Tato untuk Yesus?

Sebuah survei di Kanada menemukan bahwa “75% orang muda Kristen konservatif percaya bahwa tato adalah ekspresi rohani yang sah” (“For the Love of God,” The Vancouver Sun, Vancouver, British Columbia, Februari 1999).

Wartawan Douglas Todd dari The Vancouver Sun mengunjungi Vineyard Christian Fellowship di Langley, British Columbia, dan menemukan bahwa tato adalah barang baru yang “nge-trend” di kalangan orang Kristen Vineyard. Amy Bonde, yang adalah anggota staf di Vineyard di Langley, memiliki sebuah tato salib Celtic besar di bagian bawah punggungnya. Mengelilingi salib itu juga ada tato huruf-huruf Ibrani yang katanya berarti, “Kekasihku kepunyaanku, dan aku kepunyaan dia.” Bonde mengatakan bahwa tato itu menyatakan dia memandang pada Yesus Kristus sebagai “kekasihnya.”

The Vancouver Sun melaporkan bahwa TATO MELAMBANGKAN “TANDA PERGESERAN BESAR DALAM KEKRISTENAN INJILI, yang selama kebanyakan abad ini dihubungkan dengan aturan ketat mengenai mengendalikan tubuh sendiri: tidak boleh rambut panjang pada pria, tidak boleh celana panjang pada wanita, tidak minum-minum, tidak berdansa, tidak memakai perhiasan berlebihan dan jelas tidak bertato.”

Bismarck Tribune (North Dakota) memuat sebuah artikel di bulan November 1998 tentang Christian Tattoo Association, yang dipimpin oleh Randy Mastre dan dua anggota New Song Community Church lainnya di Bismarck. Tujuan mereka adalah untuk “membawa kekristenan kepada orang-orang bertato.”

 

Apa yang salah dengan tato “Kristen”?

Pertama, Perjanjian Lama dengan gamblang melarang aktivitas bertato.

“Janganlah kamu menggoresi tubuhmu karena orang mati dan janganlah merajah tanda-tanda pada kulitmu; Akulah TUHAN” (Im. 19:28).

“Janganlah mereka menggundul sebagian kepalanya, dan janganlah mereka mencukur tepi janggutnya, dan janganlah mereka menggoresi kulit tubuhnya” (Im. 21:5).

Ini adalah perintah yang sedemikian jelas, sehingga diperlukan suatu alasan yang kuat untuk mengabaikannya, sekalipun ini adanya di Perjanjian Lama. Terkadang kita diberitahu bahwa dalam masa Perjanjian Baru ini, apa yang tertulis dalam Perjanjian Lama tidak berlaku lagi bagi kita. Hal ini memang benar untuk hukum tentang makanan (Rom. 14:2-3; 1 Tim. 4:1-5) dan untuk Sabat (Kol. 2:16), tetapi tidak ada pernyataan dalam Perjanjian Baru yang mengubah aturan tentang bertato.
Bagi seorang Kristen untuk bertato, sama dengan ia berkata bahwa ia yakin bahwa apa yang menjadi keprihatinan Allah di Imamat 19:28 dan 21:5, hari ini Dia tidak peduli lagi tentang hal itu, dan saya tidak melihat ada dasar penafsiran yang bisa tiba pada kesimpulan seperti itu.

Kedua, umat Allah diperintahkan untuk tidak berasosiasi atau diidentifikasikan dengan hal yang jahat.

Allah melarang orang Israel untuk menggores tubuh mereka karena itu adalah ciri khas dari kekafiran dan penyembahan berhala, dan Perjanjian Baru mengandung prinsip separasi dan larangan yang sama. “Jauhkanlah dirimu dari segala jenis kejahatan” (1Tes. 5:22). “Janganlah turut mengambil bagian dalam perbuatan-perbuatan kegelapan yang tidak berbuahkan apa-apa, tetapi sebaliknya telanjangilah perbuatan-perbuatan itu” (Ef. 5:11).
“Karena itu, saudara-saudara, demi kemurahan Allah aku menasihatkan kamu, supaya kamu mempersembahkan tubuhmu sebagai persembahan yang hidup, yang kudus dan yang berkenan kepada Allah: itu adalah ibadahmu yang sejati. Janganlah kamu menjadi serupa dengan dunia ini, tetapi berubahlah oleh pembaharuan budimu, sehingga kamu dapat membedakan manakah kehendak Allah: apa yang baik, yang berkenan kepada Allah dan yang sempurna” (Rom. 12:1-2).

“Bukan! Apa yang kumaksudkan ialah, bahwa persembahan mereka adalah persembahan kepada roh-roh jahat, bukan kepada Allah. Dan aku tidak mau, bahwa kamu bersekutu dengan roh-roh jahat. Kamu tidak dapat minum dari cawan Tuhan dan juga dari cawan roh-roh jahat. Kamu tidak dapat mendapat bagian dalam perjamuan Tuhan dan juga dalam perjamuan roh-roh jahat. Atau maukah kita membangkitkan cemburu Tuhan? Apakah kita lebih kuat dari pada Dia?” (1 Kor. 10:20)

Tato hingga hari ini masih secara intim berasosiasi dengan penyembahan berhala, paganisme, kemerosotan moral, dan pemberontakan. Sebuah artikel oleh Clay Thompson di Pacific New Service, 17 Juli 1996, diberi judul “Pagan Fashion’s New Frontier – Facial Tattoos.” Perhatikan bahwa penulisnya, yang dalam artikel ini tidak mengklaim diri sebagai orang Kristen, mengasosiasikan tato dengan paganisme (kekafiran). Dia mengaitkannya dengan “suatu kekaguman baru terhadap kepercayaan pagan/kafir.”

Sebuah buku terkenal mengenai tato adalah Pagan Fleshworks. Buku ini ditulis oleh Maureen Mercury, dan berisikan foto-foto oleh Steve Haworth, yang adalah “artis modifikasi tubuh nomor satu di Amerika Serikat.” “Modifikasi tubuh” adalah praktek membakar, meninta (tato), mengerat, menusuk, dan cara-cara lain merusak tubuh yang diberikan Allah.

Pada bulan Juli 2003, sebuah survei terhadap lebih dari 2000 orang di Amerika Serikat, dilaporkan di AFP 11 Oktober, menemukan bahwa di antara wanita yang bertato, 34% merasa “lebih seksi,” dan 29% secara keseluruhan “MERASA LEBIH MEMBERONTAK.” Seorang wanita yang diwawancara oleh Vancouver Sun mengakui bahwa dia menaruh tato pada tubuhnya “SEBAGIAN KARENA PEMBERONTAKAN melawan stereotip Kristen biasanya bahwa ‘Kamu tidak boleh begini, kamu tidak boleh begitu.’” Dia mengakui bahwa ibunya tidak mau dia mendapatkan tato dan tidak menyukainya (“For the Love of God,” The Vancouver Sun, Vancouver, British Columbia, Feb. 1999). Seorang anggota Vineyard lainnya, Peter Davyduck, yang memiliki sebuah tato kata “DOSA” di mata kakinya, mengatakan bahwa itu adalah sebuah pesan bagi “orang-orang Kristen yang suka menghakimi bahwa semua orang adalah orang berdosa dan harus diterima bagaimanapun juga.” Perhatikan sikap memberontak dalam pernyataan ini. Setiap orang Kristen lahir baru yang alkitabiah sudah tahu bahwa semua orang adalah orang berdosa, tetapi ini tidak berarti bahwa seorang Kristen bebas untuk hidup bagaimana pun juga.

Pemberontakan seperti itu dilarang dalam Firman Allah. 1 Petrus 4:5 berkata, “Tetapi mereka harus memberi pertanggungan jawab kepada Dia, yang telah siap sedia menghakimi orang yang hidup dan yang mati” (1 Pet. 4:5). Dan Efesus 5:21 berkata, “dan rendahkanlah dirimu seorang kepada yang lain di dalam takut akan Kristus” (Ef. 5:21). Seorang wanita muda yang bertato sebelum dia diselamatkan juga memberitahu saya bahwa tato itu ada aspek kecanduan juga. Di manakah letak kecanduannya?

Alasan ketiga melawan tato adalah karena Alkitab memperingatkan orang Kristen untuk tidak menimbulkan sandungan rohani dan moral.

“Janganlah kamu menimbulkan syak dalam hati orang, baik orang Yahudi atau orang Yunani, maupun Jemaat Allah” (1 Kor. 10:32). “Dalam hal apapun kami tidak memberi sebab orang tersandung, supaya pelayanan kami jangan sampai dicela” (2 Kor. 6:3).
“Karena apabila orang melihat engkau yang mempunyai “pengetahuan”, sedang duduk makan di dalam kuil berhala, bukankah orang yang lemah hati nuraninya itu dikuatkan untuk makan daging persembahan berhala?” (1 Kor. 8:10).

Ini adalah salah satu prinsip penuntun bagi Rasul Paulus. Dia tidak mau tindakannya menyebabkan syak dalam hati seseorang dan membuat dia tersandung secara rohani. Oleh karena itulah, dia bahkan rela untuk melepaskan hal-hal yang sah dilakukan, seperti memakan daging. Betapa lebihnya lagi orang Kristen di zaman ini seharusnya melepaskan hal-hal yang sangat dipertanyakan seperti tato dan celana pada wanita dan “rock” Kristen, demi menjadi berkat dan penghiburan bagi saudara-saudara seiman! Tetapi, sayangnya, budaya tato-rock Kristen datang dengan filosofi “tidak boleh ada orang yang mengambil kesukaan saya; saya tidak akan membiarkan orang tua yang ngga tahu apa-apa memberitahu saya apa yang boleh.”
Ini adalah sikap yang tidak alkitabiah, minimal. Bagaimana jika ada seorang yang mengaku Kristen yang mengikuti teladan “kelompok Kristen bertato” dan kemudian terlibat dalam budaya tato dan akhirnya ke berbagai dosa?

Bukan hanya orang Kristen diperintahkan untuk menghindari hal-hal yang jelas jahat, tetapi ia juga harus menghindari hal-hal yang menyandung orang lain, walaupun hal-hal itu mungkin tidak salah dengan sendirinya:

“Baiklah engkau jangan makan daging atau minum anggur, atau sesuatu yang menjadi batu sandungan untuk saudaramu” (Rom. 14:21).

Orang Kristen diajar untuk menjalani hidupnya untuk kebaikan orang lain bukan hanya dirinya sendiri. Orang Kristen gaya kontemporer tidak peduli jika mereka menimbulkan syak bagi orang lain dengan musik rock dan penampilan mereka yang duniawi. Mereka memprotes bahwa mereka memiliki kebebasan untuk melakukan apa yang mereka inginkan. Ini adalah pemberontakan kedagingan, dan ini adalah sikap yang mendasari hati yang tidak benar. Orang yang ingin menghilangkan semua larangan pada gaya hidup mereka tidak sedang mengikuti Alkitab tetapi hawa nafsu mereka sendiri. Mereka sedang menggenapi 2 Timotius 4:3-4.
“Karena akan datang waktunya, orang tidak dapat lagi menerima ajaran sehat, tetapi mereka akan mengumpulkan guru-guru menurut kehendaknya untuk memuaskan keinginan telinganya. 4 Mereka akan memalingkan telinganya dari kebenaran dan membukanya bagi dongeng” (2Tim. 4:3-4).

Alasan terakhir untuk tidak bertato adalah karena tubuh orang percaya bukan miliknya sendiri; tubuh itu adalah bait Roh Kudus. “Atau tidak tahukah kamu, bahwa tubuhmu adalah bait Roh Kudus yang diam di dalam kamu, Roh Kudus yang kamu peroleh dari Allah, dan bahwa kamu bukan milik kamu sendiri?” (1 Kor. 6:19). Bagi orang Kristen, tato adalah grafiti pada bait milik pribadi lain.

Berikut ini kesaksian dari Gembala Charlie Haddad yang bertato sebelum dia diselamatkan: “Saya berstatus Kristen selama 24 tahun (Katolik) dan ketika tumbuh besar saya bergaul dengan beberapa teman Muslim. Beberapa dari mereka menaruh tato pedang dan bulan. Lalu saya berpikir bahwa saya mau mendapatkan tato salib dan wajah Yesus, yang saya lakukan, satu di setiap bahu saya. Mengilas balik, saya mendapatkan tato karena kesombongan, suatu kesombongan agamawi. Saya hanya Kristen KTP waktu itu, dan berpikir bahwa tato akan memberikan saya identitas Kristen. Tetapi sungguh jauh meleset, karena saya tidak mengenal Tuhan. Seandainya saya benar-benar mengenal Tuhan dan mau berjalan pada jalanNya dan jalan FirmanNya, saya tentunya akan menaati Dia dan FirmanNya yang tertulis pada hati saya, bukan pada tubuh saya. Saya akan menghafal dan merenungkan FirmanNya, bukan hanya memiliki menjalankan ibadah lahiriah (Ams. 3:3; 7:2-3). Saya menyesal bertato, dan saya malu. Saya tahu itu tidak menyenangkan hati Tuhan.”

 

This entry was posted in Separasi dari Dunia / Keduniawian. Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *