Illiad vs. Alkitab

Illiad dan Odyssey adalah dua tulisan yang paling terkenal dari sejarah kuno. Kedua karya ini kemungkinan ditulis oleh seorang tokoh Yunani kuno bernama Homer, walaupun tidak diketahui secara persis kapan dia hidup, dan hampir tidak ada yang diketahui mengenai kehidupannya. Para penulis Yunani klasik percaya bahwa Homer adalah tokoh historis dan memperkirakan dia hidup antara 1100-850 SM. Pada abad keempat SM, Plato menyebut Homer “protos didaskalos” (yang berarti “guru pertama) Yunani.

Potongan manuskrip Illiad dan Odyssey yang paling tua adalah dari abad ketiga SM, minimal 500 tahun setelah Homer. Dan manuskrip tertua yang mengandung tulisan Homer secara lengkap adalah dari abad 10 dan 11 Masehi, yaitu minimal 1.800 tahun setelah sang penulis tersebut. Ada berbagai edisi yang berbeda dari kedua kisah ini, dan tidaklah mungkin untuk mengetahui apa yang tertera di kisah aslinya.

Hal ini menjadi kontras yang mencolok dengan bukti-bukti dokumenter bagi Perjanjian Baru.

Kitab terakhir Perjanjian baru ditulis sekitar tahun 90an M. Sedangkan potongan-potongan manuskrip Perjanjian Baru yang paling awal berasal dari tahun 110-125 M, yaitu hanya beberapa tahun setelah selesainya PB.

Lebih lanjut lagi, kita memiliki ribuan kutipan dari buku-buku Perjanjian Baru dalam tulisan-tulisan para pengkhotbah kuno, yang bertanggal mulai dari 96 M hingga 400 M. John Burgon mengoleksi 4.383 kutipan dari periode waktu ini.

“Kutipan-kutipan ini sedemikian ekstensif, sehingga hampir-hampir seluruh Perjanjian Baru bisa dirangkai kembali dari kutipan saja, tanpa mempergunakan manuskrip Perjanjian Baru secara langsung” (J. Harold Greenlee, Introduction to New Testament Textual Criticism).

Mayoritas dari kutipan-kutipan ini mewakili “teks tradisional,” bukan teks Aleksandrian, tetapi itu topik lain lagi.

Perhatikan beberapa contoh:
Clement of Rome (sekitar 96 M) diajar langsung oleh sebagian Rasul. Dia adalah penatua jemaat di Roma mulai dari 88 M, hanya 30an tahun setelah Paulus menulis surat Roma. Dalam surat Clement ke Korintus, dia mengutip Perjanjian Baru minimal 150 kali, dari kitab Roma, 1 Korintus, Ibrani, dan lima kitab lainnya.

Polycarp (sekitar 115 M) mengenal rasul Yohanes dan juga orang-orang lain yang menjadi saksi mata kebangkitan Yesus secara pribadi. Dalam suratnya ke Filipi, Polycarp mengutip Perjanjian Baru sekitar 100 kali. Dia mengutip dari Matius, Lukas, Kisah Para Rasul, Roma, 1 dan 2 Korintus, Galatia, Efesus, Filipi, Kolose, 1 dan 2 Tesalonika, 1 dan 2 Timotius, 1 dan 2 Petrus, dan 1 Yohanes.

Irenaeus (130-202 M) mendengar Polycarp berkhotbah dan menceritakan berbagai peristiwa yang dia alami bersama rasul Yohanes dan orang Kristen abad pertama lainnya. Dalam tulisan Irenaeus yang masih ada pada kita, dia mengutip dari semua kitab Perjanjian Baru kecuali Filemon dan 3 Yohanes. Dia mengatakan bahwa para Rasul mengajarkan Allah adalah penulisa kedua Perjanjian.

Dalam suratnya kepada Florinus, Irenaeus menulis sebagai berikut: “Saya dapat memberitahu kepadamu tempat Polycarp yang terkasih duduk untuk mengkhotbahkan Firman Allah. Masih terbekas dalam benak saya bagaimana dia datang dan pergi dengan begitu berwibawa; bagaimana perilakunya sedemikian suci, dan penampilannya sedemikian agung; dan betapa kudus anjuran-anjuran yang dia berikan kepada umat. Saya seperti masih bisa mendengar dia, bagaimana dia menceritakan percakapannya dengan Yohanes dan banyak lagi yang lain yang pernah melihat Yesus Kristus, kata-kata yang dia dengar dari mulut mereka.”

Demikianlah kita memiliki tulisan orang-orang yang mengenal para Rasul dan orang-orang Kristen abad pertama secara pribadi dan yang mengutip dari kitab-kitab Perjanjian Baru.

Ini semua adalah bukti yang tidak terbantahkan bahwa Perjanjian Baru sudah eksis pada waktu itu dan sama dengan Perjanjian Baru yang ada di tangan kita pada hari ini.

This entry was posted in Alkitab. Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *