Orang Terakhir di Bulan Mengatakan Sains Tidak Dapat Menjelaskan Alam Semesta yang Telah Di-Tuning dengan Halus

(Berita Mingguan GITS 28 Januari 2017, sumber: www.wayoflife.org)

Eugene Cernan, orang terakhir yang berjalan di bulan, meninggal pada tanggal 16 Januari 2017, pada usia 82 tahun. Bersama dengan Ronald Evans dan Harrison Schmitt, Cernan waktu itu berada di Apollo 17, misi ke bulan terakhir yang diluncurkan Amerika Serikat; dan Cernan adalah orang terakhir yang meninggalkan permukaan bulan, yaitu pada jam 5:26 waktu EST, pada 13 Desember 1972. Pada perjalanan Apollo 17 menuju ke bulan itulah, foto “Kelereng Biru” yang terkenal di seluruh dunia diambil, yaitu foto bumi yang hampir seluruhnya diterangi matahari. Israel ada pada bagian atas foto tersebut, dengan Laut Merah jelas terlihat, dan hampir seluruh pantai Afrika ada dalam gambar. Dalam misi-misi Apollo sebelumnya, bayangan bulan menutupi sebagian dari bumi. Dalam sebuah Proyek Sejarah Oral yang dilakukan di Johnson Space Center NASA, Cernan membuat pernyataan berikut: “Sains dan teknologi membawa saya ke dataran tinggi di planet lain, suatu benda angkasa lain di alam semesta. Sains dan teknologi membawa saya ke sana, tetapi ketika saya tiba di sana dan saya melihat kembali ke rumah di Bumi, sains dan teknologi tidak dapat menjelaskan apa yang saya lihat atau apa yang saya rasakan. Anda melihat Bumi, dan ia secara begitu agung namun misterius berputar pada suatu poros yang tidak dapat anda lihat, namun yang pasti ada. Tidak ada benang yang menggantungkannya. Ia bergerak dalam suatu rencana. Ia bergerak dengan logis. Setiap 12 jam anda menyaksikan belahan bumi yang satu lagi. Tidak dapat dibayangkan untuk berada di satu tempat dan menyaksikan Bumi berotasi di depan mata anda langsung. Tetapi ketika saya melihat kembali ke rumah, ada terlalu banyak tujuan, terlalu banyak logika. Bumi bagi saya – dan bagi kita semua, menurut saya, masing-masing memiliki kesan kita masing-masing – adalah sesuatu yang terlalu indah dan tidak mungkin terjadi karena kecelakaan. Pasti ada sesuatu yang anda dan saya, semua kita, tidak pahami penuh tentang penciptaan alam semesta, tentang mujizat kehidupan itu sendiri. … Di awal saya mengatakan memandangi Bumi dalam semua keajaibannya, semua keagungannya, semua dinamikanya, ia hidup, ia tidak sembarang bergerak melalui ruang, tidak bergerak tanpa tujuan, ia berpindah dengan logika dan tujuan, ia terlalu indah sehingga tidak mungkin terjadi karena kecelakaan. Yang saya mau katakan adalah bahwa ada pencipta alam semesta. Ada Allah. Saya tidak peduli anda menggambarkan Dia bagaimana, anda memanggil Dia apa, saya memberitahu anda saya sudah pernah di sana, saya telah melihat sebagian kecil dari [ciptaan] Allah – dan itu bukan Allah – ada Allah – agama itu ciptaan manusia. Tetapi dari sudut pandang saya, mereka semua menuju tempat yang saja. Mereka menuju pencipta, menyembah dia dengan cara anda” (www.jsc.nasa.gov/history/oral_histories).

Sangat disayangkan bahwa Cernan tidak mengenal Allah yang disaksikan oleh ciptaan. Sang Pencipta sendiri telah menyingkapkan diriNya dalam ciptaan, tetapi Dia telah menyingkapkan diriNya secara lebih pasti dalam Kitab Suci yang diberikan kepada nabi-nabi kudus di masa lampau melalui RohNya. Ciptaan menyaksikan kuasa dan hikmat Allah, tetapi tidak dapat menyingkapkan hati dan karakterNya. Untuk itu, kita harus pergi ke Betlehem dan menyaksikan Anak Allah yang kekal menjadi manusia untuk menjalani kehidupan tanpa dosa sebagaimana dituntut oleh hukum Allah. Maria diinstruksikan oleh malaikat untuk menamaiNya “Yesus,” yang berarti Juruselamat. Lalu kita harus pergi ke Kalvari untuk menyaksikan Anak Allah dengan rela menderita dan mati dan mencurahkan darahNya untuk membuat penebusan bagi orang berdosa yang tidak layak. Dalam peristiwa ini, kasih dan karunia dan belas kasihan Allah ditampilkan secara penuh. Pada hari ketiga, Kristus bangkit dari orang mati untuk memberikan keselamatan kepada “setiap orang yang percaya kepadaNya” (Yohanes 3:16). Ini adalah pesan inti Alkitab, dan puji Tuhan, anda tidak perlu menjadi seorang ilmuwan untuk memahaminya. “Dan kami telah melihat dan bersaksi, bahwa Bapa telah mengutus Anak-Nya menjadi Juruselamat dunia” (1 Yoh. 4:14).

This entry was posted in General (Umum), Science and Bible. Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *