Orang-Orang yang Mau Membantah Alkitab Tetapi Malah Bertobat (bagian satu dan dua) UPDATED

oleh Dr. David Cloud (Penerjemah: Dr. Steven Liauw)

Lebih dari semua buku lain digabungkan, Alkitab telah dibenci, diserang, dicemooh, dikritik, dibatasi, dilarang, dan dihancurkan, tetapi semuanya tanpa hasil. Sepertinya yang pernah dikatakan seseorang dengan sangat tepat, “Lebih mudah untuk memakai pundak kita pada bola matahari yang membara, dan mencoba menghentikan pergerakannya dengan cara demikian, daripada mencoba untuk menghentikan beredarnya Alkitab” (Sidney Collett, All about the Bible, hal. 63).

Pada tahun 303 M, Kaisar Romawi Diocletian, mengeluarkan sebuah dekrit untuk menghentikan orang Kristen dari menyembah Yesus Kristus dan untuk menghancurkan Kitab Suci mereka. Semua pejabat di seluruh kerajaan diperintahkan untuk membakar gereja-gereja ke tanah, dan membakar setiap Alkitab yang ditemukan dalam daerah mereka (Stanley Greenslade, Cambridge History of the Bible). Dua puluh liima tahun kemudian, pengganti Diocletian, Constantine, mengeluarkan dekrit yang lain yang memesan penerbitan lima puluh Alkitab dengan uang negara (Eusebius).

Pada tahun 1778, atheis Perancis bernama Voltaire menyombong dengan berkata bahwa dalam 100 tahun kekristenan tidak akan eksis lagi, tetapi dalam 50 tahun, Geneva Bible Society menggunakan rumah dan peralatannya untuk menerbitkan Alkitab (Geisler and Nix, A General Introduction to the Bible, 1986, hal. 123, 124).

Robert Ingersoll pernah dengan sombong berkata, “Dalam 15 tahun saya akan membuat Alkitab tinggal di rumah jenazah.” Tetapi Ingersoll sudah mati, dan Alkitab masih hidup dan baik-baik saja.

Faktanya, banyak orang yang berusaha untuk membuktikan Alkitab salah, tetapi malah menjadi bertobat. Berikut adalah beberapa contoh:

 

Gilbert West (1703-1756)

Nama Gilbert West dimasukkan dalam buku Samuel Johnson, Lives of the Most Eminent English Poets [jadi dia termasuk seorang pujangga terkenal]. Sewaktu dia adalah seorang pelajar di Oxford, West mencoba untuk membantah catatan Alkitab tentang kebangkitan Kristus. Namun, ia malah membuktikan untuk dirinya sendiri bahwa Kristus sungguh bangkit dari kematian, dan dia bertobat. West menerbitkan kesimpulan-kesimpulannya dalam buku Observations on the History and Evidences of the Resurrection of Jesus Christ (1747). Di bagian sampul buku tersebut, dia menulis berikut: “Jangan mempersalahkan sebelum anda meneliti kebenarannya.”

West menyimpulkan bukunya dengan kata-kata berikut:

“Jika Kristus tidak bangkit kembali, dan membuktikan diriNya sendiri dengan banyak hal-hal yang tidak terbantahkan bahwa Ia bangkit dari kematian, maka para Rasul dan Murid tidak mungkin tertarik untuk mempercayaiNya, yaitu mengakuiNya sebagai sang Mesias, Yang Diurapi oleh Allah; tetapi sebaliknya mereka pastilah menganggap Dia sebagai seorang penipu, dan dalam keyakinan seperti itu tidaklah mungkin mereka menjadi pemberita-pemberita Injil, tanpa menjadi orang-orang gila atau penipu-penipu, yang jika memang itu karakter mereka, maka tidak mungkin mereka berhasil seperti yang kita lihat mereka berhasil, jika kita mempertimbangkan ketidakmampuan alamiah mereka, kerasnya penentangan dunia terhadap doktrin-doktrin kekristenan, dan klaim-klaim palsu mereka tentang kemampuan ajaib, yang [jika Yesus tidak bangkit] tentunya tidak dapat mereka pakai untuk menipu diri sendiri, ataupun orang-orang lain. Jika kita berasumsi bahwa Kristus tidak bangkit dari kematian, maka sudah pasti, menurut segala perhitungan kemungkinan manusiawi, bahwa tidak mungkin akan pernah muncul yang namanya kekristenan, atau gerakan ini akan segera mati setelah kelahiran. Ini adalah fakta yang tidak dapat diperdebatkan, tetapi orang Kristen dan orang Kafir menjelaskan hal ini secara berbeda. Orang Kristen menegaskan bahwa kepercayaan mereka memiliki asal muasal yang ilahi, dan bertumbuh berkembang di bawah bantuan dan perlindungan ajaib dari Allah; hal ini bukan saja mereka tegaskan, tetapi juga mereka buktikan dengan cara-cara yang sama yang biasa dipakai untuk membuktikan segala hal yang terjadi di masa lampau yang sudah lama berlalu, tetapi sebenarnya mereka merasa bahwa hal ini sudah dapat secara fair disimpulkan dari kondisi luar biasa yang menyertai pertumbuhan dan perkembangannya, dan eksistensinya saat ini. Di sisi yang lain, orang-orang tidak percaya menegaskan bahwa kekristenan hanyalah suatu kebohongan, yang diciptakan dan diteruskan oleh manusia. Untuk mempertahankan pernyataan ini, maka mereka tidak bisa memakai argumen yang paling biasa mereka pakai untuk melawan Kebangkitan Kristus dan mujizat-mujizat lainnya dalam Injil, yaitu bahwa itu semua adalah mujizat, sehingga sesuatu yang berada di luar cara kerja alam, sehingga tidak dapat dipercaya. Mereka tidak bisa memakai argumen ini, karena jika tidak ada kebangkitan Kristus, maka mereka mereka akan menemukan mujizat lain, yaitu mujizat lahirnya, berkembangnya, dan menjamurnya kekristenan. Fakta ini, walaupun tidak dapat mereka jelaskan, toh tidak dapat mereka sangkali juga. Jadi, untuk menghancurkan bukti ini yang dipakai oleh orang-orang Kristen, mereka harus memperlihatkan bahwa hal-hal ini tidak ajaib, dengan cara memperlihatkan bagaimana itu [munculnya kekristenan] bisa saja terjadi dalam perjalanan sejarah manusia secara alami, melalui alat-alat yang sedemikian lemah seperti Kristus dan para RasulNya (jika kita menerima mereka sebagaimana diklaim, yaitu orang gila atau penipu), dengan lemahnya kemampuan dan harta benda yang mereka miliki. Tetapi, saya membayangkan bahwa hal seperti itu tidak mampu dibuktikan oleh para filsuf yang terbesar sekalipun, sama seperti tidak mungkin untuk membuktikan ucapan sombong Archimedes mengenai memindahkan dan memegang bola dunia ini, melalui mesin ciptaan manusia, dan hanya dengan menggunakan bahan yang disediakan oleh alam bagi manusia biasa” (Observations on the History and Evidences of the Resurrection of Jesus Christ, hal. 442-445).


George Lyttelton (1709-1773)

George Lyttelton adalah seorang negarawan Inggris, penulis, dan pujangga yang dididik di Eton dan Oxford. Di antara karya-karyanya yang lain, ia menerbitkan buku History of Henry II.

Sebagai seorang muda, dia waktu itu memulai misi untuk membuktikan bahwa Paulus tidak bertobat seperti yang dikisahkan Alkitab. Namun yang terjadi sebaliknya, ia menulis sebuah buku yang memberikan bukti bahwa Paulus sungguh bertobat dan bahwa pertobatannya adalah bukti bahwa Yesus bangkit dari kematian. Buku itu berjudul Observations on the Conversion and Apostleship of St. Paul (1747). Lyttlelton mengobservasi bahwa dari sudut pandang dunia, Paulus sama sekali tidak mendapatkan keuntungan apa-apa dan malah kehilangan segala sesuatu ketika ia bersaksi bahwa ia telah melihat Kristus yang telah bangkit. Melepaskan posisi dan kehormatannya sebagai seorang pemimpin agama Yahudi, dia bergabung dengan sekte Kristen yang dibenci dan ia dikejar-kejar, dihina, dan dianiaya selama sisa hidupnya, dan akhirnya membayar harga terakhir demi iman Kristennya, yaitu mati dipenggal.

Lyttelton memulai bukunya dengan kata-kata berikut:

“Dalam sebuah percakapan kita suatu larut malam tentang topik agama Kristen, saya telah memberitahu kepadamu, bahwa selain semua bukti-bukti yang dapat ditarik dari nubuat-nubuat Perjanjian Lama, dari koneksinya yang pasti dengan seluruh sistem agama Yahudi, dari mujizat-mujizat Kristus, dan dari bukti-bukti tentang KebangkitanNya oleh semua Rasul lain, saya merasa bahwa pertobatan dan kerasulan Paulus sendiri, jika dipertimbangkan dengan baik, dengan sendirinya cukup untuk menunjukkan kekristenan sebagai Pewahyuan yang ilahi. Karena kamu berpikir bahwa bukti yang seperti ini bisa jadi dapat dipakai untuk meyakinkan orang-orang yang tidak percaya yang tidak mau menyelidiki bukti-bukti yang lebih panjang, saya telah menuangkan alasan-alasan yang saya pakai dalam proposisi tersebut” (hal. 4).

Samuel Johnson, penulis kamus Inggris yang terkenal, berkata “kekafiran masih belum bisa menciptakan jawaban konyol” terhadap buku Lyttelton.

 

Albert Henry Ross (Frank Morison) (1881-1950)

Albert Ross adalah seorang pengacara, dan penulis novel yang tumbuh besar di Stratford-on-Avon, Inggris. Dia sangat dipengaruhi oleh gelombang skeptikisme yang melanda zaman itu, terutama serangan-serangan terhadap Alkitab oleh liberalisme theologi dan Darwinisme. Setelah menjadi seorang pengacara, dia berniat untuk menulis sebuah buku untuk membantah kebangkitan Yesus Kristus. Yang terjadi adalah sebaliknya, dia bertobat dan menulis sebuah buku untuk mempertahankan kebangkitan, yang berjudul WHO MOVED THE STONE? — yang masih dicetak hingga hari ini. Dia menulis buku ini dengan nama pena Frank Morison.

“Jika kamu membawa pikiranmu kembali membayangkan tahun 1890an, kamu akan mendapatkan bahwa sikap intelektual pada umumnya pada waktu itu adalah kunci dari pikiran saya. … karya-karya para pengritik Alkitab – terutama para kritikus Jerman – telah berhasil menyebarkan kesan yang meluas di antara para mahasiswa bahwa bentuk khusus narasi tentang hidup dan kematianNya telah disampaikan kepada kita dalam bentuk yang tidak dapat dipercayai, dan bahwa salah satu dari empat catatan itu tidak lain dari suatu bentuk apologetika brilian yang ditulis banyak tahun kemudian, mungkin puluhan tahun, setelah generasi yang pertama tiada.

“Seperti kebanyakan orang muda yang terlibat secara mendalam di bidang-bidang lain, saya tidak memiliki kemampuan untuk mem-verifikasi atau membuat penilaian sendiri tentang pernyataan-pernyataan ini, tetapi fakta bahwa hampir setiap kata-kata dalam Injil menjadi objek perdebatan dan perbantahan sangatlah mempengaruhi atmosfir waktu itu, dan saya rasa saya tidak bisa lepas dari pengaruh seperti itu.”

“Tetapi ada satu aspek dari subjek ini yang menyentuh saya secara mendalam. Saya telah mulai sangat tertarik dengan ilmu pengetahuan fisika, dan pada zaman itu jelas bahwa pemikiran sains sangatlah keras dan dogmatis melawan apa yang disebut elemen-elemen mujizat dalam Injil. Sering terjadi bahwa beberapa hal yang tidak diganggu gugat oleh para kritikus tekstual, selanjutnya akan diserang oleh sains. Secara pribadi, saya lebih memperhatikan masalah mendasar mengenai hal-hal ajaib ini daripada kesimpulan-kesimpulan para kritik tekstual. Bagi saya, kritik yang murni dokumenter bisa jadi salah, tetapi bahwa hukum-hukum alam semesta bisa berlawanan dengan dirinya sendiri dalam cara yang arbiter dan acak, bagi saya sangatlah tidak mungkin. Bukankah Huxley sendiri telah mendeklarasikan dengan cara yang menetap bahwa ‘mujizat tidak terjadi,’ sementara Matthew Arnold, dengan injil “kemasukakalannya” yang terkenal itu, telah menghabiskan banyak waktu untuk mencoba menciptakan suatu versi kekristenan yang tanpa mujizat?

“Kira-kita pada waktu itulah – lebih demi ketenangan pikiran saya sendiri daripada untuk dicetak umum – saya menghasilkan ide untuk menulis sebuah monograf pendek tentang apa yang menurut saya adalah suatu fase yang sangat penting dan kritis dalam hidup Kristus – yaitu tujuh hari terakhir – walaupun belakangan saya akhirnya menyadari bahwa hari-hari setelah Penyaliban juga sama pentingnya. Judul yang saya pilih adalah ‘Yesus, Fase Terakhir,’ yang isinya akan banyak mengulang dan mengingat kembali sebuah penelitian sejarah terkenal oleh Lord Rosebery. …”

“Demikianlah, secara singkat, tujuan buku yang saya rencanakan waktu itu. Saya mau mengambil fase terakhir dari hidup Yesus ini, dengan segala drama cepat dan intens yang terjadi, dengan latar belakang sejarah kuno yang tajam dan jelas, dan juga kepentingan psikologis dan manusiawi – dan membersihkannya dari segala tambahan kepercayaan kuno dan asumsi dogmatis, dan menampilkan pribadi yang besar ini apa adanya.”

“Saya tidak perlu menggambarkan sekarang, bagaimana, sepuluh tahun kemudian, ada kesempatan untuk mempelajari hidup Kristus sebagaimana saya pernah rindu untuk mempelajarinya, untuk menyelidiki asal muasal dari literatur-literatur tersebut, untuk memeriksa beberapa bukti-buktinya dari tangan pertama, dan untuk membentuk penilaian saya sendiri tentang masalah-masalah yang ditimbulkan. Saya hanya akan berkata bahwa hal ini menimbulkan suatu revolusi dalam pikiran saya. Hal-hal muncul dari kisah yang kuno tersebut yang sebelumnya saya pikir tidak mungkin. Secara perlahan namun pasti, keyakinan mencuat bahwa drama yang terjadi dalam minggu-minggu yang tidak terlupakan dalam sejarah manusia tersebut, lebih aneh dan lebih dalam dari yang terlihat awalnya. Keanehan dari banyak hal yang menarik, itulah yang pertama menangkap perhatian saya. Barulah belakangan logika makna mereka yang tidak dapat ditolak, menjadi jelas.”

“Saya ingin mencoba, dalam pasal-pasal buku ini, untuk menjelaskan mengapa buku yang tadinya saya rencanakan itu tidak pernah berlayar, batu karang apakah yang menenggelamkannya, dan bagaimana saya akhirnya mendarat di pantai yang tidak disangkakan” (“The Book That Refused to Be Written,” pasal 1, Who Moved the Stone?).

Morison menyimpulkan bahwa satu-satunya penjelasan yang dapat memuaskan semua fakta historis adalah bahwa Yesus Kristus sungguh bangkit dari kematian. Morison menjadi orang Kristen tipe C.S. Lewis, yaitu percaya keilahian dan kebangkitan Kristus, tetapi tidak percaya pengilhaman yang tanpa salah atas Kitab Suci, dan bukunya Who Moved the Stone? lemah dalam hal yang satu ini. Sementara Morison menerima bahwa keempat Injil bersifat historis, dia percaya bahwa sebagian pernyataan lebih dapat dipercaya daripada pernyataan lain, dan bahwa bisa saja ada hal-hal yang ditambahkan belakangan. Jadi, walaupun dia melepaskan diri dari rantai modernisme theologi mengenai pribadi Kristus, dia tidak melepaskan diri dari “prinsip-prinsip kritik tekstual modern” yang sama salahnya. Dia berpegang, misalnya, pada kesalahan bahwa Injil Markus berakhir di pasal 16 ayat 8.

 

Simon Greenleaf (1783-1853)

Simon Greenleaf, Royall Professor fakultas Hukum di Harvard University, adalah salah satu otak hukum yang paling terkenal di sejarah Amerika. Tulisannya, Treatise on the Law of Evidence “masih dianggap sebagai otoritas terbesar mengenai bukti dalam semua literatur prosedur legal.”

Sebagai seorang profesor hukum, dia menetapkan diri untuk mengekspos “mitos” tentang kebangkitan Kristus, sekali dan untuk selamanya, tetapi pemeriksaan yang dia lakukan secara menyeluruh memaksa dia untuk menyimpulkan, sebaliknya, bahwa Yesus benar bangkit dari kematian. Pada tahun 1846, dia menerbitkan An Examination of the Testimony of the Four Evangelists by the Rules of Evidence Administered in the Courts of Justice.

Jadi, salah satu otak yang paling cemerlang dalam profesi legal dalam dua abad terakhir, membawa kebangkitan Yesus ke pengadilan, secara rapi meneliti bukti-buktinya, dan memvonis bahwa hal itu adalah fakta sejarah! Dan ini terjadi sekalipun dia memulai semua ini dari posisi seorang skeptis yang tidak percaya.

Salah satu poin yang diangkat oleh Greenleaf adalah bahwa hanya kebangkitan itu sendiri yang dapat menjelaskan perubahan dramatis dalam diri murid-murid Kristus dan kerelaan mereka untuk menderita dan mati bagi kesaksian mereka.

Perhatikan sebuah cuplikan:

“Tuan mereka baru saja mati tertuduh sebagai seorang pengacau, menjalani suatu pengadilan di muka umum. AgamaNya mencoba untuk melengserkan semua agama lain di dunia. Hukum dari setiap negara melawan pengajaran murid-muridNya. Kepentingan dan emosi dari semua penguasa dan pembesar-pembesar dunia bertentangan dengan mereka. Fashion dunia melawan mereka. Ketika menyebarkan iman baru ini, bahkan jika dengan cara yang paling bersahabat dan damai, mereka hanya dapat berharap akan menerima permusuhan, pencemoohan, rasa jijik, penganiayaan keras, cambuk, pemenjaraan, aniaya, dan kematian yang kejam. Namun mereka menyebarkan iman ini dengan semangat; dan semua nista tersebut mereka terima tanpa menjadi lemah, ya bahkan dengan sukacita. Sambil satu demi yang lainnya dimatikan secara kejam, yang masih tinggal hidup malah semakin semangat dan bertekad dalam pekerjaan mereka. Catatan sejarah peperangan militer hampir tidak ada mengandung contoh ketekunan, kepahlawanan, dan keberanian yang tidak padam seperti ini. Mereka memilki segala motif untuk berpikir ulang tentang dasar iman mereka, dan bukti-bukti tentang fakta dan kebenaran yang mereka kumandangkan; dan motif ini dipaksakan pada mereka dengan frekuensi yang menyedihkan dan menakutkan. Jadi tidaklah mungkin bahwa mereka dapat bertahan untuk mengiyakan kebenaran yang mereka ceritakan, kalau bukan Yesus benar-benar bangkit dari antara orang mati, dan jika mereka tidak mengetahui fakta ini sejelas mereka mengetahui semua fakta lain. … Jika kesaksian mereka tidak benar, tidak ada kemungkinan motif lain untuk memalsukannya” (Greenleaf, An Examination of the Testimony of the Four Evangelists by the Rules of Evidence).

 

William Mitchell Ramsay (1851-1939)

William Ramsay adalah seorang arkeolog ternama dan ahli Perjanjian Baru dari Skotlandia. Dia diberi gelar “knight” oleh raja Inggris untuk karyanya dalam bidang arkeologi.

Dia dibesarkan sebagai seorang atheis, dan sebagai seorang murid teladan di Universitas Aberdeen di Skotlandia dan di Universitas Oxford di Inggris, dia duduk belajar pada kaki para modernis dan skeptis yang tidak mempercayai Alkitab. Diasumsikan bahwa Alkitab tidak akurat secara historis dan mengandung banyak mitologi. Kitab Kisah Para Rasul dikira baru ditulis setelah tahun 150 M., sekitar satu abad setelah peristiwa-peristiwa yang tercantum di dalamnya.

Ketika Ramsay memulai riset arkeologis dan historis di Asia Kecil, mulai tahun 1881, dia mengira dan berharap akan menemukan lebih banyak lagi bukti untuk melawan Alkitab. Sebaliknya, dia menemukan fakta demi fakta yang mendukung Alkitab. Akhirnya dia menyimpulkan bahwa kitab Kisah Para Rasul ditulis selama hidup para Rasul dan bahwa kitab ini akurat secara historis. Penemuan-penemuannya membuat dia bertobat menjadi orang Kristen.

“Dia menghabiskan banyak tahun sengaja mempersiapkan dirinya untuk tugas yang telah diumumkan, yaitu memimpin sebuah ekspedisi penjelajahan ke Asia Kecil dan Palestina, dan disana dia akan [menemukan] bukti bahwa Kitab tersebut adalah produksi para rahib yang berambisi, bukan buku dari sorga sebagaimana yang diklaim. Dia menganggap titik terlemah dalam seluruh Perjanjian Baru adalah kisah-kisah perjalanan Paulus. Hal-hal tersebut belum pernah diselidiki secara menyeluruh oleh seseorang di tempat aslinya. Dengan perlengkapan penuh yang melebihi siapapun sebelumnya, dia menuju ke tanah air Alkitab. Di tempat itulah dia menghabiskan lima belas tahun menggali. Lalu pada ahun 1896, dia menerbitkan sebuah buku besar, Saint Paul, the Traveler and the Roman Citizen. …Buku tersebut menimbulkan kegusaran besar di antara para skeptik dunia ini. Nada dan sikap buku ini sama sekali tidak terduga karena bertentangan dengan tujuan sang penulis yang telah diumumkan bertahun-tahun sebelumnya. Selama dua puluh tahun setelah itu, buku demi buku diterbitkan oleh penulis yang sama, yang masing-masingnya menambahkan bukti tentang ketepatan dan ketelitian kebenaran dari seluruh Perjanjian Baru, sebagaimana diuji oleh cangkul dan sekop di tempatnya. Dan buku-buku ini telah teruji oleh waktu, tidak ada satu pun yang dapat disangkal, dan bahkan saya tidak pernah menemukan ada usaha untuk menyangkal mereka” (Josh McDowell, The New Evidence That Demands a Verdict, hal. 62).

Ramsay bersaksi:

“Penulis ini mengambil posisi bahwa sejarah yang ditulis Lukas tidak dapat tertandingi dalam hal sifat dapat dipercaya. Pada titik ini kita akan menggambarkan apa alasan dan argumen yang mengubah pikiran seseorang yang memulai perjalanan dengan kesan bahwa sejarah itu telah ditulis jauh setelah kejadiannya, dan bahwa ia tidak dapat dipercaya secara keseluruhan” (The Bearing of Recent Discovery on the Trustworthiness of the New Testament, 1915).

 

Viggo Olson

Berikut ini disadur dariFrom Agnostic to Ambassador to Bangladesh,” Thanthropos.org:

Viggo Olsen adalah seorang dokter bedah brilian yang tamat cum laude dari sekolah kedokteran dan belakangan menjadi seorang diplomat dari American Board of Surgery dan seorang fellow di American College of Surgeons. Pada tahun 1951, dia ditantang oleh orang tua istrinya untuk meneliti klaim-klaim kekristenan untuk dirinya sendiri.

Olsen mengingat, ‘Sama seperti seorang dokter bedah memotong dada, kami akan memotong ke dalam Alkitab dan membeberkan semua kesalahan-kesalahan ilmiahnya yang memalukan.’

Setelah dia memulai penyelidikannya, dia menemui masalah. Dia ingat bahwa dia kesulitan untuk menemukan kesalahan ilmiah. ‘Kami akan menemukan sesuatu yang sepertinya adalah kesalahan, tetapi setelah ditimbang-timbang dan dipelajari lebih lanjut, kami melihat bahwa pemahaman kami yang terlalu cetek. Ini membuat kami terperanjat dan menaruh perhatian.’

Setelah menyelidiki bukti-buktinya, Olsen menjadi seorang Kristen dan belakangan memberikan hidupnya untuk menjadi seorang misionari ke Bangladesh. Belakangan dia dihargai dengan Visa #001 karena sumbangsihnya bagi negara tersebut.

Ini adalah seorang yang sangat berpendidikan, seorang ahli bedah brilian, seorang yang tidak rela untuk beriman secara buta, dan yang setelah penyelidikan yang menyeluruh rela untuk mengakui, sama seperti begitu banyak lainnya, bahwa iman Kristiani yang bersejarah itu jauh lebih dari sekedar suatu agama. Iman Kristen didasarkan pada seseorang yang pernah berjalan di atas muka Bumi sebagai Theanthropos, yaitu sang Allah-Manusia. Ada begitu banyak bukti-bukti yang mendukung kebangkitan Yesus sehingga mengharuskan suatu keputusan, dan hidup matinya kekristenan bergantung pada fakta kebangkitan – tanpanya, kekristenan tidak ada gunanya.

Olsen berubah dari seorang agnostik, menjadi seseorang yang mengesampingkan karirnya, seluruh hidupnya, demi melayani orang-orang di Bangladesh. Olsen bersaksi:

‘Ini adalah pertualangan terbesar yang bisa kami miliki. Ketika anda di suatu posisi yang sulit, ketika anda berada dalam situasi yang di luar kemampuan anda berkali-kali lipat, ketika anda sedang tenggelam dan tidak mampu dan anda berdoa segenap hati – lalu anda melihat Allah mengulurkan tangan dan menyentuh hidupmu dan menyelesaikan situasi itu lebih hebat dari apapun yang bisa anda harapkan. … Itu sungguh hidup! Dalam pendapat saya, menemukan tujuan Allah menciptakan anda – apapun itu – lalu sepenuhnya mengejar tujuan itu, itu adalah cara terbaik untuk hidup.’

Olsen mendokumentasikan hidupnya dalam buku yang terkenal, Daktar.

 

Josh McDowell

Josh McDowell, penulis dari buku Evidence That Demands a Verdict, tadinya adalah seorang skeptik ketika dia masuk universitas untuk mengejar gelar bidang hukum. Di sana dia bertemu dengan beberapa orang Kristen yang menantang dia untuk menyelidiki bukti-bukti Alkitab dan Yesus Kristus. Berikut adalah kesaksiannya:

Sebagai seorang remaja, saya menginginkan jawaban terhadap tiga pertanyaan dasar: Siapa saya? Kenapa saya ada di sini? Dan saya sedang menuju ke mana? … Jadi sebagai seorang pelajar muda, saya mulai mencari jawaban-jawaban.

Saya mengira bahwa pendidikan bisa jadi memiliki jawaban terhadap pencarian saya akan kebahagiaan dan makna. Jadi saya mendaftar masuk universitas. Betapa mengecewakan! Saya barangkali sudah berada di lebih banyak kampus universitas dalam hidup saya dibandingkan siapapun dalam sejarah. Anda bisa menemukan banyak hal di universitas, tetapi mendaftar masuk untuk menemukan kebenaran dan makna kehidupan adalah suatu usaha yang sia-sia.

Saya sering menghabiskan banyak waktu dengan para profesor di kantor mereka, mencari jawaban untuk pertanyaan-pertanyaan saya. Ketika mereka melihat saya sedang datang, mereka akan mematikan lampu, menurunkan horden jendela mereka, dan mengunci pintu, supaya mereka tidak perlu berbicara dengan saya. Saya segera menyadari bahwa universitas tidak memiliki jawaban yang saya cari. Staf fakultas dan teman-teman pelajar saya memiliki sama banyaknya masalah, frustrasi, dan pertanyaan tentang kehidupan tanpa jawaban, dengan saya sendiri. Beberapa tahun yang lalu saya melihat seorang mahasiswa berjalan keliling kampus dengan tulisan di punggungnya: ‘Jangan ikuti saya, saya tersesat.’ Bagi saya seperti itulah semua orang di universitas. Pendidikan bukanlah jawabannya!

Saya memutuskan, kalau begitu jalan keluarnya pastilah kehormatan. Sepertinya benar untuk menemukan suatu perjuangan yang agung, dan menenggelamkan diri dalam hal itu, dan menjadi seorang yang terkenal. Orang-orang yang paling terhormat di universitas, dan yang juga mengendalikan keuangan, adalah para mahasiswa pemimpin. Jadi saya berkampanye untuk berbagai jabatan senat mahasiswa, dan akhirnya terpilih. Sungguh hebat bisa mengenal semua orang di kampus, membuat keputusan-keputusan penting, dan menghabiskan uang universitas untuk melakukan hal-hal yang saya ingin lakukan. Tetapi rasa seru ini segera memudar, sama seperti semua hal lain yang pernah saya coba.

Setiap Senin pagi, saya akan bangun tidur dengan sakit kepala karena cara saya menghabiskan malam sebelumnya. Sikap saya adalah, Yah kita memulai lagi lima hari yang membosankan. Kebahagiaan bagi saya berpusat pada tiga malam pesta itu: Jumat, Sabtu, dan Minggu. Lalu seluruh siklus kebosanan akan dimulai lagi.

Sekitar waktu itu, saya mulai memperhatikan ada sekelompok kecil orang di kampus – delapan mahasiswa dan dua orang staf fakultas – dan ada sesuatu yang berbeda dengan mereka. Mereka sepertinya tahu mereka sedang menuju ke mana dalam hidup ini. Dan mereka memiliki kualitas yang saya kagumi secara mendalam – yaitu keyakinan. Tetapi ada sesuatu yang lebih pada kelompok ini yang menarik perhatian saya. Yaitu kasih. Murid-murid dan para profesor ini bukan hanya mengasihi satu sama lain, mereka mengasihi dan mempedulikan orang-orang di luar kelompok mereka.

Sekitar dua minggu kemudian, saya sedang duduk di suatu meja di perkumpulan mahasiswa, berbicara dengan beberapa anggota kelompok ini. …Saya berpaling pada salah satu perempuan dalam kelompok itu ddan berkata, ‘Beritahu saya, apa yang mengubah hidupmu? Mengapa kamu begitu berbeda dari mahasiswa dan dosen yang lain?’

Dia menatap saya persis di mata dan mengatakan dua kata yang tidak pernah saya duga akan saya dengar dalam suatu diskusi intelijen di suatu kampus universitas: ‘Yesus Kristus.’

‘Yesus Kristus?’ saya bereaksi. ‘Jangan berikan saya sampah seperti itu. Saya sudah muak dengan agama, Alkitab, dan gereja.’

Dengan cepat dia membalas, ‘Mister, saya tidak mengatakan “agama”; saya berkata “Yesus Kristus.”’

Lalu teman-teman baru saya memberikan suatu tantangan yang tidak dapat saya percayai. Mereka menantang saya, seorang mahasiswa hukum, untuk menyelidiki secara intelektual, klaim bahwa Yesus Kristus adalah Anak Allah. Saya pikir ini suatu lelucon. Orang-orang Kristen ini begitu bodoh. Bagaimana mungkin sesuatu yang begitu loyo seperti kekristenan dapat menghadapi suatu penyelidikan intelektual? Saya menertawakan tantangan mereka.

Akhirnya saya menerima tantangan mereka, bukan untuk membuktikan apa-apa tetapi untuk membungkam mereka. Saya memutuskan untuk menulis sebuah buku yang akan membuat kekristenan menjadi lelucon intelektual. Saya meninggalkan universitas dan berperjalanan ke seluruh Amerika Serikat dan Eropa untuk mengumpulkan bukti bahwa kekristenan adalah suatu kepalsuan.

Suatu hari saya sedang duduk di sebuah perpustakaan di London, Inggris, saya merasa seperti ada suara dalam diri saya, ‘Josh, kamu sama sekali tidak memiliki dasar.’ Segera saya menekan perasaan ini. Tetapi hampir setiap hari setelah itu saya mendengar suara batin yang sama. Semakin saya meriset, semakin saya mendengar suara ini. Saya kembali ke Amerika Serikat dan ke universitas, tetapi saya tidak bisa tidur pada malam hari. Saya akan naik tempat tidur jam sepuluh, dan terbaring saja sampai jam empat pagi, mencoba untuk membantah banyaknya bukti yang saya telah kumpulkan bahwa Yesus Kristus adalah Anak Allah.

Saya mulai menyadari bahwa saya sedang tidak jujur secara intelektual. Pikiran saya memberitahu saya bahwa klaim-klaim Kristus sungguh adalah benar, tetapi kehendak saya ditarik ke arah yang lain. Saya telah memberikan penekanan yang begitu besar pada pencarian kebenaran, tetapi saya tidak rela untuk mengikutinya begitu saya menemukannya. Saya mulai merasakan tantangan pribadi Kristus bagi saya dalam Wahyu 3:20: ‘Lihat, Aku berdiri di muka pintu dan mengetok; jikalau ada orang yang mendengar suara-Ku dan membukakan pintu, Aku akan masuk mendapatkannya dan Aku makan bersama-sama dengan dia, dan ia bersama-sama dengan Aku.” Tetapi menjadi orang Kristen terasa begitu menghancurkan ego bagi saya. Saya tidak bisa membayangkan ada cara lain untuk lebih cepat merusak semua kesenangan saya.

Saya tahu bahwa saya harus menyelesaikan konflik internal ini karena hal ini membuat saya gila. Saya selama ini menganggap diri sendiri sebagai seorang yang berpikiran terbuka, jadi saya memutuskan untuk memberikan tes paling supreme terhadap klaim Kristus ini. Pada satu malam di rumah saya di Union City, Michigan, pada akhir tahun kedua saya di universitas, saya menjadi seorang Kristen.

Saya berkata, ‘Tuhan Yesus, terima kasih telah mati di atas kayu salib untuk saya.’ Saya sadar bahwa jika saya adalah satu-satunya orang di bumi, Kristus tetap akan mati untuk saya.’ …Saya berkata, ‘Saya mengaku saya orang berdosa.’ Tidak ada yang perlu memberitahu saya hal itu. Saya tahu ada hal-hal dalam hidup saya yang tidak cocok dengan Allah yang kudus, adil, dan benar. …Saya berkata, ‘Sekarang ini, dengan sebisa saya, saya membuka pintu hidup saya dan mempercayai Engkau sebagai Juruselamat dan Tuhan. Kendalikanlah hidup saya. Ubahlah saya dari dalam keluar. Jadikan saya tipe orang yang Engkau kehendaki ketika Engkau menciptakanku’ (Josh McDowell, “He Changed My Life,” The New Evidence That Demands a Verdict, Thomas Nelson, 1999, hal. xxv).

McDowell menyimpulkan:

Setelah mencoba untuk menghancurkan historisitas dan kesahihan Kitab Suci, saya tiba pada kesimpulan bahwa Kitab Suci dapat dipercayai sebagai sejarah. Jika seseorang membuang Alkitab dengan alasan tidak dapat dipercayai, maka ia juga harus membuang hampir semua literatur kuno.

“Satu masalah yang selalu saya hadapi adalah keinginan banyak orang untuk menerapkan satu standar atau tes terhadap literatur sekuler dan standar lain untuk Alkitab. Kita harus menerapkan tes yang sama, tidak peduli apakah literatur yang diteliti itu sekuler atau agamawi.”

“Setelah melakukan ini, saya percaya kita bisa memegang Kitab Suci di tangan kita dan berkata, ‘Alkitab dapat dipercaya dan dapat diandalkan secara historis” (The New Evidence, hal. 68).

 

Richard Lumsden

Richard Lumsden (1938-97), Ph.D., bertobat dari seorang atheis Darwinian menjadi seorang Kristen yang percaya Alkitab pada puncak karir profesionalnya ketika, ditantang oleh salah satu mahasiswanya, dia mengecek bukti-bukti itu untuk dirinya sendiri.

Seorang profesor parasitologi dan biologi sel, Lumsden adalah dekan program S2 di Universitas Tulane. Dia telah mendidik 30 orang Ph. D., menerbitkan ratusan paper ilmiah, dan adalah pemenang hadiah tertinggi dalam bidang parasitologi.

Berikut ini disadur dari “The World’s Greatest Creation Scientists” oleh David Coppedge, yang tersedia di Master Plan Association, http://www.creationsafaris.com/products.htm —

“Dr. Richard D. Lumsden telah tercacak penuh dalam filosofi Darwinian, dan tidak memiliki alasan ataupun keinginan untuk mempertimbangkan kekristenan. Ilmu pengetahuan adalah agamanya: fakta, dan hanya fakta. Tetapi pada puncak karir profesionalnya, dia memiliki cukup integritas untuk mengecek fakta-faktanya, dan membuat keputusan sulit untuk berangkat ke mana pun fakta-fakta memimpin, untuk melawan segala sesuatu yang pernah dia pelajari, dan melawan apa yang dia sendiri pernah ajarkan. Hidupnya berubah secara dramatis, dari seorang Darwinian menjadi seorang Kreasionis, dari seorang atheis menjadi seorang Kristen.”

“Selama karirnya dia percaya bahwa evolusi Darwinian adalah suatu prinsip ilmiah yang telah dibuktikan, dan dia sangat senang mengolok-olok kepercayaan Kristen. Suatu hari, dia mendengar bahwa [negara bagian] Louisiana telah mengeluarkan suatu peraturan yang mengharuskan [sekolah] memberikan waktu yang sama untuk [mengajar] penciptaan dan evolusi, dan dia sangat syok – betapa bodoh, dia berpikir, dan betapa jahat! Dia memakai kesempatan ini untuk melancarkan serangan habis-habisan terhadap penciptaan dalam kelasnya, dan untuk menyampaikan kata-kata paling hebatnya untuk mendukung Darwinisme. Dia tidak sadar sama sekali bahwa pada hari itu, dalam kelasnya ada seorang lawan yang tangguh. Tidak, bukan seorang pembicara berlidah emas yang dapat berperang pikiran dengan dia; itu terlalu mudah. Kali ini lawan itu adalah seorang mahasiswi perempuan muda yang lembut dan sopan.”

“Mahasiswi ini mendatangi dia setelah kelas dan dengan gembira berseru, ‘Kuliah yang hebat, Doc! Hmm, saya berpikir, bolehkah saya buat perjanjian temu dengan anda; saya memiliki beberapa pertanyaan tentang apa yang anda katakan, dan hanya mau meluruskan fakta-fakta dalam pikiran saya.’ Dr. Lumsden, merasa tersanjung dengan pendekatan positif mahasiswi ini, menyetujui suatu waktu mereka dapat bertemu di kantornya. Pada hari yang ditentukan, mahasiswi ini berterima kasih padanya untuk waktunya, dan memulai. Dia tidak berargumentasi dengan apapun yang dia katakan tentang evolusi dalam kelas, tetapi hanya mulai menanyakan serangkaian pertanyaan: ‘Bagaimana kehidupan bisa mulai? . . . Bukankah DNA terlalu kompleks untuk bisa terbentuk dari kebetulan? . . . Mengapa ada lobang dalam catatan fosil antara berbagai jenis makhluk hidup? . . . Apa mata rantai yang hilang antara kera dan manusia?’ Dia tidak bertindak menghakimi atau provokatif; dia hanya ingin tahu. Lumsden, tanpa malu-malu, memberikan jawaban-jawaban standar evolusi untuk pertanyaan-pertanyaan ini. Tetapi ada sesuatu dalam percakapan ini yang membuat dia sangat tidak nyaman. Dia telah siap untuk bertempur, tetapi tidak siap menghadapi rangkaian pertanyaan yang lembut dan jujur. Sambil dia mendengarkan dirinya sendiri mengeluarkan respons biasa evolusi, dia berpikir dalam hati,

Ini tidak masuk akal sama sekali. Apa yang saya ketahui tentang biologi bertentangan dengan apa yang saya katakan. Ketika tiba waktunya untuk selesai, mahasiswi itu membereskan buku-bukunya dan tersenyum, ‘Terima kasih, Doc!’ dan pergi. Dari luar, Dr. Lumsden terlihat percaya diri; tetapi di dalam, dia sungguh hancur. Dia tahu bahwa semua yang dia baru saja katakan kepada mahasiswi ini adalah salah.

“Dr. Lumsden memiliki integritas untuk menghadapi keraguan yang baru muncul ini dengan jujur. Dia menjalani suatu proyek riset pribadi untuk mengecek argumen-argumen untuk evolusi, dan dengan beriringnya waktu, dia mendapatkan argumen-argumen tersebut sangat tidak mencukupi. Berdasarkan fakta-fakta ilmiah saja, dia memutuskan harus menolak Darwinisme, dan dia menjadi seorang Kreasionis. Tetapi sebagaimana pagi pasti mengikuti malam, dia harus menghadapi pertanyaan berikutnya, Siapakah sang Pencipta? Tidak lama kemudian, apakah kebetulan atau bukan, putrinya mengajak dia ke gereja. Sangatlah tidak biasanya bagi pribadi evolusionis yang dulunya dingin dan yakin diri ini untuk pergi ke gereja! Belum lama yang lalu, dia tidak mau ada hubungan apapun dengan agama. Tetapi sekarang, dia terbuka untuk mempertimbangkan identitas sang Pencipta, dan apakah klaim-klaim Alkitab itu benar. Filosofi atheistiknya telah membuat dia tanpa daya untuk berhadapan dengan rasa bersalah dan kebiasaan buruk dalam hidup pribadinya. Kali ini dia terbuka, dan kali ini dia mendengarkan Kabar Baik bahwa Allah telah mengutus AnakNya untuk membayar hukuman dosa-dosa kita, dan untuk menawarkan kepada manusia pengampunan dan hidup yang kekal.

“Suatu pergumulan besar berlangsung dalam hati Dr. Lumsden sambil dia mendengarkan khotbah. Ketika kebaktian selesai, gembala sidang memberikan undangan untuk maju ke depan dan memutuskan sekali untuk selamanya, secara publik, untuk menerima Kristus. Dr. Lumsden menggambarkan pergumulan yang dia hadapi: ‘Sambil daging saya protes setiap langkahnya yang saya ambil, saya menemukan diri berjalan maju, maju ke depan. Dan di sana, saya menemukan Allah! Sungguh, pada saat itu, saya mengenal Dia, dan menerima Tuhan Yesus Kristus sebagai Tuhan dan Juruselamat.’ Ada tempat pada salib bahkan untuk seorang profesor yang sok tahu semuanya, jika saja rela untuk merendahkan hati dan menunduk di hadapan sang Pencipta yang disaksikan oleh semua bukti-bukti ilmiah.”

“Dr. Lumsden bersukacita atas imannya yang baru, tetapi menemukan bahwa ada harga yang harus dibayar. Dia dikeluarkan dari fakultas ilmiah tempat dia dulu, setelah pertobatannya kepada Kristus dan kreasionisme. Institute for Creation Research mengundang dia untuk mengepalai departemen biologi mereka, yang dia lakukan dari tahun 1990 sampai 1996. Dr. Henry Morris berkata tentang dia, ‘Dia memiliki kesaksian yang kuat tentang pertobatannya beberapa tahun lalu dan peran yang dimainkan salah satu muridnya dalam menkonfrontir evolusionismenya dengan pertanyaan-pertanyaan yang persisten dan menusuk. Dia menjadi yakin penuh tentang bobroknya kepercayaannya dulu, dan menyadari bahwa satu-satunya alternatif yang masuk akal adalah bahwa harus ada seorang Pencipta.’ Dick Lumsden juga ditunjuk sebagai dosen fakultas ilmiah di The Master’s College, dan dia memakai pengetahuannya yang mendalam tentang mikroskop elektron untuk membantu kampus itu mendirikan satu instrumen yang operasional untuk mendidik para murid di situ. Ada sukacita dalam hidup dan cara-caranya yang membuat kuliah-kuliahnya berkilau, dan dia sangat suka untuk mendemonstrasikan desain dalam sel hidup yang tidak dapat muncul dari proses-proses Darwinian. Ketika berdiskusi dengan para evolusionis, dia tahu persis ‘di mana harus menekan mereka’ (dia akan tersenyum), karena dia pernah pada posisi yang sama. Murid-muridnya mengapresiasi pendidikan yang dia berikan kepada kelas dan lab-nya, melalui pengetahuannya yang mendalam dan luas.”

Sebelum dia meninggal, kesaksian Lumsden direkam dalam video, dan saat ini tersedia di lokasi berikut: https://vimeo.com/11466124

 

Gary Parker

Gary Parker memiliki gelar doktor pendidikan dalam bidang biologi/geologi dari Ball State University. Berikut adalah kesaksiannya:

“Saya dulu bukan hanya mengajarkan evolusi, saya mengkhotbahkannya. ‘Yang menjadikan umat manusia dan semua binatang dan tumbuhan lainnya adalah jutaan tahun pergumulan dan kematian,’ demikian saya katakan kepada para mahasiswa saya. Saya memuji Darwin sebagai orang pertama yang memahami cara kerja evolusi. … Saya membiarkan para murid dengan bebas mengekspresikan kepercayaan agamawi mereka, tetapi saya tidak mengizinkan mereka menggunakan iman pribadi mereka untuk menantang apa yang saya anggap adalah sains evolusi yang sekokoh karang. Saya mengira adalah tugas saya sebagai seorang guru ilmu pengetahuan untuk menyelamatkan murid-murid saya dari tahayul-tahayul kuno yang konyol, seperti memahami Alkitab secara literal dan mencoba untuk membantah evolusi dengan ‘sains kreasionisme.’”

“Perubahan terjadi ketika Dr. Charles Signorino, seorang profesor kimia di sekolah tinggi yang sama dengan tempat saya mengajar biologi, mengundang istri saya dan saya ke rumahnya untuk pembelajaran Alkitab. …Saya mulai mempelajari Alkitab, terutama untuk mengritiknya lebih efektif lagi. …”

“Jangan salah – penciptaan/evolusi adalah hal yang menyangkut keselamatan. Saya tidak bermaksud mengatakan bahwa anda harus memiliki pengetahuan mendetil tentang sains penciptaan untuk menjadi seorang Kristen; saya hanya memaksudkan bahwa kepercayaan pada evolusi, bagi banyak orang seperti juga bagi saya, adalah batu sandungan besar untuk menerima (atau bahkan mempertimbangkan) tuntutan-tuntutan Kristus. Paulus memperingatkan Timotius untuk menghindari pertentangan-pertentangan yang berasal dari apa yang disebut pengetahuan, yang telah membuat sebagian orang menyimpang dari iman (1 Tim. 6:20). Evolusi sesungguhnya adalah ‘humanisme yang memakai baju laboratorium,’ suatu filosofi dunia yang berpusatkan pada manusia, yang menggunakan istilah-istilah sains untuk menempatkan opini manusia jatuh di atas Firman Allah (sama seperti Hawa lakukan di taman Eden).

“Pengetahuan saya yang luas, dan juga semangat menggebu, untuk evolusi, jelas menghalangi saya untuk bahkan mempertimbangkan bahwa Allah bisa jadi adalah riil dan Alkitab benar adanya. Jadi apa yang terjadi? Nah, Dr. Signorino, sejawat yang mengundang saya ke pembelajaran Alkitab itu, bukan hanya adalah seorang pengajar Alkitab yang luar biasa, dia juga adalah seorang ilmuwan yang dihormati secara internasional karena karyanya di bidang kimia. Dia menantang saya untuk memperhatikan lagi sains yang selama ini saya kira telah sangat saya pahami. Karena yakin bahwa sains akan mendukung evolusi dan membantah literalisme Alkitab, saya dengan senang hati menerima tantangannya.

“Pertempuran dimulai. Selama tiga tahun, kami berargumen tentang penciptaan/evolusi. Selama tiga tahun saya memakai semua argumen evolusionis yang telah sangat saya pahami itu. Selama tiga tahun, saya kalah dalam setiap argumen sains. Dengan putus asa, saya memandangi mitos evolusi menguap di bawah terang pemeriksaan sains, sementara argumen-argumen yang mendukung Penciptaan-Kejatuhan-Bencana-Kristus, semakin lama semakin baik. Tidak heran bahwa ACLU [Editor: ini organisasi di AS yang sering mengajukan tuntutan hukum untuk menyerang banyak isu-isu Kristen] berusaha keras untuk mensensor setiap tantangan sains terhadap evolusi!…

“Kira-kira pada waktu yang bersamaan, saya mendapatkan satu kopi dari buku pertama yang saya tulis, suatu buku instruksi sains yang terprogram, berjudul DNA: The Key to Life. Sampai dengan titik itu, saya mengira bahwa orang-orang yang menulis buku, apalagi buku teks dalam sains, pastinya memahami apa yang mereka bicarakan. Nilai saya dulu hampir A semua, dan saya juga pernah memenangi berbagai hadiah akademik, dan buku saya telah di-review oleh berbagai ahli bidang DNA< tetapi saya tahu segala ketidakpastian yang sebenarnya ada di dalam buku itu. (Bahkan, ketika saya menerbitkan ulang edisi kedua lima tahun belakangan, saya mengesampingkan edisi pertama dan memulai dari nol; begitu banyaknya informasi tambahan tentang DNA telah muncul). Akhirnya suatu pemahaman mencuat bagi saya: jika para ahli sains dapat menulis buku-buku yang harus terus menerus diperbaiki, direvisi, dan diperbaharui, mungkin Allah menulis suatu Kitab yang di dalamnya Ia mengatakan persis apa yang Ia maksudkan dan Ia memaksudkan persis yang Ia tuliskan: kebenaran yang kekal dan tak berubah, suatu dasar yang pasti secara absolut untuk memahami kehidupan yang akan berguna bagi semua orang di segala tempat di setiap waktu!

“Setelah kini memandang Alkitab sebagai satu-satunya ‘Buku Sejarah Alam Semesta’ yang sejati, saya terangkat dari penjara waktu, ruang, dan budaya, dan dimampukan untuk melihat melampaui kata-kata ahli-ahli manusia yang dangkal dan selalu berubah, kepada Firman Tuhan Allah, Pencipta langit dan bumi, yang tidak pernah berubah! Saya merasakan siapa Yesus itu, dan apa yang Yesus maksudkan ketika Ia mengatakan, “kamu akan mengetahui kebenaran, dan kebenaran itu akan memerdekakan kamu” (Yoh. 8:32).

“Saya sekarang dapat melihat fakta-fakta yang sudah lama dengan cara yang baru – cara yang lebih masuk akal secara ilmiah dan membantu saya untuk menyelesaikan masalah-masalah asal usul yang telah membingungkan saya sebagai seorang evolusionis. Sambil saya melihat biologi dengan penutup mata evolusi yang telah disingkirkan, tema alkitabiah tentang Penciptaan-Kejatuhan-Bencana-Kristus tergambarkan di mana-mana! …

“…ada yang mengatakan bahwa andai saya tahu lebih banyak tentang fosil, maka saya akan meninggalkan ‘omong kosong penciptaan’ ini dan menerima ‘fakta evolusi.’ Lalu Tuhan melakukan sesuatu yang luar biasa pada saya: masuk program studi doktoral penuh waktu selama 15 bulan di National Science Foundation. Dengan takut dan gentar, saya menambahkan cabang minor dalam geologi, dengan penekanan paleontologi dan asal usul, untuk mengecek bukti fosil secara langsung. Saya diajar oleh profesor-profesor yang hebat, termasuk beberapa orang Kristen, tetapi mereka semua mengasumsikan evolusi tanpa ragu. Namun, apa yang mereka ajarkan pada saya tentang fosil justru membuat sulit untuk mempercayai evolusi dan mudah untuk menerima catatan Alkitab tentang penciptaan yang sempurna, yang dirusak oleh manusia, dihancurkan oleh air bah, dan dipulihkan kepada hidup yang baru dalam Kristus. …”

“Pada akhir pelajaran saya dalam unit geofisika, tentang penanggalan radiometris, sang profesor sedang menjelaskan suatu daftar panjang asumsi yang diperlukan untuk mengkonversi pengukuran jumlah radioisotop menjadi pekiraan umur. Setengah jalan menjelaskan daftar asumsi yang tidak dibenarkan dan hasil-hasil yang inkonsisten ini, sang profesor berhenti sejenak untuk bercanda bahwa jika seorang Kristen yang percaya Alkitab sampai tahu tentang masalah-masalah ini, ia akan membongkar-bangkirkan sistem penanggalan radiometrik! Lalu dia menasihatkan kami untuk ‘mempertahankan iman.’”

“Mempertahankan iman. Pada ujungnya, itulah inti dari penanggalan berdasarkan peluruhan radioaktif: iman yang telah ditinggalkan oleh fakta. Pada ujungnya, itulah evolusi: iman yang telah ditinggalkan fakta. Evolusi hanya mampu untuk masuk ke ranah sains karena pada abad 19 manusia masih buta tentang biologi molekuler, struktur seluler, ekologi, dan sistematika. Penemuan-penemuan dalam bidang-bidang ini secara total menghancurkan evolusi sebagai suatu sains, tetapi ia bertahan sebagai agama sekuler yang dilindungi dari bukti-bukti yang menghancurkannya oleh kelompok-kelompok anti-Kristen dan atheis” (Persuaded by the Evidence, hal. 251, 252, 253, 254, 255, 258, 260, 261).

 

Lee Strobel

Lee Strobel mempunyai gelar hukum dari Universitas Yale, dan bekerja sebagai seorang wartawan penyelidik untuk salah satu koran terbesar Amerika, yaitu Chicago Tribune. Dia awalnya adalah seorang atheis. Setelah istrinya menjadi seorang Kristen pada tahun 1979, dia tidak senang dengan keputusannya dan menetapkan hati untuk membuktikan bahwa Alkitab tidaklah benar dan Yesus Kristus bukanlah Anak Allah. Selama dua tahun dia mengejar tujuan ini, menggunakan segala kemampuan legal dan jurnalistik yang dia miliki, tetapi pada akhirnya dia membuktikan bagi dirinya sendiri bahwa Alkitab adalah Firman Allah dan Yesus bangkit dari antara orang mati. Dia menjadi orang Kristen pada tahun 1981 dan sejak itu telah banyak menulis buku yang mempertahankan iman Kristiani.

“Bukanlah sebuah telpon dari seorang informan yang mendorong saya untuk meneliti ulang kasus tentang Kristus. Adalah istri saya. Leslie mengejutkan saya pada musim gugur 1979 dengan mengumumkan bahwa dia telah menjadi seorang Kristen. Saya memutar mataku dan mempersiapkan diri untuk hal yang terburuk, sambil merasa telah menjadi korban penipuan. Saya telah menikahi satu Leslie – Leslie yang fun, yang bebas, yang senang mengambil resiko – dan sekarang saya takut bahwa dia akan berubah menjadi semacam orang kuno yang terbelakang seksualitasnya yang akan mengganti gaya hidup kami yang mobile dan menanjak menjadi malam penuh doa khusyuk dan kerja sukarela di dapur-dapur umum.”

“Sebaliknya, saya mendapat kejutan gembira – bahkan terpukau – oleh perubahan fundamental dalam karakternya, dan keyakinan pribadinya. Lambat laun saya ingin menelusuri sampai dasarnya apa yang menyebabkan perubahan yang sedemikian halus namun signifikan dalam sikap istri saya, sehingga saya melancarkan suatu penyelidikan menyeluruh tentang fakta-fakta seputar kasus kekristenan.”

“Mengesampingkan kepentingan dan prejudis pribadi sebisa mungkin, saya membaca buku-buku, mewawancarai ahli-ahli, mengajukan pertanyaan-pertanyaan, menganalisa sejarah, menjelajahi arkeologi, mempelajari literatur kuno, dan untuk pertama kalinya dalam hidup saya, menelusuri Alkitab ayat demi ayat.”

“Saya membenamkan diri ke dalam kasus ini dengan semangat yang jauh melebihi berita apapun yang pernah saya liput dan selidiki. Saya mengaplikasikan pendidikan yang telah saya terima di Sekolah Hukum Yale, sekaligus pengalaman saya sebagai editor bagian legal dari Chicago Tribune. Dan seiring waktu, bukti-bukti dunia ini – dari sisi sejarah, sains, filosofi, psikologi – mulai menunjuk ke arah yang tidak terbayangkan”(Lee Strobel, The Case for Christ: A Journalist’s Personal Investigation of the Evidence for Jesus, 1998, hal. 14).

Strobel menjadi yakin bahwa Alkitab adalah benar dan Yesus Kristus bangkit dari kematian. Dia telah menulis banyak buku yang mempertahankan iman Kristen, termasuk The Case for Christ: A Journalist’s Personal Investigation of the Evidence for Jesus and The Case for the Resurrection.

(Dengan sedih kami tidak bisa merekomendasi pelayanan Strobel. Dia mengadopsi filosofi New Evangelical, sejak lama berasosiasi dengan Bill Hybles dan Willowcreek Community Church, dan telah berbicara mendukung Robert Schuller, sang penyesat self-esteem itu).

 

Jobe Martin

Dr. Jobe Martin adalah seorang dokter gigi. Dia tamat dari Universitas Pittsburgh Jurusan Kedokteran Gigi, tahun 1966. Sementara di militer, dia melayani di Air Force One, pesawat presiden. Dia pernah bekerja bagi NASA di Houston, Texas, dan memegang jabatan pengajar di Kedokteran Gigi Baylor College.

Dia adalah seorang evolusionis Darwinian sampai dia beriman pada Yesus Kristus pada tahun 1976. Dan dia menjadi penulis dari “Incredible Creatures that Defy Evolution” dan “The Evolution of a Creationist.”
Berikut ini adalah kesaksian dia:

“Pada musim gugur 1971, saya pergi ke Universitas Baylor di Dallas dan memberikan ceramah saya yang pertama. Ceramah itu adalah tentang evolusi gigi. Saya berbicara mengenai bagaimana sisik-sisik ikan secara perlahan bermigrasi ke dalam mulut dan menjadi gigi. Beberapa murid datang kepada saya setelah kelas pada hari itu, dan berkata, ‘Dr. Martin, apakah anda pernah menyelidiki klaim-klaim dari sains penciptaan?’ Saya bahkan belum pernah mendengar hal seperti itu. Jadi saya berkata, ‘Tentu, saya akan memeriksanya bersama kalian.’ Dan saya berpikir, sebagai seorang profesor muda yang sombong, ‘Saya akan bantai kalian.’

“Yah, mereka meminta saya untuk mempelajari asumsi-asumsi yang dibuat oleh evolusionis. Selama delapan tahun pendidikan sains saya, saya belum pernah mendengar satu orang profesor pun yang memberitahu saya tentang suatu asumsi. Jadi kami mulai melihat asumsi-asumsi. Saya mulai menyadari bahwa para evolusionis membuat sebagian klaim yang didasarkan pada asumsi yang tidak sah, ketika mereka mengatakan bahwa batu-batu ini sedemikian tua dan hal-hal semacam itu.”

“Lalu mereka meminta saya untuk mulai mempelajari beberapa binatang untuk melihat apakah mereka bisa muncul dari evolusi. Yang pertama yang kami pelajari bersama adalah serangga kecil ini yang disebut bombardier beetle. Serangga kecil ini, yang sekitar satu setengah centimeter, mencampurkan bahan-bahan kimia yang bisa meledak. Saya mulai berpikir, OK, bagaimana ia dapat berevolusi? Jika evolusi benar, maka dengan suatu cara serangga ini mendapatkan fitur ini melalui evolusi. Mari kita asumsikan bahwa ia sedang mengevolusikan mekanisme pertahanan ini, tetapi kali pertama ia akhirnya bisa menghasilkan ledakan, apa yang terjadi pada serangga itu? Yah, ia hancur oleh karena ledakan, dan kita tahu bahwa serangga yang hancur tidak bisa berevolusi. Jadi saya berpikir, bagaimana ini bisa terjadi? Jadi, [karena sistem serangga ini yang dibangun secara cermat] ia tidak meledakkan diri serndiri. Ia memiliki semacam pabrik kecil lainnya dalam dirinya, dan pabrik ini menghasilkan suatu zat kimia yang berfungsi sebagai katalis, sehingga ketika dia menyemprotkan zat kimia itu ke dalam zat-zat kimia lainnya yang sedang dalam suatu suspensi, ledakan akan terjadi. Dan ia memiliki suatu ruang tembak yang dilapisi asbestos untuk melindungi diri sendiri. Dan ia memiliki tuba ekor ganda yang kecil, dan ia bisa membidikkan tuba ini ke samping, bahkan ke depan. Andai kata seekor laba-laba mendekatinya dari samping dan ia tidak punya waktu untuk berputar dan menembah, maka ia bisa memakai penembaknya itu, dan membidiknya ke samping, dan menembak. Jika anda mendengarkan ledakannya, yang terdengar adalah satu suara ‘pop,’ tetapi para ilmuwan telah meneliti suara itu dalam rekaman slow-motion, dan sebenarnya itu adalah sekitar seribu ledakan kecil yang berurutan yang begitu cepat sehingga hanya terdengar satu pop. Jadi anda berpikir, bagaimana ini bisa terjadi? Ini adalah hal yang menggelitik bagi para ilmuwan yang menyelidiki serangga ini. Banyak di antara mereka adalah di Universitas Cornell dan beberapa tempat lain. Yang mereka temukan adalah bahwa jika hanya ada satu ledakan besar, serangga kecil ini adalah terlempar oleh kekuatan ledakan!Tetapi selama itu adalah ledakan beruntun, serangga dengan kaki-kakinya yang kecil itu bisa bertahan. Bagaimana evolusi dapat menerangkan ledakan yang beruntun?

“Serangga kecil ini mengacaukan semua teori evolusi. Tidak mungkin suatu proses yang pelan dan bertahap dapat menghasilkan serangga ini. Bahkan, tidak ada cara bagi teori-teori yang lebih baru, seperti punctuated equilibrium untuk menjelaskan serangga ini. Saya mulai menyadari bahwa serangga kecil ini memerluka semua bagiannya sekaligus, dan jika tidak maka tidak bisa ada binatang ini.”

“Dan perut saya mulai tidak enak. Istri saya akan memberitahu bahwa perut saya tidak enak selama lima tahun. Diperlukan pergumulan lima tahun bagi saya untuk membalikkan cara saya berpikir, dari berpikir dengan cara evolusi, menjadi berpikir bahwa makhluk ini diciptakan secara lengkap seperti yang kita lihat. Ini bertentangan dengan semua yang saya pernah pelajari” (Jobe Martin, Incredible Creatures that Defy Evolution 1, ExplorationFilms.com).

 

 

 

 

This entry was posted in Alkitab. Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *