Doa Ekumenis untuk Kebangkitan Rohani

(Berita Mingguan GITS 01 Oktober 2016, sumber: www.wayoflife.org)

Ada banyak seruan belakangan ini untuk berdoa bersama secara ekumenis untuk meminta kebangkitan rohani. Yang paling terakhir adalah sebuah inisiatif yang diajukan oleh Uskup Agung Canterbury dicanangkan untuk musim semi 2017. “Umat Katolik, Baptis, Pantekosta, Koptik, Metodis, Kristen Ortodoks, dan anggota-anggota gereja-gereja bebas akan bersatu di bawah payung Anglikan setelah para presiden dari Churches Together in England (CTE) mengumumkan pada hari Minggu bahwa mereka akan menerima undangan untuk berdoa 10 hari sebelum hari Pentakosta 2017. … Mereka akan menulis kepada gereja-gereja mereka – yang berkisar dari gereja-gereja Advent-Hari-Ketujuh hingga gereja-gereja Koptik Ortodoks – dan menghimbau mereka untuk ikut berpartisipasi. ‘Kami berdoa kepada Bapa bahwa keluargaNya, yang dipanggil menjadi satu dalam Yesus Kristus, dapat menyaksikan pencurahan Roh Kudus untuk mentransformasi banyak kehidupan dan komunitas di negeri kita,’ kata mereka” (“Missions of Christians to Unite in Prayer for Revival,” ChristianToday.com, 19 Sept. 2016).

Doa adalah persis hal yang kita butuhkan hari ini. Ini adalah satu-satunya hal yang cukup berkuasa untuk menyelesaikan masalah-masalah yang kita hadapi. Tetapi doa ekumenis adalah pelanggaran jelas terhadap Firman Allah. Kesatuan yang dibicarakan dalam Perjanjian Baru adalah kesatuan yang “erat bersatu dan sehati sepikir” (1 Kor. 1:10). Ini berbicara mengenai kesatuan yang didapatkan di dalam sebuah gereja Perjanjian Baru yang sehat secara doktrinal. Tetapi, seringkali gereja yang sehat doktrinal justru tidak banyak berdoa. Doa-doa yang dilakukan di tengah minggu seringkali hanyalah permintaan yang dinaikkan setengah hati selama setengah menit, dan biasanya untuk orang-orang yang sakit. Biasanya, tidak ada waktu-waktu berdoa yang serius sebelum acara-acara khusus. Hampir tidak ada doa untuk bangsa dan negara seperti yang diperintahkan di 1 Timotius 2:1-2 ataupun doa agar Allah mengirimkan pekerja-pekerja, sebagaimana dalam Lukas 10:2. Berdoa yang serius hingga berpuasa hampir tidak pernah dilakukan di gereja-gereja yang percaya Alkitab. Doa disebut 407 kali dalam Alkitab dan 121 kali dalam Perjanjian Baru. Doa adalah salah satu dari empat karakteristik dasar jemaat pertama di Yerusalem (“ Mereka bertekun dalam pengajaran rasul-rasul dan dalam persekutuan. Dan mereka selalu berkumpul untuk memecahkan roti dan berdoa” Kis. 2:42). Doa adalah nasihat yang pertama (1 Tim. 2:1-2). Doa mendapatkan penekanan besar dalam pengajaran Yesus (Mat. 6:5-13; 7:7-11), dan rasul Paulus menyinggung doa boleh dibilang dalam semua surat-suratnya. Tetapi doa banyak diabaikan hari ini.

This entry was posted in Ekumenisme. Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *