Roma Mengakui Luther sebagai “Saksi Bagi Injil”

(Berita Mingguan GITS 14 Januari 2017, sumber: www.wayoflife.org)

Gereja Roma Katolik telah menerbitkan sebuah dokumen yang mengakui Martin Luther sebagai “seorang saksi bagi Injil.” Pernyataan ini dibuat mendahului acara Minggu Doa bagi Persatuan Kristen yang akan diadakan di Roma (18-25 Januari), yang pada tahun ini bertemakan “Rekonsiliasi: Kasih Kristus memaksa kita.” Oktober tahun lalu, Paus Fransiskus bergabung dengan Gereja Lutheran Swedia untuk membuka acara peringatan 500 tahun Martin Luther memakukan 95 thesisnya. Semua kegiatan ini adalah kekacauan ekumene. Luther di-ekskomunikasi (dikucilkan) oleh Roma, dan ekskomunikasi itu belum dicabut, dan Injil yang dibawakan Luther yaitu keselamatan melalui kasih karunia Allah saja melalui iman dalam Kristus saja tanpa pekerjaan, dikutuk oleh Konsili Trent, dan kutuk itu belum dibatalkan. Luther sebenarnya tidak meninggalkan Roma secara cukup jauh dan cukup alkitabiah, karena ia masih mempertahankan berbagai kesesatan besar seperti “baptisan” bayi dan penggabungan gereja dengan negara, dan akibatnya gereja-gereja Lutheran di Eropa kebanyakan sudah sesat total. Sebuah survei agama pada tahun 1992 menemukan bahwa 80% dari orang Lutheran di Denmark tidak percaya pada kebangkitan (Christian News, Oct. 4, 1993). Gereja Swedia memperbolehkan orang-orang atheis untuk menjadi pelayan mereka, dan mendukung aborsi dan homoseksualitas. Dalam sebuah wawancara tahun 1984, Krister Stendahl, yang sedang ditahbiskan untuk menjadi Uskup Stockholm dan sekaligus uskup agung Gereja Swedia, menyatakan bahwa “mempercayai hanya satu Allah saja, itu adalah penyembahan berhala” dan “kita bisa berdoa pada Allah sebagai suatu energi.” Ketika ditanya secara langsung apakah dia percaya Allah, Stendahl menjawab: “Saya rasa saya telah naik melampaui masalah iman dan keraguan. … Saya sungguh tidak tahu apa artinya pertanyaan ‘apakah ada’ allah” (“Krister Stendahl maintains heretical views on eve of consecration as Bishop of Stockholm,” Christian News, 19 November 1984, hal. 1). Sang jurnalis lalu menanyai Stendahl tentang apa yang akan terjadi setelah kematian: “Oh, saya bayangkan akan sangat baik jika kita bisa menemukan suatu firdaus yang sungguh indah dan sorgawi untuk kita jelajahi. Tetapi saya tahu betapa kekanak-kanakan mimpi manusia seperti itu. Saya tidak hidup demi mimpi” (Krister Stendahl, Ibid.).

This entry was posted in Ekumenisme. Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *