam dua cara di Perjanjian Baru. Pertama, ia mengacu kepada doktrin rasuli yang diberikan melalui pengilhaman ilahi (2 Tes. 2:15; 3:6). Gereja-gereja terikat untuk mematuhi tradisi ini karena secara supranatural telah dicatatkan dalam Kitab Suci Perjanjian Baru. Kedua, tradisi mengacu kepada ajaran-ajaran yang tidak diilhamkan yang dipakai olah para pengajar agama untuk menambahi Kitab Suci dan dengan cara demikian mereka berusaha untuk mengikat kehidupan manusia (Mat. 15:1-6; Mar. 7:9-13; Kol. 2:8). Dalam pengertian ini, tradisi diserang oleh Firman Tuhan, sebagaimana kita lihat dalam kutipan-kutipan berikut:

Percuma mereka beribadah kepada-Ku, sedangkan ajaran yang mereka ajarkan ialah perintah manusia” (Mat. 15:9).

“Dengan demikian firman Allah kamu nyatakan tidak berlaku demi adat istiadat yang kamu ikuti itu. Dan banyak hal lain seperti itu yang kamu lakukan” (Mar. 7:13).

“Hati-hatilah, supaya jangan ada yang menawan kamu dengan filsafatnya yang kosong dan palsu menurut ajaran turun-temurun dan roh-roh dunia, tetapi tidak menurut Kristus” (Kol. 2:8).

Kita bersyukur bahwa Tuhan telah memberikan kepada kita Wahyu yang lengkap dan cukup dan bahwa kita tidak tergantung pada nubuat-nubuat, penglihatan-penglihatan, bahasa-bahasa lidah, atau tradisi-tradisi di luar Alkitab, Dalam Alkitab kita memiliki segala sesuatu yang diperlukan oleh jemaat-jemaat bagi iman dan perbuatan kita.

Jadi, walaupun benar bahwa “Alkitab sendiri adalah semacam tradisi,” tidak berarti bahwa Alkitab hanyalah satu dari banyak tradisi berotoritas lainnya. Hanya Alkitablah tradisi yang DIILHAMKAN ALLAH. Inilah yang membedakannya dari semua tulisan lain. Alkitab mengklaim diri Firman Allah yang diilhami. Lebih dari dua ribu kali Alkitab menggunakan frase seperti “Demikianlah Firman Tuhan.”

 

KEENAM, GEREJA ROMA KATOLIK TIDAK DAPAT DITEMUKAN DALAM KITAB SUCI

Gereja Roma Katolik tidak eksis hingga berabad-abad setelah penulisan Perjanjian Baru. Gereja-gereja yang digambarkan dalam Perjanjian sama sekali tidak seperti Gereja Roma Katolik. “Gereja” Katolik baru terbentuk dalam masa abad-abad setelah kematian para Rasul, yaitu ketika para guru-guru palsu mengkorupkan pola gereja Perjanjian Baru dan menambahkan tradisi-tradisi mereka yang dibuat oleh manusia. Dalam Perjanjian Baru kita tidak menemukan sistem kepausan, tidak ada sistem keimaman seperti yang di Roma, tidak ada sakramen yang ditambakan ke atas iman untuk keselamatan, tidak ada uskup agung atau kardinal, tidak ada kelahiran kembali dari baptisan, tidak ada misa, tidak ada baptisan bayi, tidak ada sakramen terakhir, tidak ada Maria sebagai ratu sorga, tidak ada Maria sebagai bunda Allah, tidak ada Maria yang tanpa dosa, tidak ada dosa kepada santo-santa, tidak ada gereja sebagai perbendaharaan kasih karunia, tidak ada purgatori, tidak ada relik-relik kudus atau jubah kudus atau air kudus, tidak ada salib sebagai simbol kudus, tidak ada lilin-lilin kudus, katedral, biarawan dan biarawati, tidak ada gembala yang “selibet” (tidak menikah), tidak ada hari-hari puasa yang diharuskan, tidak ada larangan untuk menikah atau makan daging, tidak ada sedikit pun mengenai gereja di Roma ditinggikan di atas semua gereja lain.

KETUJUH, TRADISI ROMA KATOLIK TIDAK MUNGKIN BENAR, KARENA BUKAN HANYA MENAMBAHI ALKITAB, TETAPI BERTENTANGAN DENGAN ALKITAB

Kitab Suci selalu konsisten dengan dirinya sendiri sebagai otoritas satu-satunya yang absolut bagi standar kebenaran. Sebagai contoh, lihat Yesaya 8:20: ““Carilah pengajaran dan kesaksian!” Siapa yang tidak berbicara sesuai dengan perkataan itu, maka baginya tidak terbit fajar” (Yes. 8:20). Siapapun yang melawan Kitab Suci berada dalam kegelapan. Tuhan Yesus Kristus dengan keras menegor orang-orang Farisi karena mereka menambahkan tradisi-tradisi buatan manusia mereka ke atas otoritas Ktiab Suci, dan dengan demikian melanggar Kitab Suci:

“Kemudian datanglah beberapa orang Farisi dan ahli Taurat dari Yerusalem kepada Yesus dan berkata: “Mengapa murid-murid-Mu melanggar adat istiadat nenek moyang kita? Mereka tidak membasuh tangan sebelum makan.” Tetapi jawab Yesus kepada mereka: “Mengapa kamupun melanggar perintah Allah demi adat istiadat nenek moyangmu? Sebab Allah berfirman: Hormatilah ayahmu dan ibumu; dan lagi: Siapa yang mengutuki ayahnya atau ibunya pasti dihukum mati. Tetapi kamu berkata: Barangsiapa berkata kepada bapanya atau kepada ibunya: Apa yang ada padaku yang dapat digunakan untuk pemeliharaanmu, sudah digunakan untuk persembahan kepada Allah, orang itu tidak wajib lagi menghormati bapanya atau ibunya. Dengan demikian firman Allah kamu nyatakan tidak berlaku demi adat istiadatmu sendiri. Hai orang-orang munafik! Benarlah nubuat Yesaya tentang kamu: Bangsa ini memuliakan Aku dengan bibirnya, padahal hatinya jauh dari pada-Ku. Percuma mereka beribadah kepada-Ku, sedangkan ajaran yang mereka ajarkan ialah perintah manusia.” (Mat. 15:1).
Bukan hanya doktrin dan pengajaran Roma Katolik tidak didasarkan pada Alkitab, tetapi bertentangan dengan Alkitab, jadi tidak mungkin berasal darinya. Dogma-dogma Katolik, seperti kepausan, penyembahan Maria, santo-santa, imam-imam Katolik, Misa, Purgatori, bukan hanya tidak ditemukan dalam Perjanjian Baru, tetapi mereka bertentangan dengan pengajaran Perjanjian Baru yang jelas. Kepausan bertentangan dengan 1 Petrus 5:1-4, antara lain dari banyak perikop lain.Penyembahan Maria dan santo-santa bertentangan dengan 1 Timotius 2:5. Misa bertentangan dengan 1 Korintus 11:23-26. Purgatori bertentangan dengan 2 Kor. 5:1-8 dan Fil. 1:23. Sistem imam Katolik bertentangan dengan Perjanjian Baru bahwa hanya Kristus adalah imam menurut Melkisedek (Ibr. 7:21-27), dan bahwa Kristus tidak mendirikan keimamatan apapun untuk jemaat Perjanjian Baru selain keimamatan semua orang percaya (1 Pet. 2:5, 9). Tidak ada satu contoh pun dalam Perjanjian Baru seorang imam ditahbiskan atau dipisahkan untuk pelayanan tertentu seperti yang kita lihat dalam Gereja Roma Katolik. Ketika Perjanjian Baru memberikan persyaratan gembala dan diaken, tidak ada persyaratan untuk imam.
Jika saya menaati 2 Tesalonika 2:15 dan 3:6 dan membandingkan tradisi Katolik dengan ajaran rasul-rasul, saya harus menolak Katolikisme karena bertentangan dengan pola ini. Para rasul tidak mengajarkan bahwa ada keimamatan spesial di antara orang percaya. Para rasul tidak mengajarkan bahwa ada paus. Para rasul tidak mengajarkan bahwa perjamuan Tuhan melibatkan semacam pengorbanan lagi. Para rasul tidak mengajarkan bahwa Maria itu tanpa dosa, atau selamanya perawan, atau diangkat ke sorga secara tubuh, atau bahwa dia adalah Ratu Sorga atau bahwa orang Kristen harus berdoa padanya. Para rasul tidak mengajarkan bahwa jabatan mereka diteruskan saat mereka mati dan mereka tidak memberikan instruksi mengenai “suksesi kerasulan.” Para rasul tidak mengajarkan gereja-gereja untuk melakukan sakramen. Para rasul tidak mengajarkan bahwa ada santo-santa spesial dan bahwa orang Kristen berdoa kepada mereka. Ini hanyalah sebagian dari tradisi Katolik yang bertentangan dengan pengajaran para Rasul di dalam Kitab Suci Perjanjian Baru.
Kamu berkata, “kita harus mempercayai orang-orang tertentu tentang otentisitas dan kelengkapan Alkitab.” Kamu benar. Saya memiliki pilihan antara mempercayai Alkitab (para Rasul dan Nabi) sebagai Firman Allah yang berotoritas dan lengkap atau mempercayai Gereja Katolik. Keduanya tidak mungkin sama-sama benar, karena keduanya saling bertentangan. Alkitab membuktikan dirinya sendiri sebagai Firman Allah yang diilhamkan dan tiada salah dalam banyak cara: nubuat-nubuat yang digenapi, akurasi sains di dalamnya, kesatuannya yang kohesif walaupun ditulis dalma rentang waktu ribuan tahun, kuasanya untuk mengubah hidup, daya tariknya yang universal, kesaksiannya akan Yesus Kristus, kesaksian para Rasul (sebagai contoh, pelajari Kisah Para Rasul untuk melihat pandangan para Rasul tentang Kitab Suci).

Di sisi lain, Gereja Katolik membuktikan dirinya sendiri palsu dibandingkan standar apapun yang saya pakai. Ia secara moral bangkrut dan secara doktrinal sesat. Alkitab tidak bertentangan dengan dirinya sendiri, tetapi para paus telah terus menerus saling bertentangan satu sama lain. Saya memiliki pilihan untuk mempercayai para rasul atau para paus. Para rasul bukanlah orang-orang yang secara moral bangkrut dan mereka juga tidak berlawanan dengan Kitab Suci. Semua yang mereka [rasul-rasul] ajarkan sesuai dengan Kitab Suci. Saya merasa mudah untuk mempercayai para rasul dan menolak para paus.

 

KEDELAPAN, GEREJA ROMA KATOLIK TIDAK MEMILIKI OTORITAS DI DALAM ALKITAB. KLAIM OTORITAS MEREKA BERASAL DARI LUAR ALKITAB

Gereja Roma Katolik mengklaim bahwa otoritasnya berada pada para paus sebagai pewaris dan penerus dari para rasul dan keimamatan. Hal seperti ini sama sekali tidak muncul di dalam Kitab Suci Perjanjian Baru.

1. Tunjukkan pada saya dalam Alkitab, di manakah Yesus Kristus mendirikan jabatan paus sebagaimana di dalam Gereja Katolik, dan di manakah Dia membuat aturan mengenai suksesi jabatan yang demikian.

2. Tunjukkan pada saya dalam Alkitab, di manakah Yesus Kristus mendirikan keimamatan Katolik? Di manakah kita menemukan penjelasan tentang kelompok imam yang terpisah demikian? Di manakah kita menemukan standar untuk memilih imam? Di manakah kita menemukan deskripsi tentang bagaimana menahbiskan imam? Di manakah kita menemukan gambaran tentang tujuh sakramen yang mereka lakukan?

Bagi saya sendiri, saya memiliki otoritas Kitab Suci bagi Injil yang saya percayai (bahwa keselamatan adalah melalui kasih karunia Yesus Kristus saja melalui penebusanNya yang lengkap, melalui iman saja tanpa pekerjaan dan sakramen: Kis. 16:30-31; Rom. 3:23-26; 4:1-8; Ef. 2:8-10; 1 Kor. 15:1-4). Kitab Suci juga adalah otoritas bagi saya untuk menjadi anggota dalam sebuah jemaat Perjanjian Baru sederhana yang membaptis orang-orang percaya. Iman saya ada dalam Yesus Kristus, dan saya belajar tentang Dia melalui Kitab Suci yang Dia berikan melalui pengilhaman.

Saya memiliki alat uji yang tidak dapat salah untuk menguji setiap pengajaran manusia. Setiap pengajaran dan tradisi yang bertentangan dengan Kitab Suci, saya tolak berdasarkan otoritas Firman Allah. Keputusan-keputusan seperti ini memiliki konsekuensi kekal, dan saya menolak untuk mempertaruhkan keselamatan kekal jiwa saya pada hal lain selain otoritas yang tertinggi.

Jadi, iman timbul dari pendengaran, dan pendengaran oleh firman Kristus” (Roma 10:17).

This entry was posted in Alkitab, Katolik. Bookmark the permalink.

3 Responses to Apakah Alkitab Satu-Satunya Otoritas bagi Iman dan Perbuatan?

  1. Richard widjaja says:

    Saya mau tanya, mungkin sedikit membuat gatal telinga,, karena saya lihat ulama debat sama pendeta,, tolong dr. Steven jawab ya,, yg di bilang ulama itu seperti ini,, jika saya menemukan di dalam Alkitab yg tertulis Bahwa Yesus sendiri yang berkata bahwa dirinya adalah Tuhan, saya akan masuk kristen.. itu mengganggu pikiran saya sampai sekarang,, saya tidak tahu jawabannya.! tolong jawabannya dr. Steven, supaya iman saya tidak jalan dalam kegelapan.. tengkyu God Bless

  2. Richard widjaja says:

    Saya lihat di youtube.. gak tahu ulama siapa tuh namanya,, orang arab mungkin

  3. Dr. Steven says:

    Sdr. Richard, sudah dijawab di dalam Pedang Rod edisi 88, silakan, linknya di sini:

    https://drive.google.com/file/d/0B3RcWJ9JMpcnX2ExN1M3aVVPc1k/view

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *