Sekolah Theologi Mendorong Para Profesor Mereka untuk Menggunakan Bahasa yang Netral-Gender Ketika Mengacu pada Allah

(Berita Mingguan GITS 11 Maret 2017, sumber: www.wayoflife.org)

Berikut ini disadur dari “Vanderbilt, Duke Divinity Schools,” TruthRevolt.org, 17 Jan. 2017: “Dua sekolah theologi terkenal di negara ini [Amerika Serikat], kini menganjurkan para profesor mereka untuk menghilangkan kata ganti maskulin ketika mengacu kepada Allah dan mencoba untuk mengadakan ‘eksplorasi bahasa baru untuk Allah.’ HeatStreet menemukan bahwa dalam katalog Vanderbilt tahun 2015-2016, sekolah theologi tersebut telah memutuskan untuk ‘secara terus menerus dan eksplisit’ memakai ‘bahasa inklusif, terutama dalam hubungannya dengan pribadi Ilahi, sebagai cara untuk mengurangsi sexisme.’ Ini bukanlah konsep yang baru, karena garis-garis panduan ini telah muncul pada tahun 1999, menurut Dekan Theologi, Melissa Snarr. Dokumen yang lama menekankan bahwa setiap nama Allah tidaklah selalu ber-gender dan menyatakan bahwa ‘gelar, kata ganti, dan gambaran Allah yang maskulin telah menjadi batu penjuru bagi patriarki.’ Telah dilaporkan bahwa Vanderbilt tidak memaksakan perubahan ini sebagai sesuatu yang diharuskan, dan Snarr berkata, ‘Ini tergantung pada penafsiran setiap individu profesor bagi kelas mereka dan ini hanyalah usulan bukan keharusan.’ Sekolah Theologi Duke juga memiliki garis panduan yang serupa, menyerukan ‘pengembangan bahasa yang lebih inklusif bagi Allah’ dan menghindari kata ganti maskulin. ‘Allah’ atau ‘Allah sendiri’ sudah cukup. Daripada mengatakan ‘Allah Bapa’ (God the father), seorang profesor di Duke didorong untuk mengatakan ‘Allah orang tua’ (God the parent). Contoh lain: ‘Allah adalah ayah yang menyambut putranya, tetapi Dia juga wanita yang mencari koin yang hilang.’”

This entry was posted in Kesesatan Umum dan New Age. Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *