Euthanasia dan Hak Tanaman di Switzerland

(Berita Mingguan GITS 21 Januari 2017, sumber: www.wayoflife.org)

Berikut ini disadur dari “What Happened to Switzerland?” The Discovery Institute, 1 Mei 2014: “Undang-undang Swiss telah memperbolehkan bunuh diri dengan pertolongan orang lain sejak tahun 1942, selama orang yang membantu itu tidak memiliki ‘motif egois.’ Selama puluhan tahun, tidak banyak konsekuensi dari hal ini. Tetapi dengan maraknya gerakan euthanasia (untuk menghilangkan penderitaan), negara itu menjadi gila bunuh diri, dan muncullah banyak klinik bunuh diri yang didatangi oleh orang-orang dari berbagai belahan dnia. Klinik-klinik kematian ini semakin lama semakin populer. Sebuah laporan yang baru-baru ini dipublikasikan menyingkapkan bahwa 1705 orang mati di satu klinik (Dignitas) saja sejak tahun 1998, dengan 204 orang – kira-kira 4 orang per minggu – membunuh diri sendiri dalam fasilitas tersebut sejak 2013. Orang-orang yang mati dalam klinik-klinik ini tidak hanya terbatas pada yang sakit terminal, dan bahkan termasuk di dalamnya adalah orang-orang yang sehat walafiat. …Sebagai contoh, dalam bulan-bulan terakhir, seorang wanita Italia yang lanjut usia melakukan bunuh diri di sebuah klinik karena dia sedih dia telah kehilangan kecantikannya. …Pada saat yang sama hukum Swiss mengizinkan industri bunuh diri yang kacau ini berkembang, Swiss kini juga melarang untuk menyiram ikan mas ke dalam toilet. Dengan kata lain, penderitaan ikan yang diasumsikan itu lebih dihargai oleh hukum daripada membantu orang untuk melakukan bunuh diri. …Sementara, satu wilayah di Swiss mengizinkan pengacara untuk mewakili binatang-binatang yang ditenggarai telah dirugikan. Salah satu ahli hukum yang mengambil kesempatan ini lalu menuntut seorang pemancing karena ia memakai waktu terlalu lama ketika mengulur ikan dalam pancingannya. Semakin lama semakin aneh. Undang-Undang Dasar Switzerland mengharuskan ‘memperhitungkan kehormatan makhluk-makhluk hidup ketika berurusan dengan binatang, tumbuhan, dan organisme hidup lainnya.’ …Dalam sebuah laporan oleh [Swiss Federal Ethics Committee on Non-Human Biotechnology], yang berjudul The Dignity of Living Beings with Regard to Plants, ‘mayoritas’ panelis memutuskan bahwa kita tidak bisa mengklaim “kepemilikan absolut” atas tumbuhan, dan lebih lanjut lagi, bahwa ‘individu tanaman memiliki nilai inheren.’ Ini berarti bahwa ‘kita tidak boleh memakai mereka seenaknya kita mau, walaupun jika komunitas tumbuhan itu tidak dalam daftar terancam, atau jika tindakan kita tidak mengancam kelangsungan spesies tersebut, atau jika kita tidak bertindak semena-mena.’ Jadi, apakah tindakan mematikan ilalang di taman kita immoral? Komite itu tidak menyatakan tegas. Tetapi mereka memberikan ilustrasi berikut tentang tindakan yang diklaim immoral: Seorang petani menyabit ladangnya (rupanya ini tindakan yang dianggap baik). Tetapi ketika ia berjalan pulang, ia secara ‘casual’ memenggal kepala beberapa bunga liar dengan sabitnya. … semua kebijakan ini adalah gejala dari proses hilangnya kemampuan berpikir kritis dan membedakan masalah etika yang serius dengan yang aneh dan dibuat-buat.”

This entry was posted in Kesesatan Umum dan New Age. Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *